Tidak seperti kemarin, hari ini Sekar bangun sepagi biasanya, yaitu sebelum ayam jantan berkokok. Sekar tidak mau lagi ketinggalan biyungnya, dia ingin ikut ke ladang hari ini.
Mbok Jum yang sedari pagi sibuk menanak nasi, dan juga pala pendem, terus tersenyum melihat putri yang diasuhnya itu selalu semangat menghadapi harinya, “Nduk, kamu nanti mau ikan mujair apa ayam saja lauknya?” tanya mbok Jum, memang ini sedang menyiapkan bumbu untuk menggoreng laun itu.
“Buatkan trancam (sayur mentah, biasanya campuran kacang panjang, toro/petai cina, daun kemangi, dan mentimun, lalu dikasih bumbu urap-urap/kelapa pedas), Mbok. Kalau di sawah makan yang seger kan enak?” Sekar yang memilih untuk memotong tempe kedelai saat ini.
Mbok Jum pun tersenyum dan mengangguk, dia akan selalu menuruti semua permintaan putri asuhnya itu.
“Mbok? Kapan biyung menikah sama orang dari Peniwen itu?” Sekar lupa tidak menanyakan tentang itu ke biyungnya semalam.
“Belum tahu, Nduk. Mungkin beberapa bulan lagi, Sugeng juga belum melamar kok, Nduk.”
“Kalau soal wayang? Apa biyung? ...”
Mbok Jum terkekeh, “iya, Nduk. Mbok sudah nyuruh Tejo buat ke Kali pare pagi ini, Nduk Sekar gak usah kawatir.”
Sekar tersenyum lebar, sangat senang dengan biyungnya yang selalu mengabulkan apa yang dia ingin kan itu.
Dengan naik cikar, Sekar terus memperhatikan jalan berbatu yang dilaluinya. Sungai beriak, dan gemercik air ikut membuat perjalanan ini menjadi lebih bersemangat. Wangan / kali kecil yang terlihat di sebelah jalan menjadi pertanda, sebentar lagi akan sampai di ladang. “Biyung, hari ini panen apa?” tanya Sekar yang belum tahu karena belum mempertanyakannya sejak semalam.
Kanjeng Kaseni tersenyum, “ketan, Nduk. Mbok Jum tadi sudah bilang, katanya hari ini Tejo ke Kali pare, Nduk mau lakon / judulnya apa?” kanjeng Kaseni menanyai putrinya itu dengan judul wayah yang dimaui Sekar untuk tiga hari lagi.
Sekar tampak berpikir, “ada satu lakon, Biyung. Tapi katanya gak boleh dimainkan.”
“Apa, Nduk?” tanya kanjeng Kaseni sambil mengelus rambut Sekar, rambut yang dikepang dua itu terlihat begitu indah, cantik, dan pas membalut putri ayunya itu.
“Anoman Obong, Biyung.” Sekar mengambangkan pikirannya, sangat tertarik dengan cerita dari kisah wayang Ramayana itu.
“Kenapa tidak? Biyung akan menggelar dengan lakon itu besok.” Kanjeng Kaseni tidak mau menganggap mitos yang selama berabad-abad itu tetap menjdi kepercayaan masyarakat desa Karangrejo, khususnya dusun Krantil yang dia tinggali ini.
“Tapi, Biyung. Sekar takut nanti ada yang tidak baik jika Biyung tetap melakonkan wayang itu nanti.” Sekar sangat ingat beberapa tahun yang lalu, di desa Ringin Anom ada warga yang memerankan pewayangan itu, dan mengakibatkan semua pawon di pemilik rumah menjadi abu, rata tak tersisa sedikit pun.
Kanjeng Kaseni terkekeh, sangat lucu karena putrinya yang begitu polos ini akan menganggap semua itu selalu berakhir sama, “tidak, Nduk. Semua karena ada sebab akibat, Biyung yakin tidak akan ada apa-apa besok.”
“Tapi, Biyung?---“
“Sudahlah, Nduk. Biyung sudah memperhitungkan semuanya.” Kanjeng Kaseni sangat yakin akan semua ini.
Sekar pun hanya bisa tersenyum, meski sedikit takut, hatinya pun akan percaya dengan keyakinan Biyung-nya itu.
Sudah cukup terik. Meski tidak melakukan apa pun di ladang, baik Sekar mau pun kanjeng Kaseni tetap mendekat ke para petani, seakan tidak takut dengan panasnya sinar matahari yang akan membakar kulit mereka nantinya.
“Nduk, bawakan minuman untuk semuanya, di kendi ya? Yang ini sudah habis.” Kanjeng Kaseni menyodorkan kedi kosong ke putrinya itu.
“Sumbernya di mana, Biyung?” tanya Sekar, ladang ini masih baru, Biyung-nya itu baru mendapatkannya beberapa bulan yang lalu, jadi Sekar belum tahu letak sumbernya di mana.
“Di sana, Nduk,” kanjeng Kaseni menunjukkan jari telunjuk kanannya ke tempat yang harus dituju oleh putrinya itu, “nanti agak turun sedikit, tapi gak usah jauh-jauh, di bawah suka ada ularnya.” imbuhnya lagi.
“Inggih, Biyung.” Sekar segera berjalan ke tempat yang ditunjuk Biyung-nya setelah menerima kendi yang disodorkan tadi. Sekar berjalan melewati galengan (jalan kecil di tengah sawah) dengan sangat hati-hati, takut jikalau sampai terjatuh dan masuk ke dalam sawah nanti.
Dengan langkahnya yang kecil namun pasti, Sekar mulai menuruni tangga tanah yang sengaja dipacul menyerupai tangga yang bagus, namun diberi bongkahan batu besar bagian tengahnya agar tidak sampai licin jika hujan mengguyur daerah situ. Hawa dingin mulai menyapa, jika di atas sinar matahari masih menyapa, di bawah hanya bayangan pohon rindang saja yang menjadikan semuanya sedingin ini.
Sekar menoleh ke kanan, kiri, dan juga ke belakang. Bulu kuduknya merinding, seakan ada yang mengawasi dirinya sejak dia turun ke bawah sini.
“Cah ayuuuuuuu ... .”
Sekar sedikit berjingkat, andai saja dia tidak menyadarkan dirinya, mungkin kendi yang dipegangnya ini bisa dipastikan terjatuh.
Lagi.
Sekar menolehkan kepalanya ke kanan, kiri, dan belakang. Sungguh, dia mendengar dipanggil oleh seseorang tadi.
Namun, karena dia tidak ingin sampai terjadi sesuatu dan akan membuat Biyung-nya kebingungan, Sekar lebih memilih untuk segera mengisi kendi itu dengan air sumber (dulu jarang ada orang yang minum air dengan direbus terlebih dahulu, kebanyakan mereka minum dari air sumber yang ada di hulu sungai, sumber masih sangat banyak, terlebih di daerah pegunungan yang menjadi setting dari cerita ini, rasanya juga segar, tidak kalah dengan aku, aku a di zaman sekarang ini), dan segera kembali setelah kendi itu penuh.
“Ada apa, Nduk?” tanya kanjeng Kaseni yang melihat putrinya tidak seperti saat keberangkatannya tadi.
“Mboten (tidak), Biyung. Mboten.” Sekar tidak mau Biyung-nya malah mengkhawatirkannya untuk saat ini.
Namun, kanjeng Kaseni sangatlah peka. Beliau segera mengedarkan pandangannya terlebih ke arah sumber yang tadi disambangi oleh putrinya itu, dan memelotot kan matanya setelah menemukan sosok yang tidak wajar bertengger di atas pohon waru besar. Matanya ikut melotot saat sosok itu melotot lebih dulu untuk menantangnya, dan siap menghukum jika saja sosok itu benar-benar mengancam putrinya tadi, ‘aku iki sejatining mung ngaluwihi awakmu nek tanah iki, panutanku Kanjeng Ratu Kidul lan siap nyebda marang Sliramu yen atumindak ala kalian putriku (aku ini sebenarnya melebihi dirimu di tanah ini, aku pengikut Kanjeng Ratu Selatan dan siap menghukummu jika kamu melakukan hal yang salah terhadap putriku).’ batin kanjeng Kaseni ke sosok itu.
‘Hahahahahaha,’ sosok itu terbahak, ’aja rumangsa bisa (jangan sok bisa).’ ejek sosok itu cukup keras menggema di telinga kanjeng Kaseni.
Karena merasa diremehkan, kanjeng Kaseni pun menatap sosok itu nyalang, “nyingkrih o!! (pergilah!!)” pekik kanjeng Kaseni.
Sontak membuat Sekar langsung menoleh ke Biyung-nya itu.