Dua bulan yang lalu ....
Bertempat di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta Barat, adalah satu pesta amal sedang digelar. Merupakan sebuah kegiatan rutinitas para pengusaha di mana mereka berkomitmen untuk turut menjaga warisan budaya bangsa dan juga kesejahteraan masyarakat secara bersama. The Symphony merupakan tajuk yang diangkat pada malam itu. Diselenggarakan oleh Grup Aksa Nusantara, keluarga Vian sebagai salah satu donatur terpandang dalam acara kemanusiaan tahunan tersebut tentu saja hadir tanpa terkecuali. Dan tentu saja, acara semacam itu tidak pernah menjadi sekadar pesta amal biasa. Selalu ada tujuan lain yang menyertainya. Termasuk bila itu menyangkut seorang cucu konglomerat yang masih melajang.
Andreas tersenyum. Tangannya terangkat demi memberikan satu lambaian pada seorang wanita cantik di seberang ruangan sana. Tentu saja Vlora. Istrinya itu tampak duduk dengan nyaman bersama dengan Ashmita dan juga Ningsih. Membalas dengan senyuman yang serupa.
“Apa kau ingin bergabung dengan Kak Vlora, Kak?”
Suara Vian di sebelahnya menarik perhatian Andreas. Terlihat satu dengkusan geli ia berikan sebagai respon dari pertanyaan itu.
“Dan membiarkanmu berkeliling seorang diri seperti seorang gadis yang tak memiliki wali? Ehm ... tidak mungkin, Vian.”
Vian tersenyum sopan pada seorang wanita paruh baya yang kebetulan berpapasan dengan mereka di saat mengelilingi pesta itu. Hingga kemudian, ketika dirasa cukup aman, Vian kembali berkata.
“Aku tidak menyangka bahwa berperan sebagai waliku adalah hal yang menyenangkan untukmu, Kak. Kupikir kau tidak menyukai mengemban tanggung jawab seperti ini.”
“Kau tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang aku suka, Vian. Hanya istriku yang tau.”
Vian spontan tergelak. Hingga matanya menyipit dengan tangan yang melayang. Memberikan satu pukulan tak berarti di tangan Andreas yang membimbingnya.
“Tapi, percayalah,” kata Andreas geli. “Itu adalah sifat alamiah seorang pria. Terutama karena aku sudah memiliki istri dan seorang bayi yang tengah ia kandung.”
Vian mengangkat wajahnya. Melihat keseriusan di wajah kakaknya yang jarang sekali ia dapatkan.
“Aku hanya ingin semua wanita di sekelilingku mendapatkan perlindungan yang semestinya.”
“Kau terkadang memang bisa semanis itu, Kak,” hela Vian. “Aku tak heran bila melihat Kak Vlora cinta mati padamu.”
Andreas terkekeh. “Begitulah seharusnya suami istri. Cinta hingga mati.”
Vian tau itu. Dan ia bersyukur dengan kebahagiaan yang sekarang didapatkan oleh kakak dan juga kakak iparnya. Karena jelas, mereka berdua membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa berada di titik saat ini. Bisa kembali tersenyum dengan lebar, melangkah dengan kaki yang kuat, serta menatap ke depan dengan punggung yang tegak. Tidak mudah mengingat bagaimana tragedi mengerikan pernah menimpa keluarga mereka.
Berpikir cepat di benaknya, Vian mengira sudah nyaris setahun berlalu dari kejadian yang membuat keluarganya pecah. Orang tuanya bercerai dan saudara beda ibunya dipenjara. Sekarang, Vian diam-diam mengetahui bagaimana kehidupan ayah dan istri mudanya itu dalam keadaan yang tidak baik. Hal yang kemudian meyakinkan Vian bahwa setiap pernikahan memang akan memberikan takdirnya masing-masing. Bisa saja pernikahannya akan seperti pernikahan orang tuanya yang diwarnai air mata atau justru seperti pernikahan kakaknya yang selalu dihiasi canda tawa.
Mengetahui bahwa mungkin perkataannya membuat sang adik berpikir, Andreas lantas mengelus sekilas tangan Vian. Berusaha untuk menenangkannya.
“Tak perlu terlalu khawatir,” kata Andreas kemudian. “Setidaknya Oma memberikanmu pilihan di sini. Dan sejauh yang aku lihat, hanya Fatin yang mungkin tidak layak untukmu.”
Andreas mengatakan itu tepat beberapa langkah sebelum ia dan Vian menghampiri tamu undangan lainnya. Dan itu tentu saja adalah Fatin. Seorang pria yang baru saja dibicarakan oleh mereka.
Tampak tampan mengenakan satu tuksedo bewarna perak, cowok yang memiliki kulit putih bersih itu memang memesona. Terutama dengan ditunjang oleh tubuh yang tinggi dan berat yang proporsional, Fatin bisa dikatakan sebagai salah satu undangan yang mudah untuk ditemukan.
“Selamat malam, Reas,” sapa Fatin. Lalu ia berpaling pada Vian. “Halo, Vian.”
Andreas menyaksikan dalam diam interaksi yang terjadi pada dua anak manusia itu. Vian dengan tenang memberikan satu senyuman anggun. Pun matanya tampak mengerjap dalam irama kesopanan yang telah terlatih.
“Halo, Fatin. Kau sendirian?”
Fatin menggeleng. “Aku bersama ayahku. Tapi, sekarang aku bahkan tidak tau di mana ayahku berada.”
Lantas percakapan ringan pun terjadi di antara mereka bertiga. Walau jelas sekali, ketika Andreas turun dalam pembicaraan itu, maka topik pun dengan segera berubah. Dari yang hanya membahas soal cuaca, mendadak menjadi nilai saham. Namun, layaknya cucu konglomerat yang pintar, sesekali Vian bergabung pula.
Hingga kemudian pembicaraan itu berakhir, mereka pun berpisah. Andreas kembali membawa Vian berkeliling. Dan ketika itulah Vian menyeletuk dengan nada kesal di suara.
“Fatin itu pembohong. Aku melihatnya dengan jelas, dengan mata kepalaku sendiri, ia datang bersama dengan seorang wanita.”
Andreas terkekeh. Tampak geli mendengar rutukan itu. Dan yang ia dapatkan adalah rutukan selanjutnya.
“Aku hanya berharap agar tidak ada wanita yang sakit hati karena ulahmu dulu, Kak. Sumpah! Aku tidak ingin menjadi tumbal untuk karma yang harus kau dapatkan.”
Tentu saja, kekehan Andreas semakin menjadi-jadi. Hingga membuat ia terbatuk-batuk untuk beberapa saat lamanya. Sementara itu, di lain pihak, Vian justru mengerutkan dahinya. Matanya tampak memutar ke sekeliling, seperti tengah menilai apakah memungkinkan dirinya untuk melayangkan satu pertanyaan yang lumayan sensitif pada kakaknya itu.
“Mengapa Oma memasukkannya ke dalam daftar pilihan jodohku?”
Lagi-lagi Andreas terkekeh. Dan penyebabnya kali ini karena mendengar istilah yang digunakan Vian. Namun, ia tak urung menjawab pula pertanyaan itu.
“Tentu saja karena Om Cahyono,” jawab Andreas. “Fatin itu adalah keponakan Om Cahyono. Walau Oma tidak terlalu akrab dengan orang tua Fatin, namun Oma menghormati Om Cahyono. Kau tau sendiri bahwa ia termasuk pemegang saham terbanyak di Progun. Tapi, setidaknya Om Cahyono tau bahwa keputusan bulat tetap berada di tanganmu. Kau bebas untuk menolaknya.”
Vian mengembuskan napas leganya. “Aku tak tau kalau Fatin itu masih keponakan Om Cahyono. Sifat mereka berdua sangat bertolakbelakang.”
Kedua bahu Andreas naik sekilas. “Sementara Axel ...,” katanya kemudian seraya melayangkan pandangan pada pria lainnya yang berdiri di seberang ruangan. “... bagaimana?”
Pria yang menjadi topik pembicaraan Andreas dan Vian kali ini tampak sedang berbincang-bincang dengan putra tunggal pemilik grup Aksa Nusantara yang didampingi pula oleh sekretarisnya. Mereka terlihat serius. Dan oleh karena itu, dengan bijak Andreas mengajak Vian untuk menunggu sejenak. Tidak sopan bila mereka menyela pembicaraan itu.
Selagi menunggu, Vian mendapati pertanyaan Andreas kali ini lumayan membuat otaknya berpikir.
“Ehm ... sejujurnya dia termasuk ke dalam golongan pria yang patut untuk diperhitungkan.”
Andreas menyeringai dan matanya melirik penuh arti. “Kita lihat, apa dia memang benar-benar patut untuk diperhitungkan atau tidak.”
Di waktu yang tepat, Andreas membawa Vian untuk menghampiri ketiga orang itu yang kebetulan sedang tertawa. Yang mana kedatangan mereka tentunya langsung mendapat sambutan yang hangat.
“Selamat malam, Reas. Vian.”
Andreas melepaskan tangan Vian. Menerima jabat tangan yang hangat dari pria yang bisa dibilang tuan rumah acara itu.
“Selamat malam, Satria,” balasnya dan berpindah untuk menjabat pada sekretarisnya. “Eri.”
Sekretaris cantik itu tersenyum. “Selamat malam, Pak.”
Hingga pada akhirnya keadaan memaksa Satria dan Eriana untuk menyapa undangan yang lainnya, Andreas mendapati Axel berkata pada Vian.
“Maaf, seharusnya aku yang menemuimu. Ehm ... bagaimana kabarmu?”
Setidaknya itu adalah hal yang menarik perhatian Andreas. Karena ketika mereka berpisah, pria itu berbisik pada Vian.
“Kalau ada hal yang bagus ketika menikahi seorang duda, maka itu pastilah karena duda telah berpengalaman.”
Mata Vian memberikan lirikan tajam yang dibalas kekehan geli Andreas.
“Maksudku, duda tau bagaimana cara bersikap pada pasangannya. Seharusnya, mereka tidak lagi egois. Sudah dewasa dan paham seni rumah tangga agar tidak mengalami kegagalan untuk yang kedua kalinya.”
Vian mengembuskan napasnya. Mau tak mau menyetujui perkataan Andreas. Cenderung membenarkannya malah.
“Terutama karena dia tetap berusaha mempertahankan pernikahannya walau mantan istrinya telah menyelingkuhinya.”
Andreas mengangguk. Untuk hal yang satu itu, ia tak memberikan komentar apa pun. Bukan sok bijak, hanya Andreas merasa tak nyaman membicarakan keburukan rumah tangga orang lain. Toh, keluarganya juga bukan keluarga yang bersih dari permasalahan.
Kembali melangkahkan kaki, lalu Vian merasakan sedikit pegal di lututnya yang membuat ia terpikir sesuatu.
“Tapi, mengenai perjodohan ini,” kata Vian kemudian. “Apa tidak lebih baik bila seharusnya aku duduk manis saja di meja bersama dengan yang lain? Ketimbang aku harus berkeliling seperti ini demi mencari mereka?”
Andreas melirik. Mendapati ekspresi bingung di wajah cantik adiknya itu. Dan juga letih. Maka dari itu, Andreas pun mengajak Vian untuk menepi sejenak. Sekadar untuk menikmati segelas minuman.
“Bukankah dengan seperti ini justru memperlihatkan pada orang-orang bahwa aku seperti wanita yang mengejar-ngejar pria?”
“Ck. Kau ini,” decak Andreas seraya geleng-geleng kepala. “Percaya padaku, Vian. Kita melakukan ini bukan untuk mempermalukan dirimu. Alih-alih, sebaliknya.”
Tak mengerti, Vian mengerutkan dahinya. “Maksudmu, Kak?”
Dengan satu seringai nakal yang tersungging di bibirnya, Andreas menarik napas dalam-dalam sejenak. Tampak ada sorot geli di matanya itu. Hal yang membuat Vian rasanya tidak sabar untuk mengetahui maksud kakaknya itu.
“Aku pria, Vian. Dan aku tau cara mainnya di sini,” lanjut Andreas kemudian. “Dengan ini, kita akan tau. Pria mana yang berusaha mendapatkanmu dan mana yang tidak.”
Mata Vian mengerjap. Mencoba mencerna perkataan itu baik-baik. Hingga Andreas lanjut berkata.
“Pria tidak seharusnya membuat wanitanya menunggu. Alih-alih sebaliknya.”
Dan Vian baru akan menanyakan sesuatu, ketika justru dilihatnya bagaimana bola mata Andreas bergerak. Seperti memberikan isyarat agar dirinya melihat pada arah yang ia inginkan. Pada seorang cowok yang tampak berusaha menyelinap di antara kerumbunan para undangan. Berbalut tuksedo bewarna hitam, mengenakan satu dasi kupu-kupu, dan ditopang sepasang sepatu kulit yang mengilap, ia tampak begitu mencolok dari yang lainnya.
“Selamat malam, Reas.” kata pria itu dengan napas yang sedikit tersengal. Lalu berpaling pada Vian. “Akhirnya aku menemukanmu, Vian,”
Andreas tersenyum miring. Melirik pada adiknya yang melihat pada pria itu dengan tatapan lurus.
“Calvin.”
Dan pria itu, Calvin, setidaknya membuktikan perkataan Andreas beberapa detik yang lalu. Hingga mau tak mau, Vian pun tersenyum dengan satu pemikiran manis di benaknya.
Memang ....
Seharusnya prialah yang menghampiri wanita ....
*
bersambung ....
Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.