Urutan Seri SEXY:
1. SEXY ROMANCE (tamat, jadi disarankan baca ini dulu sebelum baca judul selanjutnya.)
2. SEXY MARRIAGE (tamat, jadi disarankan baca ini dulu sebelum baca judul selanjutnya.)
3. SEXY SCANDAL (on going)
4. SEXY LOVE (otw)
**********************************
Bukan dengan Calvin, Fatin, ataupun Axel, Vian Sang Putri Konglomerat Justru Tertangkap Basah Sedang Bersama dengan Pria Ini.
Sudah bukan hal yang aneh lagi melihat bagaimana berita-berita di Indonesia tersiar dengan judul seperti itu. Mereka mengatakan bahwa judul itu dimaksudkan untuk menarik minat pembaca. Namun, percayalah. Tanpa perlu menyebutkan semua nama pria itu, tersangka utama dalam peristiwa memalukan tersebut sudah cukup menarik perhatian semua orang. Adalah dia, Viviany Putri Cakrawinata.
Lebih akrab dengan nama panggilan Vian, ia adalah refleksi dari semua mimpi setiap gadis di muka bumi ini. Terlahir dengan fisik yang cantik jelita, dari keluarga kaya nan terpandang, dan yang paling penting, merupakan anak bungsu yang menjadi kesayangan semua orang. Begitulah Vian. Hingga saking sempurnanya hidup yang ia miliki, untuk urusan pendamping hidup pun ia hanya perlu mengangkat satu jarinya. Menunjuk pada satu dari tiga nama yang telah ditawarkan sang nenek padanya.
Anthonio Calvin.
Fatin Sadewa Dirganthara.
Axel Loka Pradana.
Itu adalah ketiga nama pria yang menjadi kandidat calon suaminya. Mungkin terdengar sedikit menggelikan, namun pada kenyataannya itu yang terjadi pada hidup Vian. Layaknya seperti drama atau film yang kerap mengangkat tema konglomerat maupun orang-orang berdarah biru, kehidupan Vian memang sudah diatur dari kecil. Termasuk untuk urusan jodoh. Hal yang teramat penting bagi orang-orang kalangan mereka. Memastikan bahwa pernikahan itu akan menjadi penguat kejayaan keluarga, adalah salah satu fungsi darinya.
Ironis memang. Tapi, percayalah. Vian sudah tau hal itu yang akan terjadi padanya bahkan sebelum ia sempat merasakan jatuh cinta. Dan lagipula, apa gunanya cinta bila pada akhirnya pernikahannya akan tetap ditentukan?
Mungkin kalau ingin sedikit berpikir positif, Vian bisa saja berharap bahwa ia bisa menikah dengan rasa cinta yang menjadi pengikatnya. Alih-alih perjodohan. Toh, ia bisa becermin pada kakak kandungnya, Andreas Cakrawinata. Pria yang terkenal dengan sifat urakannya itu justru berhasil menghindari perjodohan yang tidak ia inginkan. Lebih dari itu, ia pun menikah dengan wanita yang ia cintai. Seorang wanita yang sangat tepat untuk melengkapinya. Bagaimana? Hebat bukan?
Namun, pada akhirnya Vian menyadari sesuatu. Yaitu dirinya dan Andreas memiliki sifat dan posisi yang jelas berbeda. Secara kasar, ada perbedaan gender yang berperan penting di sini. Walau masyarakat sudah mencanangkan paham persamaan kedudukan pria dan wanita di dalam kehidupan sehari-hari, nyatanya sedikit banyak diskriminasi akan tetap terjadi. Tak pelak lagi, itu pun terjadi pada Vian yang tak bisa menghindari perjodohannya. Lagipula, berbekal kekhawatiran seluruh anggota keluarga akan kesalahan Vian mengambil keputusan mengingat sifatnya yang manja dan tidak rasional, Ningsih sebagai neneknya bersikeras untuk menjodohkannya.
“Oma hanya ingin yang terbaik untuk kamu, Vian. Dan kau tau bukan? Sebagai putri bungsu dan satu-satunya cucu perempuan yang Oma miliki, pasti banyak pria yang akan mendekatimu. Berusaha memanfaatkanmu, Sayang. Dan Oma tidak ingin hal buruk itu terjadi pada dirimu. Kau harus mendapatkan kebahagiaan.”
Vian mengembuskan napas panjang. Tampak menunduk. Membiarkan dirinya menjadi pusat perhatian saat itu. Tau dengan pasti bagaimana Ashmita –ibunya-, Andreas, dan istrinya yang bernama Vlora melihat padanya. Seperti ia adalah terdakwa yang sedang menunggu vonis hukuman mati.
Tentu saja. Bukankah sudah menjadi rahasia umum bahwa menikahi pria yang salah adalah hukuman mati seumur hidup bagi seorang wanita?
Bahkan pernikahan yang mewah nan megah, lalu hidup bergelimang harta, belum tentu menjadi penjamin Vian akan merasa bahagia. Setidaknya, itulah yang sempat ia pelajari dari pernikahan orang tuanya. Pernikahan yang juga terjadi karena perjodohan. Berbeda sekali dengan pernikahan yang dijalani oleh kakaknya. Dan itu lantaran pernikahan tersebut terjadi karena keinginan hati mereka. Sesuatu yang jelas saja membuat Vian menjadi pesimis walau belum menjalaninya.
Menyadari ke mana arah pemikiran cucunya, Ningsih lantas lanjut berkata.
“Oma memang akan menjodohkanmu, tapi setidaknya Oma memberikan kebebasan untukmu memilih dengan siapa kau ingin dijodohkan.”
Perkataan itu sontak membuat Vian mengangkat wajahnya. Tampak tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh neneknya membuat ia bertanya. Dengan kesan ragu-ragu di suaranya yang terdengar merdu.
“Apa maksud Oma?”
Mata Vian melirik dengan sorot bingung. Pada sang kakak yang tampak mengulum senyum geli. Pada kakak iparnya yang juga tersenyum, walau dengan kesan yang berbeda. Pun dengan ibunya yang menyiratkan ekspresi tenang.
Kembali pada Ningsih, retina Vian mendapati wanita yang sudah memasuki usia senjanya itu tampak menarik napas sekilas. Tepat sebelum ia berkata seperti ini.
“Oma akan memberikan kau tiga calon. Kau bisa memilih dari ketiganya untuk kau jadikan sebagai calon suamimu. Sepanjang pengetahuan Oma, mereka bertiga adalah pria yang sama layaknya untukmu. Dan Oma yakin, kau bisa menggunakan pertimbangan emosionalmu untuk memilih. Setidaknya, Oma tau pilihan mana yang akan kau ambil, itu sama baiknya untuk kita semua.”
Pada akhirnya, Vian paham maksud Ningsih. Ningsih memang ingin menjodohkannya, namun ia tetap bisa menentukan pada siapa ia ingin dijodohkan. Memang pilihan Vian terbatas, tapi siapa yang tau pria seperti apa yang ditawarkan Ningsih padanya. Hingga ia pun tak mampu menahan rasa penasarannya.
“Siapa saja mereka, Oma?”
Mengerjapkan matanya sekali, Ningsih menatap lurus pada sepasang bola mata Vian yang bening. Ia menjawab dengan tenang. Layaknya jawabannya itu adalah sesuatu yang pasti akan menyenangkan hati cucunya itu.
“Axel Loka Pradana, Fatin Sadewa Dirganthara, dan ,...”
Dengan teramat sengaja, Ningsih menjeda sejenak ucapannya. Seolah ingin memberikan efek dramatis seperti di drama yang kerap Vian tonton. Untuk kemudian, ia pun melanjutkan perkataannya.
“Anthonio Calvin.”
Mata Vian membesar. Tak percaya dengan apa yang telinganya dengar. Namun, dengan semua senyum simpul di wajah semua orang yang berada di sana? Bagaimana bisa Vian meragukannya?
“Ca-Ca-Calvin, Oma?” tanya Vian berusaha meyakinkan. “Calvin putra Om Herlambang? Anaknya Tante Mardiana?”
Ningsih mengangguk. “Iya, dia orangnya.”
“Oma akan menjodohkanku dengan Calvin?”
Vian kali ini bertanya. Dengan mata yang membesar dan binar-binar yang tak ia sembunyikan. Lebih dari cukup untuk memperlihatkan pada semuanya betapa tak percayanya Vian akan kenyataan itu.
Tak langsung mendapatkan jawaban untuk pertanyaannya, Vian justru mendengar kekehan geli yang berasal dari kakaknya. Andreas tampak merasa lucu. Hingga ia pun menyeletuk seraya geleng-geleng kepala.
“Kau tidak langsung menerima perjodohan ini kan? Ck. Tapi, saranku sebagai kakak, setidaknya berpura-puralah sedikit, Vian. Seolah kau butuh waktu untuk berpikir. Jangan membuat semuanya terlalu mudah seperti ini.”
Celetukan itu tentu saja menarik kekehan geli lainnya untuk turut bergabung dengan miliknya. Dan hal itu membuat suasana yang sempat tegang, mencair dengan teramat alamiah. Pun Vian, tanpa mampu menutup-nutupinya, rela saja membiaskan warna merah merona di sepasang pipinya yang mulus. Tampak tersipu.
Andreas berpaling pada istrinya yang duduk tepat di sebelahnya. “Benar begitu bukan?”
Vlora pun tak mampu menahan geli, hingga turut bicara. “Berpura-pura, jelas jadi hal yang sulit saat ini.”
Selanjutnya, Ashmita yang sedari tadi memilih untuk diam, pada akhirnya bicara pula. Dengan lembut layaknya seorang ibu pada putri bungsu mereka.
“Oma hanya ingin yang terbaik untukmu, Sayang. Jadi, Mama harap kau akan memikirkan ini dengan baik.”
Tak perlu menjawab dengan kata-kata, semua pasti tau bahwa Vian akan memikirkan hal itu dengan baik. Teramat baik malah. Walau pada dasarnya, mereka pun juga tau kalau Vian tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk berpikir. Dari kecengangan alamiahnya tadi ketika bertanya, semuanya jelas. Adalah satu nama yang tampaknya mengungguli dua nama lainnya. Yaitu, Anthonio Calvin.
Calvin adalah nama panggilannya. Memiliki usia yang berselang dua tahun di atas Vian, pria itu adalah satu dari sedikit pria yang ia kenal. Bukan hal yang aneh memang bila pergaulan Vian menjadi pergaulan yang tertutup. Hanya berkisar pada beberapa orang teman dan kenalan yang ia dapatkan dari bangku sekolah ataupun berkat hubungan orang tuanya. Termasuk di dalamnya Calvin.
Mengenal pria itu sedari kecil, Vian dan Calvin selalu bersekolah di tempat yang sama. Walau jelas dengan status yang berbeda. Vian adalah junior, sementara Calvin adalah senior. Dan dari dulu, mungkin semua orang tau bahwa diam-diam Vian selalu mengagumi pria itu.
Maka bukanlah hal yang aneh bila di kamarnya, Vian langsung menjeritkan rasa senangnya di atas bantal. Bermaksud agar tidak ada orang yang bisa mendengar luapan kegembiraannya.
Demi Tuhan.
Apa lagi yang lebih membahagiakan bagi seorang wanita selain dijodohkan dengan pria yang diam-diam ia kagumi? Maka sudah bisa dipastikan, Vian bahkan tidak akan memberikan sedikit pun lirikannya pada dua nama lainnya.
Fatin? Vian ingat benar bahwa pria itu adalah setipe dengan Andreas sebelum kakaknya itu belum menikah. Walau memang Vian tau semua orang bisa berubah dan itu terbukti dengan yang terjadi pada kakaknya, tapi ia tetap saja tidak ingin mengambil risiko. Toh, semua orang tau bahwa Andreas berpetualang tanpa hati. Sementara Fatin selalu menebar janji ke mana-mana hanya untuk mematahkannya kemudian.
Di lain pihak, Vian pun tau bahwa nama Axel layak untuk dipertimbangkan. Pria itu adalah pria yang bertanggungjawab. Tidak hanya dengan perusahaan yang ia pimpin, pun dengan rumah tangganya dulu. Hanya saja nasib pria itu kurang beruntung sehingga pernikahannya kandas lantaran istrinya yang selingkuh. Namun, walau betapa memikatnya Axel, Vian tidak pernah berniat untuk menikah dengan duda. Terutama bila pada akhirnya ia memiliki pilihan yang sangat tepat.
Calvin.
Satu nama yang kemudian menggema terus-menerus di benak Vian. Membuat ia tak sabar untuk menyambut hari pertunangannya. Terlebih lagi hari pernikahannya. Namun, pada akhirnya semua mimpi akan hidup bahagia bersama dengan pria yang ia idam-idamkan lenyap. Sirna. Lantaran satu kejadian menggemparkan yang terjadi pada malam itu. Satu kejadian yang menarik kamera wartawan untuk memetik gambar berulang kali. Hingga berujung pada kehebohan di berita luar dan dalam jaringan.
“Bagaimana bisa, Vian? Ya Tuhan. Mengapa kau melakukan hal seperti itu?”
Vian tersentak di tempat duduknya. Wajahnya yang cantik tampak memucat. Dan ia tak heran bila Ningsih menginterogasinya pagi itu. Tepat setelah seluruh anggota keluarga membaca berita tersebut.
Dan sekarang, Vian tau apa arti hukuman yang sebenarnya. Itu adalah ketika Ningsih kembali berkata.
“Dengan keadaan seperti ini, kau pasti tidak akan bisa menikah dengan Calvin.”
Mata Vian membesar. “Ma-ma-maksud Oma?”
“Tentu saja kau tau apa maksud Oma, Vian,” kata Ningsih tampak kesal. “Jelas kau harus menikah dengan pria yang bersamamu di foto memalukan itu.”
“O-O-Oma,” lirih Vian gagap. “Aku tidak mungkin menikah dengan dia. Aku tidak mungkin menikah dengan ...”
Seketika saja, semua bayangan keindahan dan kebahagiaan yang sempat ia khayalkan sepanjang malam, hilang. Tak berbekas. Impian menikah dengan Calvin, buyar. Tergantikan oleh satu kenyataan yang menakutkan untuk Vian.
“... Aditya Malven Dhanurendra.”
*
bersambung ....
Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.