***
Gevania pikir menyerahkan Abyan untuk Tamara adalah pengorbanan terakhir yang akan dia lakukan di dalam keluarganya.
Namun, ternyata dugaannya salah, karena setelah dengan terpaksa melepas Abyan untuk si adik bungsu, Gevania kembali diminta berkorban. Kali ini—tanpa rasa kasihan, Rachel meminta Gevania menjadi ibu pengganti.
Sama seperti sebelumnya, Gevania tidak diberi opsi untuk menolak sehingga setelah dihubungi Rachel, yang bisa dia lakukan hanyalah menangis di dalam kamar.
"Kenapa Mama sama sekali enggak mikirin perasaan aku?" tanya Gevania dengan suara yang lirih. "Aku tahu Tamara lebih berhak mendapatkan kasih sayang dari Mama mau pun Papa, tapi apa enggak bisa aku disisain sedikit? Aku juga anak mereka."
Tidak punya tempat mengadu, seperti biasa Gevania meresapi sedih dan sakitnya sendirian. Tidak hanya kali ini, mengalah pada Tamara sudah sering dia lakukan semenjak sang adik lahir.
Tidak melulu diam, seringkali Gevania membantah ketika diminta untuk mengalah. Namun, alih-alih dimengerti, dia justru lebih sering dipojokkan. Puncaknya, Nolan dan Rachel membahas balas budi dan rasa terima kasih sehingga seberapa keras pun Gevania melawan, dia akan berakhir dengan kekalahan.
Jika ditanya mengapa Gevania tidak pergi dari keluarganya? Jawaban dia cukup simple yaitu; Gevania tidak punya siapa-siapa sehingga selain bertahan, dia merasa tidak punya pilihan lain.
"Aku baru aja berusaha buat ikhlasin dan lupain Abyan, tapi sekarang Mama dan Papa justru bikin aku berinteraksi lagi sama dia," ucap Gevania lagi. "Apa seenggak peduli itu mereka sama perasaan aku?"
Gevania terus terisak, hingga dering dari ponsel yang dia simpan di atas kasur, terdengar. Mendapati nomor baru yang sepertinya berasal dari luar, Gevania diam sejenak sebelum kemudian menjawab panggilan.
"Halo."
"Tolong tolak permintaan orang tua kamu yang pengen kamu jadi ibu pengganti buat Tamara," ucap seseorang di sebrang sana, yang suaranya terdengar tidak asing. "Aku enggak mau anakku lahir dari rahim seorang penghianat."
"Abyan," panggil Gevania, sambil berusaha menyembunyikan tangis. "Kamu kenapa bisa hubungin aku?"
"Yang kamu blokir, nomor aku di Indonesia. Sementara sekarang aku pake nomor yang aku aktifkan di Jepang. Hal sesimple itu kenapa enggak paham? Ah, apa karena kamu lagi galau gara-gara selingkuhan kamu itu? Iya?"
"Abyan aku—"
"Karma ternyata datang secepat itu ya ke kamu," ucap Abyan lagi, dengan suara yang terdengar sinis. "Bela-belain kabur dari pernikahan kita demi selingkuhan. Eh, sekarang hubungan kamu sama tuh selingkuhan malah kandas. Gimana rasanya? Sakit? Kalau iya, itu juga yang aku rasain waktu tahu kamu selingkuh bahkan lebih milih laki-laki lain dibanding aku."
Tidak tahu harus menjawab apa, Gevania diam dengan hati yang semakin terluka. Tidak ada Abyan yang selalu bersikap lembut padanya, kini dia harus menetima sikap sinis mantan kekasihnya itu.
"Kenapa diam? Malu?" tanya Abyan. "Kalau memang masih punya malu, kamu tolak permintaan orang tua kamu ataupun Tamara buat jadi ibu pengganti. Dikandung sama kamu, nanti anak aku gedenya jadi tukang selingkuh lagi. Enggak ikhlas banget aku."
"Aku akan berusaha nolak, Abyan," ucap Gevania. "Tapi kalau keputusan orang tua aku enggak berubah, tolong kamu yang bicara sama mereka. Bagaimanapun juga kamu suami Tamara."
"Ck," decak Abyan. "Aku sebenarnya enggak ngerti sama jalan pikiran kamu. Seharusnya kalau memang dari lama kamu udah enggak ada perasaan sama aku, kamu seharusnya putusin aku secara baik-baik. Bukan malah bersikap biasa saja terus diam-diam kabur. Kamu tahu? Yang hampir kamu permalukan tuh bukan cuman aku, tapi keluarga besar aku."
"Aku minta maaf," cicit Gevania. "Aku—"
"Minta maaf kamu enggak berguna," ucap Abyan. "Semuanya udah terjadi, dan kalau kamu memang menyesali perbuatan kamu, tolak dengan serius permintaan Papa Nolan, karena jangankan jadiin kamu ibu pengganti, lihat muka kamu aja aku udah enggak mau. Paham?"
"Aku akan coba."
"Harus berhasil," ucap Abyan. "Aku bakalan makin benci kamu kalau kamu tetap jadi ibu pengganti buat Tamara."
Tidak menjawab, Gevania diam sambil berusaha menahan tangis, hingga tanpa permisi, Abyan menyudahi panggilan begitu saja—membuat isakkan Gevania yang semula tertahan, akhirnya pecah juga.
Di dalam kamar mewahnya, Gevania terisak. Seolah tidak diizinkan bernapas, selang beberapa menit sebuah panggilan kembali masuk—membuat dia mau tidak mau menjawab, karena bukan orang lain, yang menghubunginya adalah Nolan.
"Halo, Pa."
"Kemasi barang-barang kamu, dan susul kami semua ke Tokyo," pinta Nolan tanpa berbasa-basi. "Tamara enggak mau nunda punya anak. Jadi setelah dia sembuh, kalian harus segera ke New york buat jalanin program."
"Apa enggak bisa orang lain aja buat jadi ibu penggantinya anak Tamara, Pa?" tanya Gevania hati-hati. "Gimana pun juga Abyan masih sangat benci aku dan—"
"Tamara maunya kamu, Geva," ucap Nolan. "Dia percaya sama kamu. Jadi seharusnya kamu jaga kepercayaan adik kamu dengan bersedia buat dimintai tolong. Sekali aja langsung mau ketika Papa mintain tolong buat Tamara, enggak bisa memangnya?"
"Tapi, Pa—"
"Tamara terpukul setelah tahu rahimnya diangkat," ucap Nolan. "Dia membaik setelah Mama kasih saran soal proses bayi tabung yang melibatkan kamu sebagai ibu pengganti. Sekarang kalau kamu nolak, Tamara pasti terpuruk. Sesuatu terjadi sama dia, kamu mau tanggung jawab memangnya?"
Tidak menjawab, Gevania kembali diam dengan air mata yang terus luruh hingga tidak berselang lama Nolan kembali buka suara.
"Geva."
"Ya, Pa?"
"Mau, kan, kamu pergi ke Jepang sekarang?" tanya Nolan. "Soal cuti ke pihak kampus, Papa yang urus nanti, sekalian sama cutinya Abyan. Kamu cuman perlu datang ke sini."
"Aku mau, Pa," ucap Gevania. "Tapi sebelum itu, apa boleh aku minta sesuatu sama Papa?"
"Mau minta apa?" tanya Nolan. "Selagi enggak merugikan Tamara, Papa akan kabulin."