20. Sakit

1161 Words
Collins cepat terbangun dengan suara melengking Ipah. Malah Aida sempat berpikir bahwa Ipah mendukung gadis yang membawa makanan itu. Pria itu mengucek matanya dan turun pelan-pelan dari ranjang. Masih dirasa nyeri di perut dan lengannya ketika bergeser turun. Ia membuka pintu. "Siapa?" Berdiri Nana yang tampak malu-malu di hadapan. Collins terkejut dan merasa dijebak karena ada Ipah di sana. Namun diluar dugaan, Kakak angkatnya itu meraih bawaan Nana dan memaksa gadis itu untuk pamit. "Tuh, lihat. Masih sakit 'kan? Terima kasih makanannya ya, tapi Bara harus istirahat." "Oh, i-iya. Permisi, Kak Bara. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," sahut Collins pelan. Wajahnya nampak pucat. Rambutnya berantakan. Pandangannya juga tak fokus. Ia melihat saja saat Ipah mengantar Nana ke pintu depan. Ipah melirik ke belakang berharap Collins bertemu Aida. Ketika Collins hendak menutup pintu, ia mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka orang. "Enyak ... aku mau minum, Nyak, tolong ...." Pria itu keluar dan kaget dengan sosok yang ternyata berbeda dari perkiraan. "M-mbak ustadzah?" Aida terlihat bingung. Ia mendengar Collins keluar hingga dia buru-buru keluar. Saat bertemu, ia malah kehilangan keberanian. "Eh, mau minum ya?" ucapnya sedikit panik dan menunduk malu. Collins terpana. Baju kebaya muslim yang berwarna abu-abu itu sangat cantik dikenakan wanita itu hingga ia tak sengaja bergumam, "Cantik ...." "Eh, apa?" "Eh, bukan." Collins menggelengkan kepala. 'Apa yang aku bicarakan. Uh, boddoh!' "Eh, maksudku ...." Beberapa saat ia tak bisa menemukan kata yang tepat untuk menerangkannya sehingga mereka terdiam sesaat. "Oh, minum ya." Aida teringat permintaan Collins sebelumnya. Ia berusaha memecah kesunyian. Wanita itu bergerak ke dapur. "Dapur ke sini, ya?" Aida menggerakkan tongkatnya. "Eh ...." Collins menyadari Aida tak bisa melihat hingga ia mengejarnya. "Tidak perlu. Biar aku ambil sendiri saja." Langkah Aida terhenti. Ia membiarkan Collins mengambil sendiri karena ia sendiri tak tahu di mana dapurnya, walau dapur itu ada di depan mata. Collins mengambil gelas dan mengeluarkan air dari dispenser. Ia meminumnya sambil melirik Aida. Adakah wanita ini datang untuk dirinya? "Eh, Abang katanya terluka? Baru pulang dari rumah sakit ya? Gak parah, 'kan?" Aida tak dapat lagi membendung pertanyaan. Cecaran pertanyaan itu memperlihatkan bagaimana ia cemas dengan keadaan CoIlins sekarang. Ia tak bisa melihat, karena itu ia hanya bisa mengukur keadaan Collins dari suaranya yang terdengar sedikit lemah. "Ah ... sudah tidak apa-apa." Collins berusaha menenangkan. "Yang bener, Bang?" Dahi Aida berkerut. Ia kesal karena tak tahu seperti apa keadaan sang pria saat ini. "Iya, tidak apa-apa." Collins merapikan rambutnya. Ia sedikit senang karena wanita itu menanyakan keadaannya. "Aku hanya perlu minum obat saja." Padahal saat ini Aida mmati-mattian menahan air matanya agar tak menetes. "Apa kamu datang untuk ...." Pelan-pelan Collins sadar, Aida tengah mencoba pakaian yang dijahit pada Ipah. "Ah, nyobain baju ya." Ia sedikit kecewa dan meletakkan gelas di atas meja. "Eh ...." Aida meremmas pinggiran bajunya. Ia berpikir keras. Ia tak boleh melepaskan kesempatan yang ada, karena itu ia harus mencoba. "Kalau Abang sudah sehat, apa bisa anter aku cari kontrakan?" "Kontrakan?" Alis Collins bertaut. "Bara, kenape elu keluar?!" Suara lantang Enyak dari pintu depan membuat keduanya menoleh. Baru kali ini Collins mendengar Enyak berteriak di dalam rumah. Ternyata Enyak datang bersama Ipah dan babe. "'Kan Mpok yang panggil?" Terang Collins bingung. Enyak menoleh pada Ipah yang tersenyum nakal. Ia mencubit pipi anak gadisnya itu dengan gemas. "Elu tuh ye ... adek lu masih sakit lu suruh temuin tamu. Die belum boleh turun dari tempat tidur, tau! Lu gak liat ape, mukanye masih pucet kayak begitu!" Omelannya membuat Aida makin merasa bersalah. Ia menunduk merasa ikut dimarahi. Babe melihatnya. "Udah, Nyak. Malu ame tamu." Enyak malah makin marah ketika dinasehati suaminya. "Elu juga! Kalo kagak ade yang nolongin Bara, anak Enyak bisa matti di tengah jalan, lu tau kagak?" Terlihat matanya berkaca-kaca. Babe yang merasa bersalah berusaha untuk menenangkan istrinya, tapi wanita itu makin kesal. Ia memukkul sang suami berkali-kali karena geram. "Buat ape lu jadi ketua RT tapi ngorbanin anak lu sendiri, hah? Buat ape?" "Maaf, Nyak, maaf. Gak lagi-lagi babe begitu," sesal babe. Ia menghela napas. Diakui ini salahnya, karena kurang koordinasi dalam tim. Ipah cekikikan melihat kedua orang tuanya bertengkar karena enyak sangat cerewet kalau sedang marah. Hanya Collins yang merasa tak enak hati. Gara-gara dirinya, kedua orang tua angkatnya itu bertengkar. "Udah, Nyak, udah. Babe gak salah, kok." Ia berusaha melerai keduanya. Namun itu tidak bisa menghentikan kemarahan Enyak. Wanita itu meraih lengan Collins dengan kasar. "Elu juga!" "Aduh!" Collins menahan perih sambil memicingkan mata ketika enyak menarik lengannya yang terluka. Terlihat ekspresi wajah enyak yang sedih dan khawatir, tapi tetap saja ia terus melampiaskan kemarahannya. "Elu harusnye di kamar, Bara, jangan keluar-keluar lagi!" "Iya, Nyak." Collins terdengar pasrah. Ia dibawa enyak ke kamar. Aida tentu saja terlihat bingung dan serba salah. Ia juga penasaran, separah apa sebenarnya luka yang diderita Collins. Ya, tubuh Collins diperban di bagian perut dan lengan, tapi itu tertutupi pakaiannya. "Kamu mau ngontrak ya, ustadzah?" tanya Ipah tiba-tiba. Ternyata ia mendengar percakapan terakhir Aida dengan Collins. "Eh ...." Aida terkejut. "Sudah, sama aku aja. Aku bantu cariin." "Itu di sebelah toko babe ade kontrakan kosong, Pah. Coba deh lu ke sana." Babe memberi tahu. "Campur, Be?" tanya Ipah dengan melebarkan matanya. "Enggak. Untuk perempuan aje, kok." "Oh, ya udeh." Ipah menoleh pada Aida. "Ayo, aku anterin. Kita lihat dulu kontrakannya." "Itu punya Bu hajjah Sopia. Lu ke rumahnye gih, tanya," imbuh babe lagi. "Oh, gitu." Ipah kembali menoleh pada Aida dan menyentuh bahunya. "Ustadzah bajunya gak ada masalah, 'kan? Kalo gitu, ustadzah ganti baju dulu, baru kita ke sana." "Eh, jadi ngerepotin ...." Aida bersyukur keluarga Collins sangat baik dan berusaha membantunya. Ia sampai tak tahu lagi harus berkata apa pada mereka. "Terima kasih." Di dalam kamar, enyak menyelimuti Collins. Ia kemudian merapikan rambut anak muda itu. Belum lama enyak mengenal Collins, tapi hatinya sudah terlanjur sayang. Collins walau tak banyak bicara tapi cepat membuat orang akrab dengannya. Apalagi ia hampir tak pernah membantah tugas yang diberikan, bahkan hanya untuk sekedar menemaninya belanja ke pasar. Collins meraih tangan enyak. "Enyak jangan marah-marah lagi. Capek 'kan, Nyak?" ucapnya dengan suara lembut. Enyak hanya menghela napas. Ia kemudian duduk di tepi ranjang dan menatap Collins. "Cuma elu yang bisa ngambil hati Enyak." Matanya kembali berkaca-kaca. "Maaf ya, Nyak. Bikin enyak, khawatir." Collins menggenggam tangan Enyak. Ia tak tega melihat wanita ini mengeluarkan air mata. Baginya, enyak seperti mengisi posisi ibunya yang sudah lama meninggal. Memang keduanya tak mirip tapi kasih sayangnya tetap sampai ke hatinya. "Untung Tuhan nolong elu. Kalo enggak, gimane nanti ...." Enyak tak bisa meneruskan kalimatnya karena air matanya sudah mengalir. Ia berusaha menghapusnya. "Sst ... udah, Nyak. Bara 'kan masih di sini. 'Kan udah gak ada rampok lagi, Nyak, " bujuk Collins lirih. "Ya, udah. Lu, jangan aneh-aneh lagi!" omel Enyak mengusap air matanya di pipi dengan kasar. "Lu mau makan kagak? Bukannye si Nana katenye nganterin bubur buat elu?" Ia mulai bicara lembut. "Udah ... buat Enyak aja." "Lah, elu makan ape?" Kedua mata enyak melebar. "Makan masakan enyaklah!" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD