Collins menarik kursi makan dan duduk di samping pria itu. Ia meraih singkong rebus yang ada di atas piring. "Gak ada nasi goreng ya?" Collins menggigit singkong di tangan.
"Kemarin ade tetangge yang ngasih banyak singkong, katenye dari kebunnye. Jadi Enyak rebus ini buat sarapan." Babe mengikuti Collins meraih satu potong singkong yang berukuran besar. "Lu potong rambut, yak?"
"Memangnya kenapa? Aku lagi malas potong rambut, Be. Panjangnya juga nanggung."
"Lu bukannye ada duit?"
Collins sedikit merengut.
"Lu preman, bukan. Penyanyi, bukan. Lu artis juga bukan. Lah, terus ngapain punya rambut gondrong begini? Kayak perempuan aja, lu!" ledek Babe.
Collins makin dongkol. "Emangnya preman aja yang boleh gondrong?"
"Laki kalau mau rapi, kudu rambutnya pendek, Bara. Ntar dikira melambai lu!" Babe memperlihatkan gaya tangan yang lentik.
Ipah yang baru keluar dari kamar mandi, tertawa.
"Kagak ada perempuan yang demen ama elu!"
Collins tertegun mendengar kalimat ini. Apa iya? Apa karena itu Aida tidak mau dekat dengannya? Collins lupa kalau Aida buta. "Ya udah deh, Be. Ntar Bara potong."
"Gitu dong, anak babe." Pria paruh baya itu menepuk-nepuk bahu Collins.
****
Pasar begitu ramai siang itu, tapi Collins sudah selesai belanja. Kini ia membawa plastik belanjaannya menuju tempat parkir. Saat ia mengeluarkan motor, Collins melihat Aida yang sedang menunggu bajaj di pinggir jalan. Kembali ia coba mendekat, walau tahu wanita itu pasti akan menolaknya lagi. "Eh, Ustadzah. Mau pulang?"
Kembali Aida tertegun. Ia merasa aneh, karena sering kali bertemu dengan pria ini. Apa Bara mengikutinya? "Eh, Bang ...." Ia nampak tak nyaman.
Namun kali ini Collins mencoba nekat. "Mau kuantar pulang? Sekalian, kebetulan searah."
"Enggak, Bang. Saya nunggu bajaj aja," ucap Aida menolak dengan sopan.
Terlintas sesuatu di pikiran Collins. "Ya udah, ngojek sama aku aja. Gimana?"
"Hah?" Aida terkejut dengan tawaran pria ini.
"Oh, aku ngojek kok. Kalo Mbak mau, aku anterin."
Wanita itu terlihat bingung. "Tapi ...."
"Ya udah, harga bajaj aja, gak papa. Udah, sini." Collins meraih jinjingan plastik yang dipegang Aida.
Karena sudah terlanjur diambil, wanita itu terpaksa naik motor sang pria. Aida memakai celana panjang hingga bisa dengan mudah naik ke motor. Ia memegang tongkatnya sambil berpegangan dengan baju kaos Collins di belakang.
"Udah?"
"Iya."
Collins menjalankan motornya. Ada perasaan aneh yang menjalar di dadda. Perasaan aneh yang menggembirakan. Ia sengaja menjalankan motornya dengan pelan agar bisa berlama-lama dengan Aida. Wanita itu juga bisa merasakannya tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Selama Collins sopan, ia takkan protes. Motor itu pun lewat toko babe dan pria paruh baya itu melihatnya.
"Astaga, Bara ...." Babe melongok. Sebentar kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sampai di depan rumah Aida, wanita itu turun dengan sedikit gemetar sambil merapikan kerudungnya.
"Kenapa, Mbak?" Collins yang melihat sedikit khawatir.
"Oh, aku sudah lama tidak naik motor."
Collins melongok, ia tidak tahu ternyata Aida ketakutan naik motor bersamanya.
"Eh, tidak apa-apa. Untung pelan," sahut Aida lagi. Ia mengeluarkan dompet dan memberikan uang pada Collins. "Pas!"
"Bagaimana kamu tahu jumlahnya?" tanya pria itu heran.
"Oh, uang kertasnya, aku kasih tanda lipatan di ujungnya. Jadi tau bedanya."
Collins memperhatikan uang yang ia dapat dari Aida. Ternyata ujungnya sudah diberi lipatan yang berbeda.
Wanita itu mengulurkan tangannya. "Mana?"
"Eh?" Pria itu bingung dan melirik bungkusan yang digantung di motor. "Oh, iya." Ia mengembalikan belanjaan Aida.
"Terima kasih."
"Sama-sama." Sebelum berangkat, Collins masih menoleh pada Aida yang mendatangi pagar rumahnya. Kemudian ia pergi dengan menjalankan motor ke toko babe.
Collins sampai di toko dengan bersiul-siul. Ia tidak memperhatikan wajah babe yang terlihat geram.
"Ngapain lu berduaan sama ustadzah Aida naik motor?"
"Ngojek, Be."
"Apa?" Babe terlihat bingung, tapi semenit kemudian ia tersenyum seraya menunjuk-nunjuk wajah Collins. "Pinter lu ya? Ide lu, ada aja! Beneran lu ngojeknye?!"
"Ya ... gitu deh," ucap Collins acuh tak acuh.
Babe tak yakin hingga melemmparnya dengan plastik jualan dan Collins menghindar sambil tertawa. "Awas aja lu, ketahuan pacaran. Lu cari kerja yang bener dulu, nanti langsung lamar kalau serius."
"Memang bener, gak boleh pacaran?"
"Ngak ada, pokoknya yang begitu-begitu!" omel babe cepat.
"Tapi pacaran itu penting, Be. Untuk mengenal orang itu cocok sama kita atau tidak."
"Seberapa jauh lu pengen kenal die, hah? Sampai daleman-dalemannye juga, begitu?!" Pria paruh baya itu bicara dengan bertelak pinggang.
"Daleman-dalemannya, apaan sih?" Seketika Collins bingung dengan kalimat itu.
Telunjuk Babe mendorong dahi Collins dengan cepat. "Lu gak boddoh-boddoh amat, untuk ngerti kata begituan, Bara!"
Seketika pria muda itu tersadar. " Astaga, Be .... ya, ampun. Aku bukan orang seperti itu, kali, Be."
"Biar kata lu ngomong begitu, juga. Lah lu 'kan sekarang waras, tapi coba kalo lo lagi berduaan? Pasti ada setan lewat!"
"Masa sih, Be?" tanya Collins tak percaya.
"Dah, dengerin aja omongan Babe! Ngak usah ngebantah!" Babe memberi ultimatum.
Collins merengut.
Babe kemudian melihat plastik belanjaan yang dibawa Collins. "Jadi, lu beli Alquran?"
"Jadi, Be." Collins mengangguk.
Babe melirik Collins. Ia tidak tahu seberapa serius pria muda ini ingin belajar Alquran, tapi ia tahu, Collins pasti sangat tertarik pada Aida walau tak percaya diri di awal. Ia bisa melihatnya dari wajah pria ini. Tadinya, saat awal bertemu, Collins terlihat sedikit kacau dan murung, tapi belakangan, pria ini tampak mulai bisa tersenyum. Bahkan tertawa. Entah karena tinggal dengannya atau karena bertemu dengan Aida. Walau begitu, ia berharap Aida bisa membawa pengaruh baik bagi Collins.
Keluarganya juga sangat menyukai Collins. Pria misterius ini berhasil menggantikan sesuatu yang pernah hilang dari rumah itu, begitu lama. Enyak begitu senang, apalagi Ipah. Babe berharap Collins tak kembali ke keluarganya terlalu cepat.
Ia menyentuh rambut pria itu yang kini sedikit pendek. "Lu dibilangin suruh potong pendek, kenapa nanggung begini, sih?" Babe melihat rambut Collins yang masih gondrong di sekitar telinga.
"Biarin aja ah, Be! Aku ngak mau terlalu pendek kayak tentara."
Babe mendengus sambil tertawa.
****
"Bara!"
"Ya?"
"Pagi ini kita kerja bakti dulu bersihin selokan. Lu ikut bapak-bapak entuh di depan. Dah pada ngumpul tuh," sahut babe.
"'Kan kotor, Be?" protes Collins.
"Ss ... kamu gak pernah ikut kerja bakti RT, ye?" Babe dari awal sudah curiga, Collins pastilah anak orang kaya. Dilihat dari wajah dan sepatu yang dia punya. Hanya ia tidak mengerti alasan pria ini melarikan diri. Collins tidak terlihat seperti anak nakal. Apa dia berasal dari keluarga yang berantakan?
"Ee ...." Collins paling takut kalau identitasnya diketahui, karena itu ia berusaha untuk bisa melakukan segala pekerjaan yang ditawarkan padanya. "Iya, Be. Nanti aku ke sana," ucapnya pelan.
Tak lama, pria itu telah berbaur dengan para pria yang telah siap membersihkan selokan. Karena tinggal dengan babe, ia cepat dikenal di antara para tetangga. Apalagi Collins cukup tampan. Ada beberapa tetangga wanita yang mengintipnya bekerja.
Awalnya Collins sedikit pusing melihat kotornya selokan yang berisi sampah, tapi dari mengamati, sebentar saja ia sudah bisa dengan tangkas bersama tetangga yang lain ikut membersihkan selokan yang penuh sampah. Babe senang Collins bisa berbaur dengan mereka.
"Ini ada gorengan, ayo dicicipi!" Seorang wanita berkerudung panjang dengan seorang gadis membawakan setumpuk gorengan dalam sebuah wadah besar.
Para pria sempat menoleh dan sebagian berhenti untuk beristirahat. Yang berhenti, mencari keran untuk mencuci tangan. Adalagi warga lain yang menyumbang minuman gelas kemasan.
Bersambung ....