CHAPT. 7 "SERANGAN TAK TERDUGA"

1519 Words
- AUTHOR POV - Gerardo beranjak dari sofa setelah mendapat keluhan dari Rosie karena memegang pahanya tanpa ijin. Gerardo beralih menuju ruangan ia menyimpan semua anggur fermentasi mahalnya lalu memamerkannya pada Rosie. "Apa kau ingin minum bersama ku?" tanya bersemangat. "No, thanks. Kau saja" balas Rosie tak berminat. "Hm.. baiklah" ungkap Gerardo sembari mengidikkan bahunya. Gerardo menuangkan wine yang baru saja ia ambil dan menumpahkannya ke dalam gelas berukuran sedangnya. Gerardo meneguk winenya sembari menatap Rosie yang masih saja terduduk pada sofanya dengan tatapan sinisnya. "So.. apa kau sudah mengakhiri hubungan mu dengan kekasih mu itu?" tanya Gerardo. "Apa hubungannya dengan mu. Jangan mengajukan pertanyaan yang tak mungkin kau dapatkan jawabannya, Tn. Edmundo" jelas Rosie. "Aku ingin mengambil alih posisi itu, Rosie.." "Posisi apa?" "Menjadi kekasih mu!" tegas Gerardo. Mendengar hal itu Rosie tak dapat menahan tawanya yang membuat Gerardo bingung dan juga heran. Ia melangkah menuju Rosie dengan segelas wine yang masih terisi pada gelasnnya. "Apa itu terdengar lucu bagi mu?" "Iya. Kau tak mungkin mengambil posisi itu, tuan. Jangan banyak bermimpi" ungkap Rosie meremehkan. Ucapannya membuat amarah Gerardo kembali tersulut hingga ia mencengkram lengan Rosie dan mendorong tubuhnya hingga terlentang pada sofa. "Jangan menyentuh ku!" teriak Rosie saat tubuh atletis Gerardo menindihnya. "Jangan meremehkan ku, Rosie. Aku bisa mengambil posisi itu dan membuat mu takluk pada ku, kau percaya?" ungkapnya. "Tentu saja, tidak!" tegas Rosie. "Rupanya keberanian mu muncul lagi pada diri mu.. Tapi, Aku menyukai hal itu. Aku suka saat kau memberontak pada ku. Tapi, Aku lebih suka kalau kau bersikap lembut juga pada ku, sayang.." jelas Gerardo menyesapi wajah Rosie. Cengkraman pada lengan itu semakin kuat membuat Rosie ketakutan. Bahkan bibirnya kembali terasa perih karena teriakannya tadi. "Tapi, Aku tidak menyukai mu. Dan sampai kapanpun Aku tidak akan pernah menyukai mu!" tegas Rosie. "Aw!!" Gerardo menangkup wajah Rosie hingga bibirnya kembali semakin terasa perih, bahkan pundaknya kini memerah karena cengkraman Gerardo yang berhasil terlepas namun beralih pada wajahnya. "Kau akan menyukai ku, Rosie.." bisik Gerardo sembari menyambar bibir Rosie. Gerardo mengulum bibir Rosie untuk pertama kalinya, namun hal itu membuat Rosie semakin membencinya. Rosie terus saja meronta untuk terlepas darinya hingga sebuah pukulan tidak ada artinya melayang pada wajah Gerardo. "Aw! s**t!" umpat Rosie kesal saat memukul wajah Gerardo justru tangannya yang terasa sakit. Namun pukulan itu berhasil melepaskan pangutan bibir Gerardo yang merasa nikmat menyesapi bibir manis Rosie. "Wajah serta tubuh ku di rancang untuk melindungi diri ku, sayang. Pukulan mu tak terasa apapun pada tubuh ku, namun pukulan mu itu terasa pada hati ku saat ini" ungkap Gerardo. Rosie masih memegang tangannya yang kesakitan karena pukulannya. "Menjauh dari ku!" pinta Rosie. "Kenapa sangat sulit menjinakkan mu?" tanya Gerardo frustasi. "Karena, Aku tid---" Duuuaaarrrr!!! (suara tembakan) Gerardo menarik kepala Rosie menunduk pada sofa membuat Rosie sangat terkejut dan ketakutan. "f**k!!!" umpat Gerardo. Suara tembakan itu kembali terdengar beberapa kali, di mana peluru itu berhasil menembus kaca apartement milik Gerardo. Rosie gemetar ketakutan saat dalam sekejap apartement milik Gerardo tampak kacau dengan pecahan kaca. "Rosie, tenang!" pinta Gerardo menangkup wajahnya yang terlihat begitu ketakutan. "Bagaimana Aku bisa tenang, suara peluru ada di mana-mana" jelas Rosie. Allio beserta yang lainnya berhasil tiba dan masuk ke dalam apartement Gerardo. Semuanya menjadi panik. Gerardo berada terus di samping Rosie dan melindunginya. "Cari siapa pelakunya! CEPAT!" teriak Gerardo. Terdengar kembali suara tembakan itu yang berhasil menembus d**a anak buah Gerardo yang kini tersungkur di hadapan Rosie. Hal itu tentu saja membuat Rosie semakin ketakutan dan histeris. "AAAAAAAAA!!!" teriak Rosie. "Sial!!! Move move move!!!" teriak Gerardo sembari menarik Rosie dari area kekacauan itu. "Hindari kaca jendela!" teriak Allio. "Sepertinya dia menembak dari arah gedung di depan" lanjut Allio. Gerardo masih setia memegangi serta melindungi Rosie. Tubuh atletisnya berhasil menutupi seluruh tubuh ramping Rosie agar tidak terlihat pada pandangan musuhnya. Di mana penembak jitu itu berada di rooftop gedung di depan apartement milik Gerardo. "Aku mendapatkannya!" ucap Brown pada protofon yang di pegangi Allio. Protofon atau Portofon adalah sebuah alat komunikasi genggam yang dapat mengomunikasikan dua orang atau lebih dengan menggunakan gelombang radio. Kebanyakan walkie talkie digunakan untuk melakukan kedua fungsinya yaitu berbicara ataupun mendengar. Suara tembakan kembali terdengar, di mana Brown berhasil menembak lelaki yang bersenjata sniper pada rooftop gedung tersebut. "Clear!" teriaknya kembali. Mendengar hal itu Gerardo melepaskan pegangannya pada Rosie yang masih menangis sesegukan serta tubuhnya yang gemetar hebat. "s**t!" umpah Gerardo kesal dan melepar botol wine itu hingga berserakan pada lantainya. "Cari tau siapa pesuruhnya!" teriak Gerardo. Allio beserta yang lainnya keluar dari apartement Gerardo menyusul Brown menuju rooftop depan gedung apartement Gerardo. Gerardo menatap Rosie yang masih berdiri di balik pilar apartementnya dengan wajah yang masih ketakutan. "Rosie, it's okay. He's die" ucap Gerardo. Mendengar hal itu Rosie malah mendorong tubuh Gerardo dan menatapnya penuh kemarahan. "Ada apa? Kenapa kau marah pada ku? Aku sudah menolong mu!" ungkap Gerardo kesal. "Iya, dia sudah mati karena anak buah mu yang membunuh---" "Lalu apa kau yang ingin mati di tangannya?" sela Gerardo. Rosie terdiam. Ia berusaha menenangkan dirinya, rasa perih pada lututnya baru kembali ia rasa setelah tadi ia mati rasa karena ketakutan dengan suara tembakan yang terus saja mengacaukan apartement Gerardo. Gerardo menarik tangannya lalu memeluknya. Apa yang baru saja terjadi adalah hal yang pertama Gerardo takutkan setelah kematian ayahnya lima tahun yang lalu di Phoniex. Gerardo takut kalau saja peluru itu mengenai tubuh Rosie. Rosie dapat merasakan jantung Gerardo yang masih saja terpacu begitu cepat. Ia juga dapat merasakan belaian tangan besar Gerardo yang menyapu lembut kepalanya. "Maaf sudah membuat mu ketakutan.." ungkap Gerardo. Tak ada penolakan atau sikap meronta Rosie pada biasanya saat Gerardo menyentuhnya. Ia terlihat menerima pelukan Gerardo. Rosie masih saja membayangkan kejadian tadi yang baru saja terjadi, kejadian yang baru pertama kali ia alami dalam hidupnya. "Sebenarnya apa yang kau lakukan?" tanya Rosie menarik tubuhnya dari dekapan Gerardo lalu menatapnya lekat. Baru saja mulut Gerardo terbuka dan seakan ingin menjawab pertanyaan Rosie, tiba-tiba saja pintu kembali terbuka dan menampakkan Allio dan beberapa anak buah lainnya. "Aku tak menemukan apapun. Tapi, Aku dapat memastikan kalau ini adalah ulah Paul" ungkap Allio. Gerardo menuntun Rosie masuk ke dalam kamarnya yang masih terlihat rapi. Dan menyuruhnya tetap berada di sana hingga Gerardo kembali masuk. Lagi dan lagi Rosie mengikuti permintaan Gerardo tanpa berkomentar banyak. "Apa kau yakin?" tanya Gerardo setelah keluar dari kamarnya dan berjalan menuju Allio. '"Iya. Kau juga mendengar, kan.. betapa marahnya ia tadi pada panggilannya. Aku tau, Gerardo.. kita memiliki musuh yang banyak. Namun tak ada yang berani melawan mu dengan mengirimkan penembak jitu seperti tadi" jelas Allio yang juga di setujui oleh Gerardo. "Damn!" umpat Gerardo kesal. "Kalau memang itu adalah ulahnya, dia mungkin akan mengirimkan orang lain untuk menghabisi ku malam ini" lanjut Gerardo. "Iya, kecuali kau meninggalkan apartement mu dan siap untuk menyusun rencana menyerangnya" jelas Allio. "Okay.. kemasi semuanya. Kita pindah ke gedung apartement yang lainnya lalu berangkat ke Manchester menyelesaikan semuanya" pinta Gerardo. "Kita bisa melakukan perjalanannya malam ini, Gerardo. Tak perlu menunggu pagi!" ungkap Allio. Gerardo melirik ke arah kamarnya, di mana ia tak dapat meninggalkan Rosie malam ini. "Kau mengkhawatirkan wanita itu? C'mon.. Gerardo, kau tak pernah seperti ini sebelumnya. Kau tak pernah peduli dengan siapapun. Lagi pula dia bukan siap---" "Stop, Allio! Kau melewati batas mu!" sela Gerardo. "Semuanya ada di tangan mu, Gerardo!" ucap Allio sebelum meninggalkan Gerardo. Semua percakapan itu berhasil terdengar oleh telinga Rosie. Ia merenung dan terduduk di tepi ranjang berukurang king milik Gerardo. - GERARDO POV - Sial! Apa yang harus ku lakukan. Aku tidak mungkin meninggalkan Rosie sendiri setelah insiden ini, Aku khawatir salah satu pesuruh Paul berhasil mendapatkan wajahnya. Lagi pula dia tidak memiliki tempat malam ini, meskipun Aku tak tau alasan kenapa dia takut untuk sendiri di dalam rumahnya. Apa yang di katakan Allio, benar! Aku biasanya tidak perduli dengan seseorang, namun rasanya Aku tidak dapat pergi dengan rasa gelisah ku meninggalkannya. Aku menarik pasokan udara ku sebelum melangkah masuk ke dalam kamar ku. Aku mendapati Rosie yang terduduk dan menatap ke arah ku. "Apa kau akan pergi?" tanyanya. "Hm.. Iya, besok pagi" "Kemana?" "Manchester, Aku harus menyelesaikan semuanya" jelas ku singkat. "Apa yang di katakan teman mu benar.. kau bisa berangkat malam ini. Hm.. Aku akan menginap malam ini di hotel dan pulang setelah Maddie pulang bekerja" "Ros---" "Kau tidak perlu memperdulikan ku. Bukannya Aku sudah katakan kalau Aku tidak akan jatuh cinta pada mu, apapun yang terjadi.." selanya. Ucapan itu membuat suasana hati ku kembali memburuk. Ia tidak seharusnya mengatakan hal itu sekarang pada ku. "Dan Aku juga sudah katakan pada mu, kalau Aku akan membuat mu jatuh cinta, Rosie!" tegas ku kembali. Kali ini Aku benar-benar di lema. Aku juga tak dapat berdiam diri melihat Paul yang menyerang ku seperti tadi. "Aku akan membawa mu ke hotel teraman. Dan Aku akan berangkat malam ini.." ucap ku. Aku menggendongnya keluar dari apartement ku yang terlihat sangat kacau karena tembakan tadi. Dan meminta Allio menyiapkan mobil untuk perjalanan ku malam ini ke Manchester. Aku melihat sekeliling di mana semua anak buah ku sudah lengkap dengan senjatanya, meskipun ku ketahui kalau itu semua adalah senjata ilegal. "So?" tanya Allio. "Kita berangkat malam ini!" "Dengan dia?" tanyanya melirik ke arah Rosie. "Tidak. Turunkan dia di hotel milik Aiden. Itu tempat teraman untuknya" jelas ku. "Kau tak perlu mencarikan tempat teraman untuk---" "Harusnya kau berterima kasih, nona. Kalau saja wajah mu di kenali dengan para penembak yang berhasil kabur tadi, kau akan menjadi targetnya selan---" "Allio!" bentak ku. "Wait! Apa sekarang Aku terlibat?" tanya Rosie. "Aku hanya ingin membuat mu aman, Rosie!" "s**t! Rasanya hidup ku benar-benar sial setelah bertemu dengan mu!" Lagi dan lagi perkataan Rosie membuat ku harus menahan kemarahan ku. Entah kenapa tiba-tiba Aku harus melakukan itu setelah kejadian tadi yang juga tiba-tiba saja membuat ku takut kalau saja peluru itu mengenai wanita ini. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD