- AUTHOR POV -
Matahari yang terik berhasil menembus jendela kamar apartement milik Gerardo. Mata besarnya perlahan-lahan terbuka dengan menampakkan sosok Rosie yang masih terlelap di sisi kananya. Gerardo mengulas senyum tipis menatap keindahan paras menggoda Rosie saat terlelap. Tangan besar Gerardo membantu memisahkan helai demi helai rambut Rosie yang mentupi sebagian wajahnya.
Namun sentuhan itu membuat Rosie tersadar dari tidurnya. Mata Rosie seketika terbuka dan mendapati Gerardo begitu dekat pada tubuhnya.
"Menjauh dari ku!" teriak Rosie beringsut menjauh dari Gerardo.
"Tenang, sayang.." pinta Gerardo mempelebar senyumannya.
Aksi Rosie yang saat ini mengenakan piyama kebesaran milik Gerardo membuat dadanya sedikit terekspos di hadapan Gerardo. d**a milik Rosie membuat pagi Gerardo semakin lebih nikmat dari biasanya. Menyadari hal itu Rosie menatap dadanya lalu memperbaiki posisi piyama tersebut.
"Padahal Aku masih ingin melihatnya.." ungkap Gerardo tertawa lalu beranjak dari ranjangnya.
Rosie menarik selimut lalu menutupi dirinya kembali sambil menatap langkah Gerardo.
"Aku ingin pulang!" pinta Rosie.
"Kalau Aku tidak mengijinkan mu pulang, bagaimana? Apa yang akan kau lakukan?"
"Persetan dengan itu! Aku ingin pulang!" ucap Rosie sembari melemparkan bantal ke arah Gerardo dan berhasil mengenai wajahnya.
Aksi itu mendapat amarah dari wajah tegas Gerardo. Rosie sangat terkejut saat Gerardo menaiki ranjang lalu menindih kembali tubuhnya dengan sebuah cengkraman pada leher Rosie.
"Kau selalu saja membuat ku marah, Rosie! Kenapa kau tak pernah bersikap lembut pada ku, ha?!" teriak Gerardo yang membuat Rosie mengepalkan tangannya meremas sprei kamarnya.
Tangan Gerardo mencengkram tengkuk Rosie sembari tangan kirinya yang menyusuri d**a milik Rosie.
"Semakin kau seperti itu, semakin pula Aku yang tidak akan melepaskan mu" tegas Gerardo memberikan remasan tepat pada bukit kembar Rosie.
Rosie merintih sakit saat remasan itu terlalu kuat pada salah satu bukit kembarnya.
Lalu suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Gerardo dan juga Rosie.
Gerardo menarik tubuhnya dari Rosie hingga beranjak keluar kamarnya dan membukakan pintu untuk Allio dan seorang pelayan yang selalu datang untuk membersihkan apartement miliknya.
Rosie yang masih mematuh di atas ranjang mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk keluar dari kamarnya. Lalu ia sangat terkejut saat mengira Gerardo kembali masuk, namun itu hanya seorang pelayan wanita paruh baya yang juga menyapanya dengan begitu ramah.
"Selamat pagi, nona.."
Rosie hanya melemparkan senyuman tipis lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan kamar Gerardo yang siap di bersihkan dengan pelayan tersebut.
Langkah penuh kehati-hatian membuat Rosie melihat punggung lebar Gerardo yang sedang berbicara dengan seorang lelaki yang juga pernah di temui Rosie sebelumnya. Wajah Allio tampak tegang dengan pembahasan yang kini ia bicarakan bersama Gerardo. Rosie hanya mendengar samar, namun rasa penasaran serta keberaniannya membuat langkahnya semakin dekat pada Gerardo dan Allio, hingga ia dapat mendengar semuanya.
"Apa yang kau lakukan selanjutnya pada bar itu?"
"Apa yang harus ku lanjutkan, Allio. Bukannya Aku sudah katakan pada mereka sebelumnya, kalau dia tidak ingin memberikan apa yang ku mau.. maka dia juga tidak boleh memilikinya. Harusnya ia paham dengan ucapan ku saat di restoran kemarin"
"Banyak korban jiwa setelah kebakaran di bar itu, Gerar---"
"Shut up, Allio! Itu tidak penting bagi ku. Aku tidak memperdulikan berapa banyak orang yang mati karena kebakaran itu. Lagi pula orang-orang itu tak ku kenali dan tak berarti apa-apa di kehidupan ku.."
Kaki Rosie terasa lemas saat mendengar semua percakapan mengerikan Gerardo dan juga Allio. Rosie tak menyangka kalau Gerardo yang membuat kebakaran di bar tersebut. Nyalinya semakin menciut untuk melawan Gerardo.
"Lagi pula tidak ada saksi mata kan yang melihat orang kita membakar bar itu?"
Air mata Rosie kini membasahi pipinya dengan tubuhnya yang gemetar. Ia tak menyangka akan bertemu dengan lelaki yang mengerikan seperti Gerardo.
"Iya, tak ada. Tapi, bagaimana dengan wanita yang kau bawa tadi malam? Dia tidak tau apa-apa kan?"
Mendengar hal itu Rosie semakin takut kalau saja Gerardo dan Allio melihatnya yang tengah menguping pembicaraannya. Rosie dengan langkah gegabah berusaha menghindar dari balik tirai namun ia tak sengaja menabrak pelayan tersebut hingga kehadirannya di ketahui oleh Gerardo dan juga Allio.
"Maaf, nona.. " ucap pelayan itu pada Rosie.
Melihat hal itu membuat Gerardo dan juga Allio menuju ke arah Rosie.
"s**t!" umpat Allio.
Allio mencengkram tangan Rosie hingga Rosie merintih kesakitan.
"Aw! Sakit..." ungkap Rosie takut.
"Lepaskan dia, Allio!" tegas Gerardo menatap garang pada Allio.
"Wanita ini sudah mendengar semuanya, Gerardo!" balas Allio semakin mencengkram lengan Rosie.
"Aw!" rintih Rosie sekali lagi.
"Aku bilang lepaskan cengkraman mu, Allio!" tegas Gerardo pada Allio.
Melihat tatapan garang itu membuat Allio menciut dan melonggarkan cengkramannya pada lengan Rosie.
Gerardo menarik tangan lengan Rosie hingga tubuh ringan Rosie menabrak tubuh kokoh Gerardo.
"Aku yang akan mengurus dia, kau tak perlu khawatir. Dia tidak akan mengatakan apapun" jelas Gerardo menatap lekat pada Rosie.
Mendengar hal itu Allio meninggalkan apartement Gerardo sembari mengingatkannya soal perjalanan hari ini.
Kepergian Allio membuat Gerardo mencengkram lengan Rosie lalu menariknya masuk kembali ke dalam kamarnya lalu menghempaskan tubuh Rosie di atas ranjang.
"Apa kau sengaja mendengarnya?" tanya Gerardo.
"Ak--Aku tidak sengaja..." balas Rosie ketakutan.
Gerardo semakin dekat pada Rosie menindih tubuhnya kembali sembari mencengkram tengkuk Rosie dengan tatapan yang begitu tajam. Hingga kedua tangan itu meremas bukit kembar milik Rosie.
"Jangan selalu memaksa ku untuk berbuat kasar pada mu, Rosie.." bisik Gerardo sembari menyesapi pipi hingga dagu Rosie.
Hembusan napas Gerardo membuat bulu kuduk Rosie meremang sembari memejamkan matanya. Namun ia harus mengontrol dirinya.
Gerardo menarik tubuhnya dari Rosie lalu duduk di sofa sambil menatap Rosie yang masih terbaring di atas ranjangnya.
"Aku tidak ingin selalu memperlakukan mu dengan kasar, Rosie.. karena Aku menginginkan mu. Dan kau harus menjadi milik ku" ungkap Gerardo serius.
"Kenapa kau membakar bar itu?"
"Karena lelaki pecundang itu tidak ingin menjualnya pada ku"
"Lalu karena itu kau membakarnya?"
"Iya. Apapun yang tidak bisa menjadi milik ku, maka orang lain siapapun itu juga tidak boleh memilikinya" tegas Gerardo santai.
"Apa kau sadar kalau tindakan mu itu merugikan orang lain? Lalu kau hanya mengatakan alasan konyol dan tak berperasaan itu?" keluh Rosie beranjak dari tempat tidur.
"Aku tidak perduli dengan orang lain, Rosie.. hm.. sepertinya kau belum tau siapa Ak---"
"Aku tidak perlu tau siapa kau! itu tidak penting bagi ku. Dan tentu saja kau tidak akan pernah memiliki ku!" tegas Rosie.
"Aku bilang jangan membuat ku bersikap kasar pada---"
"Berhenti mengancam ku! kalau kau tidak suka dengan sikap ku, kau juga bisa membunuh ku seperti kau merenggut nyawa orang yang tak berdosa di bar itu!" sela Rosie yang semakin membuat Gerardo hilang kesabaran.
"Kau melarang ku meninggalkan apartement mu hanya karena piyama sial ini? Okay! Aku akan tanggalkan di sini dan tak mengenakan apapun keluar dari apartement mu!" lanjut Rosie sembari menanggalkan piyam milik Gerardo.
Kini Rosie hanya beralaskan pakaian dalam saja di hadapan Gerardo setelah ia berhasil menanggalkan piyama milik Gerardo.
"Puas?!" ucap Rosie menatap sinis lalu mengalihkan pandangannya dari Gerardo sambil berjalan keluar dari kamarnya.
Aksi itu membuat Gerardo bangkit dari dudukannya di sofa lalu menarik pergelangan tangan Rosie hingga tubuh Rosie menabrak pintu kamarnya.
"Kau cukup berani juga, sayang..." ungkap Gerardo menyanggah tubuh Rosie di ambang pintu kamarnya.
"Lepaskan Aku!" ronta Rosie.
Gerardo menatap tubuh Rosie yang kini hanya beralaskan pakaian dalam saja sembari menarik senyum tipis di sudut bibirnya.
"Tn. Edmundo?" sahut seorang body guard Gerardo dari ruang tengah apartementnya.
Suara itu membuat pandangan Gerardo dan juga Rosie teralihkan.
"Pakai piyama itu kembali!" pinta Gerardo menarik tubuhnya dari Rosie.
Namun Rosie masih terdiam di ambang pintu tanpa menyentuh piyama itu kembali serta mengabaikan perintah Gerardo.
"Apa kau tidak mendengar ku? Aku katakan pakai piyama itu kembali!" tegas Gerardo dengan tatapan sinisnya.
"Tn. Edmundo?" sahut lelaki itu kembali.
"Tidak! Aku tidak mau! Aku ingin pulang ke rumah ku!" balas Rosie melanjutkan langkahnya namun kembali di tahan oleh Gerardo.
"Pakai itu kembali, atau Aku akan menyetubuhi mu dengan para anak buah ku di luar sana!" ancam Gerardo yang membuat langkah Rosie terhenti lalu menoleh ke arah Gerardo dengan tatapan penuh kebencian.
"Aku akan berteriak sekarang menyuruh mereka masuk ke dalam kamar ku dan melakukannya setelah Aku puas" lanjut Gerardo.
"s**t! Kau benar-benar pria gila yang pernah ku temui!" ungkap Rosie berjalan masuk kembali ke dalam kamar lalu mengenakan piyama milik Gerardo lagi.
"Tn. Gerard---"
Belum sempat boduguardnya menatap masuk ke dalam kamarnya, Gerardo lebih dulu menutup pintunya di mana Rosie yang sedang mengenakan piyamanya.
"Ada apa kau berteriak?"
"Tn. Allio sudah menunggu Anda di basement"
"Iya.. Aku akan turun sekarang" jelas Gerardo membuat lelaki bertubuh tegap itu meninggalkan apartementnya.
Gerardo kembali membuka pintunya dan mendapati Rosie yang baru saja selesai mengenakan kembali piyama miliknya.
"Apa kau puas?"
"Belum, sebelum Aku menyetubuhi mu!" tegas Gerardo berjalan masuk lalu mengenakan kemeja hitam polosnya untuk hari ini.
"Apa kau percaya kalau nanti kau akan meminta Aku melakukan hal itu?" ucap Gerardo sembari mengancing kemeja miliknya.
"Berhenti berbicara konyol! Aku ingin pulang!" balas Rosie.
Gerardo kembali mendekat ke arah Rosie setelah selesai mengancing semua kemejanya. Lalu menagkup wajah Rosie semabari mendekatkan wajahnya hingga hembusan napas itu kembari terasa dari wajah keduanya.
Gerardo hampir saja menggapai bibir Rosie namun Rosie memalingkan wajahnya hingga ciuman itu hanya mengenai pipi Rosie saja.
Gerardo menarik napas panjang sambil mengulas senyum tipis pada Rosie.
"Aku semakin menginginkan mu, sayang..." ucap Gerardo berjalan keluar dari kamarnya.
"Okay.. Aku akan membawa mu pulang.." lanjutnya memperlebar senyumannya.
Mendengar hal itu percaya ataupun tidak namun Rosie berharap kalau apa yang di katakan Gerardo adalah benar. Di mana ia yang akan berpisah dengan Gerardo, pria yang memiliki gangguan kejiwaan bagi Rosie.
Gerardo dan juga Rosie berhasil sampai di basement gedung apartementnya, di mana Allio yang kini sudah menunggunya sejak tadi di depan mobil mewah milik Gerardo. Rosie melirik ke arah Allio yang kini menatap sinis seakan ingin membunuhnya.
"Aku tak sempat lagi menggantikan pakaian mu yang lusuh itu. Sebagai gantinya kau bisa memiliki piyama milik ku" ungkap Gerardo tersenyum menatap Rosie.
Mendengar hal itu Rosie hanya melayangkan tatapan penuh kebenciannya pada Gerardo. Rasanya ia ingin menanggalkan kembali piyama milik Gerardo sebelum meninggalkan mobilnya.
Rosie tercekat saat Gerardo berhasil menurunkannya tepat di depan rumahnya. Di mana yang ia tau kalau Gerardo belum pernah kerumahnya sama sekali. Namun kenapa ia bisa mengetahuinya?
"Jika Aku membutuhkan mu kau harus datang pada ku, sayang.. okay?" bisik Gerardo pada Rosie.
"f**k you!" umpat Rosie sebelum keluar dari mobil Gerardo.
Rosie berlari masuk ke dalam rumahnya dengan piyama milik Gerardo yang sangat menenggelamkan tubuh mungilnya.
Gerardo tertawa puas setelah mendapat umpat kekesalan dari Rosie. Namun hal itu membuat ia semakin menginginkan Rosie.
*****