CHAPT 5. "WANITA BAR-BAR"

1510 Words
- AUTHOR POV - Allio yang lebih dulu melihat Jamie mengambil sebuah pistol di samping nakas miliknya menarik Gerardo hingga peluru itu berhasil tak mengenai Gerardo. Melihat hal itu Gerardo juga melayangkan satu tembakannya yang berhasil mengenai d**a Jamie hingga ia tersungkur dengan berlumuran darah. "s**t!" umpat Gerardo. Tampaknya suara tembakan itu mengundang semua orang yang mendengar hal itu untuk mencari arah suara tersebut yang membuat Allio meminta Gerardo serta anak buahnya meninggalkan kamar Jamie. "Ayo.. Gerardo!" teriak Allio. Gerardo sangat berat meninggalkan Jamie di mana ia yang belum mendapatkan miliknya. Lucky dan para anak buah lainnya berusaha menutupi Gerardo dengan melewati jalan pintas menuju basement hotel tersebut, agar tak ada orang yang melihatnya serta mengetahui apa yang sudah terjadi pada kamar milik Jamie yang baru saja di datangi oleh Gerardo dan para anak buahnya. Gerardo beberapa kali mengumpat kesal karena kegagalannya untuk mendapatkan berliannya kembali. Allio berhasil membawa Gerardo masuk ke dalam mobilnya lalu meninggalkan hotel tersebut dan kembali ke Chicago. "Sial! benar-benar sial!" umpat Gerardo sembari meninju jok mobil miliknya. Allio tak dapat berkata apapun saat menyadari kalau suasana hati Gerardo hari ini sangat buruk dan sensitif. Sepanjang jalan menuju Chicago Gerardo terus menggerutu dan mengumpat hingga Allio meminta Lucky berhenti di salah satu bar yang pernah Gerardo kunjungi sebelumnya. Namun siapa sangka bar yang mereka datangi kembali adalah bar di mana Rosie bekerja di sana. Allio meminta Gerardo untuk masuk menenangkan pikiran serta suasana hatinya. "Nikmatilah malam mu kali ini, Gerardo" ungkap Allio yang sudah meminta Lucky untuk mencarikan wanita yang dapat memuaskan napsu Gerardo malam ini. Gerardo turun dari mobil lalu di ikuti Allio masuk menyusuri bar tersebut hingga Gerardo teringat soal bar ini bersamaan dengan mendapati Rosie yang sedang berada di balik meja bartender di sana. "Sial! ini bar wanita itu" ungkap Gerardo berjalan mendekati meja tersebut. "Apa yang ingin Anda pes---" kalimat Rosie menggantung saat melihat Gerardo lah yanh berada di hadapannya saat ini. "Kau?!" ucapnya. "Allio.. kau bisa mencari tempat mu dan yang lainnya. Biarkan Aku di sini" tegas Gerardo. Mendengar hal itu Rosie melihat sinis ke arah Allio yang perlahan-lahan pergi meninggalkannya. "Bisakah kau, tidak usah datang di bar ini?" ungkap Rosie sinis. "Rosie.. hari ini suasana hati ku sangat buruk. Bisakah kau sedikit lembut pada ku dan tak membuat ku kesal pada mu?" ucap Gerardo dengan sorot matanya yang tajam. "Aku tak peduli dengan suasana hati mu, Tn. Edmundo" balas Rosie masa bodoh. Ucapan itu membuat Gerardo menggertakkan giginya menatap marah pada Rosie. "Apa saat ini kau sedang marah pada ku?" "Berikan Aku minuman yang mampu membuat pikiran ku tenang.." pinta Gerardo mencoba menengkan dirinya. Rosie yang merasakan keanehan atas sikap Gerardo mengikuti permintaannya dengan menyuguhkan sebuah botol bir. Rosie menatap mata hitam pekat Gerardo yang membuat kedua mata itu saling berpaut. Namun, seorang lelaki berteriak memanggil Rosie. "Hey.. jalang! Bukan ini yang ku minta! Berikan yang lainnya!" teriak seorang lelaki pada Rosie. Hal itu mengundang rasa ketertarikan Gerardo menatap lelaki tersebut yang meneriaki Rosie dengan sebutan jalang. Rosie melirik ke arah lelaki tersebut dan beralih padanya meninggalkan kursi Gerardo. Rosie memberikan bir yang lainnya pada lelaki mabuk itu. "Ini sebagai gantinya.. dan yah! Aku bukan seorang jalang!" tegas Rosie. Namun tampaknya ucapan itu membuat lelaki tersebut menjadi marah dengan menyiramkan Rosie dengan bir yang sudah ia tuang ke dalam gelasnya. "Shut up! Kau hanya seorang pelayan di sini. Tugas mu hanya melayani pelanggan, bodoh!" ucap lelaki itu. Gerardo semakin tertarik, ia belum melakukan apapun. Ia masih ingin menikmati pertujukkan tersebut dari kursi yang berada beberapa langkah dari kursi dari lelaki itu. Gerardo melirik ekspresi kesal Rosie yang membuatnya mengulas senyum memuja. "Aku suka ekspresi wajah seperti itu" ucap Gerardo dengan sedikit berbisik. Rosie yang menerima siraman tiba-tiba itu hanya memejamkan matanya lalu membuka kembali dan menatap tajam pada lelaki itu. "Hey.. stupid! Kau pikir Aku seorang pelayan di sini hanya bisa diam saat kau memperlakukan seperti ini?" ungkap Rosie yang juga menyiramkan bir yang sama pada lelaki itu. Hal itu membuat Rosie serta lelaki itu menjadi pusat perhatian pada lantai dasar bar tersebut, "f**k!" umpat lelaki itu semakin marah. Gerardo tampak menyilangkan kedua tangannya menikmati pertunjukkan Rosie yang tak kenal takut pada lelaki itu. "Rupanya kau hanya pecundang yang bermain dengan  seorang wanita lemah seperti ku!" teriak Rosie mempermalukan lelaki itu. Praaaakkk!!!! Gerardo tercekat saat mendengar serta melihat lelaki itu yang berhasil menampar wajah Rosie hingga terlihat darah segar yang berada di ujung bibirnya. Braaaakkk!!! (Suara pecahan kaca) Baru saja Gerardo ingin beralih menuju Rosie, suara pecahan pada botol bir itu mengagetkan semuanya. Rosie menumpahkan bir yang tadi ia bawakan pada lelaki itu lalu menghantam botol itu pada meja bar hingga suara pecahan botol itu mengejutkan semuanya. Rosie keluar dari jangkauan meja bartender yang memberikan jarak padanya dan lelaki itu. Rosie berjalan menuju lelaki itu sembari memegangi botol bir yang terlihat sudah pecah berada di tangan kanannya. Semuanya tak ada yang berani mendekati Rosie. Bahkan lelaki itu tak kalah terkejutnya. "Kau berurusan dengan orang yang salah, b******k!" teriak Rosie mengarahkan botol bir pecah itu ke arah wajah lelaki tersebut. Namun tiba-tiba saja tangannya di tangkup oleh telapak tangan besar milik Gerardo. "Cukup!" ucap Gerardo menatap Rosie dengan lekat. "Minggir kau!" teriak Rosie frustasi. "Cukup, Rosie!" ungkap Gerardo sekali lagi. Allio yang melihat Gerardo dari lantai dua segera bergegas menuju Gerardo untuk menjauhkannya dari Rosie. "Aku bilang mingg---" "KALAU KAU INGIN BERURUSAN DENGAN POLISI, TERUSKANLAH!" sela Gerardo melepas pegangannya dari lengan Rosie. Mendengar hal itu ekspresi wajah Rosie melemah.. perlahan-lahan ia menurunkan botol bir pecah itu dari wajah lelaki mabuk tersebut. "Iya. Lakukanlah, kalau kau ingin membusuk di balik jeruji besi itu.. jalang!" lanjut lelaki tersebut beranggapan kalau Gerardo berada di pihak yang sama dengannya. Buuuukkkk!!! (suara pukulan) "Aku tidak sedang membela mu, bodoh!" ucap Gerardo setelah meninju wajah lelaki itu. Gerardo mengambil botol bir pecah itu dari tangan Rosie lalu menghempaskannya di lantai hingga terdengar suara pecahan lagi. "f**k!" umpat lelaki itu saat menyadari hidungnya yang berdarah akibat pukulan Gerardo. "Mau kemana ka----aw! s**t!" teriak lelaki itu saat Allio mendorong tubuhnya hingga terjatuh dan tangannya mengenai pecahan kaca di lantai. Allio menyusul Gerardo yang membawa Rosie keluar dari bar itu. "Lepaskan Aku!" teriak Rosie meronta. Terdengar beberapa kali Rosie meronta hingga akhirnya Gerardo melepaskan cengkramannya saat berhasil keluar dari bar tersebut. Rosie tersungkur di tanah yang menyebabkan lututnya lecet. "Sepertinya Aku salah menganggap mu remeh! Kau sangat liar, Rosie!" ungkap Gerardo. Gerardo terus saja melontarkan perkataannya pada Rosie hingga pandangan Rosie teralih menatap Vanno yang sedang berciuman dengan seorang wanita di sebrang jalan bar tempat bekerjanya. Suasana hati Rosie semakin hancur, setelah hari ini ia meninggalkan Maddie demi Vanno. Ia kehilangan kontrol saat menghadapi pelanggannya, semuanya karena pikirannya yang terus saja terarah pada kekasihnya. Namun yang ia lihat saat ini, Vanno sedang berciuman dengan seorang wanita. Rosie mengabaikan semua perkataan Gerardo, ia berusaha mendapatkan kembali keseimbangan tubuhnya dengan lututnya yang lecet dan berdarah. Gerardo tercekat saar melihat Rosie berlari menyebrang jalan dengan kaki pincang karena terlukanya. "Ah.. s**t!" umpat Gerardo berlari menyusul Rosie menyebrang jalan di mana lampu sedang berwarna hijau. Rosie dengan kaki terlukanya serta sepatunya yang tertinggal di depan bar tempat kerjanya berusaha menyusul Vanno untuk memastikannya. Walaupun dalam hatinya ia berharap itu bukan kekasihnya. Namun tampaknya ini adalah akhir dari segalanya, lelaki yang ia lihat adalah benar Vanno kekasihnya. "Vanno.." sahut Rosie dengan gumpalan air mata yang memenuhi pelupuk matanya. Vanno sangat terkejut melihat Rosie yang tiba-tiba saja muncul dan mendapatinya. "Rosie.." balas Vanno mengakhiri ciumannya. Rosie menatap wanita itu yang tak lain adalah Miya kekasih teman Vanno yang bernama Ethan. "s**t! Kau bersama Miya?" tanya Rosie sembari menyeka air matanya. Gerardo yang berhasil mencapai seberang melihat situasi yang berada di hadapannya. Ia hanya mengamati semuanya sembari mendengar percakapan yang di bicarakan oleh ketiganya. "Miya! Are you serious? Kau kekasih Ethan! Ethan teman dari Vanno kekasih ku! Dan kau tega melak---" "Shut up, Rosie! Aku akan mengakhiri hubungan ku dengan Ethan---" "Lalu kau memulai dengan kekasih ku? apa seperti itu, Miya?!" sela Rosie. "Kekasih mu? Siapa yang kau maksud? Vanno?.." ungkap Miya yang membuat Rosie menatap ke arah Vanno. ".. Aku dan Vanno sepakat setelah pulang akan memutuskan hubungan dengan kekasih masing-masing. Bukan begitu, sayang?" lanjut Miya menatap ke arah Vanno. Gerardo terus menyaksikan semuanya di mana Rosie terlihat sangat menyedihkan. "Apa benar?" tanya Rosie pada Vanno. Vanno menatap wajah kacau Rosie dengan luka pada bagian sudut bibirnya hingga ia beralih pada luka lecet pada lutut Rosie. "Sebaiknya kau mengobati luk---" "Vanno!" sela Miya. "Hm.. iya. Aku rasa hubungan kita tak bisa di teruskan lagi, Rosie.."ungkap Vanno. "Why?" tanya Rosie. "Katakan padanya kalau kau sudah bosan padanya, Vanno. Bukannya itu yang kau katakan pad---" "Miya.. stop!" sela Vanno. "Bosan? Kau bosan dengan ku?!" teriak Rosie frustasi. "Iya. Kau tak pandai bercinta dengan---" "Miya, STOP!" bentak Vanno. Rosie menghela napas kasar menatap wajah Vanno dengan penuh kebencian. "Kau benar-benar layak di sebut sampah, Vanno!" "Aku seperti ini juga karena sikap mu, Ros---" Buuukkk!!! Rosie meninju wajah Vanno hingga membuat Miya terkejut lalu kembali menampar Rosie hingga Rosie kehilangan keseimbangannya dan terjatuh. "Cukup!" sahut Gerardo yang tak dapat lagi melihat semuanya. Vanno serta Miya menatap bingung pada Gerardo yang tiba-tiba saja muncul dan membantu Rosie berdiri. "Siapa kau?" tanya Miya. "Aku tak perlu menjawab pertanyaan dari wanita sampah seperti mu, nona.." balas Gerardo sembari mengangkat tubuh ramping Rosie ke dalam dekapan tubuh atletisnya lalu meninggalkan Vanno dan juga Miya yang masih menatapnya bingung. Gerardo menggendong Rosie kembali menyebrangi jalan di mana Allio sudah sejak tadi juga menunggunya dengan memegangi sepatu Rosie yang tadi tertinggal. Lalu tak lama mobil limousine mewah tadi menghampiri Gerardo yang memasukkan Rosie ke dalam mobil tersebut dan melaju meninggalkan bar serta Vanno dan Miya yang berada di sebrang jalan menatapnya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD