Ia mengangkat salah satu tangannya ke sisi wajahku, mengelus pipiku dengan lembut sebelum tiba-tiba menyelipkan jari-jarinya ke dalam mulutku, memaksa bibirku terbuka sedikit lebih lebar. Aku sempat tersentak kaget, lalu merasakan telunjuknya masuk lebih dalam dan menyentuh lidahku. Lengkungan jarinya terasa begitu yakin di dalam sana—seolah ia benar-benar memahami bagaimana setiap gerakannya memengaruhiku. Beberapa detik kemudian, ia menarik jari-jarinya keluar, meninggalkanku hanya dengan sensasi basah yang masih tertinggal, membuat napasku tercekat sesaat singkat. Tangannya turun dengan mantap ke pinggangku, menarik tubuhku agar bersandar pada sofa hingga posisi kami sedikit berubah. Aku bisa merasakan tubuhnya menahan tubuhku dengan lembut—kuat, namun tetap berhati-hati agar aku tak m

