"Siapa yang malu-maluin, sih? Kamu 'kan gak lihat, mereka pada jago banting orang!" Terang pria bermata sipit itu kesal.
"Ipah mah sering jadi lawan mereka kalo mau ikut pertandingan," imbuh Enyak.
Kalimat ini makin membuat Collins tak punya muka di hadapan ketiganya. Dengan dongkol ia bergegas ke kamar.
"Bara! Jangan lupa mandi. Bentar lagi ke mesjid bareng Babe, sholat magrib," teriak Enyak.
Collins berbalik dengan wajah memelas. "Nyak ...."
"Ntar Enyak bikinin air anget buat mandi, ye?" bujuk enyak lagi.
Collins tak bisa menghindar. Ia hanya bisa menghela napas panjang.
****
Collins terkejut. Pagi itu ada beberapa orang yang duduk di dalam pos penjagaan tempat dia bekerja. Orang-orang itu berpakaian hitam-hitam dengan tato di bagian lengannya.
"Ada apa ya, ini?" tanyanya pada tiga orang itu.
Mereka menoleh ke arah Collins. Salah satu yang berambut gondrong tersenyum ke arahnya. "Ini tempat lu?"
"Iya."
"Sekarang jadi tempat gue, jadi lu bisa pulang sekarang," ucap pria itu mengusirnya. Rambutnya yang lurus melewati bahu dibiarkan lepas. Salah satu dari mereka malah merokok.
"Eh, maksudnya bagaimana?"
Pria gondrong itu tampak kesal. Ia melirik Collins dengan wajah murka. "Kalo gue bilang ini jadi tempat gue, ya tempat gue! Ngerti kagak lu!" Matanya melotot menatap Collins.
Tentu saja pria bermata sipit ini jadi takut. "Iya, Bang," sahut Collins dengan kecewa. Ia memang paling menghindari huru-hara hingga ia beranjak pergi. Ia pulang dan memberitahukan ini pada Enyak Babe.
"Makanye babe bilang juga ape? Lu harus kuat jadi laki!" Pria paruh baya itu menegaskan.
"Jadi gimana, Be?" Collins nampak pasrah.
"Ya pilihannya cuma dua. Lu berantemin tuh orang atau lu kerja tempat babe!"
"Aku kerja tempat babe aja deh!" Wajah pria muda itu kini terlihat senang. Seperti tanpa beban.
Babe sedikit bingung pada Collins. Anak ini bahkan tak berusaha memohon, setidaknya meminta dia membantunya mendapatkan pekerjaan itu lagi dengan berkelahi dengan orang-orang itu. Collins menerima nasibnya tanpa mengeluh. Padahal, jadi tukang parkir uangnya lebih banyak daripada kerja di toko. "Beneran nih?"
"Iya." Wajah Collins terlihat tanpa ekspresi.
"Ya udah. Lu anterin mpok lu dulu, dah, kursus. Dia masuk pagi hari enih."
Ipah yang baru keluar kamar, tertegun melihat Collins. Ia sudah berpakaian rapi dengan tas tali yang melingkar di bahu. "Lah ... kenape lu pulang?"
Seketika Collins kembali cemberut.
****
"Be, beli air galon!" Seorang wanita bertubuh gemuk mendatangi toko Babe. Ia terkejut melihat Collins. "Siapa nih, Be?"
"Oh, ponakan," sahut babe santai.
"Kok aku gak tau Babe punya ponakan ganteng gini. Wajahnya kayak orang Cina ya?" lanjut sang pelanggan.
"Oh, ada sodara nikah ama orang Jepang." Babe berbohong.
"Oh ... orang Jepang." Wanita itu mengangguk-angguk. Ia melihat Collins mendorong galon yang masih penuh, keluar. "Satu ya, anter seperti biasa." Wanita itu memberi uang pas.
"Dianter ke mana, Bu," tanya Collins sopan.
"Ikutin aja ibu itu. Nanti kamu pulang bawah yang kosongnya," perintah babe.
Collins kemudian mengikuti wanita itu. Sepanjang jalan, wanita itu mengajaknya mengobrol. "Kamu udah punya pacar belum? Anak ibu ada yang udah kerja lho! Mau kenalan gak?" Rupanya ibu itu tertarik dengan ketampanan wajah Collins.
Pria itu tentu saja bingung menanggapi. "Eh, Saya kerja, Bu."
"Di toko, 'kan? Ya udah, biar anak Saya main ke situ deh!"
Collins semakin bingung menghadapinya. Tiba-tiba matanya tak sengaja berhenti pada sebuah rumah berhalaman luas. Ia melihat ustadzah itu tengah menyapu beranda rumahnya. 'Eh, ini rumahnya?' Karena tak fokus, ia tak melihat troli yang membawa galon melewati sebuah lubang hingga troli itu bergerak miring. "Eh-eh, eh-eh!"
"Eh, hati-hati dong!" Ibu gemuk itu memutar tubuhnya ke belakang dan mendapati Collins tengah berusaha menyeimbangkan galon yang berada di atas troli.
"Eh, maaf."
"Ibu Joko ... kenapa, Bu?" Ternyata Aida mendengar dari tempatnya berdiri.
"Eh, enggak, Ustadzah. Ini. Galon mau jatuh," sahut ibu itu lagi.
"Sama tukang parkir?"
Bu Joko tampak bingung. "Tukang parkir?" Ia melirik Collins. Tentu saja sang pria itu juga heran.
"Eh, itu bukannya suara tukang parkir ya, yang di pasar?" ucap Aida ragu. Ia menggigit kukunya. "Kayak suara dia ...," ujarnya setengah bergumam.
Collins baru sadar, Aida mengandalkan ingatan pada pendengaran. "Oh, iya, bener. Aku sempat kerja di pasar, tapi sudah berhenti. Sekarang kerja di toko."
"Oh, begitu." Ibu itu mengangguk-angguk. "Oh, ya udah. Ibu balik dulu ya! Di rumah gak ada air buat minum," teriaknya pada Aida.
Aida hanya menganggukkan kepala seiring sang ibu dan Collins pergi.
Collins, karena berada di belakang, sesekali memperhatikan Aida yang kembali menyapu. 'Jadi benar namanya Aida? Nama yang bagus. Tapi bagaimana cara berkenalan dengannya?'
Collins membantu memasangkan galon di wadah air dengan membaliknya. Ini pekerjaan yang tidak mudah karena dia belum pernah melakukannya. Ia hanya pernah melihat pegawainya dulu di kantor memasang itu tapi ternyata sulit. Bajunya sempat terkena tumpahan air saat membalik galon. Ada seorang anak laki-laki di rumah itu yang sepertinya seumuran dengan Collins tapi ia hanya melihat saja. Lalu ia sibuk kembali melihat ponselnya.
"Waduh, kena basah ya?" sahut sang ibu yang memberi Collins lap dari dapur yang warnanya mulai pudar.
Tentu saja pria itu menghindar. "Eh, tidak apa-apa, Bu. Saya pulang saja." Dilihatnya bajunya sedikit basah. Buru-buru ia ambil galon yang kosong dan pergi keluar. "Permisi."
"Ya."
'Aduhh ... dia mau membersihkan bajuku dengan lap, lagi. Lap itu 'kan untuk bersih-bersih dapur,' batin Collins kesal. Ia walaupun memakai pakaian murah tapi tetap tak bisa sembarangan untuk kebersihan. Apa yang diperuntukkan untuk dapur, tidak mungkin untuk membersihkan tubuh, walaupun barang itu baru dicuci. 'Lain kali, aku harus bawa handuk kecil nih, kalau begini.'
Collins bergegas. Ia ingin kembali melewati rumah Aida, tapi ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Ternyata saat itu, sang pemilik rumah keluar dan sedang mengunci pintu.
'Dia mau ke mana?' Collins terus bergerak lurus ketika sang wanita melangkah keluar rumah.
Mereka hampir bertemu ketika tiba-tiba Aida berhenti. Collins terlihat bingung. Ternyata Aida tahu, ada yang akan lewat di depannya karena mendengar suara roda troli yang didorong. "Eh, lewat saja."
Collins tentu saja terkejut, wanita itu tahu ia akan lewat. "Eh, maaf."
Aida mengenali suara Collins. "Oh, Abang tukang parkir ya? Aku pikir siapa," ucapnya sambil tersenyum.
"Oh, aku bukan tukang parkir lagi."
"Oh, iya. Maaf." Wanita itu kembali tersenyum.
Senyum itu membuat Collins kebingungan. Ia tiba-tiba tak tahu harus berbuat apa selain memperhatikan wajah cantik wanita itu. Ya, dia seperti membatu.
"Eh, kenapa belum lewat?" Kembali Aida mencoba mendengarkan, kalau-kalau pendengarannya salah. Dahinya berkerut.
"Oh, iya!" Collins seketika sadar. "Eh, maaf menghalangi."
Aida tersenyum dan menunggu Collins lewat. Pria itu tentu saja mendorong troli lewat di depannya, tapi pikirannya bercabang. Ia tak ingin melewatkan kesempatan untuk berkenalan, tapi bagaimana caranya? Sebelum Aida bergerak, Collins berusaha bicara. "Eh ...."
Langkah wanita itu terhenti. "Ya?"
"A-aku kerja di toko sebelah sana," ucap pria itu sedikit gugup sambil menunjuk arah toko babe. Ia mencoba asal bicara.
"Oh ...." Aida mengangguk pelan.
Namun Collins sadar akan sesuatu. "Oh, gak bisa lihat ya? Oh, maaf."
"Tidak apa-apa," sahut wanita itu dengan wajah datar. Ia sepertinya merasa terganggu tapi ia tahan.
Pria itu jadi serba salah. Ia mengusap belakang kepalanya. "Eh, maaf. Mengganggu ya? Aku cuma mau promosi toko tempat Saya kerja."
"Eh, iya." Aida berusaha tersenyum walau terpaksa.
Bersambung ....