***
"Lho, Kak, kamu udah ke sini lagi? Kenapa enggak masuk ke kamar? Padahal, aku enggak tidur. Cuman rebahan aja."
Sedikit terkejut usai mendapati Abyan di ruang tengah, pertanyaan tersebut Tamara lontarkan. Tidak takut obrolannya dengan sang mama didengar suaminya, dia cukup lega untuk hal tersebut karena pintu kamar sejak tadi terkunci.
"Enggak apa-apa, aku pengen di sini aja."
Tamara tersenyum tipis, lalu setelahnya mendekat untuk kemudian duduk di dekat Abyan. "Gimana pizzanya? Kak Geva udah terima?"
"Udah," jawab Abyan. "Cuman enggak tahu bakalan dimakan apa enggak. Masih galau soalnya dia. Nangis terus kerjaannya."
"Tadi lagi nangis?"
"Enggak," ucap Abyan. "Matanya aja kelihatan sembab. Pasti habis nangis kan kalau gitu?"
Tidak menimpali, Tamara tersenyum samar sebagai respon. Tidak ada obrolan, selama beberapa detik dia dan Abyan saling diam sampai akhirnya Abyan buka suara.
"Kamu apa enggak mau pikir-pikir lagi pake jasa Gevania buat mengandung anak kita?" tanya Abyan tiba-tiba.
"Maksud Kakak?"
"Kesehatan mental Geva kelihatannya enggak baik. Kalau dipaksain buat mengandung anak kita, aku takut terjadi sesuatu."
"Sama Kak Gevanya?"
"Anak kita yang dia kandung, Tamara," ucap Abyan—membuat Tamara lega, karena yang sang suami bukanlah Gevania. "Setahu aku hamil tuh mentalnya harus bagus, karena mood ibu hamil mempengaruhi pertumbuhan bayi. Kalau Geva terus kaya sekarang, gimana sama calon anak kita nanti?"
"Kak Geva ada cerita enggak, Kak, penyebab dia sedih itu apa?" tanya Tamara.
"Enggak, cuman ya siapa lagi selain selingkuhannya?" tanya Abyan. "Papa kamu bilang Geva dikhianatin selingkuhannya kan sebelum kembali ke rumah. Jadi ya apalagi kalau bukan itu?"
Lagi, Tamara kembali diam, sementara Abyan melanjutkan ucapan.
"Kalau kamu benar-benar mau pake ibu pengganti, kita bisa cari perempuan yang sehat baik itu fisik mau pun mentalnya," ucap Abyan. "Soal biaya, bair aku yang tanggung dan—"
"Kak Geva pasti membaik seiring berjalannya waktu, Kak," ucap Tamara—membuat Abyan memandangnya intens. "Aku enggak bisa tenang kalau perempuan yang akan mengandung anak kita adalah orang asing. Jadi biar tetap Kak Geva aja. Lagipula kita udah di sini. Jadi nanggung kalau harus cari perempuan lain."
Abyan menghela napas kasar. Mencerna ucapan Tamara, dia berkata, "Temuin Kakak kamu kalau gitu. Bilang ke dia buat enggak larut dalam kesedihan. Siapa tahu kalau kamu yang ngomong, Geva malu terus mengakhiri kesedihannya. Dia yang berulah, tapi dia juga yang bersikap seolah paling tersakiti."
"Maafin Kak Geva ya, Kak," ucap Tamara. "Dia mungkin khilaf waktu lakuin semuanya. Sebagai ganti, aku akan mengabdi sebagai istri Kakak."
Tidak menimpali, Abyan hanya tersenyum tipis, hingga perintah untuk membersihkan badan didapatkannya dari Tamara.
Tidak terus duduk, pria itu beranjak kemudian pergi ke kamar—meninggalkan Tamara yang masih berada di ruang tengah.
Tidak terus di sana, beberapa menit kemudian Tamara beranjak. Bergegas menuju unit apartemen Gevania, dia berniat untuk menenangkan kakaknya itu.
Namun, hingga tiga kali menekan bel, Gevania tidak mau muncul—membuat dia mendesah dengan perasaan yang cukup khawatir.
"Ini Kak Geva kenapa sih?" tanya Tamara. "Enggak tahu apa ya aku khawatir?"
Tidak menyerah, Tamara terus menekan bel sampai akhirnya pintu yang semula tertutup, terbuka juga—menampilkan Gevania dengan kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidung.
"Kak Geva."
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Gevania.
"Aku cuman pengen tahu kondisi Kakak," ucap Tamara. "Kak Abyan bilang Kak Geva sedih terus. Jad—"
"Enggak usah pura-pura peduli," ucap Gevania sinis. "Semua yang terjadi sama aku itu gara-gara kamu. Jadi mau gimana pun aku, kamu enggak perlu sok berempati. Aku enggak butuh."
"Kak ...."
"Kenapa?" tanya Gevania. "Aku bersikap baik ke kamu di depan semua orang bukan berarti aku enggak sakit hati dan marah ya, Tam. Aku ngerasain itu semua, cuman karena Abyan tahunya kamu baik, aku enggak nunjukin semua itu biar dia enggak curiga sama jahatnya kamu. Jadi tolong jangan terlalu sering nemuin aku kaya gini karena bukannya membaik, lihat kamu, aku sakit hati."
"Kak, aku minta maaf."
"Minta maaf?" tanya Gevania, sambil tersenyum. "Enggak perlu. Kamu kan enggak pernah salah. Apa pun yang kamu mau, semua orang harus kabulin karena kebahagiaan kamu yang utama. Sekarang silakan kembali ke apartemen kamu, dan jangan sok peduli ke aku karena aku enggak butuh. Kita kerjasama profesional aja sekarang meskipun buat jadi ibu pengganti buat anak kamu dan Abyan, aku enggak dibayar sedikit pun."
Tidak menjawab, Tamara diam dengan kedua mata berkaca-kaca sementara tanpa permisi, Gevania menutup rapat-rapat pintu apartemennya.
Sedikit merasa bersalah karena sudah sefrontal itu bicara pada Tamara, Gevania menghela napas kasar.
Dari segi sikap, selama ini Tamara baik padanya—bahkan selalu membela dia setiap Nolan memarahinya karena sesuatu. Namun, Gevania benar-benar tidak bisa menghilangkan rasa kecewa karena perbuatan Tamara yang mengambil Abyan darinya terasa begitu jahat.
"Capek banget, Ya Tuhan."
Selama beberapa saat, Gevania bersandar di sofa ruang tengah hingga setelah bosan di sana, dia berpindah tempat ke kamar.
Tidak tahu harus melakukan apa, Gevania kembali merebahkan tubuh di kasur. Hanyut dalam lamunan, hampir setengah jam dirinya diam seperti patung, hingga ponsel yang tiba-tiba saja berdering membuat atensinya beralih.
"Papa."
Mendapati nama Nolan terpampang, Gevania beringsut lalu menjawab panggilan dengan perasaan malas.
"Halo, Pa."
"Maksud kamu apa bikin Tamara nangis?" tanya Nolan tanpa basa-basi. "Sengaja nantangin Papa? Kamu tahu, kan, seberharga apa Tamara buat Papa, Gevania?"