Vey terkejut saat bangun dengan lengan Kenan sebagai bantal. Wajah mereka yang sangat dekat, membuat detak jantung Vey berpacu lebih cepat. Vey menatap wajah teduh Kenan yang masih terlelap dengan satu tangan laki-laki itu melingkar di pinggangnya sehingga Vey tidak bisa bangun begitu saja. Namun, sesaat kemudian Kenan terbangun, membuat Vey sedikit terkejut dan segera mengalihkan tatapannya dari Kenan. “Vey ... maaf, aku ketiduran,” ucap Kenan sembari mengalihkan tangan dari pinggang Vey. “Kamu tahu kan, tadi aku cuma pengen hibur kamu, pengen kamu tenang. Kamu enggak marah, kan?” desisnya lagi. Vey menghela napas panjang. Perempuan itu menyadari, bahwa dialah yang seharusnya meminta maaf kepada Kenan karena sudah banyak merepotkan. Dia juga menyadari, sudah pasti Kenan sangat lelah s

