AWAKEN
Svetlana Orlov tersadar dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Terutama kepala yang berdenyut keras membuatnya mual.
Ia hampir tidak bisa merasakan tangannya. Kedua tangan itu seperti dipuntir ke belakang dan tertahan pada sesuatu. Gagal. Ia tidak mampu menggerakkan ke dua tangan itu sama sekali. Semakin ia mencoba, semakin perih pergelangan tangannya tergores tali.
Pelan-pelan, gadis itu membuka mata. Ia berpikir mendapatkan cahaya terang benderang khas rumah sakit. Namun, yang menyambutnya adalah kegelapan. Ternyata yang dilihatnya adalah kain penutup hitam legam yang terlalu tebal untuk dilalui cahaya. Ujung kain itu terikat di leher dengan erat membuat udara tidak bisa masuk ke paru-parunya dengan bebas.
Ia mulai mengeluh panik. Namun, akhirnya sadar bahwa itu bukan hal yang cerdas. Bisa jadi seseorang yang melakukan ini memang menunggunya bangun, tapi siapa? Siapa yang melakukan ini? Kepalanya yang berdenyut gagal berpikir. Ia terlalu sakit untuk berpikir.
Mulut Lana membuka untuk mengambil napas. Bau seperti bau kaos kaki basah penutup kepala itu membuatnya mual, apek dan pengap. Lana berkonsentrasi agar bisa mengambil napas dengan baik untuk menenangkan diri agar dapat mempertajam indera. Dalam keadaan panik, ia tidak akan bisa memaksimalkan kerja otak. Lana tahu itu.
Ia berusaha mencerna bagaimana kondisinya sendiri saat ini. Ia terikat di atas tempat tidur empuk dengan tangan terikat dengan kuat di belakang dan wajah tertutup kain tebal berwarna hitam yang berbau apek. Tidak ada sumpalan di mulutnya. Ia bisa mendengarkan suaranya sendiri.
Napasnya berangsur stabil dengan ketenangan yang baik. Walau ia bisa merasakan bau apek kain tebal itu menyeruak masuk ke tenggorokannya, tapi dia bisa bertahan.
Ia sudah berlatih bertahun-tahun menghadapi keadaan serupa ini. Di besarkan oleh seorang ayah yang gemar melakukan kekerasan kepada anak-anaknya membuat Lana memiliki kemampuan beradaptasi dengan cepat dalam kondisi ini. Ayah pemabuknya sering mengikat dan menyekapnya di mana saja. Jelas ia sudah lama mati jika tidak memiliki kemampuan untuk melepaskan diri. Kemampuan istimewa yang membuatnya tetap hidup.
Nama-nama simpul bukan hal yang penting baginya. Ia bukan pramuka atau pelaut. Yang ia tahu adalah bagaimana cara melepas simpul yang mengikatnya. Ia memiliki sendi yang lentur dan terlatih di pergelangan tangannya. Buku-buku jarinya bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan orang kebanyakan, berputar seratus delapan puluh derajat misalnya.
Setiap simpul, serumit apapun, memiliki kelemahan. Selama simpul itu dibuat oleh manusia, Lana percaya pasti ada titik lemah yang bisa ia uraikan terlebih dahulu. Tidak ada yang bisa mengikatnya. Borgol dan gembok sekalipun.
Tali tambang plastik yang mengikatnya sangat kencang. Ia bisa merasakan kulitnya tergores saat berusaha menggoyangkan tangan. Ia sudah tahu simpul apa yang dihadapinya. Tali yang melilit masing-masing tangannya diikat beberapa kali dengan simpul mati sebelum kemudian menjalin menjadi satu di tengah. Rumit. Seseorang yang sangat berpengalaman dengan tali-temali yang melakukannya.
Sebentar lagi ia akan menguraikannya seperti bertahun-tahun lalu. Sebentar lagi ia kan bisa melepaskan semua tali yang mengikatnya seperti bertahun-tahun lalu.
Suara-suara tangisan mengisi ruang di kepalanya.
Lana memejamkan mata. Hantu-hantu kenangan masa kecil kembali bermain di benaknya. Bayangan kegelapan yang berusaha diusirnya selama bertahun-tahun. Kali ini ia tidak mengusir suara-suara itu. Ia membiarkan suara-suara itu mengisi seluruh ruang di kepalanya agar bisa memacu tangannya untuk mencari jalan keluar dari ikatan yang kejam.
Ia membiarkan bayangan suram ayahnya yang berdiri memegang gesper ikat pinggang hadir di dalam kegelapannya sekarang.
Air matanya menetes.
Sebuah simpul terlepas. Kulit tangannya terasa panas. Dia mengenali rasa itu. Luka yang berdarah. Tali plastik itu memotong kulitnya perlahan-lahan. Semakin ia berusaha, semakin ia akan terluka. Sangat sepadan dengan kebebasan yang sebentar lagi dia dapatkan.
"Dasar s****l kecil!"
Ia mendengar ayahnya berteriak sambil menyabetkan ikat pinggang ke tubuhnya. Lana berjengit merasakan kembali bagaimana sakitnya ikat pinggang kulit domba itu menancap di kulitnya yang lembut. Sakit di pergelangan tangannya sama sekali tidak berarti.
Sebuah simpul membuka lagi.
"Kau harus dihajar agar otak busukmu itu terbuka."
Bayangan gelap ayahnya mencambuk punggungnya lagi. Tali kulit ikat pinggang menyentuh pipinya menimbulkan rasa perih yang tidak terbayangkan. Lana menangis deras seolah rasa sakit itu bisa dirasakan pada pipinya sendiri. Bibirnya meraih kain penutup wajah dan menggigitnya keras-keras.
Sebuah simpul di tangan kirinya membuka.
Lana merapatkan ke dua matanya hingga pelupuknya terasa sakit.
Ayahnya masih berdiri di sana. Namun, tidak lagi mencambuki dirinya. Ayahnya mencambuki seorang anak laki-laki yang lebih besar darinya. Punggung anak laki-laki itu berdarah. Namun, tidak ada satu suara keluhan pun yang keluar dari mulut anak laki-laki itu.
Lana menahan sebuah jeritan.
Geliginya meraih bibir untuk digigit dengan keras.
"Jangan Dmitri, Ayah. Jangan Dmitri." Ia melihat sosok kecil dirinya menjerit pilu. Cambukan itu tidak berhenti. Anak laki-laki bernama Dmitri tidak mampu bertahan lagi. Ia melolong kesakitan dengan suara paling pilu yang pernah Lana dengar.
Sebuah tali panjang terurai.
Ayahnya melihat kepadanya. "Tutup mulutmu, Jalang!"
Ikat pinggang melayang lagi kepadanya. Lana bisa merasakan kesakitan yang luar biasa menyentuh hingga ke tulangnya.
Anak laki-laki dengan punggung tercabik itu berteriak lantang, "Hentikan, k*****t!"
Ia bisa ingat dengan jelas bagaimana merahnya wajah sang ayah. Mabuk dan marah membuat lelaki bertubuh besar itu semerah darah di luka Lana.
Sosok itu berpaling pada Dmitri. Matanya penuh kemarahan.
Lana menahan napas. Jantungnya yang penuh dengan derap pasukan ketakutan menunggu apa yang mungkin dilakukan ayahnya kepada Dmitri. Ia ingin meminta dan memohon, tapi terlalu takut untuk membuka mulut. Ia khawatir ucapannya akan memperburuk keadaan.
Sebuah tendangan sepatu boot usang sampai ke perut Dmitri membuat anak laki-laki itu ambruk. Mulutnya memuntahkan darah. Seluruh tubuh Lana lemas. Ia menjerit tanpa ada suara yang keluar dari mulutnya. Seluruh tubuhnya gemetar.
Dmitri mencoba bangkit. Ia duduk dengan tegak menatap ayahnya. Mata kelabu Dmitri penuh dengan nyala api. Tidak ada ketakutan sama sekali. Lana hampir lupa kalau mata itu milik anak berumur dua belas tahun. Mata yang begitu berani. Mata yang membuat ayahnya bersemangat untuk menambah siksaan. Sebuah sabetan gesper liar memecah udara. Besi gesper yang berat menghantam tepat di kepala Dmitri. Anak laki-laki itu oleng dan jatuh ke lantai yang dingin.
Lana menjerit ngeri. Geliginya menggigit kain dengan kuat hingga ia merasa nyeri.
Tidak ada rasa sakit yang menyamai sakit di dalam hatinya. Kematian telah merenggut kakak laki-lakinya, cinta pertamanya.
Seluruh simpul berhasil terlepas. Sendi di bahunya terasa kebas.
Ia merasakan panas yang menyakitkan di pergelangan tangannya saat tali plastik itu jatuh ke tempat tidur. Ia menggerakan tangannya pelan-pelan. Darah mengalir mengisi pembuluh darah di tangannya. Darah mengalirkan kehidupan di kedua tangannya, membuat kedua tangannya terasa lemas.
Lana menunggu dengan sabar. Ia terbiasa menahan diri.
Sama seperti ketika ia melihat darah berhamburan keluar dari kepala Dmitri. Keinginan untuk memeluk Dmitri begitu kuat, sekuat keinginannya untuk menjeritkan ribuan sumpah serapah kepada laki-laki besar yang masih menggenggam ikat pinggang dengan wajah terkejut.
Lana kecil berusaha bersabar, menunggu hingga ayahnya pergi. Ayahnya tidak boleh tahu kalau ia telah berhasil membuka ikatan di tangannya. Ia tak mau hal yang lebih buruk terjadi.
Kesabaran berbuah sangat manis. Lana tahu itu.
Semanis ciuman terakhirnya untuk Dmitri yang malang.
Tubuh Dmitri yang perlahan menjadi sedingin salju Moskow. Lana menyukainya. Ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk tidur di atas tubuh dingin Dmitri. Ia tidak ingin melepaskan cinta pertamanya.
Salju yang membekukan hatinya hingga kini.