***
"Waktunya telepon Mama."
Duduk di tepi kasur, ucapan tersebut Tamara lontarkan sambil mencari kontak sang mama. Sudah membersihkan badan bahkan berganti baju, penampilan Tamara lebih segar dibanding sebelumnya.
Tidak menunggu Abyan, Tamara menghubungi Rachel, kemudian tanpa menunggu terlalu lama, panggilan darinya untuk sang mama dijawab.
"Halo."
"Ma, ini aku," ucap Tamara, yang memang menggunakan sim card baru.
"Tamara?"
"Iya, Ma. Tamara," ucap Tamara, sambil tersenyum. "Kak Geva belum telepon emang?"
"Belum, dan enggak akan telepon kayanya," ucap Rachel. "Seperti yang kamu tahu, sikap Kakak kamu sekarang berubah. Dia enggak sebaik dulu."
Senyuman Tamara memudar. "Maaf ya, Ma, gara-gara aku, Kak Geva jadi kaya sekarang," ucapnya. "Aku cinta banget sama Kak Aby, dan bayangin dia sama Kak Geva nikah tuh rasanya sakit banget. Aku bahkan sempat punya niat akhiri hidup saking enggak sanggupnya."
"Iya, Sayang, enggak apa-apa," ucap Rachel. "Lama kelamaan Geva pasti biasa lagi. Dia cuman masih perlu waktu buat lupain Aby."
"Semoga aja."
"Gimana di sana?" tanya Rachel—mulai mengalihkan pembicaraan. "Apartemen yang Papa sewa, cukup nyaman, kan? Kalau lihat review di aplikasi, harusnya bagus."
"Nyaman, Ma," ucap Tamara. "Cuman kalau dipikir, sayang aja Papa sewa dua, karena satu unit aja ukurannya gede. Ada dua kamar lagi. Cukup kalau Kak Geva di sini."
"Enggak bisa, Sayang," ucap Rachel. "Mama tahu kamu percaya sama Kak Geva, tapi biarin dia tinggal seunit sama Abyan enggak boleh dilakuin, karena kita enggak tahu perasaan suami kamu ke Kak Geva gimana."
"Kak Aby kelihatan benci, Ma, ke Kak Geva. Sikapnya juga sinis banget dan—"
"Sekarang benci, tapi kalau disatuin dalam satu unit, bisa aja perasaannya berubah," kata Rachel. "Ingat, buat dapatin Abyan itu enggak mudah. Jadi jangan disia-siain cuman karena kamu percaya sama Kak Geva. Mama enggak mau kamu menyesal."
"Iya sih," ucap Tamara. "Ya udah deh, Kak Geva biarin sendiri aja. Nanti kalau udah hamil terus Kak Aby pulang ke Indo, baru dia tinggal di unit aku."
"Nah, itu baru bagus," ucap Rachel.
Tamara tersenyum tipis. Tidak terus membahas Gevania, selanjutnya topik obrolan dia dan sang mama adalah; proses bayi tabung yang akan dijalani.
Mengobrol cukup panjang, Gevania tidak tahu jika sang suami masih menetap di unit apartemen sang kakak, yang sampai detik ini masih tidak sadarkan diri.
Tidak diam saja, Abyan yang beberapa waktu lalu menggendong Gevania ke kamar, sudah mencoba membangunkan perempuan itu dengan kayu putih yang dia temukan di tas sang mantan.
Namun, Gevania tidak kunjung bangun, sehingga kini Abyan hanya bisa menunggu dengan perasaan yang sedikit gelisah.
Meskipun benci dan kecewa pada Gevania, Abyan tetap khawatir terjadi sesuatu pada perempuan itu, karena setelah mendapati sang mantan pingsan, kedua mata sembab Gevania akhirnya bisa dia lihat dengan jelas.
"Ck, harus lakuin apalagi ya biar bangun?" tanya Abyan. "Ya kali aku siram pake air? Enggak masuk akal."
Beranjak dari ujung kasur, Abyan memandangi Gevania yang masih tidak sadarkan diri. Berpikir untuk mencari solusi, raut wajahnya seketika berubah setelah perempuan di depannya itu menunjukan sebuah pergerakan di jemari.
Selang beberapa detik, Gevania membuka mata lalu tentu saja atensi mereka bertemu.
"Abyan," panggil Gevania parau.
"Bangun juga kamu," ucap Abyan, berusaha menyembunyikan perasaan lega yang dia rasakan. "Aku pikir enggak akan bangun lagi saking frustasinya putus sama selingkuhan."
Tidak punya tenaga untuk menimpali, Gevania memilih untuk mengedarkan pandangan. Lega karena berada di kamarnya sendiri, helaan napas pelan dia embuskan hingga ucapan Abyan kembali terdengar—membuatnya mau tidak mau menoleh.
"Perlu ke dokter enggak?"
"Enggak usah," ucap Gevania. "Aku enggak kenapa-kenapa, cuman capek. Nanti juga baikan."
"Jangan terlalu banyak nangis makanya," ucap Abyan. "Biarin aja tuh selingkuhan cari mangsa baru. Buang-buang waktu aja nangisin cowok sialan."
Tidak menjawab, Gevania diam—membuat Abyan kembali bicara.
"Didengerin enggak?" tanya Abyan.
"Kamu bisa diam enggak?" Gevania balik bertanya. "Mau aku nangis atau bunuh diri sekali pun, kamu enggak perlu ambil pusing. Fokus aja sama rumah tangga kamu dan Tamara. Enggak usah peduliin aku."
"Yang peduliin kamu memangnya siapa?" tanya Abyan. "Aku bicara kaya barusan karena sebentar lagi kamu bakalan mengandung anakku sama Tamara. Biaya bayi tabung sama yang lainnya enggak murah, Gevania. Jadi jangan karena rasa sedih kamu ini, semuanya gagal atau ada apa-apa sama anakku. Mau tanggung jawab emangnya kamu kalau proses bayi tabungnya gagal atau ketika nanti kamu hamil, anakku dan Tamara kenapa-kenapa? Aku enggak tahu sejauh apa kamu berubah, tapi tolong jangan egois. Tamara udah ngelewati hal sulit. Jangan kamu tambahin lagi karena dia belum tentu sanggup kalau seandainya terjadi sesuatu lagi."
"Jadi semua ucapan kamu karena kamu peduli sama Tamara?"
"Iya," jawab Abyan, yang berhasil membuat Gevania meremas seprai kasur tempatnya berbaring. "Tamara istri aku. Jadi sebelum siapa pun, aku harus peduli sama dia. Aku harus dukung keinginannya dan—"
"Pergi dari sini, By," ucap Gevania. "Enggak cuman dari kamar, tapi dari apartemenku juga."
"Kamu ngusir aku?"
"Iya, aku ngusir kamu," ucap Gevania. "Lagian kamu enggak seharusnya di sini, karena keberadaan kamu bisa bikin Tamara salah paham."
Tidak menjawab, Abyan diam dengan tangan mengepal sementara Gevania kembali buka suara.
"Tuli kamu, By? Aku bilang pergi. Aku mau sendiri."
"Jangan lakuin hal aneh," ucap Abyan. "Kamu di sini buat—"
Prang!
"Aku bilang pergi, Abyan!"
Belum selesai Abyan bicara, Gevania lebih dulu melemparkan vas bunga kecil ke arah tembok. Berhasil membuat Abyan terkejut, vas bunga tersebut jatuh terburai di atas lantai.
"Gevania kamu gila."
"Aku akan semakin gila kalau kamu masih di sini," ucap Gevania. "Jadi kalau enggak mau aku lakuin hal yang lebih nekad, pergi dari apartemenku sekarang juga."
Tidak menjawab, Abyan mematung—membuat Gevania kembali bertanya, "Enggak ngerti bahasa Indonesia, kamu, By?"