Bagian Sebelas

975 Words
*** "Papa harap ini terakhir kalinya kamu bikin Tamara nangis. Dia itu baru pulih baik fisik mau pun mental, Gevania. Seharusnya kamu berempati. Sama adik sendiri kok enggak ada empatinya. Heran." Tidak menunggu jawaban, Nolan menyudahi panggilan begitu saja. Tengah berada di balkon, beberapa waktu lalu—di tengah lelapnya dia tertidur, sebuah panggilan masuk. Berasal dari Tamara, Nolan langsung menjawab panggilan, dan yang dia dapat adalah; sebuah pengaduan. Padanya, Tamara menceritakan sikap Gevania sambil menangis, sehingga tidak peduli malam yang sudah larut, Nolan memutuskan untuk menegur si putri sulung. "Gevania emang cuman bisa bikin aku kesal," gerutu Nolan. "Udah tahu adiknya baru membaik, bisa-bisanya digituin. Enggak berempati banget." Tidak terus di balkon, Nolan melangkah masuk. Kembali ke kamar, dia mendapati Rachel yang sudah terbangun. Tidak sampai sedetik pasca pandangan mereka bertemu, sang istri bertanya, "Habis ngapain, Mas, kamu dari balkon?" "Angkat telepon," ucap Nolan. "Tamara tadi hubungin aku terus ngadu sambil nangis. Jadi aku dengerin dulu curhatannya." "Nangis?" tanya Rachel, sambil mengernyit. "Kenapa memangnya? Berantem sama Abyan?" "Bukan, tapi Geva," jawab Nolan, sambil mendudukan dirinya di pinggir kasur. "Tamara bilang dia nemuin kakaknya setelah Abyan yang sebelumnya dia minta anterin pizza, ngadu soal Geva yang katanya galau terus." "Lalu?" "Ya bukannya disambut baik, kedatangan Tamara malah disambut sinis sama Geva," ucap Nolan. "Geva bilang Tamara pura-pura peduli. Padahal, Tamara beneran peduli sama kakaknya itu. Seperti yang kamu tahu, Tamara itu cengeng. Jadi ya dia ngerasa sedih banget." "Terus udah kamu tenangin Tamaranya?" "Udah," ucap Nolan. "Aku tegur juga Geva biar enggak kasar sama adiknya. Dia itu harusnya bersyukur punya adik sepeduli Tamara. Masalah Abyan juga udah mau sebulan. Geva seharusnya udah move on. Kaya yang enggak laku aja bergelut sama satu orang cowok." Tidak tahu harus menimpali apa, Rachel hanya bisa menghela napas kasar. Dalam hati, dia merasa kasihan pada si putri sulung. Namun, dia pun tidak bisa berbuat banyak karena dalam keluarga, Nolanlah yang memegang kendali. "Kenapa diam?" tanya Nolan. "Enggak apa-apa," ucap Rachel. "Aku cuman keingetan aja belum telepon Geva." "Dia baik-baik aja, enggak usah terlalu dikhawatirin. Yang terpenting itu Tamara." "Mas ...." Rachel mendesah. "Geva anak kita juga. Tolong kamu jangan terlalu jomplang memperlakukan dia sama adiknya, karena semakin kamu kaya gitu, semakin besar rasa benci Geva ke Tamara." "Aku cuman kesal sama Geva," ucap Nolan. "Dia seharusnya enggak kaya gitu sama Tamara. Dia kan tahu mental Tamara tuh enggak sekuat dia. Pahamlah harusnya. Lagian kamu ngelarang aku bersikap jomplang, tapi kamu sendiri nyuruh Geva buat ngandung anaknya Tamara. Apa bedanga kita?" "Aku nyesal sama keputusan itu," ucap Rachel. "Aku pikir Tamara enggak akan mau. Jadi aku asal sebut aja biar dia tenang. Seperti yang kamu lihat, Tamara hancur banget kan pas tahu rahimnya enggak ada." "Tamara itu sayang dan percaya banget sama kakaknya. Dikasih saran kaya gitu sama kamu, pasti maulah dia." "Jadi aku yang salah?" "Aku enggak menyalahkan kamu," ucap Nolan. "Cuman jangan menilai aku jahat, karena kamu sama aku sama aja. Kita mengutamakan Tamara dibanding Geva karena memang dia lebih pantas buat diutamain." Tidak menjawab, Rachel kembali diam dengan perasaan bingung, hingga tidak berselang lama Nolan berpamitan untuk kembali terlelap. Selama beberapa menit pasca sang suami kembali tertidur, Rachel hanyut dalam lamunan hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk mengambil ponsel sang suami guna mencari kontak Gevania di New york sana. "Nah ini," ucap Rachel, yang dengan segera mengirim kontak sang putri ke nomornya. Tidak banyak menunda, dia lekas membawa ponselnya pergi, kemudian di ruang tengah lantai dua, Rachel menghubungi si putri sulung. "Halo," sapa Rachel, pasca sambungan telepon terhubung. "Ada apa Mama telepon? Mau nambahin omelan Papa karena aku sinis sama Tamara?" tanya Gevania, tanpa basa-basi. "Kalau iya, aku minta maaf, Ma, aku minta maaf. Aku cuman lagi capek tadi makanya agak emosi pas Tamara datang. Aku juga agak enggak enak badan. Kepalaku pusing." "Udah minum obat?" tanya Rachel. "Belum," jawab Gevania. "Aku baru sampe tadi. Jadi belum sempat ke mana-mana." "Cepetan beli obat kalau gitu," ucap Rachel. "Minta tolong Abyan buat beli dan—" "Enggak usah, Ma, aku bisa sendiri," ucap Gevania. "Lagian nanti Tamara cemburu kalau aku ngerepotin suaminya." "Ya kan cuman beli obat, Gev, bukan macam-macam." "Aku bisa sendiri, Ma," ucap Gevania. "Lagian Mama juga kan yang bilang kalau aku enggak boleh manja? Enggak enak badan sedikit jangan ngerengek. Beli obat terus istirahat. Simple." Tidak menjawab, untuk beberapa saat Rachel diam dengan rasa bersalah yang semakin menyelimuti. "Mama minta maaf," ucapnya. "Seharusnya Mama enggak kasih ide ke Tamara buat jadiin kamu ibu pengganti. Seharusnya Mam—" "Maaf Mama enggak akan mengubah apa pun. Aku udah di sini dan nanti aku akan mengandung anaknya Tamara sama Aby," ucap Gevania. "Lagian bukannya yang terpenting buat Mama itu kebahagiaan Tamara? Jadi buat apa minta maaf sama aku? Kan yang terpenting Tamara bahagia." "Geva ...." "Selagi masih waras, aku bakalan lakuin apa yang Mama sama Papa minta, Ma," ucap Gevania. "Aku kan harus tahu balas budi, karena berkat kalian, aku enggak akan hidup sampai sekarang. Iya, kan? Hafal kok aku." Rachel menghela napas kasar, sementara Gevania meminta izin untuk mengakhiri panggilan. "Udahan ya, Ma, teleponnya. Aku mau makan," ucap Gevania. "Mama sama Papa tenang aja, Tamara bakalan aku jaga sebaik mungkin di sini." "Kamu jaga kesehatan juga." "Iya," ucap Gevania. "Aku pasti jaga kesehatan, karena kalau bayi tabungnya gagal atau ada apa-apa sama calon anaknya Tamara, aku juga yang salah. Iya, kan?" "Maksud Mama bukan git—" Tidak selesai Rachel bicara, Gevania lebih dulu menyudahi panggilan—membuat dia lagi-lagi menghela napas kasar. Menyugar rambutnya ke belakang, Rachel memejamkan matanya sejenak sebelum kemudian tertunduk. Tidak kuasa untuk menahan, tetes demi tetes cairan bening jatuh begitu saja sebelum akhirnya dia pun berucap dengan suara yang bergetar. "Maafin Mama, Geva. Mama jahat banget sama kamu." Diam sejenak, Rachel kembali meresapi sedih dan sakit sebelum kemudian bicara lagi. "Dek, maafin Kakak. Kakak gagal jadi ibu yang baik buat Geva."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD