CHAPT 6. "PRIA PEMBUNUH"

1637 Words
- AUTHOR POV - Gerardo menggendong Rosie dengan hati-hati masuk ke dalam mobilnya tanpa ada penolakan dari wanita itu. Rosie meringis sakit saat kali ini ia benar-benar merasakan perihnya luka yang berada di lutut serta sudut bibirnya. "Dasar wanita bodoh!" ungkap Gerardo setengah berbisik namun dapat di dengar oleh Rosie. "Aku seperti ini juga karena mu! Lihat kaki ku! Ini karena kau yang mendorong ku!" balas Rosie kesal. "Kau memang tidak kenal takut, Rosie! Asal kau tau, tak ada seorang pun yang berani meninggikan suaranya lebih dari ku!" tegas Gerardo mencengram wajah Rosie. Namun ia kembali sadar setelah mendengar rintihan dari bibir Rosie. "Bawa dia ke rumah sakit terlebih dahulu" pinta Gerardo pada Lucky. "Tidak perlu! Aku tidak perlu ke sana. Bawa saja Aku pulang" ucap Rosie. "Bagaimana dengan kaki mu?" "Aku bisa meminta Maddie mengobatinya" tegas Rosie. "Maddie, siapa dia?" "Apa perduli mu?!" tegas Rosie sinis. Gerardo memutar bola matanya setelah mendapat sikap tak ramah lagi dari Rosie. Mendengar hal itu Gerardo meminta Lucky untuk membawa Rosie pulang kerumahnya terlebih dahulu lalu beralih menuju apartementnya. Sepanjang jalan tak ada komentar dari bibir Rosie membuat Gerardo sesekali meliriknya. "Untung saja bibir serta kaki mu luka.. kalau tidak Aku akan memaksa mu menemani ku minum malam ini" ucap Gerardo. "Apa kau juga memiliki masalah serta suasana hati yang sangat buruk hari ini?" tanya Rosie berbalik. Pertanyaan itu membuat Gerardo menatap mata berwarna keabuan milik Rosie. "Iya. Seseorang mengambil milik ku dan Aku belum mendapatkannya hingga saat ini" "Kekasih mu juga di rebut oleh seseorang?" Pertanyaan itu kembali membuat Gerardo mengulas tawa kecil di sudut bibirnya. "Pertanyaan konyol!" batin Gerardo tersenyum smirk. "Berlian. Yang ku maksudkan milik ku adalah berlian Rosie" jelas Gerardo. "Ah.. Aku pikir kita memiliki masalah yang sama" Percakapan itu berhasil mendaratkan Rosie di depan rumahnya, di mana ia pamit tanpa mengucapkan terima kasih atau sepatakatapun sebelum ia turun dari mobil Gerardo. "Apa kau tak mengatakan apapun?" tanya Gerardo dari dalam mobil. "Aku tidak mungkin mengatakan terima kasih karena ulah mu sendiri yang membuat luka di kaki ku" balas Rosie santai. Gerardo kembali mengulas senyum ketertarikan pada Rosie. Di mana setiap ucapan Rosie membuatnya semakin saja tertarik untuk memasuki ke kehidupannya yang unik dan tak kenal takut. "Pergi lah..." ucap Rosie sebelum ia masuk ke dalam rumahnya. Namun Gerardo masih meminta Lucky untuk menunggu sejenak sebelum ia pastikan kalau Rosie benar-benar aman di dalam rumahnya. Rosie melangkah masuk ke dalam rumahnya, namun tidak mendapati Maddie. Di mana kondisi rumahnya saat ini masih gelap hingga ia mendapati sebuah surat yang di tuliskan oleh sepupunya itu. "Hari ini Aku di minta lembur oleh bos ku. Pergilah ke hotel atau ke rumah Karen menginap untuk malam ini. Dan yah.. cepat membeli ponsel mu yang baru agar Aku tidak sulit menghubungi mu" tulis surat dari Maddie. Lalu Rosie teringat dengan Gerardo berharap mobilnya masih ada berada di depan rumahnya. Rosie berlari menuju pintu keluar rumahnya dan benar! Mobil Gerardo masih berada di depan rumahnya. "Gerardo.." sahut Allio yang lebih dulu mendapati Rosie yang keluar dengan tergesa-gesa. Mendengar hal itu Gerardo tercekat lalu membuka pintu mobilnya dan keluar. "Ada apa?" tanya Gerardo serius. "Hm.. Aku sulit menjelaskan situasi yang ada. Hm.. apa boleh Aku meminjam ponsel mu?" ucap Rosie. Namun Gerardo di lema karena permintaan Rosie. Di mana ponselnya adalah privasi untuknya. Tak ada yang boleh mengetahui nomor ponsel Gerardo kecuali orang terdekat serta para bawahannya. Dan Gerardo menolak permintaan Rosie. Bahkan saat Rosie menanyakan alasannya, ia mengabaikannya. Hal serupa juga terjadi pada Allio saat Rosie meminta ponselnya untuk menghubungi Karen, di mana ia belum memiliki ponselnya setelah kebekaran bar kemarin. Allio menolak, karena pekerjaannya yang mengharuskan ia tidak membagi nomornya pada orang lain. Karena hal itu Rosie semakin curiga apa yang menjadi pekerjaan keduanya dan kehidupan misterius pada yang di sembunyikan oleh Gerardo dan Allio. "Kenapa kau membutuhkan ponsel? Di mana ponsel mu? Dan kenapa kau keluar seperti itu?" tanya Gerardo. "Aku ingin menghubungi teman ku, Karen. Untuk menginap di rumahnya malam ini, hm.. Maddie sedang lembur dan Aku tidak bisa tinggal sendirian di rumah ku" jelas Rosie. "Kau bisa tidur dengan ku.." ucap Gerardo mengulas senyum nakal yang mendapat tatapan sinis dari Rosie. "Hm.. maksud ku kau bisa tidur di apartement ku. Bukannya kau pernah merasakan ranjang ku, Rosie?" lanjutnya. "Stop it!" "Baiklah.. kalau begitu Aku akan perg---" "Hm.. antar Aku ke rumah Karen saja" sela Rosie. "Bisakah kau mengikutkan kata tolong kalau kau sedang meminta bantuan seseorang, Rosie?" Rosie menelan salivanya menatap tajam pada bola mata hitam pekat milik Gerardo. "Tolong!" ucapnya singkat. "Hm.. rasanya tidak menarik!" ungkap Gerardo yang tak di ketahui maksud dari perkataannya oleh Rosie. "Apa yang tidak menarik?" tanya Rosie saat mobil itu kembali melaju. "Sikap serta wajah mu.. Aku lebih suka sikap serta wajah mu yang seakan menantang seseorang yang berada di hadapan mu" jelas Gerardo. "So.. di mana rumah teman mu itu?" Rosie menuntun Lucky menuju ke rumah Karen yang tak jauh dari rumahnya. Namun sialnya, rumah Karen kosong membuat Rosie menghela napas panjang dan frustasi. "Dia tak ada. Antar Aku ke---" "Apa Aku pesuruh mu?" sela Gerardo serius. Rosie menurunkan pandangannya saat melihat wajah Gerardo yang tiba-tiba saja seram dengan sorotan mata yang tajam ke arahnya. "Maaf.. Kalau begitu, kau bisa meninggalkan ku di sini" ucap Rosie dengan suara yang bergetar. "Ikutlah dengan ku.." ungkap Gerardo menarik tangan Rosie masuk ke dalam mobil. "Kau mau bawa ku kemana?" "Diam saja!" Gerardo meminta Lucky membawanya pulang menuju apartementnya. Sepanjang jalan tak ada percakapan yang terjadi dengannya hingga deringan ponsel Allio berbunyi. Allio menatap ke arah Gerardo dengan tatapan yang hanya mereka berdua yang tau. "Siapa?" tanya Gerardo. "Tanpa nama" balas Allio menatap kembali ke layar ponselnya. "Angkat!" pinta Gerardo yang langsung di turuti oleh Allio. Allio menggeser tombol hijau pada layar ponselnya dan terdengar suara berat seorang pria dengan kemarahannya. "Gerardo! Kau akan membayar atas kematian saudara ku! Aku akan mengejar mu hingga ujung dunia dan ku pastikan kau akan menderita dan merasakan hal yang sama dengan ku. Aku akan membunuh semua orang yang berada di dekat mu dengan tangan ku sendiri. Kau dengar itu, b******k!" Panggilan itu terputus sebelum Gerardo membalas percakapannya. Mata Rosie melebar mendengar perkataan orang yang berada di panggilan tersebut. Di mana ia menyebutkan kalau Gerardo baru saja membunuh saudaranya. Kaki Rosie terasa lemas, ia sedikit melirik ke arah Gerardo yang saat ini memancarkan aura menyeramkan dari wajahnya. Rosie benar-benar tak tau apa yang sebenarnya Gerardo lakukan. Rasanya kehidupannya sangatlah gelap dan misterius. Ia teringat soal kebakaran di bar yang juga di sebabkan oleh Gerardo dan yang baru ia dengar adalah kematian seseorang yang di sebabkan juga oleh Gerardo. Sebenarnya apa yang di kerjakan Gerardo? "f**k!" umpat Gerardo kesal. "Berani sekali dia mengancam ku!" lanjutnya. Rosie hanya dapat menelan salivanya saat tiba-tiba saja nyali dalam dirinya menciut. Lucky berhasil membawa Gerardo, Rosie serta Allio tiba di apartementnya. "Hm.. Aku akan mencari hotel saja" ucap Rosie yang berusaha kabur dari Gerardo dengan kaki pincangnya. "Kenapa? Apa kau juga takut di bunuh oleh ku?" tanya Gerardo pada pointnya. Rosie terdiam lalu mengangguk dengan polos membuat Gerardo tertawa. "Aku tidak mungkin membunuh wanita ku, Rosie.." bisik Gerardo sembari memberikan kecupan pada pundak Rosie. Kali ini Rosie tak terlihat melawan dari biasanya. Ia terlihat pasrah dengan ucapan serta sentuhan Gerardo. Rosie tak memiliki pilihan lain selain ikut bersama Gerardo. Rasanya ia menjatuhkan pilihan yang salah setelah tadi ia tak menolak ajakan Gerardo yang membawanya ke apartement. Rosie kembali melihat ruangan yang begitu megah yang pernah ia lihat sebelumnya, apartement milik Gerardo. *** - ROSIE POV - Aku mendudukkan diri ku di atas sofa yang terasa begitu empuk di mana Aku yang melihat punggung lebar itu memasuki ruangan yang pernah ku tempati sebelumnya, yaitu kamar miliknya. Aku menelan saliva ku sekali lagi saat bulu kuduk ku meremang mengingat perkataan lelaki tadi pada panggilan anak buahnya. Rasanya Aku seperti mimpi bertemu dengan seorang lelaki yang tak takut melakukan hal kejahatan hingga sampai merenggut nyawa seseorang. Aku tersentak saat mendengar suara pintu yang menampakkan lelaki yang bernama Gerardo itu. Dia melemparkan kotak obat itu ke arah ku dan menyuruh ku mengobati luka di lutut serta sudut bibir ku akibat tamparan lelaki mabuk sial tadi. "Di mana toilet mu?" tanya ku. Dia menunjukkan arah toiletnya dan Aku cepat bergegas ke sana sembari mengambil kotak obat itu lalu mengobati luka ku di dalam sana. Bahkan Aku di buat kagum dengan toilet miliknya. Aku menatap sekeliling toiletnya yang mungkin lebih besar dari kamar ku. Aku menormalkan kembali diri ku lalu menatap pantulan diri ku pada cermin sembari membuka kotak obat tersebut. Aku mengoleskan obat peredah nyeri itu pada luka di sudut bibir ku yang terasa begitu perih hingga membuat ku merintih setiap Aku mengolesnya. Lalu tiba-tiba saja pintu itu terbuka dan membuat ku terkejut. Apa Aku lupa menguncinya? "Kau?" sahut ku terkejut. "Kau sengaja tak menguncinya?" "Kya! Mana mung---aawww, s**t!" Aku tercekat saat dia menarik dagu ku dan menatap ke arah luka ku. "Dasar bodoh! Bukan seperti itu cara mengobatinya!" ucapnya menarik ku keluar dari toiletnya dan mendudukkan ku di sofa yang tadi ku duduki. "Diam dan jangan bergerak!" Aku menatap bola matanya yang begitu hitam pekat, hidungnya yang terlihat begitu tinggi, bibirnya yang sedikit tebal pada bagian bawah serta rahangnya yang terlihat di pahat begitu sempurna. Ah, sial! Kenapa Aku larut dengan wajah tampannya. "Aw!" Aku terkejut saat rasa perih itu kembali pada sudut bibir ku. "Pelan-pelan.. ini sakit!" keluh ku yang mendapat tatapan dari matanya. "Sorry.. Aku tidak terbiasa pelan-pelan menyentuh wanita, dan sepertinya kau harus merasakan sakit di awal" balasnya. Perkataannya terdengar sangat ambigu buat ku. Apa dia sedang memancing pikiran ku? Lihat! senyuman menggoda itu! Benar-benar, sial! "Stop it!" ucap ku menepis tangannya. "Giliran kaki mu, sini!" pintanya menarik kaki ku dan menaruhnya di atas pahanya. Lagi dan lagi Aku harus menahan sakit saat ia mengoleskan obat itu pada lutut ku yang terluka. Aku berusaha menahannya namun sulit. Aku terlalu payah dalam menahan sakit saat tubuh ku terluka. Aku dapat merasakan setiap sentuhannya pada lutut ku. "Kya!! Di mana kau sentuh! Yang sakit adalah lutut ku, bukan paha ku!" keluh ku saat tangan lebarnya menyapu lutut lalu beralih menuju paha ku. Sial! dia terlihat tertawa mengejek ku. "Sudah! lepaskan, biar Aku saja yang melanjutkannya!" ungkap ku mendorong tubuhnya yang terasa begitu berat. Dia beranjak dari sofanya dan beralih menuju ke sebuah ruangan yang berada di sudut lalu kembali keluar membawa sebotol wine yang dapat langsung Aku ketahui dari tangannya. Dia memamerkan wine itu ke arah ku dengan senyuman yang seakan mengejek ku. Benar-benar membuat ku kesal. "Apa kau ingin minum bersama ku?" *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD