1. Kue Tart Stroberi yang Hancur Bersama Harapan
"Oh, Lucas... Jangan berhenti sekarang..."
Suara wanita itu terdengar jelas, merobek keheningan koridor lantai dua Villa Hayes yang sunyi senyap.
"Kau terlalu berisik, Emily. Sepertinya kau lupa, kau sudah bersuami—pria yang seharusnya bisa memberikan semua ini padamu," sahut suara berat, maskulin, dan penuh nada ejekan yang tajam serta kejam.
"Peduli setan pada Richard. Dia tak pernah mampu membuatku merasa begini."
Langkah kaki Sophia mendadak kaku di atas lantai marmer sedingin es. Celah pintu ruang kerja yang sedikit terbuka menjadi jendela neraka yang mempertontonkan kenyataan paling menjijikkan seumur hidupnya. Melalui celah sempit itu, ia melihat sosok yang selama ini ia anggap suci bak malaikat—ibunya sendiri, Emily Carter Hayes—sedang menyerahkan diri sepenuhnya pada gairah pria asing yang tak ia kenal.
Brukk!
Kotak berisi kue tart stroberi buatan tangannya sendiri terlepas dari genggaman jemarinya yang mendadak lemas tak bertenaga. Krim putih lembut dan potongan stroberi merah segar berhamburan di permukaan marmer, hancur berantakan tepat di depan pintu itu—persis seperti hati Sophia yang baru saja pecah berkeping-keping tak tersisa.
* *
Warna merah stroberi yang hancur di lantai marmer itu mendadak menyeret ingatan Sophia mundur, kembali ke beberapa jam silam—saat jemarinya masih telaten menyusun buah segar itu di atas hamparan krim putih yang lembut.
"Sedikit lagi dan selesai," bisiknya pelan pada diri sendiri.
Di dapur luas Villa Hayes yang terasa begitu hangat, Sophia Elara Hayes—gadis berusia dua puluh dua tahun—berdiri dengan wajah berseri-seri. Gaun tidur sutra putihnya yang menjuntai hingga mata kaki seolah memancarkan cahaya lembut di bawah pendar lampu gantung kristal. Rambut hitamnya ia biarkan tergerai alami, membingkai wajah yang tampak begitu murni dan penuh harapan.
Malam ini adalah ulang tahun ke-45 Emily Carter Hayes. Bagi Sophia, ibunya adalah segalanya: panutan, sahabat, sekaligus sosok wanita paling sempurna yang pernah ia kenal.
"Mommy pasti akan sangat terkejut," gumamnya dengan binar mata yang tak pernah redup.
Sophia melirik jam dinding besar yang jarumnya hampir merapat ke angka dua belas malam. Ia sengaja menyiapkan kejutan ini seorang diri, tanpa sepengetahuan siapa pun. Ayahnya, Richard Hayes, memang sedang berada di luar kota mengurus restorasi bangunan tua—pekerjaan yang belakangan ini kerap membuatnya tampak lelah dan murung. Namun Sophia yakin, kejutan sederhana ini akan kembali menghadirkan tawa di rumah mereka.
Membawa kotak berisi kue tart stroberi buatan tangannya sendiri, Sophia melangkah pelan keluar dari dapur. Ia berjinjit sangat hati-hati di atas lantai marmer dingin, menjaga agar lilin angka di atas kue tak terjatuh sebelum sempat ia nyalakan.
Tanpa sadar, setiap langkah bahagia yang ia ambil justru membawanya semakin dekat menuju pintu neraka yang tak pernah ia bayangkan.
Ia terus menaiki tangga melingkar yang megah, menatap pintu ruang kerja ayahnya di ujung lorong yang masih memancarkan cahaya samar. Tanpa sedikit pun rasa curiga, Sophia mempercepat langkah, ingin segera memeluk wanita yang paling ia puja di dunia ini.
"Masih di ruang kerja? Di malam ulang tahunnya sendiri?" Sophia menggeleng pelan. "Dasar gila kerja. Daddy pasti akan sedih kalau tahu Mommy masih selelah ini saat dia jauh dari rumah."
Bayangan wajah terkejut dan senyum lebar Emily sudah terbayang di benaknya saat ia menyanyikan lagu selamat tepat di tengah malam. Senyumnya kian mekar seiring langkahnya yang semakin mendekat.
"Kena kau, Mommy!"
Namun, tiba-tiba kakinya terasa berat melangkah. Semakin dekat, aroma cerutu mahal yang maskulin—bukan aroma ayahnya—mulai menusuk penciuman. Dan tepat saat jarum jam menunjuk angka dua belas, sebuah suara rendah yang sarat gairah meledak dari balik pintu itu.
"Oh, Lucas... Jangan berhenti sekarang..."
Dunia Sophia seketika berhenti berputar. Kotak di tangannya bergetar hebat. Itu suara ibunya.
"Kau terlalu berisik, Emily. Sepertinya kau lupa, kau sudah bersuami—pria yang seharusnya bisa memberimu semua ini," sahut suara berat dan maskulin itu, penuh nada ejekan yang dingin dan kejam.
"Peduli setan pada Richard. Dia tak pernah mampu membahagiakanku seperti ini."
Langkah kaki Sophia membeku di tempat, lantai marmer di bawahnya terasa sedingin es. Celah pintu yang sedikit terbuka kini menjadi jendela neraka yang mempertontonkan kenyataan paling menjijikkan seumur hidupnya.
"Tidak mungkin... Aku pasti salah dengar. Mommy tak mungkin..."
Dengan tangan gemetar, Sophia memberanikan diri mengintip. Dan di sanalah ia melihatnya. Ibunya—Emily—sedang menyerahkan diri sepenuhnya pada seorang pria asing, yang duduk tenang di kursi kebesaran ayahnya dengan tatapan tajam bak predator yang langsung mengunci pandangan Sophia.
"Mommy..."
Brukk!
Kotak kue itu jatuh berantakan. Sama persis seperti hati dan jiwanya yang kini hancur lebur.
Air mata seketika membanjiri wajah Sophia menyadari kenyataan paling menyakitkan itu. Tangannya gemetar hebat, tubuhnya seolah tak bertulang. Namun keterkejutan itu hanya bertahan sekejap, sebelum perlahan berubah menjadi amarah yang mendidih di setiap nadi.
Duar!
Sophia menendang pintu itu sekuat tenaga hingga menimbulkan dentuman yang menggelegar seisi lorong. Ia berdiri di ambang pintu dengan napas memburu, tubuhnya bergetar hebat—antara rasa sakit, mual, dan kemarahan yang meluap-luap.
"MOMMY! APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Emily Carter Hayes terperanjat setengah mati, matanya membelalak lebar, dan wajahnya seketika pucat pasi. Ia segera menjauh dari Lucas Arkan Stone, mencoba merapikan pakaian sutranya yang berantakan dengan tangan gemetar.
"Phia... Sophia? Kau... Kenapa kau ada di sini?" suara Emily terbata-bata, penuh kepanikan dan ketakutan. "Sophia, ini... Ini tidak seperti yang kau lihat, Mommy... Mommy hanya..."
"TIDAK SEPERTI YANG KULIHAT?!" Sophia berteriak, suaranya pecah namun tajam mengguncang lorong. Air mata kekecewaan mengalir deras membasahi pipinya yang memerah karena amarah. "Kau berselingkuh, Mommy! Di rumah Daddy! Di saat dia sedang berjuang mati-matian demi kita! Bahkan di malam ulang tahunmu sendiri!"
Namun di tengah badai emosi Sophia dan kepanikan yang melumpuhkan Emily, Lucas Arkan Stone justru bersikap sebaliknya.
Pria berusia empat puluh tujuh tahun itu tetap duduk tenang di kursi kebesaran milik Richard Hayes. Tak ada sedikit pun keterkejutan, tak ada rasa bersalah yang terbayang di wajahnya. Perlahan ia menyesap sisa wiski di gelas kristal, lalu meletakkannya kembali di permukaan meja kerja yang luas dengan denting halus yang terdengar nyaring di ruangan sunyi.
Tatapan matanya yang gelap sedalam jurang dan setajam elang tak pernah lepas sejenak pun dari wajah Sophia yang hancur lebur. Sudut bibirnya bahkan terangkat sedikit, membentuk seringai tipis yang penuh ejekan sekaligus kepuasan kemenangan.
"Gadis kecil ini ternyata punya nyali juga," batin Lucas, seolah ia sedang menonton pertunjukan sandiwara yang menghibur, bukan sebuah pengkhianatan yang menjijikkan di hadapan anak kandungnya sendiri.
Sophia menunjuknya dengan jari yang gemetar hebat, manik matanya memancarkan kebencian yang membara. "Dan kau... kau b******n! Beraninya kau menyentuh Mommy!"
Ia memalingkan wajah dengan kasar, memejamkan mata rapat-rapat saat mendengar suara gesekan kain jas yang bergerak—tanda pria itu bangkit dari kursi ayahnya tanpa sedikit pun rasa malu. Bunyi gesper ikat pinggang yang berdenting pelan di keheningan ruangan itu membuat isi perut Sophia mual seketika.
Ia tak tahu siapa pria ini. Tak pernah sekalipun wajahnya terlihat di pesta-pesta bisnis yang dihadiri ayahnya. Namun aura kegelapan yang ia pancarkan begitu pekat, seolah mampu mencekik napas siapa pun yang berani mendekat.
"Sophia, dengarkan Mommy... Ini bukan seperti yang kau kira..." suara Emily bergetar parah, ia mencoba melangkah mendekat dengan tangan yang tak henti gemetar.
"JANGAN SENTUH AKU!" bentak Sophia tanpa berani menoleh sedikit pun. "Kau telah mengkhianati Daddy, Mommy!"
Di tengah isak tangisnya yang pecah tak terbendung, terdengar langkah kaki berat yang mendekat. Bukan ke arah Sophia, melainkan tepat ke hadapan Emily. Napas pria itu terdengar begitu tenang, kontras sekali dengan kekacauan yang melanda seluruh ruangan.
"Aku belum selesai denganmu, Emily," ucapnya dengan suara berat yang datar, dingin tanpa sedikit pun emosi. "Kau masih punya utang padaku. Dan kau tahu betul apa konsekuensinya jika kau membuatku menunggu."
Darah Sophia mendidih. Utang? Kata-kata itu terdengar seperti racun yang merusak setiap pendengarannya. Bagaimana mungkin ibunya bisa merendahkan diri sedalam itu pada pria asing, bahkan di dalam rumah mereka sendiri?
Langkah kaki itu kemudian berputar perlahan, berjalan menuju tempat Sophia berdiri terpaku sambil menahan tangis. Lucas berhenti tepat di sampingnya. Aroma cerutu mahal bercampur parfum maskulin yang kuat langsung mengepung indra penciuman, membuatnya merasa terkurung dan terintimidasi secara fisik.
Sophia tetap menunduk, enggan menatap wajah iblis yang baru saja menghancurkan dunia keluarganya. Namun Lucas merunduk sedikit, mendekatkan bibirnya tepat ke telinga Sophia hingga ia bisa merasakan hembusan napas hangat yang beraroma wiski.
"Jangan menangis, Malaikat Kecil," bisiknya dengan nada rendah yang entah mengapa membuat bulu kuduk merinding.
"Pelayanan ibumu memang cukup memuaskan. Tapi aku yakin, darah yang mengalir di dalam tubuhmu pasti akan menjanjikan rasa yang jauh lebih manis darinya."
Mata Sophia membelalak lebar penuh horor. Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika mendengar kalimat paling menjijikkan dan keji yang pernah ia dengar seumur hidupnya.
Sebelum sempat ia berteriak atau bahkan melayangkan tamparan, pria itu sudah melangkah pergi dengan tenang, meninggalkan jejak dosa yang pekat di udara—serta reruntuhan hati yang tak lagi menyisakan celah untuk diperbaiki.