Gimin mengerutkan keningnya saat melihat putra sulungnya itu langsung masuk ke dalam rumah setelah turun dari cikar. “Ada apa to?” tanya Gimin ke baji-ngan yang mengantar daging sapi bersama dengan putranya. “Ndak tau, Tuan. Sejak mau pulang tadi den Danuri diam saja.” “La memangnya ketemu sapa siapa di pasar?” “Kurang tau, Tuan. Wong tadi cuma domblong sama melihat dokar pulang dari pasar saja.” “Dokar?” Gimin mulai menangkap satu penjelasan dengan kata ‘dokar’ itu. “Inggih/iya, Tuan.” “Apa warnanya merah?” Gimin yakin, akan hanya ada dokar itu saja yang mampu membuat putranya tiba-tiba menjadi pendiam seperti itu. “Inggih/iya, Tuan.” Gimin pun segera berdiri dari kursi nyaman yang dia duduki sejak tadi, dan mencari Danuri ke kamarnya, cukup yakin jika putranya itu pasti ada di sa

