- ROSIE POV -
Aku terus saja mengumpat kesal karena lelaki gila itu. Aku tak tau apa yang telah ku lakukan sehingga bisa bertemu dengan dia. Baru saja Aku ingin membuka pintu rumah ku, Aku di kejutkan oleh Maddie yang tiba-tiba saja keluar lalu histeris menatap ku. Hal itu tentu saja juga membuat ku sangat terkejut.
"Rosie!" teriaknya.
"Oh my god! Kau benar-benar selamat?" lanjutnya sembari memeluk ku.
"Maafkan Aku.. Aku terlalu panik malam itu lalu---"
"It's okay, Maddie" sela ku membalas pelukannya.
Maddie menarik ku masuk ke dalam rumah. Lalu menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada ku.
Aku cukup lama bergelut dengan diri ku untuk memberitahu Maddie apa yang sebenarnya terjadi. Aku teringat wajah menyeramkan lelaki itu saat mengancam ku.
Aku hanya menceritakan sedikit padanya. Harus ku akui, Aku tak bisa menyepelehkan ancaman lelaki gila itu.
"Seseorang menolong ku, lalu membawa ku ke rumahnya dan mengantar ku tadi" jelas ku.
"Oh iya? Apa dia seorang lelaki?"
"Iya.." balas ku singkat.
Aku berusaha menyudahi percakapan ku dan tak ingin terlalu lama membahas soal itu.
"Aku akan membersihkan diri ku" ucap ku sembari berjalan masuk ke dalam kamar ku.
Aku melepas piyama yang menenggelamkan diri ku lalu melemparnya di atas ranjang ku. Namun tiba-tiba saja Aku teringat wajah serta sentuhannya tadi pagi yang membuat jantung ku berdegub hebat.
"Sial! kenapa Aku memikirkan hal itu!" ucap ku.
Di mana yang harus ku akui, sentuhan itu mengingatkan ku pada Vanno yang akhir-akhir ini sangat sulit meluangkan waktunya untuk ku. Bahkan sebelum ke bar saat itu, Aku harus bertengkar lebih dulu padanya.
Aku menjatuhkan diri ku di atas ranjang mengingat hubungan ku dengan Vanno belakangan ini yang tampak berbeda. Aku tak memungkiri kalau sudah lama Aku tak bercinta dengan Vanno, dan saat ini Aku sangat menginginkannya. Tapi, dia juga tak mengabari ku setelah kebakaran dan menanyai kabar ku. Benar-benar sial!
Aku beranjak dari ranjang ku menuju kamar mandi lalu mengguyur seluruh tubuh ku hingga bulir air itu meresap ke dalam tubuh ku. Lalu sentuhan dari lelaki gila itu kembali mengganggu pikiran ku. Sentuhan yang membuat aliran darah ku menjadi panas.
"s**t! menjauh dari pikiran ku!" ucap ku kesal pada pikiran ku sendiri.
Cukup lama Aku bergelut dengan pikiran ku di dalam kamar mandi, di mana bulir air itu terus membasahi kepala ku hingga Aku yang tak tahan untuk mencari keberada Vanno saat ini.
Aku meraih kaos crop top lengan pendek serta celana jeans pendek yang menjadi kesukaan ku.
"Rosie.. kau mau kemana?" teriak Maddie.
"Aku harus mencari Vanno" balas ku.
"Iya. Pergilah dan hantam kepala lelaki pengecut itu!" pinta Maddie.
Mendengar hal itu membuat darah ku semakin mendidih.
"Pinjamkan ponsel mu. Sepertinya ponsel ku terjatuh di bar itu" ucap ku berlari meninggalkan Maddie.
Aku terus menghubungi Vanno lewat ponsel Maddie, namun tak ada jawaban darinya.
Saat ini Aku mendatangi rumah Vanno dan hanya mendapati ibunya saja yang juga tak tau di mana keberadaan putranya. Lalu Aku beralih ke tempat di mana Vanno biasanya menghabiskan waktunya bersama dengan para temannya.
"Mattie, apa kau melihat Vanno?" tanya ku.
"Iya, dia baru saja pergi" balas Mattie.
Mendengar hal itu Aku seketika berlari berharap Aku masih bisa menemukan Vanno dan dugaan ku benar. Aku melihat Vanno yang baru saja menyebrangi jalan. Aku berlari mengejar Vanno hingga Aku berhasil menarik tangannya dan membuat ia berbalik ke arah ku.
"Vanno!" sahut ku dengan napas tersegal-segal.
"Rosie..." balas Vanno lalu memeluk ku.
Namun Aku berusaha melepas pelukannya dan meminta penjelasannya. Namun lagi dan lagi rasanya sangat sulit apabila Aku sudah berhadapan dengannya. Seperti saat ini, hati dan bibir ku yang tak selaras.
"Apa kau tak mencari ku?" tanya ku.
"Maafkan Aku.. maafkan Aku sayang.." balas Vanno kembali memeluk ku.
"Apa Aku tak penting buat mu?"
Vanno mempererat pelukannya lalu melepas ku dan mengecup bibir ku di tepi jalan. Aku berusaha menolak mengingat ia yang tak mencari kabar ku, namun tak ku pungkiri juga kalau Aku sangat merindukan sentuhan darinya. Aku tak bisa mengontrol diri ku saat ini.
Vanno mencium dan sulit bagi ku untuk tak membalasnya. Aku terlalu mencintainya hingga selalu tak dapat menolak apa yang ia lakukan pada ku.
"Maafkan Aku.. Aku akan memperbaiki semua kesalahan ku" ucap Vanno setelah melepas ciuman itu.
Vanno menggenggam tangan ku dan meminta Aku untuk ikut bersamanya.
- AUTHOR POV -
Melihat seorang wanita yang ia kenali berlari menyebrangi jalan di mana lampu lalu lintas yang masih hijau membuat mobil milik Gerardo terhenti atas perintahnya. Gerardo baru saja menyelesaikan pertemuan rahasianya namun tak sengaja mendapati Rosie yang tengah berlari mengejar seorang lelaki di seberang jalan.
Gerardo melihat Rosie dari dalam mobilnya yang tidak jauh dari lokasi Rosie yang saat ini berdiri di hadapan seorang lelaki dengan memegang pergelangan tangannya.
Rahang Gerardo mengeras, tatapan matanya tersulut tajam serta tangannya mengepal di bawah sana melihat Rosie yang tengah berciuman dengan lelaki itu tanpa penolakan, berbeda dengan apa yang Gerardo lakukan pada Rosie yang selalu mendapat sikap sebaliknya.
"Jalan!" pinta Gerardo dengan suara paraunya.
Gerardo memicingkan matanya saat mobilnya berjalan melewati Rosie dan juga Vanno. Suasana hatinya tiba-tiba saja berubah buruk membuat Allio tak dapat mengatakan apa yang tadi ingin ia tanyakan pada Gerardo.
Mobil itu beralih kesebuah gedung yang tak layak pakai dengan beberapa mobil pengikutnya yang sudah berada di sana lebih dulu.
Allio membukakan pintu mobil Gerardo lalu mengekor di belakangnya saat Gerardo berjalan masuk ke dalam gedung tua tersebut.
Terlihat beberapa pengikut Gerardo yang sudah menarim pelatuk senjata yang saat ini berada di tangan masing-masing. Gerardo berjalan dengan santai sembari melirik serta menyisiri setiap sudut gedung tersebut hingga ia berhenti di depan seorang lelaki yang sedang di tawan.
Wajah lelaki itu terlihat sudah lebam setelah Gerardo tiba di sana.
"Aku rasa kalian terlalu keras padanya" ucap Gerardo mengulas senyum menyeramkannya.
Tubuh lelaki itu gemetar hebat. Kedua tangannya di ikat pada kursi yang ia duduki saat ini. Di mana semua yang berada di hadapannya menodongkan pistol ke arahnya.
"Maafkan Aku, Tn. Edmundo.." ucap lelaki itu dengan suara yang bergetar.
"Aku akan memaafkan mu asal kau katakan pada ku siapa yang mengambil berlian ku" bisik Gerardo.
"Aku tidak tau, tuan.. sungguh. Tolong bebaskan Aku.." balas lelaki itu memohon.
"Katakan semuanya selagi Aku menanyai mu dengan lembut.." jelas Gerardo.
".. kau tau? suasana hati ku saat ini sedang buruk dengan apa yang baru saja ku lihat di tengah perjalanan ku menuju ke sini. Dan kau jangan membuatnya semakin buruk. Kau paham maksud ku kan?" lanjut Gerardo mencengkram wajah lebam lelaki tersebut.
"Sungguh, tuan. Aku tidak tau.."
Braaaaakkkk!!!
Gerardo menendang kursi yang di duduki lelaki itu hingga tubuh lelaki itu tersungkur di tanah.
"Katakan!!!!" teriak Gerardo habis kesabaran.
"Katakan pada ku! Sebelum peluru itu menebus jantung mu!" lanjutnya.
Bibir lelaki itu bergetar, di mana ia yang tak memiliki pilihan lain selain untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.
"Berlian itu.."
"Katakan b******k!" teriak Gerardo.
"Berlian itu ada pada Tn. Casio.. ku mohon jangan bunuh Aku.." ungkap lelaki itu dengan air mata ketakutannya.
"Jika sejak tadi kau katakan seperti itu pada ku.. Aku tidak mungkin menyakiti mu, kawan.." ucap Gerardo mengulas senyum.
Gerardo menarik pandangannya dari lelaki itu dengan mata yang berapi-api setelah mengetahui berlian miliknya di rebut oleh Jamie Casio. Lelaki yang juga memiliki pekerjaan yang sama dengannya namun Gerardo memiliki kuasa yang lebih besar darinya.
"Allio! Let's go.. ini akan menjadi hari yang panjang untuk kita" ucap Gerardo berbalik meninggalkan tubuh lelaki itu yang masih terbaring di tanah.
"Lalu dia?"
"Biarkan dia berusaha melepaskan diri di sana. Aku sudah membantunya dengan meninggalkannya di sini" jelas Gerardo.
Gerardo kembali masuk ke dalam mobil di ikuti Allio dan beberapa mobil pengikutnya yang mengekor di belakangnya.
"Kau tau kemana kita akan pergi, kan Lucky?" tanya Gerado pada pengikutnya yang bernama Lucky.
"Yes, sir" balasnya.
Mobil itu melaju menuju Manchester yang memiliki empat jam waktu perjalanan menuju ke sana. Gerardo yang juga tak sabar untuk mengambil kembali miliknya meminta Lucky untuk mempercepat laju mobilnya.
Gerardo menyandarkan punggung lebar sembari memejamkan matanya namun sialnya wajah Rosie serta lelaki tadi yang ia lihat di pinggir jalan kembali terbesit di benaknya. Hal itu membuat Gerardo tiba-tiba saja meninju kursi mobil di sebelahnya. Tentunya itu membuat Allio serta Lucky terkejut.
"Ada apa?" tanya Allio.
"Sial! Kenapa kejadian tadi terus saja memenuhi kepala ku?" keluh Gerardo frustasi.
"Wanita tadi?" tanya Allio memperjelas.
"Iya, dia dan lelaki jelek tadi" balas Gerardo.
"Apa kau jatuh cinta padanya?"
"Mungkin saja" tegas Gerardo dengan sorot matanya yang tajam.
"So.. selesaikan masalah ini dengan cepat, hingga Aku bisa mencari wanita itu saa tiba kembali di Chicago" lanjut Gerardo menyandarkan kembali pundaknya sembari memejamkan matanya. Namun tetap saja kepalan tangan itu masih terbentuk di bawah sana.
Lucky, lelaki yang mengemudikan mobil limousine milik Gerardo mempercepat lajunya menuju Manchester siang ini untuk menemui Tn. Casio.
***
- ROSIE POV -
Aku kembali ke rumah setelah menyelesaikan urusan ku dengan Vanno, di mana Maddie tampak sudah menungu kedatangan ku. Aku menarik gagang pintu rumah ku lalu mendapati Maddie sedang duduk menonton televisi dengan beberapa buah segar yang berada di atas meja.
"Rosie?" sahut Maddie beranjak dari sofanya.
"Ah.. hm, iya.. Maddie" balas ku gugup.
"Bagaimana? Kau sudah menendang b****g kekasih mu?" tanya Maddie bersemangat.
"Hm.. itu, Aku.. Ak--"
"Rosie..? Apa kau kali ini tidak sanggup melakukannya lagi?" sela Maddie.
"Vanno sudah menjelaskan semuanya pada ku, Maddie. Dia menyadari kesalahannya" jelas ku.
"Sudah berapa kali dia menjelaskan serta menyadari kesalahannya? Sudah berapa kali dia meminta maaf pada mu dan kau memaafkannya? Sudah berapa kali, Rosie?!" tegas Maddie menatap ku dengan tatapan kesal.
"Aku tidak ingin kau terlalu mencintainya dan terlihat bodoh di depannya, Rosie! Kau tau? Aku hanya melihat kau yang berjuang dengan hubungan mu. Sedangkan dia? Dia masa bodoh pada mu!" lanjut Maddie yang membuat perasaan ku sedikit tersinggung.
Aku tak dapat menerima perkataan Maddie yang menyinggung perasaan ku meskipun tak ku pungkiri juga kalau apa yang ia katakan memang benar. Aku juga mengakui kalau hanya Aku yang mencintai Vanno, dan Aku juga ragu dengan perasaan Vanno pada ku. Meskipun terkadang Aku berusaha meyakinkan diri ku kalau Vanno juga masih mencintai ku.
Aku meninggalkan Maddie untuk menenangkan diri ku dan menghindari pertengkaran yang mungkin saja terjadi antara Aku dan juga Maddie.
Aku mendengar Maddie yang terus memanggil ku namun ku acuhkan hingga langkah ku berhasil meninggalkan rumah.
Aku meraih rokok yang berada di dalam tas kecil lalu menghisapnya agar pikiran ku kembali tenang. Hari ini benar-benar membuat pikiran ku kacau.
***
- AUTHOR POV -
Lucky berhasil membawa Gerardo dan Allio tiba di Manchester di saat matahari yang perlahan akan tenggelam dan hari akan berganti menjadi malam. Allio menuntun Lucky menuju ke salah satu hotel milik Tn. Casio yang telah ia rebut dari pemilik asli hotel tersebut.
Mobil limousine yang mewah itu berhasil terparkir di basement hotel berbintang milik Tn. Casio. Di mana Gerardo dan beberapa pengikutnya serta Allio yang saat ini sejajar dengannya berjalan masuk ke dalam lift setelah mendapat nomor kamar Tn. Casio dari seorang wanita seksi yang menjadi resepsionis hotel.
Kamar VVIP yang hanya boleh di huni oleh Jamie Casio. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Gerardo berhasil membukanya dengan mendapati Jamie sedang bercinta dengan seorang wanita berambut pirang.
Hal itu membuat Jamie serta wanita tersebut terperanjat dan terkejut melihat Gerardo serta beberapa pengikutnya berdiri di ambang pintu kamar VVIP miliknya.
"s**t! Apa yang kau lakukan Gerardo?!" teriak Jamie kesal.
Wanita itu meringkuk lalu menarik selimut itu untuk membalut dirinya yang saat ini tak mengenakan apapun.
"Kau mau keluar sekarang.. atau menjadi santapan para anak buah ku, sayang?" ucap Gerardo mendekati wanita tersebut lalu memberikan remasan pada bukit kembarnya.
Wanita itu merintih sakit lalu bergegas keluar setelah memakai kembali pakaiannya.
Kepergian wanita itu hanya menyisakan Gerardo, Jamie serta para anak buah Gerardo. Jamie menjadi sangat gugup, di mana ia yang mengetahui maksud kedatangan Gerardo menemuinya, yaitu untuk mengambil berlian yang ia curi dari Gerardo.
"So.. Aku tidak ingin membuang waktu berharga ku, Jamie.. kau cukup kembalikan saja milik ku selagi Aku memintanya dengan cara yang lembut seperti ini" ungkap Gerardo sembari menarik pelatuk senjata yang ia pegang di tangan kanannya.
Jamie menelan salivanya di mana yang ia tau kalau berlian itu berada pada saudaranya. Bibirnya terasa gemetar saat mendapati Gerardo yang menodongkan pistol ke arahnya. Namun ia teringat dengan ucapan Paul yang menyimpan senjata pada sisi kanan nakas miliknya.
Sesuai dengan perkataan saudaranya, Paul. Jamie melihat sebuah pistol melengket pada sisi kanan nakas samping ranjangnya.
"Di mana berlian milik ku, Jamie!" teriak Gerardo.
"Tidak ada pada ku, Gerardo" balas Jamie.
"Berhenti bermain dengan ku dan katakan di mana berlian ku, b******k!" teriak Gerardo hilang kesabaran.
"Aku sudah katakan pada mu, Aku tak memilikinya.. Gerardo!" bentak Jamie.
"s**t! Kau membuat kesalahan besar pada ku!" ungkap Gerardo mengarahkan pistol itu lagi tepat di hadapan Gerardo.
Namun dengan kegesitan yang di miliki Jamie ia berhasil meraih pistol yang berada di samping nakas miliknya lalu mengarahkannya pada Gerardo hingga suara tembakan terdengar dari kamar tersebut.
*****