Bagian Empat

831 Words
*** "Kakak darimana?" Baru kembali ke kamar rawat, Abyan ditodong pertanyaan tersebut oleh Tamara. Tersenyum tipis sebagai respon, dia melangkah sebelum akhirnya memberi jawaban. "Habis cari angin," ucapnya. "Mama sama Papa ke mana?" "Papa mau cari angin juga katanya, terus Mama ambil obat ke apotek," jawab Tamara. "Oh," ucap Abyan. Tidak banyak bicara, dia menarik kursi di samping bed lalu diam. Selama beberapa menit, Abyan dan Tamara sibuk dengan pikiran masing-masing hingga sebuah tanya yang dilontarkan Tamara memecah keheningan. "Kakak pasti kecewa ya sama aku?" Mengarahkan atensi pada Tamara, Abyan balik bertanya, "Kenapa harus kecewa?" "Ya karena aku udah enggak sempurna lagi sebagai perempuan dan istri," ucap Tamara. "Jangankan ngelahirin anak, hamil aja aku enggak bisa. Padahal, usia pernikahan kita baru dua minggu." Abyan menghela napas pelan. "Bukan salah kamu," ucapnya. "Apa yang terjadi murni kecelakaan. Jadi kamu enggak usah ngerasa bersalah ataupun meminta maaf." "Iya, tap—" "Tujuan menikah juga bukan melulu anak," ucap Abyan. "Banyak yang bisa dilakuin selain berusaha buat punya anak." Tidak tahu harus menjawab apa, Tamara diam selama beberapa detik, hingga tidak berselang lama pintu kamar rawat yang semula tertutup rapat, dibuka dari luar. Di detik selanjutnya, Nolan muncul sambil berkata, "Geva udah bersedia, Tamara. Dia ... Abyan?" Sedikit terkejut setelah mendapati sang menantu di dekat bed, Nolan spontan memanggil. Tidak terus di ambang pintu, dia melangkah hingga setibanya di dekat sang putri, sebuah tanya didapatkannya dari Abyan. "Geva bersedia apa, Pa?" tanya Abyan. Ketika ditanya tentang Ibu pengganti, Abyan menolak halus rencana sang mertua untuk meminta Gevania mengandung anaknya dan Tamara. Pada sang mertua, Abyan berkata jika untuk saat ini dia belum berambisi memiliki keturunan, sehingga dibanding sibuk memikirkan ibu pengganti, Abyan menyarankan agar semua orang fokus pada kesembuhan Gevania. Tidak membantah pernyataannya, Nolan diam, sehingga ketika sang mertua tiba-tiba membahas Gevania, dia penasaran. "Anu, itu—" "Aku minta Kak Geva buat mengandung anak kita, Kak," ucap Tamara—membuat Abyan beralih. "Aku tahu Kakak enggak berambisi buat memiliki anak, tapi sebagai istri, aku ngerasa punya tanggung jawab penuh buat kasih keturunan ke Kak Aby." "Tamara ...," panggil Abyan speechles. "Kamu enggak usah khawatir tentang biaya karena semuanya biar Papa yang tanggung," ucap Nolan. "Anggap aja itu pertanggungjawaban dari Papa selaku orang tua Tamara. Istri kamu." "Permasalahannya bukan di biaya, Pa, tap—" "Kak Geva?" tanya Tamara—membuat Abyan yang semula menatap Nolan, beralih padanya. "Kakak keberatan karena yang jadi ibu penggantinya dia. Apa begitu?" Tidak menjawab, Abyan diam dengan perasaan bingung dan kesal yang bercampur menjadi satu. Dua minggu menikah dengan Tamara, dia belum bisa melupakan Gevania sehingga menjadikan perempuan itu ibu pengganti untuknya dan Tamara sama saja mencari penyakit. "Kak?" "Kamu tahu dia mantan aku, kenapa berani ambil tindakan ini?" tanya Abyan. "Enggak takut memangnya aku dan Geva dekat?" "Aku percaya Kak Geva enggak akan mengkhianati aku, Kak," ucap Tamara. "Lagian dia kan udah ninggalin Kakak. Jadi seharusnya dia cukup malu buat enggak deketin Kakak lagi yang notabenenya suami aku." "Selain itu Geva juga kakaknya Tamara, Aby. Jadi kita enggak perlu khawatir sesuatu terjadi baik itu dari segi kesehatan dan semacamnya," ucap Nolan—berusaha meyakinkan. "Papa harap kamu ngerti, karena ini demi kamu juga dan Tamara. Kamu mungkin enggak berambisi, tapi keluarga kamu kan kita enggak tahu." "Keluarga aku menerima, Pa," ucap Abyan. "Mereka enggak menuntut apa pun dan—" "Kak, tolong," desah Tamara, tiba-tiba memohon. "Aku cuman pengen jadi perempuan sempurna yang memiliki anak dari suami aku. Lagian cepat atau lambat aku tetap harus pake ibu pengganti, kan? Jadi aku rasa mau sekarang atau nanti semuanya sama aja." Abyan kembali diam, menimang keputusan apa yang akan dia ambil. Tidak berubah, dirinya tetap keberatan jika Gevania yang menjadi ibu pengganti. Namun, terus menolak keputusan Tamara mau pun Nolan hanya akan membuatnya dan sang istri juga mertuanya itu berdebat terus menerus. "Bagaimana, Abyan? Kamu setuju, kan?" tanya Nolan, setelah beberapa detik kamar rawat kembali hening. "Tentang segala prosesnya biar Papa yang urus, termasuk rumah sakit juga dokter yang akan membantu kalian menjalani program. Di New york sana kebetulan Papa punya relasi." "Programnya di New york, Pa?" tanya Abyan. "Iya," jawab Nolan. "Sebenarnya di sini pun bisa, cuman sistem ibu pengganti gitu masih kontroversial. Jadi cari aman mendingan di New york aja yang udah jelas aman." "Ya sudah kalau itu mau Papa sama Tamara, aku ikut," ucap Abyan. "Nanti aku koordinasi sama pihak kampus buat bahas cuti. Semoga di acc." "Makasih banyak, Kak," ucap Tamara, dengan senyuman yang seketika terukir. "Dan maaf kalau untuk sekadar punya anak aja, Kakak harus serepot ini." "Enggak apa-apa," jawab Abyan, dengan senyuman samar. "Mungkin ini nasib kita." "Papa akan lakuin yang terbaik buat kalian," ucap Nolan, sambil tersenyum. "Kamu tenang aja." Tidak menjawab, Abyan hanya tersenyum tipis sebagai respon hingga ucapan dari Tamara membuat atensinya beralih. "Kak Geva berangkat dari Jakarta jam delapan malam nanti, Kak," ucap Tamara. "Kalau udah sampai, Kakak mau jemput, kan?" "Jemput Gevania?" tanya Abyan. Tamara tersenyum. "Iya. Mau, kan? Kasihan kalau sendiri, karena sampe sininya pasti dini hari."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD