Keberadaan mereka cukup menarik perhatian, bukan saja yang satu tampan dan yang satu cantik, tapi karena Aida yang buta dan Collins yang berwajah Jepang. Sungguh perpaduan yang sangat unik. Apalagi yang kenal Aida, pasti penasaran dengan pria yang berada di sampingnya.
"Aida."
"Ah, Paman," sahut Aida yang mengenali suara sang paman. Keduanya bersalaman.
"Siapa ini, Aida?" Paman yang penasaran tak dapat menyembunyikan keingintahuannya pada Collins.
"Teman, Paman."
"Siapa namanya?" Paman masih belum melepas genggaman tangannya pada keponakannya itu.
"Oh, Bara, Paman."
"Oh, begitu." Paman melepas tangan Aida dan beralih pada Collins. Namun ia tak mengucapkan apa-apa selain berterima kasih karena Collins mengucapkan selamat padanya. Istrinya juga perhatian. Tentu saja, karena keponakannya itu sudah tak punya orang tua.
Di pesta itu, Collins banyak membantu Aida berjalan. Bukan apa-apa, wanita itu harus hati-hati melangkah di keramaian. Sekali waktu kadang Collins harus menarik lengannya agar tak bertubrukan dengan orang lain. Ia juga membawa Aida ke tempat makan ketika wanita itu ingin ke sana.
"Kamu mau makan apa, Bang? Ayo, makan aja."
Collins menatap Aida dan tersenyum. "Lalu kamu makan bagaimana?"
Aida hanya tersenyum lebar. Ia tahu maksud Collins karena ia sendiri tak bisa melihat makanan yang ada. Akhirnya Collins mengambilkan makanan untuk sang wanita setelah ia menyebutkan makan yang ada.
Tak lama keduanya nampak duduk di deretan kursi tamu dan makan bersama. Collins kemudian melihat Aning dan pacarnya, datang ke pesta itu dan makan di tempat berbeda. "Sepupumu juga datang, Mbak."
"Aning? Ya, tentu saja," jawab Aida santai. Entah kenapa ia merasa aman duduk di samping Collins. Entah karena mulai terbiasa, tapi ketika pria ini membelanya dari Aning, ia mulai berharap pada Collins. Ia berharap kata-kata sang pria waktu itu, benar-benar akan menjadi kenyataan.
Mereka masih menikmati makanan mereka ketika saudara Aida yang lain datang menyapa. Tentu saja Collins tahu karena mereka memakai bahan pakaian yang sama.
"Aida, aduh ... udah lama ya?" Seorang wanita muda dan seorang pria datang menghampiri. Seorang anak perempuan berada dalam gandengan sang pria.
"Ah, Mbak, apa kabar?" Keduanya menempelkan pipi mereka kanan dan kiri.
"Baik. Kamu datang sama siapa? Aning?"
"Aning sama pacarnya, Mbak."
"Lalu kamu? Sendiri?" Kedua mata sang wanita terlihat ingin tahu.
"Sama Bang Bara." Aida menunjuk ke samping dengan suara pelan.
Tentu saja wanita itu melirik Collins. "Oh, ada Abang Bara rupanya," ucapnya setengah meledek.
Bara hanya menganggukkan kepala dengan sopan. Sepertinya Aida mulai berani memperkenalkan Collins pada saudara-saudaranya. 'Apa itu berarti dia mulai serius padaku?' Collins menduga-duga.
Beberapa kerabat yang lain juga ikut datang. Mereka sudah lebih dulu melihat keduanya tapi tak berani mendekat. Namun ketika salah satu dari saudaranya mendekati Aida dan Bara, para kerabat yang lain mulai berdatangan.
Tentu saja Aning cemburu. Ia yang sudah punya pacar dua tahun ini, tak ada yang begitu peduli. Aida selalu dapat perhatian. Selain cantik, cerdas dan ramah, orang mengasihaninya karena buta. Aning mengepalkan tangan erat-erat karena geram. 'Pacaran sama tukang ojek aja, bangga. Huh!'
Karena acara keluarga, Aida tak lantas bisa pulang cepat. Ia harus menunggu hingga acara berakhir. Setelah sholat Ashar di ruangan pengantin, sang paman menemuinya. "Tolong jangan pulang dulu, Paman mau bicara denganmu."
"Eh? Iya, Paman." Aida sedikit terkejut tapi ia patuh. Pamannya ini sudah seperti orang tua kedua baginya. Walaupun ia sudah mandiri, sang paman terus memantaunya hingga kini.
Setelah acara foto-foto dengan pengantin, acara berganti ke acara makan dengan keluarga dekat. Di sana selain Aida, Aning pun ikut bergabung bersama.
"Aning, kapan kamu mau menikah?" tanya sang paman sambil menikmati makan siangnya yang sudah telat itu.
"Belum tau, Paman. Aning harus mengumpulkan uang dulu untuk nikah."
"Kalau sudah siap, 'kan bisa nikah di KUA."
"Iyaa ...." Aning melirik sang pacar. "Banyak yang harus disiapkan."
"Mmh ...." Paman menyelesaikan kunyahannya dan kini melirik Aida. "Kalau kamu, Aida?"
"Eh?" Aida yang tengah menikmati puding, hampir tersedak. Collins yang melihat Aida terbatuk-batuk, segera menyodorkan gelas minum sang wanita. Aida meminumnya.
"Kamu sudah ada calon?" tanya paman lagi. Ia melirik Collins yang begitu perhatian.
Tentu saja, Aida pun melirik Collins tapi keduanya belum mempunyai status yang jelas. Bagaimana ia akan menjawabnya?
Collins terlihat tenang. Ia duduk sambil menyilang kakinya ke samping dan tak peduli dengan banyaknya pandangan orang ke arahnya. Ia hanya menunggu Aida menjelaskan.
"Eh, siapa namanya tadi? Nak Bara ya?" Kini pertanyaan sang paman beralih pada Collins.
"Iya, Pak," sahut Bara sopan.
"Kamu temannya?"
"Iya." Angguk Collins pelan.
"Kenal di mana?"
"Dia cuma seorang tukang ojek, Paman!" teriak Aning penuh kemenangan. Ia senang bisa mempermalukan Aida di depan saudara-saudaranya yang lain.
Para kerabat mulai berbisik. Wajah mereka penuh dengan keterkejutan, tapi Collins tetap tenang. Aida memendam perasaan bersalah, tentu saja, karena ia telah membuat Collins merasa dipermalukan di depan orang banyak. Mungkin ide buruk telah membawa pria itu ke sini.
"Eh, Aida." Sang paman kembali berucap.
"Ya?" Wajah Aida tampak khawatir.
"Apa dia benar temanmu?"
"Iya, Paman." Aida menjawab dengan jujur.
"Apa hubungan ini istimewa?"
Bahkan sang pengantin ikut penasaran dengan jawaban Aida. Sepertinya setiap orang tengah menahan napas demi untuk bisa mendengarkan jawabannya. Wanita itu menoleh pada Collins. Ia bimbang. Bila ia menjawab 'iya', akankah Collins mengakuinya? Ia begitu takut kecewa sebab ia tak bermaksud mendesak Collins untuk buru-buru mengakui hubungan ini. Apalagi bila tiba-tiba sang paman mendesak menikahinya seperti pada Aning, mungkin seorang pria yang tak mapan seperti Collins akan berpikir dua kali untuk mengiyakannya.
Diluar dugaan, sang paman beralih pada Collins. "Bagaimana dengan kamu, Nak Bara, apakah kamu merasa hubungan kalian istimewa?" Rupanya sang paman berusaha bijak. Ia tahu, pasti sulit bagi Aida untuk menjawab pertanyaan ini karena ia wanita. Entah karena hubungan yang rumit, atau Aida yang terlalu takut kehilangan pria ini.
"Ya, bisa dibilang begitu, Pak," jawab Collins mantap. Tidak ada keraguan dari kedua manik matanya.
"Apa kamu berniat menikah dengan keponakan Saya?"
"Tentu saja, Pak."
Ruangan kembali riuh dengan bisikan para kerabat. Collins dan sang paman masih saling berpandangan walaupun Collins menatapnya dengan sopan. Sang paman tampaknya masih penasaran. "Kapan?"
"Apa?" Ini cukup mengejutkan Collins. Bukan berarti ia tidak berekspektasi dengan pertanyaan itu, tapi apa pamannya itu tak mendengar ucapan Aning bahwa ia hanyalah seorang tukang ojek? Apa paman Aida sungguh-sungguh akan melepas keponakannya itu padanya? Collins mengira paman Aida akan menolaknya.
"Kamu serius, 'kan?"
"Eh, i-iya." Collins sedikit gugup. Padahal ia mengira, bila pria ini menolaknya, ia akan tetap mempertahankan Aida. Collins akan berusaha membujuk sang paman untuk tetap memilihnya. Dan karena sang paman memilihnya, ia malah tak punya persiapan untuk jawaban berikutnya.
"Jadi kapan?" Kini sang paman terlihat seperti orang yang tengah menginterogasi seorang tertuduh dengan cecaran pertanyaan. Yang lain pun ikut penasaran.
"Eh, aku hanya tukang ojek ...," ujar Collins pelan.
"Tidak masalah. Kalian berdua sudah punya pekerjaan. Sekarang tinggal menikah saja."
"Oh, begitu ...." Collins bingung melanjutkan.
"Jadi?" Sang paman masih bertanya.
"Apa harus secepatnya?" Collins benar-benar tak tahu apa yang diinginkan paman Aida.
"Oh, tentu saja. Kalian berdua sudah cukup umur walau kelihatannya kamu lebih muda, tapi tidak apa-apa. Kalau kamu sudah merasa bertemu dengan pasangan yang tepat, bukankah lebih baik disegerakan?"
"Eh, iya, tapi aku harus bicara dulu dengan pamanku."
"Kau tidak punya orang tua?"
Bersambung ....