"Bara, ayo istirahat dulu." Salah seorang pria mengajaknya untuk duduk.
Collins mencuci tangan di sebuah keran. Ketika ia mencari tempat untuk duduk, gadis yang membawa gorengan, menyodorkan wadah gorengan itu padanya.
"Ayo, Kak."
Collins menoleh. "Oh, iya. Terima kasih." Ia sedikit merasa aneh karena tak satu pun orang yang ditawari makanan seperti dirinya. Yang lain mengambil sendiri gorengan di wadah. Padahal gadis manis itu sudah malu-malu meliriknya. Collins kemudian mengambil bakwan dan lontong dari wadah itu.
"Nana ... aku tawarin juga dong," goda seorang pria. Ia tampak lebih muda dari Collins.
Gadis itu merengut mendatangi pria itu. "Kamu 'kan bisa ambil sendiri, Idan."
"Nana, ayo!" ternyata wanita berkerudung itu menunggunya. Gadis itu kesal dan mendatangi wanita itu. Keduanya masuk ke dalam rumah yang tak jauh dari situ. Para pria yang melihat, hanya bisa geleng-geleng kepala.
****
Dengan motor, Collins melewati rumah itu dengan ragu-ragu. Hari Minggu, rumah itu tampak sepi. Sebenarnya Collins tiba-tiba terkena penyakit rindu. Hari ini ia tak melihat Aida, dirinya merasa gelisah. Bagaimana cara bertemu dengannya?
Collins merogoh kantong celananya. Ia mengeluarkan tasbih yang ia temukan waktu itu. Adakah benda ini bisa menjadi alasan untuknya bertemu?
Dengan nekat, ia membuka pagar. Kemudian setelah memarkir motornya di halaman, ia mengetuk pintu. Terdengar bunyi suara tongkat dan sendal berganti-ganti datang mendekat. Pintu terbuka. Ada wajah cantik wanita itu memakai kerudung instan keluar dari balik pintu. "Pak Munir ya? Mau rapiin halaman?"
"Ha?"
Aida terkejut mendengar suara Collins yang berbeda dari suara yang dikenalnya. Ia mengerut dahi. "Kamu siapa?"
Tentu saja, Bara tak tahu harus bicara apa. "Eh, aku ...."
Netra wanita itu melebar. "Bang Bara ...?" Aida kini bisa menebaknya.
"Eh, ya. Ini aku. Aku ...."
"Abang mau gantiin Pak Munir?"
"Eh? Apa?"
"Aku tidak tahu seberapa berantakan halamannya, tapi tolong dirapikan ya, Bang."
Collins memutar kepala melihat halaman rumah itu. Rumputnya sudah mulai panjang dan bercampur rumput liar. Tanaman di sekitar pagar juga sedikit berantakan. "Eh, maksudmu tanaman atau ...."
"Iya , Bang."
"Boleh ...." Collins merasa senang. Seketika ia punya alasan untuk ada di sana. "Oh, iya. Eh, tapi aku perlu gunting rumput," sahut Collins saat memperhatikan lagi halaman yang luas itu.
"Oh, barang-barang itu ada di halaman belakang, Bang. Tinggal muter aja." Aida menunjukkan arahnya.
"Oh, iya." Collins bergerak ke belakang halaman sambil melirik wanita itu. Saat ia berpikir, betapa sulitnya mendekati wanita ini, ternyata ada saja cela untuknya bisa bersama. Walaupun kali ini hanya sebagai tukang kebun. Bagi Collins tidak masalah karena dulu ia sering membantu almarhum ibunya berkebun saat punya waktu luang. Kini ia melakukannya di rumah orang lain.
Collins mencabut rumput liar dan memotong rumput yang sudah panjang. Sesekali ia memperhatikan ke arah pintu depan yang terbuka lebar.
Tiba-tiba wanita itu bergegas keluar menuju pagar. "Sebentar ya, Bang. Saya mau keluar dulu."
"Eh, iya." Collins mengintip keluar lewat pagar yang dihias tanaman. 'Mau ke mana dia?' Kemudian ia meneruskan pekerjaan.
Tak lama Aida kembali sambil membawa bungkusan. Collins hanya melihat saja. Ia kemudian fokus membuang daun-daun yang busuk dan menggemburkan tanah di dalam tanaman pot.
"Eh, Bang. Silakan tehnya!" Wanita itu kembali keluar dengan membawa wadah berisi segelas teh hangat dan sepiring kue. Ternyata Aida tadi pergi membeli kue untuk Collins.
"Oh, ya." Pria itu tampak antusias dan mendatangi keran di luar dan mencuci tangan, tapi ia tak terbiasa kalau tak ada sabun. Ia kemudian mendatangi Aida. "Maaf, aku biasanya cuci tangan pakai sabun kalau gak pakai sarung tangan. Apa aku boleh minta sedikit sabun cuci tangannya?"
Aida tertegun. Tukang kebun sebelumnya tak pernah serumit ini. "Eh, aku hanya punya sabun cuci piring dan sabun mandi."
"Oh, sabun mandi mungkin."
Aida menunjuk ke dalam rumah. "Masuk saja terus. Nanti sebelum dapur, belok kiri. Di situ ada kamar mandi."
Collins menengok ke dalam. "Eh, maaf ya?"
"Oh, iya. Tidak apa-apa."
Sementara Collins masuk, Aida menunggu di luar. Ia bisa melihat rumah yang ukurannya kurang lebih sama dengan rumah babe dan tertata rapi walaupun barangnya tidak banyak. Perabotannya kebanyakan barang-barang yang sudah tua. Ia kemudian menemukan kamar mandi.
Tak lama, Collins keluar. Ia melihat Aida yang duduk di beranda. Collins duduk di kursi yang satu lagi karena kursi di beranda itu hanya ada dua. Sambil menatap Aida, pria itu meraih gelas tehnya. "Aku minum ya?"
Oh, iya. Silakan, Bang."
Collins meneguk pelan air teh hangat sambil mengagumi makhluk cantik di depannya. Betapa kesempatan begitu terbuka lebar untuknya memandangi Aida berlama-lama. Ia juga mengulurkan tangan meraih kue cucur yang berada di atas piring. "Mmh, enak," ucapnya sambil mengunyah.
"Alhamdulillah," sahut sang wanita sambil memeluk wadah di tangan. "Apa pekerjaannya sudah selesai?"
"Oh, belum. Apa aku harus menyelesaikannya terlebih dahulu?" Collins terlihat ragu-ragu menyelesaikan kunyahannya.
"Eh?" Wanita itu sedikit terjeda. "Oh, bukan begitu. Saya cuma tanya. Ngak papa, Abang istirahat dulu aja, mumpung tehnya masih hangat."
Collins memperhatikan lekuk wajah Aida. Kulit wanita ini terlihat lembut dan putih bersih. Hidungnya bangir dengan manik mata cemerlang. Sekilas ia tak terlihat buta. Sayang sekali Aida tak bisa melihat dirinya.
"Eh, Abang masih muda ya?"
"Eh? Bagaimana ustadzah tau?" Kedua mata pria itu melebar.
"Eh, dari suaranya," jawab sang wanita malu-malu. "Eh, pekerjaan Abang banyak juga ya? Serabutan. Dari tukang ojek, tukang parkir sampai bersihin halaman. Memangnya gak punya pekerjaan tetap ya, Bang?"
"He?" Collins bingung menjawabnya. Ia menggaruk-garuk kepala. "Iya ... begitulah."
"Padahal dari cara bicaranya, kayaknya pendidikan Abang tinggi."
Pria itu tentu saja semakin heran karena tebakan sang wanita benar semua. Collins merasa beruntung Aida tak bisa melihatnya, sebab kalau bisa, mungkin wanita itu tahu dari mana ia berasal. Begitulah pemikiran dangkal pria itu ketika Aida bisa menebak banyak hal hanya dari suaranya.
"Pasti pernah kuliah 'kan? Pernah kerja kantoran juga?"
"Eh ... ya, tapi sudah berhenti." Collins semakin ragu-ragu. Sampai di mana sebenarnya pengetahuan wanita itu akan dirinya hanya dengan mendengarkan suaranya?
"Dipecat ya? Oh, sayang ya? Jadi sekarang lagi cari-cari kerjaan? Tapi Abang gigih juga. Pekerjaan apapun dikerjakan. Demi anak istri ya, Bang?"
"Eh, bukan. Aku masih sendiri." Kali ini tebakan Aida salah dan membuat Collins lega. Wanita itu tak sepenuhnya pintar dalam menebak.
"Oh, maaf." Aida mengangguk pelan. Ia terdiam sejenak. Aida merasa telah terlalu banyak bertanya hingga ia langsung beranjak berdiri. "Eh, silakan istirahat saja, gak usah buru-buru. Saya masuk ke dalam dulu." Ia melangkah masuk. "Nanti kalau sudah selesai, panggil saja ya?" ujarnya ketika melangkah.
"Eh, iya." Collins menikmati tehnya sambil tersenyum. Sangat menyenangkan bisa mengobrol dengan Aida walau hanya sebentar. Wanita itu tak menyadari sang pria bisa bebas memandangi wajah cantiknya dari dekat.
Saat Collins menyelesaikan pekerjaan yang tersisa, sebuah motor berhenti di depan pagar. Yang wanita membuka pintu pagar dan yang pria memasukkan motornya. Wanita muda berambut lurus sebahu itu kaget melihat keberadaan Collins. "Kamu tukang bersihin halaman?" tanyanya saat melihat apa yang dikerjakan Collins.
"Eh, iya, Mbak." Collins mengangguk pelan.
Wanita itu terus memandangi Collins sambil menghampiri pria yang membawa motor. Pria itu melepas helm seraya menyentuh lengan sang wanita. "Hei, mata kamu ke mana? Lepas helmnya!" Ia sepertinya kesal, wanita itu memperhatikan Collins.
"Eh, iya." Sang wanita melepas helmnya.
Bersambung