Pelan-pelan, Lana menggerakkan ujung jarinya yang kaku, lalu pergelangan tangan, kemudian siku dan bahunya. Ia berusaha menarik tangannya ke depan. Lemas. Tubuhnya seperti dilanda kesemutan yang menjalar ke semua arah. Bahunya tertarik ke belakang dan sama sekali tidak bisa digerakkan. Ia ingin sekali berbaring lama di tempat tidur empuk itu hingga rasa sakit yang dirasakannya pergi.
Apa masih ada waktu?
Gelap sekali. Tidak ada sedikit pun cahaya yang masuk ke matanya. Napasnya juga semakin lama semakin sesak. Dia seperti kehilangan kekuatan untuk bernapas seiring dengan ketidakmampuannya untuk mendapatkan cahaya?
Apa ini kematian?
Tidak. Lana pernah melihat kematian walau tidak pernah merasakannya sendiri. Dia pernah melihat kekasihnya mati di depan matanya. Seharusnya ada darah. Seharusnya ada rasa sakit. Lalu, mungkin saja tidak ada rasa apa pun setelah kegelapan datang. Seharusnya begitu. Lalu, kenapa sekarang dia masih merasakan sakit?
Apa Dmitri menjemputnya? Apa Dmitri tahu yang terjadi di alam lain? Apa Dmitri bisa menjelaskan sesuatu padanya tentang rasa sakit dan kematian? Apa Dmitri mengingat rasanya mati setelah bertahun-tahun lamanya?
Ia harus segera melepaskan kegelapan yang melingkupinya agar bayangan ayahnya menghilang, agar dia tidak perlu lagi menangisi kematian Dmitri tersayang.
Penutup kepala itu diikat dengan kencang di bagian leher. Ia memeriksa lagi simpul yang mengikatnya. Jari-jarinya masih lemas, seperti jari boneka tali yang terkulai. Kepalanya makin terasa nyeri. Kesadarannya tentang rasa sakit semakin lama semakin tinggi. Lana mendapatkan lagi hidupnya. Napasnya yang sesak juga makin lama makin menyakitkan. Hidupnya sudah kembali. Hanya orang yang hidup yang bisa merasakan rasa sakit.
Lana melihat yang mengikatnya, mencoba menelaah apa yang ada di lehernya.
Kain. Hanya kain tebal. Namun, kain itu terikat di lehernya dengan kuat. Tali apa ini?
Hanya simpul mati biasa. Lana hanya perlu berkonsentrasi agar jemari lemasnya bisa menjepit tali kecil itu.
‘Tenang, Lana! Kamu sudah melakukan ini selama bertahun-tahun. Kamu bisa melepaskan diri dari tali apa pun yang mengikatmu. Sejak kecil Dmitri menyebutmu anak ajaib karena bisa melepaskan apa pun dengan baik. Kamu bisa, Lana. Kamu bisa,’ katanya dalam hati, berusaha memberikan semangat pada diri sendiri.
Simpul di lehernya terlepas.
Matanya memicing, silau menerima cahaya terang saat penutup kepala apek itu terlepas. Kepalanya berdengung seperti dengung lampu neon. Dia menunduk, berusaha menyesuaikan diri dengan terangnya lampu di atas kepalanya. Perlahan, dia menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya kering. Dia merasa terkena radang tenggorokan atau baru berteriak keras sekali.
Dia tidak ingat kalau sudah berteriak keras sebelum ini.
Apa saat mereka mengikat dan menutup kepalanya? Kalau iya, kenapa dia tidak ingat sama sekali?
Dia mengatur napas. Helaan demi helaan terasa segar. Udara di tempat ini bersih sangat berbeda dengan tempat yang mungkin menjadi sarang penculik rendahan. Lagi pula, kain yang digunakan untuk menutup kepalanya adalah beludru tebal. Tidak mungkin penculik sembarangan menggunakan kain semahal itu.
Apa yang melakukan ini adalah orang kaya? Maniak kaya raya yang suka menyiksa perempuan? Apa mereka salah satu pelanggannya? Apa lelaki yang haus darah itu, lelaki yang selalu menginginkannya berdarah setiap berhubungan dengannya?
Lana mengerjap. Dia harus berbuat sesuatu. Jauh lebih mengerikan kalau ini perbuatan maniak kaya raya. Mereka tidak tersentuh hukum. Mereka akan melakukan apa saja untuk melindungi diri. Ini artinya, tidak akan ada yang bisa menolongnya.
Lana melihat pada tubuhnya sendiri. Ia memakai pakaian lengkap. Celana jin dan kaos tanpa lengan warna biru tua, pakaian yang dipakainya ketika pulang dari kelab tempatnya bekerja. Ya, ia ingat benar. Jaket kulit sapinya terbaring lemas di sisi lain tempat tidur.
Ia baru membayangkan kemungkinan terburuk seseorang telah memperkosanya dan membawanya ke tempat ini untuk menjadi b***k seks. Mungkin seorang klien yang terobsesi padanya tapi tidak bisa membelinya.
Pekerjaannya sebagai penari kelab memang memberinya resiko menjadi korban kejahatan seksual. Memang selama ini tidak ada yang berani menyentuh penari-penari kelas atas Darling. Mika, Pemilik tempat itu, mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk menjaga gadis-gadisnya. Mika adalah perempuan tua yang berbahaya. Ia percaya perempuan yang tidak tersentuh akan menghasilkan aura berbeda.
Lana mempelajari ruang tempatnya sekarang. Kamar sempit hampir tanpa perabot. Tidak ada hiasan sama sekali. Dinding dan lantai keramiknya berwarna putih bersih. Seprei baru yang ada di tempat tidurnya juga putih bersih. Ruangan ini lebih membosankan dari kamar perawatan rumah sakit. Bahkan jendela pun tidak ada. Hanya pintu kayu yang sama putihnya.
Apa dia di sini karena disekap? Apa dia di sini karena telah dibayar seseorang untuk melayaninya?
Lana berusaha untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Sayangnya, tidak satu pun dari kemungkinan itu yang diingatnya. Semua ingatannya hilang setelah keluar dari tempat kerjanya malam itu.
Aneh. Ini sangat aneh. Dia bukan orang pelupa. Dia sering meninggalkan barang, tapi itu karena dia memang tidak ingin mengambilnya lagi ke rumah, tapi dia bukan orang pelupa. Dia bahkan masih ingat beberapa janji yang harus ditunaikannya minggu depan. Jelas, dia tidak mungkin lupa kalau sudah berjanji bersama seseorang hari ini.
“Kenapa aku bisa lupa?” tanyanya dengan suara parau karena keringnya tenggorokannya. “Seharusnya aku ingat sesuatu.”
Sebuah napas panjang meluncur dari bibir keringnya. Berkali-kali dia menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang perih. Tapi, sejenak kemudian dia tersenyum. Tidak semua buruk. Hatinya lega ketika melihat tas besarnya di atas meja di sudut lain kamar. Bukan dompet yang ia pikirkan, tapi buku yang menyimpan seluruh hidupnya. Jika ia masih hidup, buku itu harus terus bersamanya. Buku yang menceritakan kisahnya.Lana memberanikan diri membuka pintu. Tidak terkunci. Tidak ada lubang kunci. Hanya gagang pintu biasa berwarna perak. Ia makin waspada.
Bagaimana mungkin penculiknya melakukan kebodohan seperti ini?
Mengikat korbannya dengan erat tapi membiarkan pintu terbuka begitu saja?
Lana mengambil beberapa nafas panjang sebelum memberanikan diri membuka lebar pintu kamarnya. Bisa saja orang itu mengganti kunci dengan anjing penjaga atau algojo bertubuh besar. Sambil menahan napas, dia keluar dengan pelan dari pintu itu.
Di bagian luar ruangan itu ada koridor yang sama putihnya. Pintu putih tiap kamar berderet rapi dengan ukuran dan jarak yang sama. Tidak ada variasi lain. Tidak ada hiasan yang membuat dinding putih polos jadi tidak seperti rumah sakit. Lampu-lampu terang dan pendingin udara yang terlalu dingin membuat kesan rumah sakit jadi makin terasa. Atau, kamar mayat.
Lana berjalan pelan, berusaha tidak mengeluarkan suara. Ia menempelkan telinga di tiap pintu yang dilewatinya. Hening. Di pintu ketiga, ia mendengar suara. Seperti seorang laki-laki yang mengerang.
Gadis itu membeku.
Apakah suara korban yang sama dengannya?
Erangan itu terredam sesuatu. Siapapun yang mengeluarkan suara itu mungkin diikat juga seperti dia.
Lana mendekati pintu kamar tempat suara itu berasal. Tidak jauh dari kamarnya.
Tolol! Ia bisa saja lari tunggang langgang mencari pintu keluar dan terbebas dari tempat ini. Hatinya menolak. Ia merasa ada orang lain di tempat ini yang senasib dengannya.
Pergelangan tangannya masih mengeluarkan darah saat Lana membengkokan tangan untuk membuka pintu.
Gagang pintu tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Seorang laki-laki dengan celana denim hitam terbaring miring di tempat tidur persis seperti yang ia alami. Laki-laki bertubuh besar. Kulitnya kecokelatan. Seprai di bawah tubuh laki-laki itu sampai hampir lepas.
Lana menebak, lelaki itu mungkin adalah olah ragawan atau tukang pukul. Bagaimana caranya menculik laki-laki sebesar ini?
Lana menghampirinya. Ragu-ragu, dia menyentuh tangan laki-laki itu. "Ssh ... tenang." Suaranya mendesis tegas. "Kau mengerti apa yang kukatakan?"
"Siapa kau?" Laki-laki itu mengikuti perintahnya untuk berbisik.
"Lana. Aku juga sama denganmu. Diamlah akan kubuka ikatan tanganmu."
Lana meringis. Pergelangan tangan laki-laki itu berdarah parah, hasil dari pemberontakan yang sia-sia. Tali itu memakan kulit yang disentuhnya. Semakin berusaha bergerak, semakin banyak kulit yang terluka. Ia mual membayangkan betapa ngilu luka yang diderita laki-laki itu.
Simpul itu bisa denga mudah dibukanya dengan mata terbuka. Sesekali dia menggeleng keras untuk membuang bayangan Dmitri dari kepalanya, bayangan saat membuka tali di tangan Dmitri yang sudah mati.
Lana membantu laki-laki itu membuka penutup kepalanya. Wajah tampan dengan janggut sehari menatapnya dengan mata yang seperti dua buah lampu berwarna biru elektrik. Helaian rambut berkeringat menempel di dahi dan pelipisnya membuat wajah itu terlihat seperti khayalan erotis. Tubuhnya yang terbalut kaus penuh dengan otot seperti sebuah pahatan kayu.
Terkejut, Lana terdiam beberapa saat. Mata biru itu mengerjap, memfokuskan pandangan padanya. Lana menutup mulut dan menelan ludah. Siapa yang tega membuat lelucon seperti ini? Berada di tempat tidak jelas dalam situasi yang tidak jelas bersama laki-laki setampan ini?
"Hai," ucap laki-laki itu tanpa tersenyum. "Aku Zac. Kau tahu kita di mana?"
Lana menggeleng keras-keras. Dia ingin menampar wajahnya sendiri. Seharusnya dia panik atau takut, bukan terpesona begini.
"Tidak. Aku tidak tahu." Lana memperlihatkan pergelangan tangannya yang sama berdarahnya dengan pergelangan tangan Zac. "Tapi tempat ini serba putih."
"Astaga. Mengerikan sekali. Putih? Semua serba putih begini? Apa ini rumah sakit?" Zac mengernyitkan alis saat melihat ke sekeliling kamarnya yang serba putih.
Suara jeritan seorang perempuan memecah keheningan. Jeritan itu disusul jeritan selanjutnya. Mereka berhambur ke luar kamar dan membuka semua pintu yang mereka lihat. Ada pemandangan yang sama di tiap pintu. Kamar putih, tempat tidur putih dan seorang korban yang tangannya diikat kebelakang dan kepala ditutup kain hitam tebal.
"Tugas kita banyak sekali," ucap Zac sambil mengangkat bahu d depan Lana.
Lana memasuki kamar yang paling dekat. Ada seorang laki-laki terbaring miring di tempat tidur. Lana menghampirinya.
"Hei, sebentar aku akan membebaskanmu." Lana menghardik ketika lelaki itu berusaha menendangnya. Ia bisa merasakan kewaspadaan dan emosi dari laki-laki itu.
"Siapa kau?" Suaranya terdengar serak dan marah.
"Aku Lana. Aku juga korban sepertimu. Aku bisa membuka ikatan di tanganmu," jawabnya cepat. Seperti sebuah dejavu, ia mengulang lagi apa yang telah dilakukannya pada Zac beberapa saat lalu.
Lana menahan napas ketika membuak penutup kepala lelaki itu. Sosok wajah tampan menyambutnya. Dalam sekejap, Lana bisa melihat kilatan kecerdasan dan keangkuhan pada mata cokelat di depannya. Mata yang membuat Lana mengeluh di dalam hati. Betapa tololnya orang yang menahan mereka. Bagaimana mungkin orang itu memilih laki-laki tampan sebagai korbannya? Ini semacam Talent Show atau apa?
"All," ucap lelaki itu sambil tersenyum memesona. "Terima kasih, Lana."
Lana tersenyum kikuk.
Zac, si Tampan Pertama, berdiri terengah di depan pintu.
"Maaf kalau aku mengganggu. Aku tidak tahu bagaimana membuka tali k*****t itu."
Lana melompat dari tempat tidur menuju kamar selanjutnya.
Ada seorang anak perempuan remaja berkulit cokelat cerah yang menangis kencang. Lana mencoba menenangkannya. Anak itu menjerit dan memberontak dengan liar membuat Lana sulit menguraikan tali plastik di pergelangan tangannya.
"Kumohon, bekerjasamalah. Aku tahu rasanya tidak nyaman, tapi kau harus bersabar agar aku bisa melepaskanmu." Suara Lana yang terdengar memohon membuat remaja itu berhenti memberontak. Ia hanya menangis tersedu.
Mata bengkak remaja itu menyambutnya ketika penutup kepala hitam terbuka. Sebuah mata yang menceritakan ketakutan dan ketidakberdayaan. Lana memeluknya dengan erat sebelum menuju kamar berikutnya.
Seorang perempuan berkulit hitam bertubuh kurus merengek-rengek untuk meminta belas kasihan. Perempuan itu mengucapkan banyak sekali terima kasih ketika Lana melepaskan ikatan tangan dan penutup kepalanya.
Seorang perempuan muda berbicara dengan bahasa latin. Suaranya seperti gesekan biola yang memilukan. Gadis Latin itu langsung memeluk Lana ketika ikatan di tangannya terbuka. Lana merasa tubuh gadis itu gemetar ketakutan.
Terakhir, laki-laki berkulit pucat yang menangis tersedu. Ia sangat ketakutan.
"Aku akan membayar hutang-hutangku, Tuan. Kumohon. Aku berjanji akan melunasi semua. Tolonglah, lepaskan aku."
Lana tidak mengucapkan apa-apa untuk menenangkan lelaki itu.
Baru ketika penutup kepalanya terbuka, lelaki itu menatap Lana, Zac dan All yang berdiri di depannya dengan wajah bingung.
"Kalian bukan Mr. Shark? Kalian bukan penagih hutang?"
Semua orang hanya tersenyum canggung melihatnya.
Lelaki itu benar-benar terlihat seperti orang yang gagal dengan rambut tipis yang terjulur begitu saja di kepalanya dan wajah yang terlihat tak terawat. Tapi pakaian rapinya yang bermerk membuat Lana tahu kalau lelaki ini pernah mengalami masa-masa gemilangnya.
"Kenapa kalian semua ada di sini?" tanya laki-laki itu lagi dengan wajah yang lebih bingung dari sebelumnya.
Mereka semua saling menatap bingung.
"Kami sendiri mau tahu, Dude," ucap Al sambil menaikkan alis.
Beberapa orang mendesis dan mendengus. Lana melirik Zac yang memegangi pergelangan tangannya. Ia merasa denyut menyakitkan pada pergelangan tangannya juga. Semua orang terlihat muram dan kebingungan.
"Orang t***l mana yang menculik atau mengikat korbannya di tempat tidur tanpa pengamanan seperti ini?" Laki-laki itu melanjutkan, lalu menatap Lana. "Atau mungkin dia tidak tahu kalau ada gadis pramuka di tempat ini," ucapnya lagi dengan ekspresi yang membuat Lana menelan ludah.
***