“Kenan ... tunggu!” Kenan yang sedang berjalan menyusuri koridor sekolah sembari merangkul bahu Vey, sontak menoleh. Begitu juga dengan Vey. Mereka melihat Syahla yang sedang berlari kecil mendekat. “Aku telponin kamu, tapi kenapa enggak diangkat-angkat? Tadinya aku pengen berangkat bareng, soalnya sopir aku lagi ada urusan dan enggak masuk kerja,” terang Syahla dengan napas terengah-engah. Sampai Syahla berada tepat di hadapan, Kenan tidak juga membalas kalimat Syahla. Tetangganya itu pun melempar tatapan ke arah Vey dengan raut bingung. “Kamu kenapa bareng Vey lagi? Vey bukannya enggak suka sama kamu, ya? Bukannya dia udah punya pacar yang lumayan gans tapi kayaknya udah tua itu?” celetuk Syahla tanpa tedeng aling-aling. Vey menghela napas panjang sambil mendongak menatap Kenan. Te

