Matahari menyingsing. Pawon/dapur di rumah besar kanjeng Kaseni sudah ramai oleh banyak orang yang masak banyak makanan dan juga nyami’an/camilan. Hari ini rombongan wayang akan tiba, mulai memasang genjot/panggung, dan akan mulai membenarkan letak tempat yang diperlukan untuk acara inti besok. “Nduk! Kamu ke pasar, ya?!” kanjeng Kaseni sedikit berteriak agar putrinya itu bisa mendengarnya, banyaknya minyak yang menggoreng godoh/pisang goreng, weci/bala-bala, dan juga tempe untuk sarapan beberapa jam lagi. “Inggih/iya, Biyung. Kaleh sinten/sama siapa?” tanya Sekar sambil membersihkan tangannya dengan serbet (sapu tangan di dapur) karena masih membantu seorang buruh di rumahnya mengupas kentang untuk dijadikan sambal goreng. “Mbok Jum. Tumbas/beli kerupuk puli sama minyak, kalau daging s

