Aida terdiam. Wanita itu tak bisa menemukan solusi atas pertanyaan ini.
"Karena itu Abang takut bertemu keluarga Abang," terang Collins. Ini salah satunya walau ia tak yakin karena ayahnya saja menikah dengan seorang Miranda yang bukan dari golongan orang kaya, tapi apakah sang ayah akan setuju menikahkan dirinya dengan Aida?
"Karena aku buta," gumam Aida sambil menundukkan kepala.
"Abang tidak melihat itu. Mbak punya hati yang luas. Buktinya, Mbak mencetak anak-anak hafiz Alquran tanpa memandang siapa mereka. Bahkan mereka yang cacat sekali pun."
Aida mengangkat wajahnya. "Itu karena kebetulan aku bisa. Aku hanya melakukan yang apa yang aku bisa, Bang. Sangat sulit untuk orang yang buta sepertiku untuk bisa melakukan banyak hal."
"Dan itu sangat-sangatlah luar biasa. Abang saja saat tahu Mbak seorang ustadzah, rasanya mentalku langsung jatuh."
"Masa?" Sedikit keterkejutan nampak pada wajah cantik wanita itu.
"Iya, dan itulah kehebatanmu. Jadi jangan pernah berkecil hati dengan apa yang tidak bisa Mbak kerjakan, karena apa yang bisa Mbak kerjakan saja sudah cukup membuat orang lain takjub. Seperti diriku."
Wajah Aida terlihat malu-malu dengan pujian Collins. "Abang paling pinter memuji."
"Lho, apa Abang berbohong? Enggak, 'kan?"
Wanita itu menunduk malu. Collins menatap Aida dan meraih kedua tangannya. Wanita itu melebarkan kedua matanya.
"Kenapa Mbak mau sama Abang, padahal Mbak belum pernah melihat wajahku?"
Aida berusaha menarik tangannya tapi pria itu tak melepaskan. "Bang ...." Ia tampak gusar.
"Jawab dulu pertanyaanku!"
Jantung Aida berdesir. Ia sudah lama sekali tidak pernah menyentuh tangan pria seperti ini cukup lama. Collins bahkan menggenggam jemarinya.
"Duniaku hanya suara dan intuisi. Aku melakukan sesuatu berdasarkan feeling. Kalau ingin melihat, itu hanya khayalan belaka."
"Bagaimana kalau wajahku jelek, rusak atau penuh dengan bopeng?"
"Masa?" Aida mengerut dahi.
"Atau hidungku terbalik dan alisku hilang."
Aida tertawa kecil.
"Karena itu Abang mengizinkanmu menyentuh wajahku agar Mbak bisa membayangkan wajahku di dalam kepala." Collins menaikkan kedua tangan Aida dan meletakkannya di wajah. Wanita itu sedikit kurang nyaman karena harus menyentuh wajah sang pria. Apalagi kemudian Collins memangkas jarak. Ia bisa merasakan hembusan napas pria itu yang menyentuh wajahnya dengan hangat.
Aida takut hingga menarik tangannya. Jantungnya berdetak kencang.
"Apa Mbak tidak ingin tahu seperti apa wajahku?"
"Tapi ...."
"Abang tidak ingin membohongimu. Apa kalau Abang tiba-tiba menghilang Mbak bisa mencarinya?"
"Menghilang? Menghilang ke mana?" Aida menautkan alisnya.
"Misalnya ... Abang kecelakaan atau ...."
"Bang! Astaghfirullah alazim ... jangan suudzon!" Aida memukkul bahu Collins karena merasa sudah keterlaluan.
"Ini misalnya ...."
"Ucapan adalah doa."
"Iya, iya, maaf. Sudahlah ...." Collins menyerah. Ia tak ingin memaksa Aida. Baru saja ia hendak memutar kepala, kedua tangan sang wanita bergerak ke arah wajahnya.
"Tunggu ...."
Mata Collins membola. "Eh ...." Pelan, jemari itu menyentuh wajahnya. Jemari seorang wanita. Jemari itu menyusuri pipi, hidung dan pelan-pelan ke arah mata. Collins memejamkan kedua matanya. Ia bisa merasakan jemari itu mengusap kelopak matanya dengan lembut. Kemudian alis.
Wanita itu menyusurinya dengan hati-hati. "Alismu rapi ya?"
Collins membuka mata. Ia bisa melihat Aida begitu dekat. Alisnya, hidungnya dan bahkan matanya terlihat sempurna. Bahkan sapuan tangannya pada wajah begitu sangat mengoda. Akankah ia bisa memilikinya? Hidupnya begitu rumit. Penuh kepalsuan. Setidaknya bersama wanita ini ia ingin hidup jujur.
Angin malam mulai terasa dingin. Keduanya kemudian kembali ke motor yang membawa mereka pulang.
****
"Mbak ada apa?" Collins melihat seekor kucing kecil mengelilingi kaki Aida. Warnanya putih belang hitam.
"Aku gak tau. Kucing ini gak mau pergi." Aida tampak cemas, karena itu ia berdiri sedikit tegang. Aida tak berani melangkahkan kaki karena takut terinjak.
Collins turun dari motor dan memattikan mesin. Ia mengambil kucing kecil itu dan mengusap punggungnya. "Tadi sudah dikasih makan?"
"Sudah. Roti."
"Mungkin karena Mbak kasih makan, jadi dia begitu."
"Jadi bagaimana? Aku tidak tahu itu kucing siapa. Tahu-tahu dia ada depan pintu."
"Mbak mau memeliharanya?"
"Aku tidak tahu." Aida tampak bingung.
"Kalau dia datang padamu. Piara saja, biar ada teman." Kembali Collins mengusap-usap punggung kucing itu.
"Gitu ya?"
"Mbak tidak mau?" Collins kembali menatap Aida.
"Apa tidak apa-apa? Nanti apa tidak dicari pemiliknya?"
"Kucing, biasanya kalau keluar berarti dia ingin mandiri. Piara saja, sampai dia bosan dan pergi. Mbak tidak punya kewajiban untuk mencarinya lagi."
"Mmh ...." Aida tampak ragu.
"Bagaimana?" Collins mengusap-usap kepala kucing kecil itu.
"Aku sekarang mau berangkat kerja, Bang. Aku tak bisa pergi kalau dia terus mengitari kakiku."
Collins melihat sekitar. Ia menemukan sebuah kotak kardus mi dan memasukkan kucing itu ke sana. "Ini sudah Abang masukkan kardus. Abang taruh saja di depan pintu kontrakanmu ya. Nanti, kalau Mbak mau piara atau tidak, itu terserah Mbak." Ia membuka pintu pagar dan meletakkan kotak kardus itu di depan pintu kamar Aida. Kemudian ia keluar. "Ayo, berangkat!"
****
"... Be, tolong berikan saja toko itu untukku," pinta Collins.
"Kagak bisa!" Babe berkeras.
Collins melirik Enyak. Ia meraih lengan wanita itu dan membujuknya. "Nyak, bujuk Babe, Nyak. Biar Bara bisa tinggal di sini mengurus kalian berdua. Bara ngak akan ke mana-mana lagi. Bara mau tinggal sama Enyak dan Babe aja." Ia memberi garansi.
Enyak mengerut dahi. Ia menoleh pada suaminya. "Udehlah, Bang. Kasih aje ame Bara buat maskawin die sama ustadzah." Ia memohon pengertian babe.
Namun pria paruh baya itu tetap bergeming. "Enggak!" Sebentar, ia menghela napas pelan dan mengusap wajah untuk meredakan emosi. "Bukan babe perhitungan ame elu, Bara. Tapi Babe rasa elu harus ngasih tahu pernikahan elu ame orang tua lu sebab orang tualulah yang lebih berhak, daripada babe. Kalo masalah maskawin mah, nanti babe bisa bantu."
Collins menegakkan punggungnya. "Babe ... babe kok gak ngerti-ngerti sih? Udah Bara bilang, Bara gak berani bilang ke orang tua Bara, soal ini. Bagaimana kalau mereka tidak setuju?"
"Elu berjuanglah!"
"Ck, babe ...." Collins memalingkan wajah.
"Kalo kalian nanti menikah dan orang tua elu tahu, gimane? Lebih parah lagi karena elu gak ngasih tahu mereka. Bukankah tugas seorang anak untuk ngasih tahu orang tuanye kalau mereka akan menikah?"
"'Kan aku pihak laki, Be. Urusan nanti, ya urusan nanti ajalah," ucap Collins menggampangkan.
Babe kembali kesal. Suaranya kembali meninggi. "Ape jadinye kalau misalnye Ipah menikah tanpa izin dan sepengetahuan babe? Ape elu pikir babe gak marah?" Babe mendengus kasar. "Begini ye, Bara. Babe emang berharap elu anak babe. Demikian juga Enyak, tapi kenyataan pan enggak gitu! Lu punya orang tua, Bara. Jadi, hargailah!"
Collins merengut. "Apa aku tak bisa menikah tanpa orang tuaku?" ucapnya setengah bergumam.
Babe kembali menghela napas pelan dan menoleh ke samping. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Babe merasa ada sesuatu yang membuat Collins tak ingin menemui orang tuanya dan itu pasti bukan hal yang sederhana. "Sebenernye kenape sih elu kabur dari rumah?" Tak tahan ia terpaksa menanyakannya. Ia melihat wajah Collins yang tampak menahan berjuta emosi. Namun mulut Collins tetap terkunci.
Tiba-tiba Collins meraih tangan babe dan memohon. "Be, tolong ...."
Untuk ke sekian kalinya babe kembali menghela napas. Ia kemudian menatap Collins tepat di kedua matanya. Ia mengangkat telunjuknya. "Baek, babe akan nikahkan elu, tapi ... babe gak akan ngasih elu toko itu, ye! Lu harus cari sendiri dah, maskawinnye untuk ustadzah."
"Babe ...." Collins terlihat kecewa.
Enyak menyentuh lengannya. "Babe lu bener, Bara, karena resikonye gede buat die. Kalo orang tua lu tau, babe bakal disalahin."
Bersambung ....