Bagian Enam

875 Words
*** Sepuluh hari berlalu begitu saja. Menjalani pemulihan di rumah sakit, Tamara diizinkan pulang kemarin pagi. Beristirahat selama sehari di salah satu hotel, hari ini—tepat pukul delapan malam waktu setempat, dia tengah bersiap-siap menuju bandara. Bukan untuk kembali ke Indonesia, Tamara, Abyan, dan Gevania akan pergi menuju New york untuk menjalani proses bayi tabung di sana. Tidak didampingi keluarga, baik itu dari pihak Tamara mau pun Abyan, mereka akan pergi bertiga dengan jadwal penerbangan pukul setengah sebelas malam. "Udah semuanya, Kak?" tanya Tamara, setelah Abyan yang sejak tadi melakukan packing, menjejerkan koper mereka di dekat pintu. "Udah," jawab Abyan. "Mau keluar sekarang?" "Ayo," ucap Tamara. Abyan dan Tamara keluar dari kamar. Di waktu yang sama, Gevania muncul sambil menggerek koper—membuat Tamara dengan segera menyapa kakaknya itu. "Kak." "Kamu udah siap?" tanya Gevania. "Udah," jawab Tamara. "Kakak udah siap?" "Udah," jawab Gevania. "Mama sama Papa gimana? Mau bareng apa enggak ke bandaranya." "Bareng," jawab Abyan datar. "Kamu nanti satu taksi sama Mama dan Papa." "Oh, oke." Tidak lama mengobrol, mereka bergegas menuju lobi. Menunggu Nolan dan Rachel, selanjutnya taksi pun dipesan. Tepat seperti ucapan Abyan, Gevania berada di satu taksi yang sama dengan kedua orang tuanya. Tidak duduk di belakang, dia berada di depan—bersebelahan dengan sopir taksi. "Kamu baik-baik di sana ya, Geva," ucap Rachel, di sela perjalanan. "Titip Tamara juga, karena gimana pun juga dia masih pemulihan. Ingetin dia kalau makannya sembarangan terus yang terpenting, jangan lupa ingetin buat minum obat yang masih ada." "Iya, Ma," ucap Gevania. "Jangan macam-macam juga sama Abyan," ucap Nolan. "Kamu sudah mengikhlaskan dia buat Tamara. Jadi Papa harap kamu bisa jaga kepercayaan kami dan adik kamu. Tamara percaya kamu enggak akan ambil lagi Abyan, makanya dia pengen kamu yang mengandung anaknya." "Papa tenang aja," ucap Gevania. "Aku enggak akan sejahat itu sama adikku sendiri." "Maksud kamu bicara kaya gitu apa?" tanya Nolan, sambil menaikkan sebelah alis. "Aku enggak bermaksud apa-apa," ucap Gevania. "Aku cuman mau menegaskan kalau aku sayang sama Tamara. Jadi aku enggak akan ambil Abyan dari dia. Lagipula setelah kejadian satu bulan lalu, Abyan benci banget sama aku. Jadi mana mungkin kita dekat." "Mama percaya sama kamu," ucap Rachel. "Dari dulu kamu selalu jadi kakak yang baik buat Tamara. Jadi pasti kamu enggak akan tega nyakitin dia, apalagi sekarang Tamara punya kekurangan." Tidak menimpali, Gevania tersenyum tipis sebagai respon. Sampai di bandara, dia dan yang lain menjalani pemeriksaan hingga ketika waktunya tiba, Gevania, Tamara dan Abyan bergegas menuju pesawat. Memesan kelas bisnis, Gevania berada di sebelah kanan Tamara yang tentunya bersebelahan dengan Abyan. Tidak punya teman untuk mengobrol, sepanjang perjalanan dia memilih tidur hingga setelah dua belas jam perjalanan, pesawat mendarat dengan sempurna di salah satu bandara yang ada di New york. Akan menetap cukup lama di sana, Abyan disewakan mobil oleh sang mertua sehingga meskipun belum memiliki sim di sana, dia bisa berkendara menuju apartemen. "Kepala aku pusing, Kak," ucap Tamara, tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahu Abyan. "Enggak apa-apa, kan, aku senderan gini?" "Enggak apa-apa, senderan aja," ucap Abyan. "Kamu istri aku. Jadi hal kecil kaya gitu enggak perlu minta izin." "Makasih, Kak," ucap Tamara. Menoleh pada Gevania di kursi belakang, perempuan itu berucap, "Kak, maaf ya. Aku bukan bermaksud bikin Kakak cemburu. Cuman kepalaku mendadak pusing. Mungkin karena perjalanan jauh." "Kenapa minta maaf sama aku?" tanya Gevania. "Kamu mau ngapa-ngapain sama Abyan juga enggak masalah. Kalian suami istri." "Iya, tapi kan Kakak—" "Itu masa lalu, Tamara. Enggak perlu dibahas," ucap Abyan. "Yang terpenting sekarang kita fokus dengan rumah tangga kita." "Ah iya, maaf, Kak," ucap Tamara. "Aku cuman enggak enak sama Kak Geva." "Seharusnya Geva yang enggak enak sama kamu, karena gara-gara dia, kamu harus nikah sama laki-laki yang seharusnya jadi kakak ipar kamu," ucap Abyan. "Kalau bukan karena paksaan orang-orang, waktu itu aku ikut pergi." "Berarti Kakak menyesal nikah sama aku?" tanya. Tamara. "Meskipun agak degdegan sekaligus kaget, aku enggak menyesal lho Kak nikah sama Kakak." "Aku bukan menyesal, aku cuman pengen kakak kamu sadar kalau dia pengacau," ucap Abyan. "Egois." Tidak menjawab, Tamara diam, sementara sambil menguatkan hati, Gevania sibuk meremas jemarinya sendiri. Ini baru permulaan. Itulah yang Gevania katakan di dalam hati, karena setelah ini dia yakin akan banyak ucapan pedas nan menyakitkan yang Abyan lontarkan padanya. "Aku harap Kakak bisa berdamai," ucap Tamara. "Bagaimanapun juga Kak Geva manusia, dan manusia tempatnya salah." Tidak bahagia sama sekali, Gevania justru dongkol karena sikap Tamara yang seperti tidak tahu apa-apa di depan Abyan. Sekali lagi, dia ingin sekali membongkar semuanya. Namun, karena balas budi, Gevania harus menahan keinginannya itu. "Iya, gimana kamu aja." Ketika Abyan, Gevania, dan Tamara sedang terlibat obrolan, jauh di Jakarta sana Rachel yang sudah sampai lebih dulu tengah menyendiri di dalam kamar. Tidak ada Nolan, dirinya duduk di pinggir kasur sambil memandangi sebuah foto. Mengusap foto tersebut, seulas senyum tipis terukir. "Udah puluhan tahun kamu pergi, Dek, tapi sakitnya masih ada sampai sekarang," ucap Rachel. "Apa kabar kamu di surga sana? Baik? Di sana kamu pasti lihat apa yang Kakak lakuin ya, Dek? Maaf ya. Kakak terpaksa lakuin semuanya." Rachel menghela napas kasar. Menyimpan foto perempuan muda yang sudah puas dia pandangi, dirinya diam selama beberapa saat sebelum kemudian buka suara. "Aku mendadak kepikiran Geva. Benci banget dia pasti sama aku sekarang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD