STORY 2

1269 Words
Lana mengangkat bahu. Ia sendiri belum bisa sedetikpun melupakan Dmitri. Sekuat apa pun ia mencoba. Dmitri tetap terus menemani mimpinya. Tersenyum dengan kepala berdarah. "Aku melarikan diri ke New York sendirian. Usiaku masih tiga belas waktu itu," ucap Lana dengan suara kecil. Ia tertunduk. Zac menaikan alis kepadanya. Lana mengambil napas dalam. Ia belum pernah menceritakan pengalaman hidupnya kepada siapa pun. Tapi laki-laki di hadapannya membuatnya ingin sekali membagi banyak hal. "Aku menghabiskan berhari-hari dengan makan sampah di kapal barang. Aku bersembunyi dari orang-orang. Tubuhku kecil sekali Aku bisa menyelinap di balik peti-peti besi. Aku berlatih cara berbicara bahasa orang-orang yang kudengar. Aku ingin menghilangkan logat rusiaku yang menyebalkan." Lana tertawa kecil. "Sebuah keluarga sempat mengadopsiku sebelum akhirnya anak laki-laki tertua mereka mencoba memperkosaku. Apa pun itu, aku sudah memiliki kewarganegaraan Amerika. Mereka mengeluarkan uang banyak sekali untuk itu." Ia masih bisa mengingat bagaimana Harold menyakitinya. Lana masih ingat bagaimana rasa sakitnya. Hanya tawa kosong yang bisa ia rasakan ketika mengenang hidupnya yang muram. Mulanya, ia pikir akan menangis. Namun, bercerita di bawa sorot mata biru elektrik Zac membuatnya merasa nyaman. Ia ingin menceritakan lebih banyak lagi. "Setelah berumur tujuh belas tahun, aku mendaftar di beberapa klub. Aku penari yang baik. Sejak saat itu aku bekerja di Darling. Aku bersyukur. Mereka mnemberiku perlindungan sekalipun aku tidak akan pernah bisa menjadi yang terbaik di klub." Lana menghentikan ceritanya dan menyentuh lutut kirinya. "Kaki ini tidak bisa bertahan lama menari. Beberapa luka di punggung bahuku juga tidak bisa hilang dengan sempurna." Lana menarik bagian kerah kaosnya untuk memperlihatkan garis keperakan di bahu kanan. Untuk seorang stripper, bekas luka kecil itu adalah kecacatan. "Kalau kau tidak masuk kerja, bukankah Darling akan mencarimu?" Lana menggeleng keras. "Aku meminta cuti," Ucapnya sambil menghela napas. "Malam itu adalah hari terakhirku di darling. Aku berencana ke..." "Ibiza?" Zac menebak dengan cepat. "Banyak gadis yang ingin menghabiskan masa libur di sana." "Aku ingin kembali ke Moskow. Aku ingin melihat apa yang terjadi di sana selama aku pergi." "Merindukan rumah?" Lana menggeleng. Dia ingin melihat tempat yang ditinggalkannya, mungkin agak menertawakan masa lalu konyol yang dulu menghancurkannya. Tidak. Dia sangat ingin mengunjungi Dmitri, makam kecil di belakang rumah yang dibuat dengan tegesa-gesa. Dia sangat ingin memperbaiki makam itu, memberikan Dmitri pemakaman yang layak. "Kau harus melihat Rusia saat--" PRANG!!! Mereka saling berpandangan dengan siaga. Suara piring yang pecah disusul suara jeritan perempuan. Ella. Zac berdiri untuk berlari ke bawah. Lana menyusulnya dengan degup jantung yang sangat tidak bersahabat. Zac sudah melesat dengan cepat saat Lana berlari melewati koridor. All berjalan cepat di sebelahnya. Silvia yang terlihat baru bangun tidur bertanya dengan panik. Semua orang berkumpul di dapur. Ella membanting piring ke dua di depan ibunya. "Astaga, drama keluarga lagi," desis All tidak sabar. Gabriella mengangkat jarinya dengan penuh kemarahan. "Sekali lagi kau berani menyebutku begitu, aku akan..." "Akan apa, Mom? Kau memang s****l. Kau yang membuat ayah pergi. Kau dan selingkuhan sialmu itu. Aku akan terus meneriakimu. Kau s****l!" Gabriella menampar Ella dengan keras. Ella memegang pipi yang memerah sambil menjerit-jerit memberondong ibunya dengan umpatan-umpatan kotor. Zac memegang Ella untuk memisahkannya dari ibunya. Ella meronta dan terus mengumpat ibunya dengan kata-kata paling kotor yang pernah didengar Lana. Silvia memeluk Gabriella yang menangis di pelukannya. "Hentikan mulut kotormu," hardik Silvia. "Apa pedulimu, Jalang," umpat Ella dengan keras. Zac membawa Ella ke sofa. Walau Ella meronta sekuat tenaga, tubuh besar Zac bisa mengangkatnya dengan mudah. Zac menidurkannya ke sofa. Ia menekan bahu Ella ke sofa sambil membisikan sesuatu di telinga gadis remaja itu. Ibunya masih menangis di pelukan Silvia. Semua ini membuat kepala Lana pusing. Tangisan dan jeritan masih terdengar. Mike berdiri kebingungan di dapur. All duduk di kursi makan memainkan jari-jarinya. Lana meraih sebuah gelas di dapur dan menyalakan keran. Ia meminum air putih dari keran itu banyak-banyak sampai tumpah dan membasahi kaus tanpa lengannya. Ia membawa segelas lagi untuk Gabriella dan segelas lagi untuk Ella. Zac masih menekan bahu Ella di sofa empuk. Ella masih meronta seperti kerasukan. Lana mengerling pada Zac. Zac melepaskan pegangannya dari bahu Ella. "Minumlah ini, Ella. Air bisa mendinginkan pikiranmu." Ella mengangkat wajah dan menampar gelas di tangan Lana. Gelas itu pecah berserakan di lantai. Semua orang memandang ke arahnya sekarang. "Kau pasti membelanya kan?" Remaja itu menjerit keras sekali. Lana merasa kupingnya berdengung. "Ella, aku..." "Apa kau, s****l sial!" Ella memotong suara Lana. "ELLA!" Suara Zac menggelegar mengejutkan Ella. Ella menoleh kepadanya. "Diam kau, Monster! Kau sendiri mendorong ibumu ke sungai kan?" Zac baru akan bereaksi pada kalimat Ella saat Lana menyentuh lengannya dengan kuat. Zac berpaling kepadanya. "Kalian dua orang paling menyedihkan. Paling terkutuk di dunia." Ella menunjuk hidung Zac dan Lana sambil menjerit-jerit. Lana berpikir mungkin Ella mendengar mereka saling ebrcerita tadi. Gadis ini licik sekali. "Tutup mulutmu, Bocah sial! Kalau kau ingin menjadi pusat perhatian di sini, lupakan saja. Kau memang sampah." Silvia meradang. "Jangan sombong, kau anak s****l! Aku melihat dompetmu. Kau dikeluarkan dari MIT karena beasiswamu dicabut kan? Dasar kau pembual sampah!" Wajah Silvia memerah. Gabriella terlihat sangat marah berjalan menghampiri anaknya. "Kau pencuri sialan!" Silvia berlari ke meja dapur dan mengambil pisau dari kotaknya yang aman. Lalu semua seperti gerakan lambat di mata Lana. Silvia melemparkan pisau ke pada Ella yang jauh berada di sofa. Pisau itu melewati Mike yang masih berdiri kebingungan. Pisau itu melesat jauh menuju Ella yang berdiri di atas sofa. Tapi Gabriella lebih dulu melihatnya. Ia berpaling untuk menghadang pisau yang menyasar anaknya. Pisau itu menancap dengan tepat di mata kiri Gabriella. Pisau yang sangat tajam itu menancap begitu dalam hingga masuk ke dalam rongga kepala Gabriella dan melukai otaknya. Ada bunyi menjijikan saat pisau itu menemukan tempatnya menancap. Darah berhambur keluar membasahi ruangan yang putih bersih. Tidak ada satu orang pun yang bersuara saat Gabriella ambruk ke lantai. Tidak ada satu orang pun yang bergerak saat Gabriella terbanting dengan keras ke lantai keramik putih. Lana merasakan sebagian dari dirinya dicabut saat menyadari apa yang terjadi. Dia ambruk di lututnya. Mike muntah-muntah hebat. Ella menjerit memanggil ibunya yang terbaring dengan sebelah mata terbuka lebar dan sebelahnya lagi tertancap pisau. Ella melihat dengan ngeri tubuh ibunya yang mengejang-ngejang sebelum akhirnya kaku sama sekali. "MOOOMMMMMM!" Jeritan Ella yang memilukan terdengar keras ke penjuru ruangan. ella memeriksa ibunya yang sudah tidak bernapas lagi. Tepat saat Ella akan berlari ke arah Silvia, Zac menangkapnya. Zac memeluknya dengan erat. All memeluk Silvia yang bergetar hebat. Silvia masih tidak percaya pada apa yang dilakukannya. All membisikan sesuatu kepadanya. Tubuh Silvia melorot ke lantai. All menangkapnya dan terus memeluknya untuk membuatnya tenang. Begitu pula yang dilakukan Zac kepada Ella yang masih menjerit-jerit. Kaki Lana gemetar hebat. Kunang-kunang beterbangan di penjuru kepalanya. Ia ingin mengetuk-ketuk kepala untuk mengusir pergi bendar-pendar di dalam kepalanya. Pelan-pelan, Ia merangkak untuk memeriksa Gabriella. Tangannya menyentuh pisau yang tertancap penuh di mata gabriella. Ia mencabut pisau itu dengan cepat. Pisau perak yang ramping dan panjang di tangannya penuh berlumuran darah dan sedikit daging Gabriella. Lana mulai menangis. Ia ingat bagaimana gesper ayahnya menghancurkan tengkorak Dmitri hingga otaknya berceceran di lantai. Lana meletakan pisau itu di lantai pelan pelan. Air mata berjatuhan di pipinya. Tangannya memegang tubuh Gabriella yang masih hangat. Ia berusaha memejamkan sebelah mata Gabriella yang terbuka. Mata itu tidak mau menutup sehingga Lana harus menekankan jarinya di pelupuk mata Gabriella beberapa saat. Lana bersimpuh di lantai. Ia benar-benar lemas. Padahal baru beberapa saat yang lalu mereka berkenalan dan menari bersama. Dunia seperti berputar-putar. Ia menatap kepada Zac yang memeluk Ella dengan kuat. Lelaki itu membalas tatapannya tak berdaya. "ASTAGA!" Teriak Mike dengan putus asa. "Kita baru sehari di sini dan sudah ada orang yang mati. Hancur sudah harapan mendapatkan satu juta dollar."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD