Part 9. S*x in The Office?

1529 Words
"...oowwh kamu ingin agar bibirku memberimu kepuasan, Rumi?.." * Sebuah kekehan kecil tapi terasa ironis dan getir, lolos dari bibir Rumi. "Kau bodoh, Jagad..." bisik Rumi pada kesunyian ruangan itu, “kau pikir kau menghukumku? Kau justru menyelamatkanku." “Kau tidak tahu apa yang kau miliki, Tuan Suami Sempurna," gumam Rumi sambil merapikan rambutnya. "Dan aku akan pastikan... kau akan menyesal seumur hidupmu saat kau akhirnya tahu kebenarannya." * Pernikahan mereka sudah berlangsung beberapa hari dengan Jagad yang tetap sombong dan memerlakukan Rumi seenak hati tanpa memikirkan dampak pada hati Rumi. Apakah mereka sudah melalukan malam pertama? Tentu saja belum! Amarah dan dendam lebih menguasai Jagad. Tapi siang ini, sepertinya hal itu akan terjadi. Siang bolong? Saat matahari masih terik? Di kantor? Yaa, gak ada masalah dengan siang hari dan di kantor kan? Lagipula itu kan kantornya, ruangannya, di gedung megahnya. Tidak ada yang bisa menghalanginya untuk b******a, aah ralat, have s*x dengan Rumi saat ini juga kan? Entah kenapa hari ini Rumi nampak begitu seksi dan menggoda di mata Jagad. Dia sampai harus mengerjapkan mata beberapa kali, sedari tadi jakunnya naik turun, duduknya tidak nyaman melihat Rumi yang memakai rok pensil selutut warna navy dan blus sutera berwarna putih gading yang kancing atasnya dibiarkan terbuka begitu saja, seolah memang ingin menggodanya. Dasar memang perempuan penggoda! Pikir Jagad dan itu terbukti dengan matanya yang tergoda hingga mampu membuatnya teralih perhatian dari dokumen bernilai miliaran rupiah. Mata elangnya terpaku pada satu titik, tengkuk Rumi yang terekspos saat wanita itu menunduk membereskan arsip di sudut mejanya. Anak rambut yang jatuh, leher jenjang yang kuning bersih dan gerakan tangannya yang cekatan. Entah setan apa yang merasuki Jagad sore ini, tapi bayangan liar Rumi menari di bawahnya, terus menari di kepalanya, menuntut realisasi. Jagad tidak kuat lagi, akhirnya dia berdiri. Kursi kerjanya tidak berdecit, namun Rumi yang memiliki radar waspada langsung menengadah dan matanya membola melihat Jagad yang sudah berdiri menjulang di hadapannya. "Pak? Ada ap…” Kening Rumi berkerut karena kali ini, tidak ada aura membunuh. Tidak ada mata yang menyipit dingin. Yang ada malahan sorot mata kelam yang penuh kabut gairah, bibir Jagad menyunggingkan senyum tipis yangmalah terlihat aneh bagi Rumi karena nampak seperti senyum yang nyaris terlihat tulus. Apakah Jagad kerasukan malaikat sore ini? Tanpa satu patah kata pun, Jagad meraih pergelangan tangan Rumi, yang semakin membuat Rumi kebingungan. Genggaman tangannya hangat dan RUmi sangat rindukan genggaman tangan ini. "Ikut aku," bisiknya, bukan perintah, melainkan ajakan yang diucapkan dengan sangat manis. Sebelum Rumi sempat memroses perubahan sikap Jagad yang tiba-tiba itu, dia merasa, tubuhnya melayang. Jagad menyelipkan lengan kekarnya di bawah lutut dan punggungnya, membopongnya dengan sangat mudah seolah Rumi seringan kapas. "Kyaa.. J-Jagad... turunkan aku," Rumi memekik tertahan, tangannya refleks mengalung di leher Jagad. Jantungnya berdegup gila, bingung dengan perlakuan manis yang mendadak ini. Jika memang Jagad kerasukan malaikat, maka seketika Rumi berharap akan selamanya malaikat bersemayam di tubuh lelaki itu. Jagad tidak menjawab. Dia membawa Rumi menuju meja kerja mahoninya yang kokoh, dengan binar mata penuh cinta. Dengan perlahan, Jagad mendudukkan Rumi di tepi meja kerjanya. Dia kemudian menyingkirkan tumpukan berkas penting senilai miliaran rupiah ke lantai begitu saja dengan satu sapuan tangan, hanya demi memberi ruang bagi Rumi. “J-Jagad…” rintih Rumi yang terdengar seperti desahan menggoda di telinga Jagad. Jagad membuka sedikit kedua kaki Rumi dan melangkah masuk di antara kedua kaki yang menjuntai itu. Dia mengurung Rumi dengan kedua tangan yang bertumpu di tepi meja. "Sstt..." Jagad menempelkan telunjuknya di bibir Rumi yang hendak protes. Perlahan, jemari Jagad yang panjang dan kokoh bergerak ke d**a Rumi. Bukan untuk mencengkeram, melainkan menuju kancing teratas kemeja sutra Rumi. Klik. Kancing pertama terlepas. Mata Rumi membelalak. Napasnya terhenti, panik menyergapnya, "Jagad... i-ini di kantor..." Kedua tangan Rumi menahan di d**a Jagad, bermaksud menghentikan kegilaan lelaki yang juga suami sirinya itu, namun sia-sia. Mana Jagad peduli. Dia mencondongkan wajahnya, mengikis jarak hingga hidung mancungnya bersentuhan dengan hidung Rumi. Mereka bisa saling merasakan napas hangat menerpa wajah. "Biarkan aku melihatmu, Rumi," bisik Jagad dengan sengaja, di depan bibir Rumi, suaranya serak, penuh bujuk rayu memabukkan agar Rumi terlena. Dan tentu saja Rumi jatuh pada rayuan itu karena dia diam saja saat Jagad kembali lanjutkan membuka kancing kemeja Rumi. Klik. Kancing kedua. Klik. Kancing ketiga. Tiga kancing kemeja itu terbuka, menampilkan kulit kuning Rumi yang seketika meremang terkena hembusan dingin AC yang kontras dengan tatapan panas Jagad. Saat Rumi hendak menahan tangan Jagad, lelaki itu maah membungkamnya. Bukan dengan bentakan, tapi dengan ciuman hangat. Bibir Jagad melumat bibir Rumi dengan lembut, basah dan menghanyutkan. Sebuah french kiss yang dulu sering meereka lakukan saat mereka masih bersama. Tidak ada kekasaran kali ini. Ciuman Jagad malah terasa seperti sebuah pengakuan rindu, membuat lutut Rumi lemas dan akal sehatnya menguap. Rumi yang tadinya ingin menolak, kini justru memejamkan mata, membiarkan bibirnya terbuka, menyambut lidah Jagad yang mengajak berdansa. Di sela ciuman itu, tangan Jagad menyusup masuk ke balik kemeja yang sudah terbuka dan mencari bagian tubuh Rumi yang dia inginkan sedari dulu. Sesaat, Jagad hentikan ciumannya agar bisa melihat pemandangan di hadapannya dengan pupil yang melebar dan senyum terbit. Sebuah bra berenda berwarna hitam membungkus d**a Rumi, kontras dengan kulitnya. Kain renda itu nyaris tidak mampu menampung lekuk penuh yang naik turun seiring napas Rumi yang memburu, membuat lekukan itu semakin mengundang Jagad untuk segera mencicipinya. "Indah..." gumam Jagad, suaranya parau, serak oleh gairah dan mata berkabut akan syahwat. Jemari kasarnya menyentuh permukaan renda itu, mengusap lembut kontur di baliknya. Ibu jarinya bermain-main di puncak bukit Rumi, memberikan tekanan ritmis yang membuat Rumi merem melek, mulai keluarkan desahan tertahan dari bibirnya demi merasakan nikmatnya sentuhan jemari Jagad. "Ahh... Jagad..." Kepala Rumi mendongak, matanya terpejam rapat, dia menggigit bibirnya sendiri mencegah lolosnya desahan nikmat karena sensasi listrik yang menjalar dari d**a ke seluruh tubuhnya. Tanpa sadar, kaki Rumi yang menjuntai perlahan terbuka lebih lebar, sebuah undangan yang memberikan akses penuh bagi Jagad untuk masuk lebih dalam ke teritori pribadinya. Jagad melihat itu dan menyeringai tanpa Rumi lihat. Dia melihat wajah Rumi yang merah padam karena gairah. Bibir Rumi yang bengkak dan basah karena french kiss mereka tadi. Dan dia juga melihat bagaimana tubuh Rumi menyerah pasrah padanya, menginginkannya, menuntut penyatuan seketika itu juga. Darah Jagad mendidih. Hasrat lelakinya berteriak, memaksanya untuk menyobek sisa pakaian yang masih menempel di tubuh RUmi, menyingkirkan penghalang dan segera membenamkan dirinya ke dalam kehangatan Rumi. Sungguh, dia ingin mengklaim haknya. Tangan Jagad sudah menyentuh kepala gesper yang dia kenakan, berniat membukanya. Tapiii, di detik terakhir, sisi gelap di otak Jagad mengambil alih. Tidak, batin Jagad. Sebuah seringai tipis dan licik terbit di sudut bibirnya, tersembunyi di ceruk leher Rumi. Jika dia menyetubuhi Rumi sekarang, itu artinya dia kalah. Itu artinya dia juga menginginkan penyatuan dengan Rumi. Tidak, itu bukanlah dirinya. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa mengendalikan Rumi, membuat wanita ini jadi gila dan memohon untuk segera dipuaskan, sementara dirinya tetap berpakaian lengkap dan terkendali. Kau minta aku untuk memasukimu kan, Rumi? Memuaskanmu? Huh, enak saja! "Uugh… Kau sudah siap ternyata, Sayang..." bisik Jagad nakal di telinga Rumi, tangannya perlahan turun dari d**a, merayap melewati perut rata Rumi, menyusup ke balik rok span, menuju pusat panas yang sudah menanti. Rumi menahan napas, sangat menanti sentuhan itu. “J-Jagad, tolong aku, please…” pinta Rumi, mengangkang lebih lebar agar Jagad punya akses lebih. "Tentu, aku akan membantumu," bisik Jagad lagi. Tapi Jagad tidak membuka celananya. Alih-alih menyatukan tubuh mereka, tangan Jagad mulai bekerja. Jemarinya masuk ke inti tubuh Rumi dan menemukan titik sensitif Rumi yang tersembunyi, memainkannya dengan tempo yang lambat namun mampu membuat tubuh Rumi bergetar. Jagad menyeringai melihat betapa mudahnya membuat Rumi b*******h hanya dengan jemarinya saja. Bibirnya turun, mencium lembah d**a Rumi, memberikan sensasi ganda yang melumpuhkan saraf logika Rumi yang tersisa. "J-Jagad… tolong aku..." rintih Rumi, tangannya meremas rambut Jagad, memohon lebih. Jagad mendongak, menatap wajah Rumi yang jadi kacau balau karena sensai nikmat luar biasa. Dua tangan Rumi memaksa kepala Jagad untuk turun dan sekarang sudah dia angkat kedua kakinya ke pinggir meja kerja Jagad. Tangan Rumi membentuk siku untuk menyangga tubuhnya. “Oowwh, betapa nakalnya kamu Rumi. Kamu juga ingin agar bibirku memuaskanmu heuum?” tanyanya, dijawab anggukan Rumi. “Baiklah, Sayang, karena itu maumu, aku akan penuhi kalau hanya dengan jari dan bibirku saja.” Entah apa yang membuat Jagad tiba-tiba memenuhi keinginan Rumi dan sapukan bibirnya di area yang Rumi mau. Tubuh Rumi bergetar hebat, menandakan sebentar lagi dia akan mencapai puncaknya, “Jagad, pleasee…” pintanya sekali lagi, sangat berharap agar Jagad mau b******a dengannya saat itu juga sehingga dia terpuaskan. "Tidak, Rumi," tolak Jagad lembut namun kejam, menarik wajahnya dari area inti Rumi dan ganti jemarinya yang bertugas, "cukup ini untukmu. Nikmati saja kepuasan yang diberikan oleh jari dan lidahku. Kau bahkan tidak perlu aku di dalam sana untukmu berteriak memanggil namaku, kan?" Usai berkata itu, Jagad memercepat gerakan jemarinya, memaksa Rumi mendaki puncak kenikmatan sendirian, sementara Jagad hanya menonton dengan kepuasan ego di matanya, menjadi pemberi nikmat yang tidak tersentuh, penguasa tunggal atas tubuh Rumi yang tubuhnya menggelepar hebat usai mendapatkan pelepasannya.” “Enak kan? Padahal itu hanya dengan jemari dan bibirku saja. Kamu mau lagi??” goda Jagad, Rumi mengangguk pasrah. “Tuan Jagad…, Tuan…”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD