1-01 Terlalu Berlebihan
Hari ini cuaca begitu terik, seakan matahari tepat berada di atas kepalaku. Keringat membasahi keningku, tapi aku tak menghiraukannya. Mataku tetap fokus pada ponsel di tangan, sambil sesekali melihat kedepan, berjalan diantara trotoar kota. Langkahku seketika terhenti saat mendengar suara teriakan sekelompok orang dari arah berlawanan. Mereka membawa lightstik dan poster besar dalam bahasa asing.
“Hans?! Frans?! Mike?!” Teriakan mereka membuat telingaku sakit.
“Heboh banget sih mereka.” Komentarku.
Sekelompok orang-orang itu seperti segerombolan domba yang digiring oleh pengembala. Mereka berlari kearahku secara bersamaan. Satu diantara mereka tak sengaja menyenggol lenganku.
Brak!
Ponselku akhirnya terjatuh menyentuh aspal.
“Astaga! Liat-liat dong, gue ini orang bukan patung.” Gerutuku kesal.
“Eh sorry Mbak.” Jawabnya cepat, lalu kembali berlari menyusul teman-temannya.
“Dasar orang-orang aneh!” Umpatku.
Tanganku cepat-cepat memungut ponsel di bawah dan mengelus pelan membersihkan kotoran yang menempel.
“Untung aja gak rusak.” Ucapku masih kesal.
Ada sedikit rasa penasaran apa yang di lakukan orang-orang tadi, akupun menoleh dan memperhatikan mereka.
Rupanya mereka berkumpul di depan sebuah hotel bintang lima. Beberapa detik kemudian sebuah mobil berhenti di depan lobi, jarak antara hotel dan trotoar jalan cukup dekat sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas.
Aku perhatikan pintu mobil mulai terbuka. Disana turun beberapa pria dengan pakaian yang modis.
“Ngapain mereka pakai masker? Lebay banget, dikira masih covid.” Komentarku.
“Wuahhh! Frans?!” Teriak sekelompok orang saat pria terakhir turun.
Menurutku gaya pria itu biasa saja, justru terlihat aneh. Dia hanya memakai kaos putih polos yang di padupadankan dengan celana kedodoran. Bukan hanya itu, dia juga memakai banyak aksesoris di tangan dan lehernya.
Dret!
Ponsel di tanganku bergetar, nama Sahira muncul di layar. Aku buru-buru mengangkatnya.
“Halo?” Ucapku santai.
“Git, lu jadikan ke kostan?” Tanya Sahira di seberang telepon.
“Jadi dong, ini gue lagi di jalan.” Jawabku.
“Dijalan dimana? Perasaan dari tadi lu gak nyampe-nyampe.” Gerutunya.
“Ini gue masih nunggu taksi Online. Dari tadi di tolak mulu, katanya macet.” Jawabku jujur.
“Ya udah cepet ya. Gue tunggu 15 menit lagi.”
Setelah telepon terputus akhirnya aku mendapatkan driver Taksi Online. Sesampainya di kostan Sahira, aku buru-buru masuk ke kamarnya. Begitu pintu terbuka, mataku di suguhkan dengan beberapa poster besar menempel di dinding kamar, menampilkan dua sosok pria yang berbeda.
Aku sedikit terkejut, sejak kapan teman kantorku suka dengan KPOP?
“Lu kenapa, Git? Kok bengong, awas loh kesambet.” Suara Sahira menyadarkan lamunanku.
“Ah?! G-gue-.” Ucapku tercekat.
“Apa? Kenapa?” Tanya Sahira lagi.
“Gue baru tau lu suka beginian.” Jawabku sambil nyengir.
“Maksud lu KPOP?” Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Jangan heran. Gue udah lama suka KPOP, bahkan dari zaman gue SD. Dan lu tau, gue punya banyak album idola gue. Lu mau liat?” Sahira terlihat begitu exaited menunjukkan koleksinya.
Sebenarnya aku malas meladeninya, tapi aku tidak mungkin menolaknya. Jadi dengan terpaksa aku mendengarkan ocehannya tentang hal yang tidak terlalu penting ini.
“Lu tau ini Album kedua dari DXaO. Gue beli ini jastip dan susah banget di cari.” Cerita Sahira.
“Lu ngapain sih buang- buang uang buat hal kayak gini?” Tanyaku polos.
“Lu gak akan ngerti, Git. Buat kita KPOPers, ini tuh sebagai bentuk dukungan buat idola kita.”
Aku hanya mengangguk, mataku berkeliling melihat sekeliling kamar dan berhenti di poster seorang pria berpakaian aneh.
“Itu siapa?” Tunjukku.
“Oh itu, namanya Hans.” Jawab Sahira sambil tersenyum.
“Kalo itu?” Tunjukku lagi.
“Itu frans. Dia idola gue banget.” Ungkapnya.
“Nah kalo ini Mike, wonbin dan-.” Sahira menyebut satu-satu nama yang ada di salah satu poster, kali ini dengan formasi lengkap.
Dengan polosnya aku berkata, “Mukanya sama semua ya.”
“Enak aja. Nggaklah, mereka tuh punya ciri khas masing-masing. Contohnya frans, dia punya suara yang unik.”
“Terus diantara mereka, lu paling ngefans sama yang mana?” Tanyaku penasaran.
“Gue paling ngefans sama Hans dan Frans. Mereka itu sering di juluki tweensnya grup. Tapi balik lagi, punya ciri khas dan posisi yang beda di grup. Hans punya suara yang soft, kalo Frans dia repper sekaligus dancer.” Sahira menjelaskan lebih detail.
“Muka seimut dia repper?” Tanganku menunjuk salah satu poster.
“Iya.” Jawab Sahira singkat.
Aku tertawa tebahak-bahak, tak percaya bahwa pria yang terlihat imut dan cantik di poster itu seorang repper.
“Gue serius. Dia Repper. Wajahnya emang imut cantik gitu, tapi suaranya ngebass abis.” Ungkap Sahira membuatku berhenti tertawa.
“Gue gak percaya,Ra. Penampilan macam boti dibilang repper.” Kataku masih belum percaya.
“Hush! Jangan ngomong sembarangan, dia bukan boti. Asal lu tau, dia itu princenya luxury brand.”Sahira tampak tidak suka aku mengatai idolanya.
“Hehe, sorry.” Ucapku merasa tidak enak.
“Jadi gimana? Lu udah nyiapin semua buat lusa?” Aku mengalihkan pembicaraan ke rencana kita dari jauh-jauh hari.
“Aduh lusa gak bisa nih, Git.” Jawab Sahira.
“Loh kenapa?” Aku terkejut mendengar jawaban Sahira.
“Sorry, Git. Gue beneran gak bisa, gue mau nonton konser mereka.” Tunjuknya pada poster.
“What?! Lu ngebatalin rencana kita cuma demi konser?” Aku benar-benar kecewa dengan jawaban itu. Sahira rela membatalkan rencana yang telah kita siapkan jauh-jauh hari.
“Sorry. Gue gak maksud bikin lu kesel, Git. Jujur gue baru dapet tiket konser kemaren, itupun gue dapetnya susah.”
Terlihat jelas Sahira merasa tidak enak padaku. “Gue janji, kapan-kapan gue temenin lu nonton F1 ya.”
Aku hanya mengangguk pelan, tidak ada gunanya juga marah pada Sahira. Aku tidak mungkin memaksanya untuk menemaniku terbang ke Cina, hanya untuk menonton balapan kekasih onlineku.
Keesokan harinya, aku dan Sahira mengajukan cuti secara bersamaan tetapi dengan rencana yang berbeda. Sahira akan menonton konser sedangkan aku akan meninton balapan F1.
“Akhirnya ACC juga.” Ucap Sahira akhirnya.
Aku hanya mengangguk, lalu tersenyum simpul. Sahira yang sadar dengan ekspresi wajahku langsung menatapku dengan sendu.
“Sorry ya, Git.” Ungkapnya.
“Iya. Tapi lain kali jangan kayak gini lagi ya.
“Iya, gue janji.” Jawab Sahira sambil tersenyum.
Dari arah berlawanan rekan kerja kami datang memanggil Sahira, langkahnya terburu-buru. “Ra?!”.
“Kata Lina lu dapat tiket konser?” Tanya Sinta antusias.
“Hmm, kenapa?” Sahira menjawabnya dengan santai. Aku hanya memperhatikan dalam diam.
“Lu serius? Dapat dari mana?” Beberapa pertanyaan di lontarkan Sinta.
“Ada-lah. Kenapa lu juga mau?” Tebak Sahira seolah paham apa yang di maksud lawan bicaranya.
“Iya gue mau, Ra. Gue pengen banget nonton konser DXaO. Lu tau, gue udah cari tiket itu kemana-mana sampe kepala gue hampir botak. Gila! Itu tiket konser abis dalam 1 minggu.”
“Kalo lu mau, nanti gue tanyain ke temen gue. Ya siapa tau ada yang mau jual tiket mereka. Tapi-.” Kata Sahira tercekat.
“Tapi apa?” Sinta menatap wajah Sahira lebih lama, seolah menunggu apa yang akan di katakan Sahira.
“Harganya 4X lipat lebih mahal. Lu sanggup gak?”.
Mendengar jawaban itu wajah Sinta langsung lemas. Aku hanya diam dan sedikit penasaran . Apakah Sinta akan membelinya atau justru menyerah.
“Gimana?” Tanya Sahira.
“Kalo tiket aslinya 5 juta X 4. Berarti, 20 juta. Aduh duit dari mana?”.
“Gue sih terserah lu. Kalo duitnya ada nanti gue kabarin sore.”
“Pake PayLetter bisa kan?” Tanya Sinta tanda dosa.
Aku menghela nafas panjang. Tadinya aku tak ingin berkomentar apa-apa, tapi mulutku ini gatal.
“Udahlah, Sin. Kalo gak ada duitnya, ya gak usah. Jangan terlalu memaksakan, sampe harus pake PayLetter segala.”
“PayLetter-PayLetter gue! Kenapa lu yang sewot sih.” Nada Bicara Sinta mulai meninggi, matanya melirikku dengan tajam.
Aku tak berkomentar lagi, hanya tersenyum sekilas dan pergi begitu saja.