“Kanjeng Kaseni! Metuo/ke luar, Kanjeng Kaseni! Kanjeng Kaseni?!” “Kurang a-jar!” desisnya pelan dan memaksa tubuhnya yang sakit semua itu, untuk berdiri dan melihat siapa yang berani meneriakkan namanya itu. “Ana apa?” teriak kanjeng Kaseni yang berkacak pinggang dengan ke dua tangannya. 'Bluk.' Dilemparnya buntalan yang sedari tadi dibawanya itu ke depan kanjeng Kaseni, “aja pisan-pisan ngerem ngenek an maneh, apa maneh sampek kowe wani ngganggu anak-anakku! (jangan sekali-kali mengirim ini lagi, apa lagi berani mengganggu anak-anakku!)” ucap lelaki yang seumuran dengan kanjeng Kaseni, hanya saja memang terlihat lebih dewasa karena tidak menggunakan susuk seperti kanjeng Kaseni. Kanjeng Kaseni terkekeh, “sapa kowe/siapa kamu?” “Tidak penting! Cam kan saja ucapanku!” segera dicengklak

