***
Setiap perbuatan pasti ada balasannya. Entah itu perbuatan baik mau pun buruk, semua pasti mendapatkan timbal balik termasuk Tamara sekarang.
Berhasil merebut pria yang sudah dipacari oleh sang kakak selama dua tahun lamanya, Tamara berbahagia selama dua minggu terakhir setelah menjadi istri Abyan.
Diperlakukan dengan baik meskipun Abyan menikahinya secara terpaksa, Tamara merasa menang dari Gevania, sampai akhirnya sebuah kejadian yang tidak pernah dia duga, terjadi.
Tengah berbulan madu, Tamara mengalami kecelakaan setelah sopir taksi yang dia tumpangi kehilangan kendali ketika mengemudi. Tidak bersama Abyan, dia menjadi penumpang seorang diri sehingga kini—di salah satu rumah sakit besar di kota Tokyo, Tamara terbaring sendirian.
"Abyan, gimana kondisi Tamara?"
Abyan yang sejak kejadian terus berada di samping Tamara, menoleh, setelah pintu kamar rawat dibuka dari luar.
Di ambang pintu, dia mendapati Rachel juga Nolan berdiri dengan raut wajah khawatir.
"Ma, Pa," panggilnya sambil beranjak. "Tamara udah ngelewatin masa kritisnya. Cuman, kapan dia bangun, Dokter enggak bisa memprediksi."
"Anakku ...." Rachel mendesah, sambil menahan tangis.
Mendekati bed tempat Tamara berbaring, dia meratapi kondisi sang putri sebelum kembali pada Abyan.
"Apa aja lukanya, Abyan?" tanya Rachel. "Selain luka luar, apa ada luka lain?"
"Perutnya kena, Ma," jawab Abyan—membuat Nolan mau pun Rachel, kompak mengernyit.
"Maksud kamu?" tanya Nolan.
"Pas kecelakaan, Tamara mengalami benturan yang sangat keras di perutnya dan hal itu bikin rahim dia mengalami kerusakan," ungkap Abyan lagi—membuat Rachel membulatkan mata.
"Terus gimana?"
Abyan menghela napas kasar. "Rahim Tamara diangkat," ucapnya. "Dan itu berarti dia enggak akan bisa mengandung, karena seperti yang kita tahu, perempuan mengandung seorang bayi di dalam rahimnya."
Tidak ada yang tidak terkejut, Rachel mau pun Nolan nampak shock usai mendengar pernyataan Abyan. Namun, belum sempat keduanya memberikan respon, suara Tamara yang tiba-tiba saja terbangun, membuat atensi mereka beralih.
Selanjutnya semua orang fokus pada perempuan itu. Berbagi tugas, Rachel dan Nolan menjaga sang putri sementara Abyan memanggil Dokter untuk melakukan pemeriksaan.
Tidak menunda sampai kondisi Tamara lebih baik, informasi tentang rahim perempuan itu yang harus diangkat, langsung disampaikan sesaat setelah Dokter selesai dengan proses pemeriksaan.
Tidak baik-baik saja, perempuan itu meraung—membuat Rachel mau pun Nolan dengan sigap menenangkan sang putri kesayangan.
Abyan? Pria itu lebih banyak diam—bahkan ketika Nolan dan Rachel sibuk dengan sang istri, dia justru keluar untuk kemudian duduk di bangku panjang depan kamar rawat.
"Kenapa hidupku mendadak berantakan gini?" tanya Abyan, sambil menyugar rambut ke belakang. "Dua minggu lalu aku ditinggal Gevania yang tiba-tiba pergi sama selingkuhannya. Sekarang? Istriku kehilangan rahim. Apalagi coba setelah ini cobaanku?"
Tidak didampingi siapa pun, Abyan hanyut dalam rasa frustasi seorang diri, hingga setelah cukup lama hanyut dalam lamunan, suara berat sang mertua terdengar—membuat dia sontak menoleh.
"Abyan."
"Pa," panggil Abyan. "Maaf aku di luar. Pikiranku lagi enggak tenang. Jadi untuk menenangkan Tamara, aku enggak bisa."
"Enggak apa-apa, Papa ngerti," ucap Nolan, sambil mendudukan dirinya di samping sang menantu. "Lagian sekarang Tamara udah tenang. Dia berhenti nangis setelah Mamanya kasih solusi."
"Solusi?" tanya Abyan, sambil mengernyit. "Solusi apa maksud Papa?"
"Dokter bilang kan sel telur Tamara baik, meskipun dia kehilangan rahimnya," ucap Nolan. "Itu berarti kalian masih bisa punya anak, hanya saja harus ada orang ketiga yaitu; ibu pengganti."
"Oke, lalu?"
"Mama barusan menyarankan Tamara untuk memakai Ibu pengganti, dan dia setuju," ucap Nolan. "Soal biaya, biar Papa yang nanggung karena kekurangan ada di pihak Tamara."
"Ibu pengganti illegal di Indonesia, Pa," ucap Abyan.
"Memang," ucap Nolan. "Tapi kalian bisa lakuin semua prosedurnya di luar negeri, kan? Kamu, Tamara, dan si Ibu pengganti, kalian pergi ke New york buat jalanin semuanya di sana. Setelah si ibu pengganti dipastikan hamil, kalian pulang."
Tidak menimpali, untuk beberapa saat Abyan diam sambil berpikir. Mencerna saran dari sang mertua, dirinya bingung bahkan sedikit gelisah, hingga tidak berselang lama sebuah ucapan terlontar.
"Aku enggak mudah percaya sama orang lain, Pa. Susah kayanya buat aku nemuin ibu pengganti yang pas," ucap Abyan.
"Kamu tenang saja, Papa udah ada kandidatnya."
"Siapa?" tanya Abyan.
"Gevania," jawab Nolan—membuat Abyan menatapnya dengan kedua mata yang sedikit membulat. "Papa bakalan minta dia buat mengandung anak kamu sama Abyan. Gevania kan bukan orang lain. Jadi harusnya kamu enggak ragu."
"Gevania pulang?" tanya Abyan dengan raut wajah kaget. "Bukannya dia kabur sama selingkuhannya itu?"
"Dia sudah kembali," jawab Nolan. "Dan dia sama selingkuhannya udah putus. Jadi, sekarang Geva udah ada di rumah."
Tidak menjawab, Abyan diam dengan raut wajah shock, sementara di kamar rawat sana, Rachel tengah menghubungi sang putri sulung.
"Halo, Ma. Gimana Tamara? Kondisinya enggak parah, kan?"
"Tamara kehilangan rahimnya, Geva," ucap Rachel. "Dan itu berarti dia enggak bisa hamil."
"Mama serius?"
"Serius, makanya Mama telepon kamu buat kasih tahu rencana Mama dan Papa."
"Maksud Mama?"
"Karena Tamara enggak bisa hamil, kamu mau ya jadi ibu pengganti untuk dia?" tanya Rachel.
"I—ibu pengganti, Ma?"
"Iya," ucap Rachel. "Kamu enggak tidur sama Abyan, tapi embrionya Abyan sama Tamara ditanam di rahim kamu. Jadi nanti kamu mengandung anaknya Tamara dan Abyan. Bukan anak kamu."
"Ma ...."
"Mau, kan, Gev?" tanya Rachel. "Kamu tahu seberapa berharganya Tamara buat Mama. Dia udah setuju lho sama rencana ini. Tega memangnya kamu nolak?"
"Aku tahu, Ma, tap—"
"Kalau kamu nolak, Papa yang bakalan turun tangan," ucap Rachel. "Bisa memangnya kamu ngelawan kehendak Papa?"