Sang pria yang memakai t-shirt dan celana jeans, cemberut saat melirik Collins yang sedang memotong dahan dan daun yang sudah kering. "Ada yang gantengan dikit aja ...," gumamnya dengan nada kesal.
"Apa sih ... aku hanya kaget karena orangnya bukan yang biasa!" Wanita itu menghindar. "Ayo, masuk!"
Pria itu mengikuti sang wanita masuk ke dalam rumah. Collins tentu saja heran. Ia melihat pria itu duduk di ruang tamu dengan pintu terbuka. 'Apa ini sepupu Aida yang dibilang Babe waktu itu? Mmh, sepertinya begitu ....'
Di dalam, wanita muda itu menemui Aida dengan masuk ke kamarnya. "Kak, itu siapa di depan?"
"Oh, dia gantiin Pak Munir." Aida yang tengah duduk di kursi, menoleh. Ia tengah membaca buku dengan huruf Braille.
"Saudaranya Pak Munir?"
"Oh, aku gak tau. Tapi kerjanya memang serabutan."
Wanita berambut sebahu itu mengerut kening. "Dari mana kakak tahu?"
"Mmh? Aku sering ketemu dia. Di pasar, depan sekolah SLB, ...."
"Jangan-jangan dia ngikuti Kakak lagi seperti yang waktu itu? Hati-hati lho, Kak! Kakak juga jangan genit-genit jadi orang!" tuduh wanita itu lagi.
"Aning, Kakak gak pernah gitu." Aida menekan suaranya agar tidak terdengar sampai keluar.
"Alah, siapa yang percaya? Kakak mungkin buta, tapi enggak otaknya. Merasa diri paling cantik, terus kalau ada yang deketin aja, sok jual mahal. Padahal mau. Ini juga, orangnya gak jelas. Masa dia ada di mana-mana? Kalo bukan karena ngikutin Kakak, lalu apa? Jangan pura-pura naif deh, Kak, jadi orang!" ucap Aning sengit seraya melipat tangan di dadda.
"Kakak memang gak pernah Suudzon sama orang, Aning, tapi setidaknya waspada. Apalagi, kakak buta. Kakak juga tidak mau dekat dengan laki-laki seperti itu. Sejauh ini kakak lihat dia sopan, jadi kakak biarkan dia bekerja."
"Mentang-mentang ganteng," gumam Aning.
"Apa? Ganteng?" Mata Aida melebar.
'Oh, iya. Dia buta. Mana bisa lihat ya? Wajahnya seperti artis Jepang. Kalo gak miskin-miskin amat, aku juga mau dekat-dekat dengannya, mmh!' "Eh, Kak, ada Ryan di luar. Jangan keluar ya?"
"Lama gak? Nanti Bang Bara selesai, kakak harus bagaimana?"
"Ntar aku kasih tau. Awas ya, jangan keluar!" Aning memperingatkan sambil keluar dan menutup pintu. Ia kemudian duduk menemani pacarnya, Ryan di ruang tamu. Sesekali Aning melirik ke arah luar di mana Collins sedang bekerja. Matanya memang tak bisa memungkiri, pria itu sangat tampan walaupun hanya memakai baju kaos dengan celana jeans yang murah.
Baju Collins sedikit basah karena matahari masih bersinar, walaupun tidak terlalu terik. Sesekali ia menyeka keringat yang mengalir di dahi dengan punggung tangannya.
Tak lama Ryan pamit. Aning membantu membukakan pintu pagar. Pria itu memakai helm dan mendorong motornya keluar. Aning melambaikan tangan pada Ryan ketika motor pacarnya itu bergerak pergi.
Saat beralih pada Collins, pria itu sedang menuju gudang belakang rumah. Aning bergerak masuk ke dalam rumah. Ketika ia merapikan cangkir minuman bekas pacarnya, Collins datang.
"Eh, maaf, Mbak. Saya mau numpang cuci tangan."
"Apa?" tanya Aning terkejut. 'Bukankah dia bisa cuci tangan di luar?'
"Eh, Saya minta sabun sedikit untuk cuci tangan."
Dengan pandangan aneh wanita itu menjawab. "Eh, ya ... di kamar mandi."
Collins menganggukkan kepala dengan sopan. Ketika ia melangkah ke kamar mandi, Aning segera masuk ke kamar Aida dan memberi tahu. "Tuh. Dia udah selesai, tuh!"
"Oh, iya." Aida mengambil uang yang sudah disiapkan di atas meja dan beranjak berdiri. Dengan tongkatnya ia bergerak keluar kamar menuju di beranda.
'Dasar orang buta boddoh!' Aning memperhatikan sepupunya yang berdiri menunggu dengan pandangan meremehkan.
Tak lama Collins keluar dan mengangguk sopan pada Aning. Ia mendatangi beranda di mana Aida tengah berdiri. "Eh, sudah selesai, ustadzah."
Aida memutar tubuhnya ke arah datangnya suara. Ternyata Collins ada di sampingnya. "Oh, iya. Ini upahnya. Terima kasih ya?"
Collins menerima uang yang diberikan Aida. "Ah, sama-sama. Kalau butuh lagi, tinggal bilang aja."
"Oh, Abang punya nomor telepon?"
Seketika Collins terdiam. Ia sengaja meninggalkan ponsel di loker stasiun kereta api karena tidak ingin sang ayah melacak keberadaannya. Lalu, bagaimana caranya Aida bisa menghubunginya? "Eh, ponselku rusak karena jatuh. Aku belum beli lagi. Nanti kalau sudah beli yang baru, nanti aku kasih tau."
****
Pintu dibuka. Ada Ipah di depan pintu. Collins tak tahu apa yang diinginkan wanita ini hingga mencarinya ke kamar. "Apa, Mpok?"
Ipah tersenyum penuh arti. "Katenye lu beli Alquran ye? Mane, coba liat?"
Collins mengerut kening. "Untuk apa?"
Ipah menyerobot masuk. Ia melihat Alquran itu terbuka di atas meja. "Lu lagi baca?"
"Iya. Kenapa?"
"Coba, gue mau denger lu baca."
Kini Collins merengut. "Apa sih? Mau usil lagi ya?"
"Cuma pengen tau doang, kenape sih?" Ipah duduk di tepi ranjang. "Ayo ...."
"Untuk apa?" Pria itu masih berkeras berdiri.
"Alah ... bilang aja lu kagak bisa baca, iye 'kan?"
"Bisa!" sanggah Collins dengan tegas.
"Coba, Mpok mau denger!"
Dengan ragu, pria itu duduk di kursi. Sebenarnya agak malu juga, karena ia tidak bisa membacanya dengan lancar, tapi demi agar tidak diledek Ipah, Collins mulai membaca Alquran. "Bismillahirrahmanirrahim. Alif-lam-mim."
"Bacenye jangan 'mim'. 'Miim', karena die terakhir. Coba ulangi." Ipah mulai mengajari.
Collins mengikuti. Sebentar kemudian Ipah mengajarkan pria itu cara membaca Alquran yang benar. Collins terlihat bersungguh-sungguh mempelajarinya.
Setelah satu halaman, Ipah mengakhiri. "Kayaknya lu jarang baca, ye? Kenapa tiba-tiba belajar? Ada yang ditaksir, ye?" Ia tersenyum meledek.
Jelas Collins sewot. "Apa sih ...." 'Kenapa perempuan kalo nebak suka bener ya? Hah ....'
"Eleh! Cewek mane? Ustadzah pasti!" Ipah menunjuk wajah Collins.
'Perempuan itu keturunan penyihir, apa ya? Dibanding insting, tebakannya lebih jitu.'
"Tapi gak pape sih, kalau orang ntuh menularkan kebaikan. Semangat ye?" Wanita itu mencubit pipi Collins dengan gemas.
"Ah!" Secepat kilat pria itu menepisnya. "Apaan sih, Mpok, cubit-cubit pipi. Memangnya aku anak kecil!" Collins menautkan alisnya.
"Habis, kulit lu tuh bagus banget. Mpok aje udah pake macem-macem skincare gak bisa kulitnye putih mulus kayak lu, Bara. Lu pake apaan sih, bisa begitu?"
"Ya ngak ada, Mpok, cuma cuci muka aja! Paling sama sabun cuci muka yang untuk cowok itu, yang ada di kamar mandi!" sahut pria itu memberi tahu.
"Heran ye, cowok gak pake ape-ape aje bisa ganteng. Gua aje udah pake masker pemutih ampek bodylotion pemutih, tapi gak putih-putih kayak lu, Bara," keluh Ipah merengut. Ia yang berkulit kuning, merasa tak nyaman dengan warna kulitnya sendiri.
"Ya ... aku 'kan gak tau soal begini, Mpok. Coba tanyanya sama temen Mpok yang sesama perempuan. Barangkali ada yang tau."
Ipah masih merengut.
"Udah, keluar ya. Bara mau tidur," bujuk Collins mencoba mengusirnya. Kalau tidak sekarang, Ipah akan mengajaknya ngobrol hal-hal yang gak penting seperti soal skincare ini. Ia tak nyaman membicarakan soal itu.
Wanita itu melirik Collins dengan kesal. "Kok gak ada terima kasih sih, udah dibantuin juga belajar Alqurannye. Malah diusir ...."
"Bukan ngusir, Mpok." Collins menggaruk-garuk kepala sambil menghela napas panjang. "Ya udah deh ... sekarang maunya apa?" Pria itu bingung dengan keinginan Ipah yang tak jelas sejak masuk ke kamarnya.
"Traktir dong!"
"Traktir apa?"
"Bakso kek!" Mulut sang wanita makin mengerucut.
Collins kembali menghela napas. "Ya udah, iya. Traktir."
"Beneran ye?" Wajah Ipah seketika cerah dengan menyentuh kedua bahu adik angkatnya itu. "Mmh, kita makannye pulang kursus aja ye, oke?" Kemudian ia berpikir sejenak. "Nanti makannye di warung bakso mang kumis aje. Ntar Ipah kasih tau!"
Bersambung ....