3 Lelaki Tanpa Nama

1362 Words
Hal pertama yang dilihat Aileen pagi ini adalah sosok tampan nan rupawan bak dewa dari mitologi yunani. Sayup-sayup ia melihat sosok tersebut yang masih terlena dialam mimpinya. Tangan lelaki itu melingkar mesra dibawah perut Aileen. Senyuman Aileen mengembang. Sudah lama ia tak merasakan hal semacam ini dipagi hari. Ada sosok yang menemaninya ketika membuka mata dan membuatnya begitu nyaman. Bahkan Oscar pun tak pernah membuat hatinya sedamai ini. Aileen benar-benar merasa puas. Dengan ringan, tangannya yang sejak tadi terkulai diatas d**a laki-laki itu bergerak menyentuh pipi yang terasa sedikit kasar karena bulu-bulu halusnya. Membuat lelaki itu semakin terlihat jantan dimata Aileen. Merasa nyaman dengan sentuhan Aileen, Dru menggoyangkan kepalanya sambil bergumam pelan. Mencari posisi nyaman dalam tidurnya. “Hmmm..” Mendengar suara berat itu, rasanya ada aliran listrik statis dalam diri Aileen. Ia seperti ditampar seribu kali ketika menyadari apa yang sedang ia alami saat ini bukanlah mimpi. Suara itu, wajah itu... Benar-benar nyata ada dihadapannya. Aileen langsung membulatkan matanya dan mendapati sosok tampan itu memang ada disana. Jadi sejak tadi kemana saja kesadarannya? Aileen berusaha untuk meredam teriakannya dengan tangan. Ia tak ingin membangunkan lelaki yang masih tertidur lelap dihadapannya itu dan membuat suasana semakin canggung. Dengan perlahan, Aileen bangkit meninggalkan sisi ranjang dan membuatnya terasa kosong. Wanita itu berusaha untuk menutupi bagian penting dari tubuhnya dan mencari kemana larinya pakaian yang ia kenakan semalam. “Astaga.. Pakaianku,” pekik Aileen dalam bisikan ketika mendapati dress miliknya sudah tak berbentuk seperti semula, bahkan tak bisa dipakai lagi karena sudah terbagi menjadi dua. “Ganas sekali dia sampai menyobek pakaianku.” Aileen berusaha untuk tak mengeluarkan makiannya kepada laki-laki yang sudah membuatnya kesulitan pagi ini. Ia segera mencari sesuatu yang bisa ia kenakan dan segera pergi dari tempat yang bahkan tak tahu dimana. Dan matanya tertuju pada sebuah kemeja berwarna putih yang teronggok sembarangan diatas lantai. Aileen membuang begitu saja pakaian rusaknya dan memungut kemeja putih itu. “Karena kamu sudah merusak pakaianku, aku ambil ini sebagai gantinya.” Tangan Aileen dengan cekatan memasang buah baju kemeja tersebut yang sangat oversize untuk ukuran tubuh mungilnya hingga menutupi setengah dari paha mulusnya. Setelah terpasang, ia mencari tas kecilnya yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Tanpa pamit, Aileen pergi meninggalkan pria yang masih terlelap diatas pembaringannya itu. Dengan kaki tanpa alas Aileen keluar dari Apartemen itu dan.. Bruuuk.. Didepan pintu yang baru saja ditutupnya, Aileen menubruk seseorang. Seorang wanita cantik dengan penampilan sangat modis dan elegan. Tapi Aileen langsung menundukkan kepala seraya berkata, “Maaf.. Maaf..” Dengan gerakan terburu-buru dan berusaha lari sekencang mungkin agar orang tersebut tak melihat wajahnya. Keadaannya saat ini benar-benar kacau sampai tak sadar jika berlari keluar gedung apartemen tanpa alas kaki. Sepatu yang sempat ia ambil dengan terburu-buru hanya dipeluknya didepan d**a. Ketika sudah berada dipinggir jalan, Aileen segera menghentikan sebuah taksi yang melintas dihadapannya. “Cha, kamu dirumah?” tanya Aileen pada sahabatnya Fredericha Aurelixa atau biasa dipanggilnya Chaca itu ketika sudah duduk nyaman didalam taksi. “Iya, aku dirumah. Sorry tadi malam aku pergi terlebih dahulu. Zico memintaku untuk datang.” Chaca merasa menyesal telah meninggalkan Aileen yang sedang membutuhkannya. Tapi juga tak mungkin mengabaikan panggilan dari Zico-kekasihnya. “It’s oke, Cha.” “Lalu semalam kamu kemana setelah aku pergi?” Aileen terdiam sejenak. “Aku kerumah kamu sekarang ya!” ucap wanita itu tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya. Seperti tahu jika Aileen membutuhkan tempat bersandar, Chaca mengangguk meski sahabatnya itu tak melihatnya. “Aku tunggu.” Setelah panggilan berakhir, Aileen kembali menyelipkan ponsel kedalam tasnya. Disandarkan tubuhnya yang terasa nyeri bagaikan dihajar oleh sepuluh gajah yang sedang mengamuk. Rasanya sungguh melelahkan. “Apa yang dia lakukan semalam padaku? Kenapa tubuhku jadi sakit semua?” Aileen mengusap tengkuknya yang terasa pegal. Yang tak Aileen sadari sejak tadi adalah lirikan supir taksi padanya dari rear-view mirror mobil tersebut. Tubuh sintal Aileen dengan hanya memakai kemeja lengan panjang yang menutupi tak sampai setengah pahanya tentu saja mengundang perhatian orang yang melihatnya. Dan ketika tanpa sengaja Aileen mengalihkan pandangannya pada rear-View mirror, tatapan keduanya bertemu. Barulah ia tahu jika sejak tadi dirinya mendapat perhatian dari sang supir taksi. Dengan keki Aileen memperbaiki posisi duduknya-bisa dibilang sangat menantang orang yang melihatnya. Tubuhnya bersandar dengan paha yang sedikit terbuka. Untung saja supir taksi tak dapat menjangkau bagian dalamnya yang tanpa penghalang sama sekali. Beruntung taksi yang ditumpangi Aileen sampai dikediaman Chaca tanpa halangan. Rumah mungil dengan pagar berwarna putih itu adalah rumah kedua bagi Aileen setelah rumah kedua orang tuanya. Aileen dengan terburu-buru melangkah masuk kedalam rumah sahabatnya. Wanita itu terlihat masih sibuk didapurnya dengan sesekali bersenandung. Seperti tak menyadari kehadiran Aileen. “Cha..” panggil Aileen tepat disamping telinga sahabatnya itu. Chaca yang memang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri cukup terkejut dengan kehadiran Aileen. Untung saja ia bisa mengatur reflek tubuhnya yang hampir saja memukul Aileen dengan spatula. Mulut yang awalnya ingin memaki itu langsung tersenyum dan menyambut Aileen dengan pelukan. Dari matanya, Chaca bisa menangkap raut sedih Aileen. Diusapnya punggung Aileen dan berharap bisa menenangkan sahabatnya itu. “Duduk dulu..” Chaca menggiring Aileen duduk dimeja makannya. Lalu ia mengambil satu gelas air putih dan diserahkan kepada sahabatnya itu. Dihabiskan setengah gelas air putih tersebut oleh Aileen dan diletakkan kembali diatas meja. Dihelanya napas pelan sebagai awalan sebelum ia menceritakan apa yang semalam terjadi padanya. “Apa yang terjadi padamu, Aileen?” tanya Chaca dengan penasaran. Jika sudah seperti ini, pasti ada sesuatu yang salah. “Semalam aku mabuk,” cerita Aileen. Ia memainkan jari telunjuknya dipermukaan gelas dengan gerakan memutar. “Lalu?” “Aku tidak ingat.” Aileen menggelengkan kepalanya pelan. “Tapi-“ “Kamu tidur dengan seseorang?” tebak Chaca melihat bagaimana cara bepakaian Aileen saat ini yang sangat jauh berbeda dengan semalam. “Iya.” Chaca terkekeh pelan melihat raut frustasi sahabatnya. “Lalu kenapa kamu murung? Bukannya itu yang kamu inginkan waktu kita pergi ke bar semalam. Bahkan jika kamu ingat, kamu sengaja tidak memakai dalamanmu supaya memudahkan prosesnya.” Aileen tak langsung menjawab. Apa yang Chaca ucapkan memang tak sepenuhnya salah. Namun bukan hal seperti ini yang ia harapkan terjadi. Setelah dirinya mabuk, ia benar-benar tak mengingat bagaimana akhirnya bisa bertemu dengan laki-laki yang tadi pagi dilihatnya pertama kali saat membuka mata. Tapi setiap kali mengingat wajah itu, rasanya Aileen merasakan kenyamanan yang sudah sejak lama menghilang dari hatinya. Dalam diamnya ia tersenyum. Meski tak mengingatnya, tapi Aileen bisa merasakan untuk pertama kalinya tubuhnya benar-benar merasa puas. Apa karena percintaan mereka semalam yang membuat Aileen seperti ini? “Hei.. melamun.” Chaca menggoyangkan tangannya didepan wajah Aileen supaya dapat mengumpulkan kesadarannya yang sudah tercecer entah dimana. “Jadi, itu kemeja dia?” tanya Chaca penasaran. “Aku yakin permainannya begitu menggairahkan sampai tak ada celah dileher jenjangmu dari jejak yang dibuat olehnya.” Mendengar ucapan Chaca, Aileen langsung mendorong mundur kursi yang ia duduki dan berjalan mendekati cermin washtafel yang tak jauh dari sana. Benar adanya. Banyak jejak keunguan disekitaran leher serta tulang selangkanya. Ia belum berani melihat bagian lain yang masih tertutup oleh pakaian. “Sialan. Pantas saja supir taksi melihatku seperti itu,” gumam Aileen yang tak dapat didengar oleh Chaca. “Jadi, Dressku ketinggalan disana?” tanya Chaca yang tak bisa menyembunyikan senyum gelinya. Ia pun sudah kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda saat kedatangan Aileen tadi. “Iya, sudah terbelah jadi dua,” aku Aileen dengan wajah yang merona. Gerakan tangan Chaca berhenti kemudian menatap Aileen dengan tak percaya. “Sungguh? Ganas sekali dia sampai bisa membelah pakaianmu jadi dua.” Mata Chaca sampai membola, tapi setelah itu ia tersenyum jahil. “Tapi aku tidak menyesal sudah meminjamkanmu. Kamu terlihat bahagia, Aileen.” “Thanks, Cha,” jawab Aileen dengan memutar kedua matanya malas. “Jadi siapa lelaki beruntung itu?” Gelengan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Chaca. “Aku tidak tahu.” “Astaga Aileen, jadi kamu sudah tidur dengan laki-laki yang bahkan kamu tidak tahu namanya?” Chaca langsung pergi dari hadapan Aileen dengan memijat pelipisnya yang sudah mulai terasa sakit akibat ulah sahabatnya. Aileen hanya bisa mengendikkan bahu saat menatap kepergian Chaca. Ia sendiri bingung kenapa semua itu bisa terjadi. Tapi nyatanya lelaki tanpa nama itu sudah berhasil membuatnya puas berkali-kali semalam. To Be Continue...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD