Bagian Delapan

819 Words
*** Hampir sebulan menikah, Tamara belum tersentuh oleh Abyan. Bukan karena Tamara yang tidak mau, tidak terjadinya hubungan suami istri diantara keduanya disebabkan oleh ketidak siapan Abyan. Menikahi Tamara secara terpaksa, Abyan belum sanggup melakukan apa yang seharusnya dia lakukan, sehingga pada sang istri dia meminta untuk diberi waktu. Tidak ingin memaksa, Tamara memaklumi tidak siapnya sang suami, hingga hari ini dia memberanikan diri untuk bertanya. Berharap Abyan sudah siap, Tamara menelan kecewa setelah jawaban suaminya masih sama seperti ketika mereka awal menikah. "Aku harap kamu bersedia buat bersabar lagi," ucap Abyan, setelah sebelumnya meneguk segelas air putih. Makan siang bersama, Abyan menghabiskan lima dari delapan potong pizza yang dia pesan, sementara Tamara baru menyantap dua potong saja. "Iya, Kak," ucap Tamara, sambil berusaha menahan rasa kecewa. "Aku akan bersabar lagi nungguin sampai Kakak siap. Semoga enggak sampai lama ya. Gimana pun juga kita suami istri." Tidak menimpali, Abyan hanya tersenyum tipis sebagai respon. Benci dan kecewa pada Gevania, bukan berarti cintanya hilang karena sampai detik ini setiap kali dekat dengan perempuan itu, jantungnya masih berdebar kencang. Memaksakan berhubungan dengan Tamara, Abyan takut melakukan kesalahan karena dengan perasaan yang masih besar pada Gevania, kejadian salah menyebut nama mungkin terjadi. "Habis ini tolong anterin pizza ke unitnya Kak Geva ya, Kak. Aku mau mandi terus bersih-bersih," ucap Tamara, setelah Abyan tidak menimpali ucapannya. "Mau telepon Mama juga buat kasih tahu." "Iya." "Kakak bisa, kan, jaga kepercayaan aku?" tanya Tamara, sambil memandang Abyan. "Aku enggak possesif, bukan berarti enggak peduli. Cuman, aku percaya kalau Kakak mau pun Kak Geva enggak akan menghianati aku." "Kamu tenang aja," ucap Abyan. "Status Geva sekarang cuman mantan aku. Jadi aku enggak akan macam-macam sama dia. Lagipula buat apa juga aku main gila sama perempuan yang udah jelas buang aku? Cari penyakit." Tamara tersenyum tipis. Tidak memiliki rasa benci pada sang kakak, dia begitu menyayangi Gevania. Namun, untuk Abyan, dia tidak sanggup melihat pria itu bersama kakaknya, sehingga meskipun tahu tindakannya menyakiti Gevania, Tamara tetap mengambil sang calon kakak ipar. "Syukurlah," ucap Tamara. "Aku percaya sama Kakak dan Kak Geva." Tidak menimpali, Abyan hanya tersenyum tipis sebagai respon. Makan bersama selesai, Tamara bergegas menuju kamar, sementara Abyan menenteng kotak pizza dan sebotol air mineral menuju unit tempat Gevania tinggal. Tidak bisa langsung masuk, Abyan menekan bel yang tersedia di samping pintu. Menunggu sambil sesekali memandangi area sekitar, kerutan di kening terbentuk setelah Gevania yang dia tunggu membuka pintu, justru tidak kunjung muncul. "Ck, kemana coba dia?" tanya Abyan. Tidak diam saja, Abyan kembali menekan bel. Namun, Gevania tidak kunjung muncul—membuat dia pada akhirnya memencet bel berulang-ulang di waktu yang sama. Masih berusaha positif thinking, Abyan menghela napas lega setelah pintu yang semula tertutup akhirnya terbuka—menampilkan sang mantan dengan penampilan yang sedikit berantakan. "Abyan," panggilnya dengan suara parau. "Baru bangun tidur?" tanya Abyan—peka terhadap suara sang mantan. "Iya," jawab Gevania. "Kenapa pake kacamata hitam?" tanya Abyan lagi. "Kurang kerjaan banget." "Enggak apa-apa, pengen aja," ucap Gevania, sambil membenarkan kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya. "Tidur pas siang rasanya silau. Jadi enak kalau pake kacamata." "Oh." "Ada apa?" tanya Gevania. "Makan siang," ucap Abyan, sambil memberikan kotak pizza juga sebotol air putih. "Tamara pesan pizza, dan dia pesanin juga buat kamu." "Oh, makasih," ucap Gevania, sambil meraih apa yang Abyan berikan. "Bilangnya ke Tamara, karena dia yang nyuruh aku pesan," ucap Abyan. "Kalau Tamara enggak nyuruh, aku paling pesan buat aku sama istriku aja." "Iya nanti aku bilang," ucap Gevania. "Aku ngomong makasih ke kamu karena kamu yang anterin pizzanya." Tidak menimpali, Abyan hanya tersenyum samar sebelum kemudian berpamitan. Namun, belum sempat Gevania masuk usai dirinya berbalik badan, dia buka suara. "Geva." "Ya?" "Lusa kita ke rumah sakit buat pemeriksaan," ucap Abyan. "Jaga kondisi kamu. Jangan sampai sakit, karena segala prosesnya bakalan terhambat kalau kamu sakit." "Iya," ucap Gevania. "Aku pasti jaga kondisi." "Bagus," ucap Abyan. "Jadi ibu pengganti tanpa dibayar, anggap aja bentuk terima kasih kamu ke Tamara, karena selain harus menikahi aku, dia juga harus mengalami kecelakaan sampai kehilangan rahim gara-gara kamu. Enggak menikah dengan aku, Tamara enggak akan ke Jepang buat bulan madu, dan ini semua enggak akan terjadi." Tidak menimpali, Gevania hanya tersenyum tipis—membuat Abyan kembali buka suara. "Selingkuhan kamu yang b******k itu juga enggak usah ditangisin. Enggak ada gunanya banget kamu nangisin laki-laki b******k," ucap Abyan. "Intropeksi diri mendingan dan fokus sama tugas kamu, karena ketika nanti kamu mengandung anakku dan Tamara, kamu enggak boleh stress." "Iya, Abyan." Tidak berucap lagi, selanjutnya Abyan berbalik dengan niat; kembali ke unitnya. Sampai di depan pintu, Abyan hampir masuk. Namun, entah kenapa dia tiba-tiba ingin menoleh, dan voila! Kedua mata Abyan membulat setelah di ambang pintu unit Gevania, perempuan itu tergeletak tidak sadarkan diri—membuat rasa kaget, menyergapnya. Berjalan cepat untuk menghampiri, Abyan lekas meraih tubuh perempuan itu untuk kemudian diletakan di pangkuannya. Pelan, dia menepuk pipi Gevania lalu berkata, "Gevania bangun, Gevania. Hei, kamu kenapa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD