4. Pembicaraan

1697 Words
Vian berusaha untuk menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk tetap tenang ketika kehadiran Malven menerbitkan rasa tidak nyaman padanya. Tapi, seolah tak ada apa-apa yang terjadi, Vian justru mendapati bagaimana Calvin yang justru bersikap sebaliknya. Pria itu justru tampak begitu senang ketika Malven mendatangi mereka berdua. Membiarkan dua pria itu untuk berbicara mengenai pekerjaan mereka, Vian menyadari bahwa ia mendadak saja seperti terasing dari dunia para lelaki. Membuat rasa tak nyaman itu perlahan berubah menjadi rasa letih di kedua lututnya. Tapi, mengingat etika kesopanan, Vian berusaha untuk bertahan. Alih-alih beranjak di tengah-tengah percakapan di mana sedikit sekali ia turut andil di sana, Vian memilih untuk menukar gelasnya yang kosong. Menyesap kembali isinya dan sedetik kemudian ia mendapati suara berat itu menukas padanya. “Sepertinya kau kehausan.” Vian tergugu. Bola matanya langsung membesar dalam keterkejutan lantaran tak mengira bahwa dirinya diperhatikan. Tapi, ia dengan cepat menguasai dirinya. Alih-alih tampak gemetar, ia justru tersenyum ramah. “Tidak banyak yang bisa wanita lakukan ketika ada dua orang pria yang sedang berbicara soal pekerjaan mereka.” Calvin tertawa. “Maaf. Bukan maksudku, Vian, untuk mengabaikanmu.” “Aku tau,” kata Vian cepat dengan ekspresi santai. “Tapi, aku yakin ini waktu yang tepat untukku kembali pada keluargaku.” Mata Vian melirik ke seberang ruangan. “Kurasa Oma akan segera pulang sebentar lagi.” “Oh, Tuhan,” desis Calvin. “Aku lupa untuk menyapa Omamu.” Dan itu membuat ia berpaling pada Malven. “Keberatan bila aku mengantar Vian sebentar?” Malven menggeleng singkat. “Itulah yang seharusnya kau lakukan. Aku akan menunggu di sini.” Calvin memanggil seorang pelayan. Membiarkan Vian menaruh gelasnya terlebih dahulu di nampan tersebut sebelum ia mengulurkan tangan kirinya. Turut meletakkan gelas miliknya pula yang telah kosong di sana. Sepeninggal pelayan, Calvin beralih pada Malven. “Terima kasih.” Calvin memberikan satu tepukan pelan di punggung Malven. Lantas beralih pada Vian demi meraih satu tangan gadis itu. Mengistirahatkannya di satu tangannya, bersikap dengan sopan layaknya seorang pria yang terdidik dari kecil. Dan membawa Vian berjalan di sisinya. Meninggalkan Malven yang menghabiskan sisa minuman di gelasnya dalam satu kali tegukan, dengan mata yang tak lepas dari Vian. Mungkin menghabiskan waktu sekitar lima belas menit untuk Calvin terjun dalam percakapan santai keluarga Vian. Membicarakan beberapa hal remeh tanpa lupa untuk sekadar menanyakan kesehatan Ningsih. Dan untuk selanjutnya, pria itu pun beranjak. Kembali pada sahabatnya yang menunggu. Sementara keluarga Cakrawinata, mengingat bahwa hanya ada Andreas pria di sana, ia pun memutuskan untuk pulang lebih awal. Ada Ningsih yang sudah terlalu tua untuk berlama-lama di pesta dan ada Vlora yang jelas tidak boleh kelelahan selama masa kehamilannya. Walaupun datang dalam bentuk satu keluarga yang bahagia, nyatanya kepulangan mereka terpisah oleh kendaraan masing-masing. Untuk Vian sendiri, ia harus menyiapkan diri lantaran selama perjalanan, dirinya berdua saja dengan Ashmita. Sang ibu yang jelas bisa memerhatikan kedekatannya malam itu dengan Calvin. “Kurasa memang seharusnya Oma tidak perlu bersusah payah memberikanmu waktu untuk berpikir.” Ashmita membuka percakapan ketika mobil yang membawa mereka sudah meluncur di jalanan. Dengan kaca penyekat yang memisahkan mereka dengan sopir, ia pun merasa nyaman untuk membicarakan hal pribadi itu pada putrinya. Ia tampak berpaling dengan satu senyum lembut di wajahnya. “Kau jelas sekali tertarik pada Calvin.” Vian merasa tak perlu untuk menahan senyumnya yang turut merekah. Menarik napas sekilas, ia pun lantas berkata. “Aku sudah mengenal Calvin sejak lama, Ma. Dan kupikir tak ada satu alasan pun mengapa aku tidak memilihnya.” Ashmita mengangguk sekali. “Ya. Calvin jelas adalah pria yang baik. Setidaknya hingga saat ini.” Dahi Vian mengerut. Tampak merasa bingung dengan perkataan Ashmita hingga ibunya itu terkekeh sekilas seraya mengibaskan satu tangannya di depan wajah. “Jangan pikirkan omongan Mama,” kata Ashmita kemudian. “Mama rasa pengalaman tidak menyenangkan dalam rumah tangga membuat Mama memiliki kecenderungan bahwa semua pria bisa berubah.” Oh, tentu saja. Walau Vian tidak merasakannya, dirinya pernah mendengar beberapa cerita orang terdahulu mengenai kehidupan rumah tangga orang tuanya. Ashmita sangat mencintai suaminya, Birawa. Dan begitu pula sebaliknya. Hingga kemudian pernikahan mereka diuji dengan kehadiran anak yang tak kunjung datang. Menghadirkan ombak yang membuat ayahnya berpaling pada wanita lain. Vian meraih tangan Asmita, menimangnya sejenak dan lantas tersenyum. “Aku sayang Mama.” Ucapan yang amat tulus. Hingga membuat seberkas kesedihan yang sempat hadir di mata Ashmita, menghilang dalam hitungan detik yang teramat cepat. Dan alih-alih semakin hanyut dalam percakapan melankolis itu, Ashmita justru bercanda dengan hal lainnya. “Tapi, setidaknya Andreas membuktikan bahwa terkadang perubahan adalah hal yang bagus.” Untuk hal itu, Vian sama sekali tidak menampiknya. Ia mengangguk seraya terkekeh sekilas. Dan kemudian, ia mendapati Ashmita yang lanjut bertanya. “Jadi, apa kau akan benar-benar memilih Calvin?” Tak menjawab pertanyaan dengan kata-kata, Vian hanya memulas senyumnya. Dengan satu kedipan mata yang terlihat begitu berirama, Ashmita sepenuhnya tau bahwa pertanyaannya benar-benar tidak membutuhkan jawaban. Ashmita menghela napas panjang. “Setidaknya Mama bisa bernapas lega karena pada akhirnya kau akan menikah. Calvin tentu saja adalah pria yang baik. Tidak ada orang yang meragukan itu.” Membicarakan beberapa topik lainnya, beberapa saat kemudian Ashmita teringat sesuatu yang menarik perhatiannya selama pesta amal itu berlangsung. “Tadi kalau Mama tidak salah melihat,” kata Ashmita melanjutkan percakapan mereka. “Apakah Malven yang bersama denganmu dan juga Calvin?” Ah, ternyata Mama melihatnya. Vian mengangguk. “Yang kutau Calvin sedang membantu Malven untuk mengembangkan perusahannya. Dan mereka membicarakan beberapa hal yang tidak kumengerti.” “Oh, begitu.” Ashmita tampak manggut-manggut. Tampak berpikir sejenak. “Tentu saja Malven butuh seseorang untuk membantunya. Hidup tanpa benar-benar memiliki sesuatu atas nama dirinya, menuntut dia setidaknya memiliki seseorang yang bisa dia percaya.” Untuk hal itu, Vian tidak memberikan komentar apa pun. Hanya diam, terus mendengarkan perkataan Ashmita selanjutnya. “Tapi, anak itu lumayan beruntung. Setidaknya dia memiliki orang tua Calvin yang bersedia merawat dan membesarkannya seperti anak sendiri. Ya ... Mama pikir semua orang akan menyukai pria pekerja keras seperti Malven.” Sejurus kemudian, Ashmita menghentikan topik mengenai Malven. Alih-alih terus membicarakan seseorang yang tidak berkepentingan dengan mereka, wanita paruh baya itu justru tertarik untuk menanyakan hal lainnya pada Vian. “Jadi, bagaimana menurutmu?” tanya Ashmita kemudian. “Apa pesta ulang tahunmu yang kedua puluh lima nanti bisa kita ubah menjadi pesta pertunanganmu pula? Sepertinya itu ide yang bagus.” Topik yang tentu saja teramat tiba-tiba untuk Vian. Hingga matanya membesar dan ekspresi syok langsung tercetak di wajahnya yang cantik. “Se-se-secepat itu, Ma?” Vian tak mampu menyembunyikan gagap di suaranya. Lebih dari itu, ia pun butuh beberapa detik untuk menarik napas dalam-dalam. Sungguh! Ia tak mengira bahwa perjalanan pulang itu akan menjadi lebih mengejutkan dari yang ia bayangkan sebelumnya. “Bagi seorang wanita, tak ada waktu yang terlalu cepat untuk bersama dengan pria yang ia cintai. Bukankah begitu?” Oh, tentu saja. Vian tau pasti dengan hal itu. “Tapi,” lirih Vian tak yakin. “Aku dan Calvin baru bertemu lagi setelah beberapa tahun. Apa tidak sebaiknya kami dekat kembali secara perlahan?” Ashmita merenungkan pendapat Vian. “Kau benar.” Setidaknya Vian bisa menarik napas lega sekarang. “Dan kurasa itu juga tidak terlalu bagus untuk Fatin dan Axel, Ma. Bagaimanapun juga, aku tidak ingin memberikan kesan bahwa aku sama sekali tidak mempertimbangkan mereka.” Sebenarnya, bertunangan di hari ulang tahun mungkin adalah ide yang terdengar menarik. Terutama untuk Vian. Hanya saja, ia tetap berusaha untuk berpikir dengan bijak –salah satu hal yang sudah ditanamkan sejak kecil padanya layaknya anak-anak pengusaha lainnya. Melakukan tindakan yang bisa menyinggung keluarga besar Fatin ataupun Axel jelas tidak ingin Vian lakukan. Karena begitulah sistem kerjanya hidup di kalangan mereka. Ashmita takjub dengan pemikiran Vian. Terkesan dewasa, hal yang tentu saja jarang melekat pada putrinya yang terkenal dengan sifat manjanya itu. “Setelah pesta ulang tahunmu?” tanya Ashmita kemudian. “Mengingat pesta ulang tahunmu dua bulan lagi, Mama pikir itu waktu yang cukup untukmu melakukan pendekatan pura-pura dengan Fatin dan Axel. Jadi, walaupun kau belum bisa langsung bertunangan dengan Calvin di hari ulang tahunmu, setidaknya kita bisa memperkenalkan pada khalayak ramai tentang hubungan kalian berdua.” Untuk pendapat Ashmita yang satu itu, tentu saja Vian tak butuh waktu lama untuk berpikir. Ia dengan yakin langsung menjawab dengan satu kata yang pasti. “Ya.” * Vian tak menyangka bahwa perjodohan dan pernikahan menjadi hal yang menyenangkan untuk dirinya. Tak perlu dipungkiri bahwa dua hal itu bisa menjadi mimpi buruk setiap wanita yang tidak bisa menentukan sendiri jalan hidupnya. Tapi, lihatlah sekarang. Keluarganya dengan penuh kedewasaan memberikan pilihan yang amat sangat disyukuri oleh gadis itu. Berbicara mengenai perjodohan, sepertinya Ningsih pun tidak butuh waktu lama untuk segera menghubungi keluarga pria yang terpilih. Sedikit pendekatan yang dilakukan Vian dengan ala kadarnya pada ketiga orang calonnya tampak tidak memberikan perbedaan yang signifikan. Karena kalaupun ada yang berbeda, maka itu pastilah antusiasme Vian yang makin hari makin bertambah. Layaknya ia yang tidak sabaran untuk menikah dalam waktu dekat. Hingga pada akhirnya hari itu pun tiba. Di mana keluarga Cakrawinata akan menggelar pesta ulang tahun Vian yang kedua puluh lima. Dengan amat meriah. Di salah satu hotel ternama di Jakarta. Dengan mengundang banyak orang penting di dalamnya. Vian yang tampil cantik malam itu, dengan teramat senang membayangkan akan seperti apa pesta ulang tahunnya berlangsung. Penuh canda dan tawa. Dengan disempurnakan oleh kehadiran pria yang ia idam-idamkan selama ini. Tapi, semua bayangan itu buyar. Tergantikan oleh satu mimpi buruk yang ingin ia enyahkan. Tepat ketika Vian menyaksikan sesuatu yang tak seharusnya ia saksikan. Pada waktu dan tempat yang salah, Vian menyadari bahwa hidupnya tak akan sama lagi. * bersambung .... Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD