19. Perampok

1158 Words
Collins yakin itu adalah maling yang sedang diincar warga dan mereka kini beraksi di RT sebelah. Ia memberanikan diri maju. "Heh, maling ya!" Tegurnya dengan keras. Ketiga orang itu kaget. Salah satunya menyerang Collins dengan pisau. Collins menghindar, tapi orang itu terus mencecarnya dengan jurus-jurus silat. Untung saja, Collins telah dibekali ilmu silat dasar oleh babe. Walaupun ia belum mahir benar tapi itu bisa membantunya menghadapi pria itu. "Maliing ...!" teriak Pak Fauzi. Ia cukup pintar dengan menggeser senternya ke pagar besi sehingga menimbulkan suara bising yang memekakkan telinga. "Sialan!" teriak salah seorang perampok. Pak Fauzi kini dikepung oleh dua orang lainnya. Salah satunya juga membawa pisau dan menyerang Pak Fauzi. Pria teman ronda Collins itu tentu saja takut karena tidak punya dasar bela diri sama sekali. "Bara, tolong ...!" Pria itu hanya bisa menghindar. Walaupun masih menahan serangan, Collins masih melirik Pak Fauzi yang kelimpungan sendiri, sementara ia entah sampai kapan bisa bertahan. Dengan cerdik, Collins membuka jaketnya. Ia memelintir dan melipat menjadi dua. Sekali waktu ia memukul orang yang menyerangnya dengan jaket dan juga orang yang menyerang Pak Fauzi. Akhirnya, kini Collins malah dikerumuni dua orang pria yang memegang pisau. Kesempatan itu dipakai Pak Fauzi untuk menghajar pria yang satunya karena punya lawan yang seimbang. Collins kini kepayahan menghadapi keduanya. 'Aku harus bagaimana ini?' Collins berpikir keras. Dua orang itu bermain curang karena menyerang sekaligus. Mereka menyerang dengan pisau. Dalam keadaan berada di tempat yang kurang pencahayaannya, Collins harus bisa membaca gerakan lawan agar ia bisa terus menghindar, tapi strategi ini tak bisa selamanya berhasil. "Agh!" Salah seorang perampok berhasil melukainya di lengan. Terlihat darah keluar dari lengan bajunya yang sobek. 'Sial, aku harus bagaimana ini?' Collins melihat ke arah gulungan jaketnya di tangan. Hanya itu senjatanya saat ini. Akhirnya ia menggila dengan melempar ke sana kemari gulungan jaket itu sambil menghindar. Warga mulai keluar, tapi tepat saat itu, salah satu dari perampok itu menangkap tubuh Collins dan yang satu lagi berusaha menikkamnya. Ia sempat menghindar tapi tak ayal pisau itu mengenai perutnya. "agh!" Pria yang menangkapnya juga kembali melukai Collins di lengan. "Aggh!" Keduanya melepas Collins yang kesakitan dan berusaha kabur. Collins kemudian ambruk dan jatuh ke aspal. "Bara!" teriak Pak Fauzi, tapi terlambat. Padahal ia berhasil meringkus salah satunya hingga babak belur. Warga yang bangun, beramai-ramai mengejar kedua perampok itu. Collins yang jatuh, tak lama pingsan. "Bara ... Bara!" teriak Pak Fauzi yang berusaha mengguncang-guncang tubuh Collins. Collins tak bergerak dengan baju bersimbah darah. "Tolong! Panggil ambulans, ada yang terluka parah!" **** Pagi itu hari Minggu. Pikiran Aida terus saja pada Collins padahal ia sendiri dihadapkan dengan situasi, harus segera pindah dari rumahnya sendiri. Namun satu jawaban pasti, ia bisa mencari Collins tapi tak bisa mencari rumah kontrakan untuk dirinya sendiri. Bagaimana kalau ia minta tolong Collins? 'Kalau aku yang menelepon Bang Bara, apa tidak terkesan murahan? Apa nanti dia tidak salah sangka? Nanti dipikirnya aku mengejar-ngejar dia, lagi. Padahal aku cuma memberi ... Ah, bukan begitu maksudku! Aku hanya ... uh, susah sekali. Bagaimana cara berbaikan dengan dia? Cuma dia yang aku percaya. Aku hanya ingin meneruskan apa yang dia minta. Berteman. Apa dia bisa berpikir seperti itu kalau aku datang padanya?' Seketika pipi Aida memerah. 'Aku tidak tahu rupanya seperti apa tapi hatiku begitu percaya padanya. Apa aku bisa jatuh cinta padanya? Bukan karena kata orang dia tampan tapi ....' Kembali pipinya memerah. 'Hatiku mengatakan dia baik, walau sedikit terkejut sih saat mendengar dia marah kemarin. Tapi semua orang kalau marah begitu, 'kan? Ah, kenapa pipiku terasa hangat ya.' Aida menangkup ke dua pipinya. 'Dia pria baik, kenapa tidak terima saja dia. Toh, aku selamanya takkan bisa melihat lagi. Cukup punya suami yang baik dan bisa melindungi, apakah itu tidak sempurna?' Wanita itu mulai tersipu-sipu. 'Kenapa aku memikirkan ini sih? Baikan saja belum, kok bisa-bisanya mikir jauh sampai seperti ini? Kapan majunya ini? Jadi, aku harus alasan apa ya biar bisa ketemu dia lagi.' Aida tersenyum sambil mulai memutar otak. **** "Assalamualaikum!" Ipah menoleh ke arah pintu depan yang terbuka. Ia melihat kepala Aida di atas pagar rumahnya yang tertutup. Wanita itu segera berlari menghampiri dan membuka pagar. "Waalaikumsalam. Oh, bisa juga akhirnya datang ke sini sendiri." "Eh, tadi tanya-tanya di depan, jadi ada yang kasih tau ke sini," terang Aida. "Ayo, masuk." Ipah membawa ustadzah itu masuk. "Maaf ya, aku baru bisa mengambil bajunya. Sudah jadi ya." "Iya, sudah dua hari yang lalu, kok. Baru selesai, setelah membuat baju untuk Bara." "Bang Bara?" "Kenapa memanggilnya 'Bang'? 'Kan ustadzah seumuran aku. Bara itu adikku!" "Eh, aku tidak tahu, tapi ... rasanya lebih sopan kalau panggil 'Bang'," ucap Aida sedikit canggung. "Ya udah, tunggu di sini dulu ya, aku ambilkan," sahut Ipah lagi. Ia masuk ke dalam. Aida yang merasakan kaki belakangnya menyentuh sofa, segera duduk. Ia meletakkan tongkatnya di samping. Ipah datang membawa pesanan. Ia meletakkan pakaian itu di atas meja. "Ini." Aida coba meraba. Jahitannya terlihat rapi. "Kelihatannya bagus." "Ini untuk acara nikahan ya?" "Oh, iya. Sepupuku ada yang nikah. Ini seragam untuk keluarga." "Oh ... mau dicoba? Mungkin ada yang belum pas, jadi masih bisa diperbaiki." Ipah terlihat antusias karena dia belum pernah membuat untuk orang lain selain Aida dan Collins dan ia ingin melihat hasilnya. "Oh, di mana?" "Di kamar mandi." Aida terdiam sejenak. Ipah tahu dari gelagat wajahnya, ada tujuan lain kenapa wanita cantik itu ada di sini. Ia menunggu. "Eh, Bang Bara di toko, ya?" Aida mengucapkannya dengan nada rendah hampir tercekkik. 'Akhirnya dia tanya juga ....' Ipah tersenyum mendengarnya. "Bara di rumah kok. Dia 'kan sakit, kamu gak tau?" "Sa-sakit? Sakit apa?" Aida terkejut. Matanya melebar. "Oh ... kamu gak tau. Tadi malam Bara ditussuk karena berkelahi dengan perampok." "Di-tu-suk?" Aida terlihat cemas. "Iya. Semalam dibawa langsung ke rumah sakit karena pingsan. Lukanya sudah dijahit. Setelah transfusi darah, dia baru sadar. Cuma dia gak mau dirawat. Minta pulang. Itu ... sekarang lemes di kamar." Tak terkira khawatirnya Aida mendengar hal itu. Apalagi siangnya, Collins baru saja menyelamatkan dirinya. Ia tak tahu lagi bagaimana mengomentarinya, Aida merasa sangat bersalah. "Jadi coba bajunya?" Pertanyaan Ipah membuat ia tersadar. "Eh ... i-iya. Di mana ya?" Kedua matanya hampir berkaca-kaca. Ia mengerjap-ngerjapkan mata agar tak terlihat Ipah. Ipah kemudian mengantar ustadzah ke kamar mandi yang tak jauh dari kamar Collins. Ketika ia menunggu, terdengar seseorang memberi salam. "Assalamualaikum!" Ipah terkejut. "Waalaikumsalam." Nana masuk karena pintu depan yang terbuka. Ia membawa sesuatu di tangan. "Katanya Kak Bara sudah pulang dari rumah sakit ya. Ini ada bubur sum-sum. Apa Kak Bara boleh makan? Lukanya bagaimana?" "Lukanya sudah dijahit. Eh, mungkin nanti dia makan." Ternyata berita tentang Bara yang ditussuk perampok sudah menyebar di kalangan warga. Nana mengetahui itu hingga membawakannya makanan. Aida pun mendengar dari kamar mandi, ada seorang gadis membawakan Collins makanan. Ia tertegun. Ternyata banyak yang menyukai pria itu sehingga tak salah berita itu kalau Collins memang tampan. Terlintas ide di kepala Ipah. Ia malah berteriak memanggil adik angkatnya itu untuk bangun. "Bara ... ada yang cariin!" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD