Seketika dadda Collins terasa sesak. "Begitulah ...."
"Ya, boleh. Aku akan tunggu kabar darimu."
Seketika ruangan itu riuh kembali, tapi kini riuh dengan kegembiraan. Akan ada pesta berikutnya dari salah satu kerabat mereka. Aida pun tampak berkaca-kaca. Collins menatap Aida berharap tindakannya tidak menyalahi keinginan wanita itu karena ternyata, ia lupa bertanya. Dan sepertinya semua akan baik-baik saja. Ia bisa merasakan Aida yang tampak haru mendengarnya. Collins pun lega.
Di lain pihak, Aning gemas. Ia yang sudah dua tahun berpacaran tapi tak kunjung dilamar. Alasannya, karena sang pacar adalah seorang pegawai negeri. Pria itu tengah menunggu kenaikan jabatan dan kemungkinan tinggal di luar kota. Hal inilah yang menjadi pertimbangan karena Aning berkeras tidak mau ikut kalau tinggal di daerah. Apalagi kalau daerah pedalaman, padahal tempat ia tinggal sekarang juga bukan kota besar.
Dalam perjalanan pulang, Collins dan Aida tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aida tampak bahagia sedang Collins tengah dipusingkan dengan persiapan. Ini bukan hal yang mudah buat Collins karena hidupnya kini penuh dengan rahasia. Dapatkah ia berbagi rahasia ini dengan Aida?
Motor menepi di pinggir jembatan. Aida mengerut dahi karena merasa perjalanannya masih jauh, tapi kenapa motor berhenti? "Bang ...."
"Sebentar Mbak, kita turun dulu. Ada yang ingin Abang katakan." Collins memattikan mesin motornya.
Aida turun dan melepas helm. Collins menariknya ke pinggir pagar jembatan.
"Kita di mana?"
Collins meletakkan tangan Aida di pinggir pagar. "Kita di jembatan yang ada sungai di bawahnya."
Aida bisa mendengar air mengalir di bawahnya. Juga suara kendaraan bermotor di belakang mereka. Angin malam bertiup lembut pada kerudung tipisnya sehingga sesekali bergerak tak beraturan. Collins tak berbohong soal di mana mereka berada.
"Ada apa?" Aida memutar kepalanya ke arah Collins yang berada di sampingnya. Walau tak bisa melihat, tapi sudah menjadi kebiasaannya untuk menoleh pada sumber suara.
"Abang hanya ingin tahu apa Mbak bisa menerimaku apa adanya. Saat ini, Abang hanya bekerja padamu dan pada babe di toko. Abang sebenarnya belum pernah ngojek untuk orang lain."
"Pekerjaanku pun tidak menghasilkan uang yang banyak, kalau itu yang Abang tanyakan." Aida berusaha bijak.
"Mbak tidak apa-apa, punya suami yang pengangguran seperti Abang?" Collins menatap di antara kedua bening manik mata sang wanita. Mata lembut itu bercahaya di gelapnya malam.
"'Kan Abang kerja, walau hasilnya tak banyak. Aku tidak masalah."
"Tapi Abang tidak punya apapun yang bisa ditawarkan. Motor ini punya babe dan Abang bekerja dengannya. Diluar itu Abang tidak punya apa-apa."
"Abang 'kan katanya pernah kerja di kantor. Kenapa tidak coba lagi?"
Collins terdiam. Ini yang sulit ia jelaskan. Haruskah ia mengatakannya?
Aida merasa aneh ketika Collins tak menjawab. Ia tak bisa melihat ekspresi wajah pria itu saat ini. "Bang, Abang serius gak sih sama aku, Bang?" ternyata ia mulai kesal.
Tentu saja Collins terkejut. Ia tak bermaksud begitu tapi Aida menanggapinya demikian.
"Ya udah, kalo gak mau ya gak papa. Aku tidak memaksa Abang nikah sama aku, Bang." Aida cemberut.
" Oh, bukan begitu maksudku, Mbak." Collins meraih tangan Aida dan menggenggamnya. "Dengar dulu."
Aida menarik tangannya pelan karena mereka bukan muhrim.
Collins membiarkan wanita itu menarik tangannya. "Eh, begini. Abang belum sepenuhnya berterus terang kepadamu. Kalau kita mau menikah, sebaiknya kita saling jujur satu sama lain agar tidak terjadi kesalahpahaman."
"Bilang aja, apa susahnya!" Aida masih cemberut.
Collins melihat wajah Aida saat ngambek dengan gemas. Ia tersenyum kecil. "Mbak tahu gak? Dulu Abang pikir, Mbak itu tidak menyukaiku. Karena itu Abang membiarkanmu pergi. Tapi setelah tahu Mbak juga menyukaiku, Abang pastikan, Abang takkan melepaskanmu lagi."
Kalimat itu sukses membuat pipi Aida merah merona. Ia tak lagi cemberut. Bahkan wajahnya kini tampak malu-malu.
"Tapi Abang ingin tahu, bagaimana kalau selama ini Abang berbohong?"
Kembali wajah Aida berubah cemberut. "Abang bohong apa sama aku, Bang? Abang bohong apa?"
"Bohong tentang orang tuaku."
Dahi Aida berkerut. "Bukankah tadi Abang bilang udah gak punya orang tua sama seperti aku? Maksudnya ... Abang masih punya orang tua?"
"Iya ...," sahut Collins dengan sedikit penyesalan.
"Astaghfirullah, Abang .... Abang bohong sama pamanku, Bang. Kenapa Abang bohong? Dosa lho, Bang, punya orang tua tapi ngaku enggak. Kenapa Abang begitu? Apa Abang tidak mau mengakui orang tua Abang sendiri?"
"Mmh, ini persoalan rumit. Aku sebenarnya kabur dari rumah." Collins menundukkan kepala.
"Apa?" Aida ingin mengatakan sesuatu tapi ia sendiri syok mendengar kenyataan. Mulutnya bergerak-gerak tapi tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. "Hah ...." Ia menghela napas dengan kasar.
Collins menunggu. Menunggu Aida memberikan pendapat. Ia ingin tahu pendapat wanita ini.
"Kenapa Abang kabur dari rumah?" Itu kalimat berikutnya yang keluar dari mulut Aida.
"Abang tidak cocok dengan ibu tiri Abang. Di belakang ayahku, kami sering bertengkar."
"Kenapa Abang tidak mengalah saja? Demi ayahmu."
Collins maklum. Aida tak kenal Melinda. Collins takkan memaksa Aida untuk mengerti. "Terkadang memang ada yang tak bisa disatukan. Seperti air dan minyak."
"Kenapa Abang tidak coba filosofi magnet? Kalau kutubnya saling berlawanan, mereka akan saling tarik-menarik. Intinya, saling mengerti akan adanya perbedaan dan saling menghargai satu sama lain."
Collins menghela napas panjang. Ia menatap sungai yang mengalir di depannya. Andai saja segala sesuatu bisa sesederhana itu. "Ini masih pe er buatku."
"Jadi, Abang takkan memberi tahu orang tua Abang tentang pernikahan kita?"
Collins kembali menatap Aida. "Apa aku boleh melakukannya?"
"Bang, restu orang tua itu penting. Mungkin Abang tidak bisa cocok dengan ibu tiri Abang, tapi bisakah Abang mengesampingkan itu sejenak? Ini pernikahan. Aku ingin pernikahan ini dihadiri oleh orang-orang yang seharusnya hadir di sana, iya 'kan?" Aida menyentuh lengan Collins.
"Tapi laki-laki 'kan bisa menikah hanya dengan wali, tidak harus orang tua?"
"Kenapa Abang tidak mau memberi tahu orang tua Abang, kita menikah? 'Kan kita bisa tinggal terpisah nantinya?"
"Bukan itu masalahnya."
"Pulang dan minta maaf pada kedua orang tua, Bang," desak Aida dengan mengguncang lengan Collins. "Apa Abang tahu rasanya tidak punya orang tua? Tidak enak, Bang. Kamu tidak punya tempat untuk berlindung atau bertanya. Juga dituntut untuk bisa tegar saat semua tidak baik-baik saja. Kamu juga harus bisa berdiri sendiri, walau tidak semudah bicara. Apa Abang pernah merasakan hidup seperti itu, Bang?" Wanita itu terlihat kecewa.
"Eh ...." Collins menyentuh jemari Aida yang tengah menggenggam lengannya. "Maaf." Ia mengerti apa yang diucapkan Aida adalah pengalaman pribadi. Ia tidak bermaksud membuatnya sedih.
"Selagi punya orang tua, Bang. Berbaktilah. Abang adalah satu dari sekian banyak orang yang beruntung. Lakukan itu sebelum terlambat." Entah kenapa, berbicara dengan Aida membuat Collins mendapat pemikiran dari sudut pandang berbeda.
Ya, betapa beruntung dirinya. Walaupun sang ibu sudah tiada, ia masih punya ayah yang sangat menyayanginya. Ayah yang mungkin terlalu berlebihan melindungi sehingga ia harus ke mana-mana dengan bodyguard sejak kecelakaan lima tahun yang lalu. Namun ia masih saja berusaha kabur dari rumah, walau ia tak lagi berani minum minuman beralkohol sejak kejadian itu.
Satu hal yang membuatnya takjub, Aida tak peduli kalau ia tak punya pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Aida tak seperti Miranda yang bukan orang miskin tapi sangat gila harta. Itulah pandangan Collins tentang Miranda ketika wanita itu berhasil menikahi sang ayah, Hardyn Grow.
"Iya, Abang beruntung. Tapi ... bagaimana kalau ayahku tak setuju Abang menikah denganmu?"
Bersambung ....