Tak butuh waktu lama untuk Andreas turut campur dalam interaksi yang terjadi di antara adik dan salah satu calon jodohnya itu. Pada akhirnya, sebagai seorang kakak yang pengertian –atau mungkin karena ia juga sudah merasa perlu untuk segera kembali bersama istri tercintanya-, Andreas pun menarik diri. Membiarkan sepasang muda-mudi itu untuk menghabiskan beberapa saat kebersamaan mereka sebelum pesta amal tersebut berakhir.
Tak langsung terjun dalam percakapan, nyatanya Vian dan Calvin mengekori kepergian Andreas dengan tatapan mata mereka. Mengamati dari kejauhan bagaimana Andreas yang tampak luwes melangkah di antara beberapa tamu undangan hingga pada akhirnya ia tiba di meja tempat istri dan keluarganya berada. Andreas tampak menyapa ibu dan juga neneknya, sebelum pada akhirnya menghampiri Vlora. Memberikan satu kecupan di pelipisnya sebelum duduk di sebelahnya.
“Mereka pasangan yang sangat romantis.”
Sedetik kemudian, suara Calvin terdengar memberikan komentarnya. Membuat Vian menoleh. Dan satu senyuman manis tersungging di wajahnya. Gadis itu tentu saja tidak menampik perkataan Calvin. Alih-alih justru menambahkan.
“Sangat.”
Menarik napas sekilas, Calvin tampak mengubah sedikit posisinya. Mengambil sudut yang tepat untuk bisa menatap mata Vian dengan lebih pas. Dan ia bertanya.
“Jadi, bagaimana kabarmu? Kita sudah lama tidak bertemu. Terakhir kali ....”
Calvin tampak tak yakin. Dan karena itulah ucapannya sedikit menggantung. Mendorong Vian untuk langsung menyambungnya.
“Saat perpisahaan SMA.”
Mata Calvin tampak membesar. “Selama itu?” tanyanya tak percaya. “Benarkah?”
“Kurasa,” kata Vian seraya mengangkat kedua bahunya sekilas. “Sudah lama sekali memang. Mengingat kau melanjutkan kuliahmu di Inggris.”
Calvin tampak mengangguk sekali. Merenung sekilas dan menyadari kebenaran itu. “Sepertinya kita tidak bertemu lebih lama dari dugaanku sebelumnya.”
Pria yang berusia dua tahun lebih tua ketimbang Vian itu tampak menyesap sejenak minuman di tangannya. Dengan wajahnya yang tampak cenderung terangkat, pandangan matanya terlihat seperti menerawang. Layaknya ia yang tengah melihat sesuatu yang tak bisa dilihat oleh orang lain.
“Karena jelas sekali,” lanjut Calvin kemudian. “Kau sekarang memang banyak berubah kalau aku perhatikan lebih saksama.”
Pandangan Calvin tampak turun kembali. Kali ini melihat Vian dengan sorot yang membuat gadis itu menjadi salah tingkah. Hingga tanpa sadar mendorong Vian untuk mengerjapkan matanya beberapa kali.
Wajah Calvin tampak lembut, terutama ketika ia tersenyum dengan tulus. “Kau sekarang terlihat lebih dewasa. Lebih cantik. Dan tentunya ... lebih anggun.”
Vian mendehem sekilas. Rasanya gelas yang sedang ia pegang tampak bergetar. Wah! Ia perlu menarik napas dalam-dalam demi menenangkan dirinya lantaran pujian yang tak ia perkirakan sebelumnya. Lebih dari itu, berusaha untuk tetap berdiri tegak sekarang merupakan hal yang sedikit sulit untuk gadis itu.
“Oh,” lirih Vian berusaha untuk tersenyum santai. “Terima kasih untuk pujiannya. Yang sebenarnya ... tidak banyak orang yang mengatakan aku adalah gadis yang anggun.”
Vian menutup perkataannya dengan kekehan sekilas. Yang ajaibnya terlihat begitu natural. Karena kalau ada satu pelajaran penting yang akan selalu Vian ingat selama hidupnya, itu pasti adalah kenyataan bahwa hidup orang-orang kaya cenderung berpura-pura. Termasuk di dalamnya sedikit menambahkan bumbu sandiwara akan kekehan geli yang sebenarnya hanya ia gunakan demi menutupi rasa gugup yang mendadak menghampirinya. Dan sepertinya, usaha Vian berhasil. Itu terbukti dari respon Calvin yang sejurus kemudian turut memberikan kekehannya.
“Sungguh? Gadis sepertimu?” Calvin tampak mengerutkan dahinya. “Kurasa memang banyak orang-orang yang indra penglihatannya terganggu belakangan ini.”
Oh, tentu saja. Vian tidak mengantisipasi bahwa Calvin justru akan memanfaatkan candaannya menjadi pujian terselubung selanjutnya. Hingga wajar saja bila pada akhirnya Vian semakin tak mampu menahan senyum senangnya untuk merekah lebih lebar lagi.
Dan tentu saja, kenyataan itu sedikit mengherankan untuk Vian. Karena jelas, untuk kategori orang yang sudah lama tidak bertemu, Vian telah mengira-ngira di benaknya, akan menjadi seperti apa pertemuan pertama dirinya dan Calvin. Mengingat tentunya pertemuan mereka disebabkan oleh satu kepentingan lainnya. Tentu saja, Calvin pun mengetahui dengan pasti bahwa dirinya menarik minat Ningsih yang sedang sibuk mencarikan pasangan yang tepat untuk cucu bungsunya itu.
Sekarang, terlepas dari kepentingan itu, Vian menyadari bahwa pertemuannya dengan Calvin adalah pertemuan yang menyenangkan. Ia yang semula mengira bahwa suasana di antara mereka berdua akan canggung justru mendapati bagaimana kata demi kata mengalir dengan teramat luwes selama percakapan mereka berlangsung. Tak ada malu-malu ataupun kesan kaku. Mereka persis seperti dua orang teman yang sedang bersendau gurau. Membicarakan banyak hal yang terasa mengembirakan keduanya.
“Aku memutuskan untuk tidak bekerja.”
Vian mengatakan itu pada satu momen yang tepat. Ketika Calvin menanyakan tentang kesibukan yang gadis itu lakukan belakangan ini. Dan Vian mendapati bagaimana tak ada sorot mencemooh di mata Calvin. Alih-alih, ia justru tampak tertarik.
“Tidak bekerja di luar, kukira bukan berarti kau tidak melakukan apa-apa bukan?” tanyanya menebak. “Siapa pun tau bahwa kau adalah gadis yang tak bisa diam, Vian. Kau aktif dan suka melakukan banyak hal.”
Vian buru-buru mengangkat tangannya. Berusaha menutupi mulutnya ketika tawanya kembali tak mampu ia tahan.
“Begitukah aku di matamu?”
Calvin tampak tersenyum geli. “Sepertinya begitu,” jawabnya santai. “Jadi, katakan padaku. Apa yang kau lakukan?”
Dibutuhkan beberapa detik lamanya untuk Vian menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan ia mengembuskannya.
“Aku memilih untuk mengurus yayasan sosial Cakra,” kata Vian kemudian. “Mengurusi panti asuhan dan badan perlindungan anak dan wanita. Walau tentu saja, aku masih dibantu oleh Mama.”
Calvin menatap Vian dengan mata yang berbinar-binar. Tampak memberikan satu gelengan bentuk ketakjuban. Gelas di tangannya terangkat.
“Kau benar-benar wanita sosialita yang sejati.”
Vian tersipu. Namun, tak menolak pujian itu. Alih-alih ia turut mengangkat gelas di tangannya. Menyentuhkan benda itu sekilas dengan milik Calvin. Tepat sebelum mereka berdua menegak isinya.
“Sementara kau?” tanya Vian kemudian. “Kudengar kau mendirikan perusahaanmu sendiri.”
Calvin tampak mengernyit. Lalu ia terkekeh. “Berita memang cepat menyebar luas,” desahnya.
“Jadi, benar?”
“Ehm ... tidak terlalu benar. Tapi, tidak salah juga.”
Dahi Vian mengerut, tampak tidak mengerti. “Maksudmu?”
Tak langsung menjawab pertanyaan itu, Calvin tampak seperti tengah berpikir sejenak. Hingga membuat Vian merasa tak nyaman. Mengira bahwa pertanyaan yang ia lontarkan telah melewati batas. Mungkin saja itu sudah tergolong memasuki ranah pribadi Calvin. Hal yang tak seharusnya ia singgung.
Maka dari itu, Vian mengambil tindakannya. Mengucapkan maafnya.
“Maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mencari tau atau---”
“Oh, tidak, Vian, tidak sama sekali,” potong Calvin cepat. Dengan tanggap pria itu bisa memperkirakan ke mana arah pikiran Vian bermuara. “Ini bukan hal yang penting. Hanya saja aku sedang memikirkan sesuatu.”
“Sesuatu?” tanya Vian refleks. “Apa?”
“Kau ingat sahabatku bukan?”
“Sahabatmu?”
“Malven,” jawab Calvin kemudian. “Bersama dengannya aku menjalani perusahaan ini.”
Vian terdiam. Tampak wajahnya yang sedikit berubah ekspresinya. Walau hal itu samar sekali dan Calvin tak menyadarinya. Terlebih ketika Vian justru mengembuskan napas panjangnya. Tepat ketika Calvin kembali lanjut bicara.
“Sebenarnya ini adalah perusahaan Malven. Dia mengajakku untuk mengembangkannya. Dan aku pikir, selagi kami masih muda, mengapa tidak kami lakukan? Benar kan?”
Kali ini, Vian hanya memberikan tanggapan berupa satu senyuman tipis. Berusaha sekuat tenaga agar Calvin tidak merasakan perubahan pada dirinya yang jelas merasa tidak suka ketika percakapan mereka menyangkut nama pria yang satu itu.
Malven? Tentu saja. Mungkin waktu berlalu memang sudah terlalu lama hingga Calvin melupakan fakta bahwa sahabatnya itu memiliki hubungan yang buruk dengan Vian. Tidak sedikit orang-orang tau dengan pasti ketidaksukaan Vian terhadap pria yang menjadi teman akrab Calvin.
Beberapa orang menganggap ketidaksukaan Vian terhadap Malven adalah hal yang aneh. Bahkan beberapa orang wanita dengan jelas mengatakan bahwa Malven adalah tipe pria dambaan mereka. Hal yang tentu saja membuat Vian membolakan matanya. Karena menyadari bahwa memang banyak wanita yang lebih menyukai pria yang dingin dan tidak berperasaan seperti Malven. Tapi, bagi Vian? Sekali tindakan tidak menyenangkan itu Malven lakukan padanya, maka sampai sekarang ia tetap tidak menyukainya.
Hanya saja, tidak ingin menyinggung Calvin yang tampak antusias bercerita tentang perusahaan baru mereka, Vian pun berusaha untuk menjaga sikapnya. Tetap tersenyum ramah dan berupaya agar tetap tenang hingga Calvin mencukupkan ceritanya.
“Satu hari nanti, bila kau senggang, bagaimana kalau kau mampir ke kantor kami? Itu pasti akan menyenangkan.”
Ah, tentu saja itu adalah ide yang buruk untuk Vian. Namun, lagi-lagi ia bersikap dengan sopan. Layaknya ia yang telah dididik seperti itu selama ini.
“Kalau tidak merepotkan.”
Calvin mengibaskan satu tangannya sekilas di depan wajah. “Tentu saja tidak akan merepotkan. Atau kalau kau tidak percaya, bagaimana kalau kita tanyakan langsung pada dirutnya?”
Mata Vian membesar. Mendadak saja rasa takut menjalari tubuhnya. Membuat ia gemetaran dengan satu kemungkinan itu.
Jangan katakan.
Jangan katakan kalau ....
Calvin mengangkat satu tangannya. Seiring dengan matanya yang menuju pada titik lain ke seberang sana. Berkata tanpa suara, Vian bisa melihat nama yang bergerak di bibir Calvin.
“Malven.”
Vian merasakan bagaimana sebulir keringat mendadak timbul di pelipisnya. Mengalir dan membasahi wajahnya dalam satu garis yang mulus. Dan seiring dengan detik yang berlalu, Vian merasa udara di sekitarnya tiba-tiba menipis. Nyaris membuat ia kesulitan bernapas.
Sejurus kemudian, Calvin tampak beranjak sedikit. Menyambut kedatangan seorang pria. Memberikan satu pelukan tanda persahabatan. Lantas mengurai pelukan itu demi menyadarkan Vian yang hanyut dalam akal pikirannya sendiri.
“Vian.”
Vian tergugu. Refleks membuat ia menoleh dan seketika tatapannya beradu pada mata gelap pria itu. Tampak tajam dan terkesan tanpa emosi di sana. Dan lantas, pria itu terdengar menyapa dirinya.
“Selamat malam, Vian.”
Suara itu terdengar berat. Juga dalam. Dengan sedikit serak di sela-selanya. Membuat Vian nyaris tak mampu bersuara ketika berusaha untuk membalasnya.
“Selamat malam juga,” lirih Vian. “Malven.”
*
bersambung ....
Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.