Aida segera tersadar, dan tersipu. "Eh, tadi aku tuh mau belanja." Ia mengalihkan pembicaraan.
"Ya udah, mau apa?" Collins menatap wajah Aida. 'Kenapa belakangan ini wajahnya terlihat manis? Gampang tersenyum juga, apa dia sedang senang?'
"Aku beli kopi bubuk yang satu bungkus besar sama gula sekilo." Dalam hati, Aida masih khawatir wajahnya kemerahan, tapi ia tak bisa menyentuh wajahnya karena takut Collins memperhatikannya.
"Ada lagi?" Pria itu memasukkan dalam plastik belanja.
"Eh, tisu."
"Udah?" tanya Collins memastikan sambil memasukkan sisanya.
"Iya."
"Gratis," celetuk babe yang sedang makan tanpa menoleh. Collins meliriknya.
"Eh, tidak. Aku bayar." Aida mengeluarkan uang kertas berwarna biru.
"Lah, babe ditraktir makan siang tapi elu ditraktir belanjaan, kagak mau," kata babe lagi yang kini melirik Aida. Ia tengah makan dengan tangan.
"Eh, itu rasa terima kasihku, Be. Udah ditolongin. Yang ini beda lagi," tolak Aida.
Babe mengangguk-angguk sambil mengunyah. "Ye udeh, terserah lu aje. Mmh, rendangnye enak nih?"
"Ah, senang Babe suka." Aida tersenyum lebar. Ia lega.
Collins memperhatikan senyum sang wanita. Seketika itu juga ia melangkah keluar toko. "Kenapa kamu senyum dengan dia? Kenapa gak senyum denganku?" Dengan wajah datar Collins bertanya dengan Aida.
Babe melirik keduanya sambil mengunyah. Ia tak tahu bagaimana mereka berhubungan, tapi melihat Collins yang berani mengungkapkan perasaan di depan dirinya membuat babe geleng-geleng kepala.
"Eh?" Aida melongok.
"Ayo, aku anterin kamu pulang."
Wanita itu tak mengerti maksud perkataan Collins. Ia melangkah bersama sambil mengerut dahi. "Apa kamu cemburu pada Babe?"
"Menurutmu?" Mulut pria itu mengerucut tapi Aida tak bisa melihatnya. Walau begitu, Aida bisa merasakannya dengan nada bicara Collins yang sedikit pedas.
Aida memalingkan wajah menahan tawa dengan tangannya. Collins malah bergerak memutar ke hadapan Aida dan melangkah mundur. "Aku tidak pernah melihat kamu tersenyum padaku."
"Masa?" Langkah Aida terhenti dan menautkan alis. Ia coba berpikir. 'Apa benar aku tidak pernah tersenyum padanya?'
Collins pun berhenti melangkah. Ia mendekati Aida.
"Bara!" teriak babe. "Babe liat yak!"
Collins hanya bisa mendengus kesal. "Iya, Be!" Ia merengut. Ternyata babe masih mengintip hingga bisa melarangnya melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Padahal Collins tidak berniat melakukan apa-apa.
Aida kembali menahan tawa dengan menutup mulutnya. "Ya udah, aku pulang dulu ya, Bang." Ia menjalankan tongkatnya dan menghindar dari Collins.
"Eh, tidak bisa. Tadi aku bilang, aku antar pulang!" Collins mengejarnya dan berusaha berjalan sejajar.
Aida tersipu. Ia bisa merasakan pria itu berada di sisi, dan mencoba melangkah bersama. Ia tahu itu dari bau deodoran yang sudah tercampur aroma tubuh Collins yang menguar sempurna mengelilinginya.
'Mudah-mudahan, dia adalah pemberian terbaik yang Tuhan berikan untukku.'
****
"Bara ... ayo!" Babe sudah duduk membonceng di belakang Collins tapi pria itu tak kunjung menyalakan mesin motor.
"Tunggu, Be. Mbak Aida belum keluar dari sekolah SLB." Ternyata Collins menunggu Aida yang belum keluar dari sekolah yang berada di seberang toko.
"Ini udeh sore, Bara. Babe harus ngajar. Babe harus pulang dulu, mandi."
Mulut Collins mengerucut. "Biasanya dia sudah pulang, tapi kenapa sekarang belum keluar juga?" gerutunya.
"Mungkin ada yang murid yang lagi ujian hafiz, jadi mungkin lama. Lagian, kenapa lu nungguin, dah? Ustadz itu pan bisa pulang sendiri, tinggal nyebrang ini ...."
"Iya ...," sahut Collins setengah tak rela. "Aku hanya khawatir dia kenapa-kenapa."
"Yang dikhawatirkan itu elu, Bara. Luka lu belum sembuh bener walau gak parah dan lagipula, lu juga bukan warga sini."
"Jangan samain Mpok sama Mbak Aida, Be. Mpok bisa bela diri!" Kini Collins mengomel.
"Ye udeh, nikah aja sono. Beres 'kan?"
Collins terdiam. Kali ini ia tak bisa menjawabnya.
Babe menepuk bahu Collins. "Makenye, coba cari kerja kantoran."
Ide babe terdengar sederhana tapi ia tak bisa melakukannya. Perlu identitas lengkap kalau ingin bekerja di kantor, plus kemungkinan keberadaannya tercium sang ayah. Collins dilema. Betapa susahnya lepas dari bayang-bayang sang ayah.
Ia menyalakan mesin motornya.
****
Collins terkejut saat motornya hampir sampai menjemput Aida pagi itu. Dari jauh ia melihat wanita itu tengah didatangi sepupunya, Aning. Saat Collins datang, ia baru tahu mereka sedang membicarakan apa.
"Ini tagihan listriknya udah datang. Kakak bantuin Aninglah setidaknya bayar setengahnya," pinta Aning pada sang sepupu.
"Lho, kenapa dia harus bayar? Dia 'kan udah tidak tinggal lagi di situ?" Collins ikut bicara.
Aning merengut kesal. "Kamu siapa, ngatur-ngatur urusan orang?!" omelnya pada Collins dengan dahi berkerut.
"Aku tunangannya. Memang kenapa?!" tantang Collins balik.
Aning melongok. Aida tak bisa menahan untuk tidak tersenyum.
"Ayo, Mbak, naik. Nanti telat," sahut Collins yang juga ikut kesal mendengar omongan Aning.
Aida menjalankan tongkatnya mencari motor pria itu. Setelah itu ia naik. Tanpa bicara apa-apa, keduanya pergi.
Pelan-pelan Collins merasa bersalah karena lancang ikut campur dengan urusan mereka bersaudara. "Eh ... maaf ya?"
"Apa?" Aida tak bisa mendengar karena suara mesin motor.
"Maaf, aku lancang!" teriak Collins agar terdengar.
"Oh, tidak apa-apa." Aida bahkan masih tersenyum malu duduk di belakang Collins. Teringat kalimat pria itu tadi. 'Aku tunangannya, memangnya kenapa?'
Padahal di depan, Collins terlihat khawatir. 'Apa yang dia pikirkan saat aku bilang 'tunangan' tadi? Ah, sial!'
Motor berhenti di depan pintu gerbang sekolah. Beberapa murid ada yang sudah datang dan masuk ke dalam gerbang. Aida pun turun. "Eh, Bang?"
"Ya?" Collins sedikit cemas ketika wanita itu terdiam. 'Apa dia masih memikirkan apa yang aku ucapkan tadi?' "Eh, maaf. Tadi aku memang sedikit keterlaluan. Terlalu lancang untuk ikut campur urusan orang."
"Apa?" Aida tampak terkejut.
"Eh, yang soal tadi 'kan?" Duga Collins.
"Oh, bukan." Aida tampak lega.
"Lalu apa?" Kini Collins yang terlihat bingung.
Aida bicara hati-hati. "Eh, kira-kira ... Abang punya waktu gak Sabtu ini temani aku kondangan. Eh, itu kalau Abang gak keberatan. Acaranya siang kok, jadi ...."
"Bisa, aku bisa!" potong Collins cepat.
Terlihat seulas senyum di bibir merah Aida. "Ya udah, hari Sabtu ya." Ia hampir melonjak kegirangan tapi berusaha menahan diri. "Terima kasih."
"Iya." Collins tak kalah senang.
****
Collins mematut diri di cermin. Ia melihat setiap detail kemeja batik tangan panjang yang ada di hadapan. 'Tidak buruk. Mpok cukup berbakat.' "Makasih ya, Mpok."
"Ye udeh, jangan lama-lama ngacanye. Ntar keburu acara kelar," ledek Ipah dengan senyum lebar. Dilihatnya Collins sempat melihat ke arah samping. "Udeh ... udeh ganteng kok, kanan kiri oke."
Collins melengkungkan ujung bibirnya ke atas. "Ya udah, aku berangkat. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Ipah pelan.
Ia keluar kamar, mengambil kunci motor dan juga helm. Tak lupa helm cadangan. Setelah melewati pintu pagar, ia mengarahkan motornya ke tempat kontrakan Aida. Wanita itu tampak makin cantik walau dengan riasan sederhana yang hanya menggunakan lipstik dan bedak saja.
"Ini, pakai helmnya."
Aida memasang helm dibantu Collins. Setelah itu ia naik. Collins sedikit gugup karena ia diajak ke acara nikahan sepupu Aida di mana pasti banyak keluarga wanita itu di sana. Ia sudah terbiasa dengan keadaan di mana tak seorang pun kenal dirinya, tapi kenapa di acara seperti ini ia malah panik?
Acara itu diadakan di sebuah gedung serba guna milik kampung sebelah. Butuh waktu satu jam untuk sampai ke sana.
****
Suasana sudah ramai ketika sampai di sana. Pengantin sudah duduk di kursi singgasananya bersama orang tua masing-masing. Aida langsung membawa Collins untuk bersalaman.
Bersambung ....