7. Adik

1166 Words
"Oh, ya sudah. Silakan kalau Ustadzah mau berangkat." Collins terpaksa melepasnya. "Iya, maaf." Aida mengangguk pelan. Ia kemudian pergi dengan menggerakkan tongkatnya. Collins memperhatikan tubuh wanita itu dari belakang seiring Aida pergi meninggalkannya. Ia merutuki dirinya sendiri. 'Bagaimana sih caranya kenalan? Kok ... setiap kali rasanya susah sekali,' keluhnya sambil menghela napas. **** Motor yang dikendarai Collins sampai di depan rumah yang dijadikan tempat kursus itu. Sudah ada beberapa motor yang juga parkir di situ dengan niat yang sama, datang menjemput. Sebelum ia sempat turun, seorang pria turun dari motor, mendatangi Collins. "Elu siape?" "Apa?" Netra Collins melebar. Seorang pria bertubuh sedikit gempal bertelak pinggang di depannya. "Ada hubungan apa lu jemput-jemput cewek gue?" "Ha?" Collins tak kunjung mengerti. "Apa ... apa ... Gue nanya ma elu, bukannya dijawab, eh malah nanya balik. Lu punya kuping, kagak? Lu kagak budeg 'kan, lu?" ujar pria itu kesal. 'Cewek siapa sih? Apa dia salah orang?' Collins mengambil kunci motor dan turun. "Cewek siapa?" "Alah ... pura-pura lagi lu! Emang lu ke sini mau ngapain?!" Amarah pria itu mulai terlihat. "Aku mau ...." Sebelum Collins sempat menyelesaikan ucapannya, sebuah tas menyambar kepala pria berkulit sawo matang itu. "Aduh ...." "Lu ngapain ganggu adek gue!" Kini Ipah berdiri dengan bertelak pinggang pada sang pria. Pria itu memegang kepalanya. Matanya masih menyipit akibat pukullan tadi. "Ah ... Ipah. Lu gak bo'ong 'kan ama gua? Ini bukan pacar lo yang baru 'kan, Pah?" Ia masih mengusap kepala. "Ngapain gue bo'ong?" "Tapi ... bukannya adik lo udah ...." "Ini sepupu gue! Kalo lu gak percaya, lu bisa tanya sama Babe, sana!" Ipah menunggu Collins naik motor, kemudian ia membonceng di belakang. "Ayuk!" Pria itu tampak kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa. Collins menyalakan motornya dan mundur dari tempat itu. Ia membawa motor itu keluar dari halaman. "Itu pacarmu, Kak?" Ipah memukkul punggung Collins dengan keras. "Aduh!" "Panggil 'Mpok' bukan 'kakak'! Emang gue 'kakak' yang di mol-mol!" Ipah memang sedikit barbar, tapi Collins memaklumi karena memang begitulah gaya bicara wanita ini pada hampir semua orang, kecuali orang tuanya. "Iya, iya," jawab Collins dengan sabar. "Dia suka ama gue tapi ama Babe gak dibolehin pacaran. Disuruh cari kerja dulu terus ngelamar." "Lho, kenapa gak boleh pacaran?" "Dosaa!" teriak Ipah di dekat telinga Collins. Tentu saja pria itu menutup telinganya dengan tangan sambil memicingkan mata. Ipah terlihat senang dengan tersenyum lebar karena berhasil menjahili Collins. "Mpok! Ah ...." Ipah tertawa. "Lu juga jangan pacaran, ntar dipentung Babe ...." Collins teringat pada Aida. 'Kenalan aja sulit, gimana mau pacaran, ah ....' Ia menghela napas panjang. **** Ipah membuka pintu. Ada Collins tengah berdiri di sana. Pria itu nampak bingung harus bicara apa. "Apa?" Ipah menaikkan alisnya. "Eh, pinjem Alquran, bisa gak?" "Bentar." Wanita itu masuk dan tak lama muncul. Ia mengulurkan Alquran berukuran sebesar telapak tangan pada Collins. "Ini." Pria itu mengambilnya. "Eh ... tadi aku denger kamu punya adek, ya?" Collins tiba-tiba teringat ucapan pacar Ipah. "Apa?" Seketika sang wanita langsung merengut. Ia merebut Alquran yang berada di tangan Collins dan menutup pintu dengan membanttingnya. Collins tentu saja kaget karena bunyi pintu itu cukup keras dan tepat di depan wajahnya. 'Eh ... ya ampun, aku salah ngomong apa sih?' Ia mengelus dadda. Ia hanya bingung mendengar cerita itu karena tak pernah melihat adik Ipah ada di dalam rumah itu. Kenapa ketika ia bertanya, Ipah malah marah-marah? Ada apa sebenarnya? Teringat babe yang duduk di beranda, Collins melangkah ke sana. Saat malam, suasana tenang. Ada beberapa orang berlalu lalang di depan rumah. Sesekali ada beberapa penjual yang lewat memanggil pembeli. "Be, boleh tanya, gak?" Kedatangan Collins membuat pria paruh baya itu menoleh. "Ade ape?" "Emang Ipah punya adek, Be? Kok gak pernah lihat?" "Oh." Babe hanya menyatukan kedua tangan di atas pangkuan. Ia menjawab dengan tenang membuat Collins penasaran. Pria muda itu menarik kursi di samping Babe. "Ada, Be?" Babe menoleh ke arah Collins. Sejak kerja di toko, pria muda ini mulai banyak bicara walau masih tidak suka membicarakan dirinya. Sisi misterius itu dihormati Babe dengan tidak bertanya. "Babe emang punya anak laki dulu, yang badannya lemah. Die emang sering sakit-sakitan dan meninggal saat SMP." Terlihat matanya berkaca-kaca saat bercerita. "Lu ngingetin Babe sama nih anak. Makanye waktu lihat lu kebingungan gak punya tempat tinggal, Babe bawa lu pulang." Collins terkejut mendengar penuturan pria itu. "Padahal 'kan bisa aja, Bara orang jahat yang menyamar." Babe tertawa lepas sambil mengedip-ngedipkan mata untuk mengurangi air mata di sekitar bola matanya. Akhirnya ia mengusap sudut matanya itu pelan. "Babe cuma pakai feeling aja." "Tapi kenapa Ipah marah waktu aku tanya ini?" "Karena mereka cuma bedua. Ipah sayang banget sama adeknya." Babe merapikan duduknya. "Dari mana lu tau tentang adek Ipah?" "Oh ... Itu." Collins terlihat ragu-ragu, menunduk dan melirik pria paruh baya berkulit kuning itu. "Pacar Ipah, Be." "Ck, dia lagi," gumam Babe. "Si Arman, 'kan?" tanyanya melirik Collins. "Lu ketemu die di mane?" "Tempat kursus, Be." "Ck!" Wajah pria paruh baya itu terlihat geram. Ia kembali melirik Collins. "Udah, lu anter jemput Mpok lu aja dah. Jangan biarin Mpok lu pergi ama die, ye?" "Memangnya kenapa, Be?" "Ya kalo belum nikah, ya jangan bedua-duaanlah. Karena yang ketiganya adalah setan!" Babe mulai mengomel. "Tapi anak muda 'kan biasanya begitu, Be. Ngak bakal ...." "Elu jangan ngebantah!" Pria paruh baya itu benar-benar marah. "Di agama islam emang begitu peraturannye, dan elo kalo mau tinggal di marih juga harus ngikuti peraturan entuh. Ngak ada tapi-tapian. Ngerti kagak lu?!" Collins terdiam. Ia baru kali ini dimarahi pria yang rambutnya sedikit klimis dan berombak itu. "I-iya, Be," jawabnya sedikit gugup. "Assalamualaikum!" Terdengar suara seorang pria di depan pagar. Keduanya menoleh. "Entuh, ada tamu, Bara. Tolong bukain." Kini nada bicara Babe berubah, membuat Collins beranjak berdiri. Collins membuka pintu pagar. Biasanya karena Babe adalah ketua RT, ada saja warga yang datang mencarinya. "Oh, Pak Endang. Silakan masuk, Pak," sahut Babe melihat siapa yang datang. "Ini, Be. Mau ngurus surat-surat." "Oh, ya. Mana?" Collins segera masuk ke kamar. **** Collins yang sedang mengendarai motor, tak sengaja melihat Aida keluar dari sekolah luar biasa sore itu dengan berjalan kaki. Ia coba menghampiri. "Ustadzah udah pulang?" Langkah wanita itu terhenti bersama tongkatnya. "Oh, Abang eh ...." Aida terlihat ragu. "Bara. Namaku Bara." "Bang Bara," ucap sang wanita sambil mengangguk pelan. 'Akhirnya dia bisa menyebut namaku.' Collins begitu senang. "Mau pulang? Mau abang anterin?" "Oh, gak usah, Bang. Deket kok." "Ngak papa. Biar cepet aja." Collins melihat reaksi Aida yang terdiam. Ia jadi serba salah. "Eh, kalo gak mau, ya gak papa. Eh, saya duluan, ya? Permisi." "Iya." Collins menjalankan motornya. Ia melihat dari cermin kaca spion kalau Aida mulai melangkah lagi. 'Gimana sih caranya bisa dekat dengannya? Ck! Babe sih pake acara gak boleh pacaran dulu. Apa Aida juga begitu? Masa, aku harus nikah dulu sama Aida.' Pikirnya sambil merengut. Namun, kalimat terakhir sukses membuat Collins berubah pikiran. Ia menyentuh dagunya. 'Tapi nikah juga gak buruk.' Collins tersenyum simpul. **** "Bara, rambut lu potong nape. Dah gondrong tuh!" sahut babe yang menikmati kopinya di pagi hari. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD