Bagian Tujuh

868 Words
*** Sampai di gedung apartemen, Gevania masuk ke unit yang sudah disewakan Nolan. Tidak akan tinggal bersama Abyan dan Tamara, dia juga pasangan suami istri itu akan tinggal terpisah. Percaya pada Gevania yang tidak akan merebut Abyan, Tamara sebenarnya meminta agar Nolan memesan satu unit apartemen untuk mereka bertiga. Namun, untuk permintaan tersebut, Nolan tidak mau mengabulkan sehingga di sinilah Gevania sekarang, duduk sendirian di sofa ruang tengah apartemen. "Lama enggak perjalanan jauh, pusing banget," keluh Gevania, ketika rasa pusing tiba-tiba menyergap kepalanya. "Kalau kaya gini enaknya langsung tidur." Tidak langsung merealisasikan niatnya, Gevania beralih dulu ke arah jam dinding. Masih cukup siang, dia beranjak untuk kemudian membawa kopernya menuju kamar yang tersedia. Membongkar semua pakaian yang dia bawa, Gevania merapikan semuanya di lemari yang tersedia. Tanpa mengganti baju, dia merebahkan tubuh di kasur lalu sambil memandang langit-langit kamar, ingatan Gevania berlari ke beberapa momen Tamara dan Abyan. Tersenyum getir, setetes cairan bening jatuh begitu saja—disusul rasa sakit yang kembali menyergap hati. Hampir sebulan pernikahan Tamara dan Abyan berlangsung, Gevania belum bisa berdamai. Setiap malam, dia masih sering merindukan sosok pria itu dengan segala sikap manisnya. Senyum Abyan, tutur kata yang lembut, lalu rayuan-rayuan receh, semuanya Gevania rindukan. Dia mencintai Abyan. Namun, untuk melawan kehendak Nolan yang begitu menginginkan kebahagiaan Tamara, Gevania tidak sanggup. Dia tidak sepenting itu di mata sang Papa, sehingga menangis darah pun Gevania, Nolan tidak akan mau mementingkan dirinya sebelum Tamara. "Aku kangen hubungan kita yang dulu, Aby," ucap Gevania dengan suara lirih. "Aku kangen diperlakukan dengan sangat baik sama kamu, bahkan aku kangen ucapan cinta yang selalu kamu lontarin setiap hari. Andai Mama sama Papa menyayangi aku seperti mereka menyayangi Tamara, semua ini mungkin enggak akan terjadi. Kita akan tetap sama-sama, dan perempuan yang kamu nikahi tetap aku, bukan Tamara." Lagi—untuk yang kesekian kali, Gevania hanyut dalam kesedihannya seorang diri. Meringkuk di kasur, momen ketika Nolan memintanya mengalah untuk Tamara, kembali melintas. Kata-kata penuh penekanan bahkan ancaman, semuanya terpatri jelas—membuat luka terdahulu yang Gevania dapatkan, seketika terganti. "Kalau kamu enggak mau mengalah untuk Tamara, kamu berarti enggak menganggap Papa sama Mama. Kamu enggak menghargai kita, dan kamu enggak tahu berterimakasih. Silakan kalau mau nolak, tapi jangan harap kami menganggap kamu sebagai keluarga. Jangan harap juga bisa tenang di luaran sana karena bikin Tamara sakit hati, sama saja menabuh genderang perang buat Papa." Isakkan Gevania terdengar jelas setelah ucapan Nolan berputar kembali di otaknya. Sakit hati. Demi apa pun itulah yang dia rasakan. Namun, sekali lagi, Gevania tidak berdaya. "Aku enggak pernah meminta buat hadir di dalam keluarga Papa sama Mama, tapi kenapa kalian selalu bersikap seolah aku mengemis supaya kalian merawat dan membesarkan aku? Kalau boleh milih, aku juga enggak mau ada di keluarga ini." Berpura-pura tegar di depan semua orang, kemudian melampiaskan kesedihannya seorang diri, semua itu menjadi rutinitas baru Gevania. Setelah lelah, perempuan itu biasanya akan langsung tertidur lalu ketika nanti Gevania terbangun, kedua matanya akan terlihat sembab. Berbeda dengan sang kakak yang menikmati hari-harinya dibarengi rasa sakit, Tamara justru selalu ditemani bahagia karena meskipun menikah tanpa rasa cinta, Abyan memperlakukannya dengan baik—bahkan setelah dia kehilangan rahim sekali pun, Abyan tidak berubah. "Makasih ya, Kak, udah beresin baju aku," ucap Tamara, yang kini berbaring di tempat tidur. "Banyak banget ngerepotin Kak Aby kayanya aku." "Enggak apa-apa," ucap Abyan. "Kamu masih pemulihan dan habis perjalanan jauh. Udah seharusnya aku lakuin ini." Tamara tersenyum tipis, sementara Abyan merapikan koper mereka di sudut lemari. "Mau pesan makan enggak?" tanya Abyan. "Aku udah download aplikasi buat pesan makanan gitu." "Kak Aby mau makan?" tanya Tamara. "Aku mau pizza." "Boleh." "Tiga berarti," ucap Tamara—membuat Abyan mengernyit. "Tiga kotak?" "Iya, satu buat aku. Satu buat kakak, terus satunya buat Kak Geva," ucap Tamara sambil mengubah posisi menjadi duduk. "Kasihan dia pasti lapar juga." "Dia udah gede padahal. Biarin aja pesan sendiri." "Kak ...." Tamara mendesah pelan. "Aku butuh banget bantuan Kak Geva lho. Jadi dia harus diperlakukan dengan baik. Kalau Kakak enggak mau pesan, aku aja yang pesan." "Aku aja," ucap Abyan. "Kamu mau yang apa?" "Extra keju," ucap Tamara. "Kalau Kak Geva, dia—" "Extra daging," ucap Abyan. "Aku belum lupa makanan kesukaannya." Senyuman Tamara sedikit memudar. "Oke, kalau gitu." Keluar dari kamar, Abyan memesan pizza. Tidak sampai dua puluh menit, pesanan datang, sehingga dengan segera dia pun memanggil Tamara agar dengan segera menikmati makanan yang dipesan. Tidak saling diam, obrolan terjalin, dan yang dibahas adalah; proses bayi tabung yang akan dijalani dalam waktu dekat. Membicarakan segala prosesnya, Tamara mau pun Abyan sama-sama siap, hingga di tengah obrolan, Tamara teringat sesuatu. "Oh, iya, Kak. Aku mau tanya sesuatu." "Tanya apa?" "Kakak kapan sentuh aku?" tanya Tamara—membuat raut wajah Abyan berubah serius. "Kita menikah hampir sebulan, dan Kakak belum pernah apa-apain aku. Rahimku emang diangkat dan aku pun enggak bisa mengandung, tapi tentang hal itu aku normal kok, dan aku siap." Tidak menjawab, Abyan diam dengan perasaan bingung—membuat Tamara yang masih menatapnya, kembali bertanya, "Apa Kakak masih butuh waktu? Kalau iya, kira-kira sampai kapan, Kak? Bukan nafsuan, aku nanyain hal ini karena jujur, aku takut Kakak lakuin hal itu sama perempuan lain." "Tam ...." "Kenapa, Kak?" tanya Tamara. "Wajar, kan, ketakutan aku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD