Raden

1051 Words
Karena merasa diremehkan, kanjeng Kaseni pun menatap sosok itu nyalang, “nyingkrih o!! (pergilah!!)” pekik kanjeng Kaseni. Sontak membuat Sekar langsung menoleh ke Biyung-nya itu, “Biyung? Ada apa?” pekiknya sedikit ketakutan. Sekar pun juga ikut menoleh ke arah pandang Biyung-nya itu, dan menjadi celingukan setelah tidak menemukan apa pun di sana. “Jarno (biarkan), Nduk. Ayo kita berikan minuman itu untuk orang-orang.” Kanjeng Kaseni cukup puas karena sosok itu benar-benar pergi setelah mendengar teriakannya, dia tidak suka jika ada sosok yang mengganggu putrinya seperti tadi. Setelah ikut beristirahat dan makan bekal yang mereka bawa di ladang, kanjeng Kaseni segera menyuruh para pekerja itu agar mengangkat gabah/butiran naik ke atas cikar yang dibawanya ke mari. “Sampun/sudah, Kanjeng.” kata para pekerja itu setelah menyelesaikan tugas mereka. “Ayo pulang. Nanti keburu sore,” kanjeng Kaseni menoleh ke putrinya yang masih sibuk ikut mengemasi sisa wadah makanan itu, “Nduk, ayo naik. Biar itu diselesaikan oleh yang lain.” ajaknya ke putrinya itu. “Inggih/iya, Biyung.” Sekar juga segera meninggalkan kesibukannya dan naik ke cikar yang tadi dinaikinya dengan Biyung-nya waktu berangkat tadi. Cikar pun berjalan menyusuri jalan yang sama dengan yang tadi, dan Sekar juga menikmati harinya sepanjang hari ini, “Biyung?” bukanya yang merasa ingin berbincang dengan Biyung-nya itu, “kapan Biyung ka-win sama pak Sugeng?” tanya Sekar yang penasaran, kenapa Biyung-nya itu tidak menggelar wayang itu tepat di hari pernikahan itu berlangsung? “Belum tahu, Nduk. Orangnya masih belum datang lagi.” memang beberapa hari ini mereka jarang bertemu. 'Ketek.' Cikar berhenti sempurna dan mendadak, membuat kanjeng Kaseni dan juga Sekar menjadi terguyung ke depan, “ada apa to kok mandek/berhenti ndadak gini?” pekik kanjang Kaseni yang siap memarahi baji-gan itu. “Anu, Kanjeng. Di depan ada cikar yang berhenti di tengah jalan juga, kita gak bisa lewat.” jawab baji-ngan itu. Kanjang Kaseni siap untuk menyantrap/memarahi siapa pemilik cikar yang tidak tahu pengoran/aturan itu, sampai membuat jalannya menjadi terhambat, “hey, Raden! Menopo kok mandek! (kenapa berhenti!)” teriaknya sambil menyincing jarit yang dikenakannya hingga selutut. Sekar yang sudah hafal dengan tabiat dari kemarahan Biyung-nya itu, memilih untuk turun juga dari cikar dan menyusul Biyung-nya itu. “Maaf, Nyai. Cikarku rodanya masuk ke lumpur.” kata pemuda yang sedang sibuk menye-lipkan kayu di bawah roda cikar itu agar bisa terangkat dan melewatinya. Kanjang Kaseni membatu, otot kekar yang tercetak jelas di baju basah yang terkena keringat itu, seakan menggambarkan betapa akan sangat panas jika diajaknya bercum-bu dan bermanja di atas ran-jang. Wajah tampannya juga sangat bagus jika dipandangi setiap malam, kanjeng Kaseni yakin, dirinya tidak akan bosan meski tidak mengedipkan matanya sekedip pun nanti jika mereka menghabiskan malam mereka bersama. Sungguh, tangan kekar itu akan sangat mantap jika memutar buah da-danya yang kenyal ini nanti. Kanjeng Kaseni tersenyum menikmati keliaran dari pikirannya itu. Sungguh akan rela bertarung dengan Kanjeng Ratu Kidul jika pria ini yang akan menjadi tumbalnya untuk tahun depan karena tahun ini akan ada Sugeng untuk mengisinya. “Mas Danuri?” sapa Sekar setelah mengetahui siapa pemilik cikar itu. “Dik Sekar?” jawab Danuri dengan senyuman berkarisma itu. Kanjeng Kaseni terkejut melihat ini, tidak menyangka selera putrinya sangat tinggi, sama dengan dirinya. Meski belum bertanya pun kanjeng Kaseni seakan paham dengan apa yang ada di dalam sorot mata dua pasang yang saling bertatapan ini. “Kalian kenal?” tanya kanjeng Kaseni menyadarkan ke duanya agar tidak sama-sama berkagum antara satu dan yang lainnya. “Biyung, ini Mas Danuri, Sekar hanya tahu pas Mas Danuri kirim daging ke pasar.” kata Sekar setelah menarik pandangannya ke pria yang suka mengganggu tidur malamnya itu. “Danuri, Nyai. Saya dari Jatirejo kidul, putranya pak Gimin.” pemuda bernama Danuri itu mengulurkan tangannya ke kanjeng Kaseni, cukup hormat karena merasa satu langkahnya mulia membaik karena sudah berkenalan dengan Biyung Sekar saat ini. “Kaseni, panggil saja Kanjeng. Aku mengenal bapakmu, peternak sapi yang cukup tersohor di Karangrejo ini.” dijabatnya tangan kekar itu, dan memberinya senyuman terbaik juga untuk pemuda sempurna itu. “Hanya ternak sapi kecil-kecilan, Kanjeng. Tidak sebesar kedengarannya.” Danuri memang tidak suka orang menganggapnya lebih tinggi dari yang lainnya, sederhana membuatnya lebih bisa menikmati kehidupan ini menurutnya. Kanjeng Kaseni terkekeh, tidak menyangka kalau pemuda ini memiliki sikap yang rendah hati seperti ini. “Kenapa ini tadi cikarnya, Danuri?” tanyanya masih dengan senyuman menggoda itu. “Terjebak lumpur, sepertinya muatannya agak kelebihan, jadinya roda sebelah kiri ini jadi berat.” Danuri memang sedang mengirimkan daging sapi ke daerah sekitar sini, ada warga yang hajatan dan memesan daging di tempatnya, maklum saja peternakannya memang sudah tersohor meski dia tidak mau mengakuinya. Kanjeng Kaseni segera berbalik menghadap ke cikarnya sendiri, “hey!! Ayo turun! Bantu dulu biar kita bisa lewat nanti!” teriaknya ke para pekerjanya yang melongok untuk memanjangkan leher mereka, mengintip seakan ada kejadian apa di depan cikar kanjengnya kok sampai berhenti lumayan lama seperti saat ini. “Inggih, Kanjeng.” semua pekerja yang merasa lelaki itu pun serentak berseru dan segera turun dari cikar yang mereka tumpangi, bersiap melakukan apa yang telah diperintahkan kanjeng mereka itu, dan bersiap di belakang cikar pemuda bernama Danuri untuk mendorongnya agar ke luar dari lumpur. “Siji/satu! Loro/dua! Telu/tiga!!!” seru semuanya bersama-sama agar mendorong dengan ketepatan yang sama pula. Percobaan pertama gagal, begitu pun juga dengan yang ke dua dan ke tiga, seakan lumpur itu menghis-ap roda dan tak mau melepaskannya. “Saya naik saja, biar mau maju sapinya.” kata Danuri ke ba-jingan yang seakan tidak cekatan memecut bo-kong sapi itu. “Inggih, Raden.” baji-ngan itu pun segera turun dari cikar dan membiarkan tuan mudanya itu naik untuk mengemudi cikar. “Siji! Loro! Telu!!” 'Cetarrr!' Mohhhh!! Sapi sedikit terkejut dan ingin berlari kencang, namun tarikan dari ke dua tangan Danuri mampu menahannya sehingga hanya bertahan beberapa langkah saja sebelum berhenti kembali. Lalu apa? Tentu saja kanjeng Kaseni sangat terpesona. Otot-otot lengan yang tadinya mencengkeram kuat tali sapi itu membawa sensasi tersendiri bagi kanjeng Kaseni, “hmmm, uwenak e.” lirihnya sangat menikmati andai tangan itu benar-benar mencengkeram buah da-danya yang menggelantung di saat malam. “Apa Biyung yang enak?” tanya Sekar yang mendengar gumaman dari Biyung-nya itu. “Enggak, Nduk. Gak apa-apa.” Kanjeng Kaseni tersenyum sangat menggoda karena Danuri sedang menatapnya juga saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD