Tak akan ada mata yang mampu berpaling dari Vian. Sang tokoh utama dalam pesta ulang tahun yang diselenggarakan di Fullman Batavia Park itu memang menyihir semua orang yang memandangnya. Dengan penampilannya yang amat menakjubkan, tentunya.
Mengenakan satu gaun panjang hasil karya perancang busana ternama, Vian tampil begitu menonjol dengan warna merah. Tanpa banyak ornamen di gaun itu, tentu saja potongan tanpa pundaknya menjadi salah satu daya tarik yang bisa disangkal. Dengan sedikit lengan gaun yang bertahan di tubuh Vian, dipercantik oleh kesan duyung di bagian bawahnya, dan ditutup oleh satu belahan tinggi yang memamerkan kemulusan kulit sang pemiliknya hingga di atas paha.
Rambut Vian ditata dengan amat apik. Hingga memamerkan jenjang lehernya yang dilingkari oleh seuntai kalung berlian yang harganya tentu saja sangat fantastis. Dan semuanya, disempurnakan oleh kehadiran sepatu setinggi sembilan sentimeter bewarna senada dengan gaunnya, yang menopang indah kaki sang gadis.
Tepuk tangan terdengar. Menyambut kedatangan Vian yang didampingi oleh keluarga besarnya. Dengan merangkul Ashmita, ia berjalan menuju pada tempat yang sudah disediakan untuk dirinya. Ia tampak mengedarkan pandangan matanya berkeliling. Pada beberapa tamu undangan yang sudah hadir memeriahkan pesta ulang tahunnya yang kedua puluh lima tahun.
Hingga kemudian, tatapan mata Vian berhenti. Itu adalah ketika ia beradu pandang dengan Calvin. Pria yang tampak begitu menyejukkan hati Vian dengan jas bewarna keperakan yang ia kenakan. Ia berdiri. Bertepuk tangan. Dan tersenyum dengan amat tulus pada Vian. Membuat gadis itu tersipu tatkala menyadari betapa tampan dan teduhnya pria itu.
Memutuskan untuk tidak membuat para undangan lainnya berspekulasi dengan tatapan yang terlalu lama, Vian pada akhirnya kembali memindahkan fokus matanya. Namun, mata selanjutnya yang ia tatap justru membuat ia tanpa sadar kembali berhenti di sana. Bahkan kali ini, tak hanya tatapannya yang tertahan, melainkan juga dengan napasnya.
Di sana, tepat di sebelah Calvin berdiri, adalah sosok Malven yang tampak menatap padanya dengan sorot tajam seperti biasanya. Dengan sepasang mata elang nan gelap, tanpa kedip ia melayangkan tatapan lurus pada Vian. Ekspresi wajahnya tak terbaca. Terlihat datar. Tanpa ada senyum ataupun hal lain yang bisa mengindikasikan pada Vian, apa yang ada di benaknya.
“Vian ....”
Vian mengerjapkan matanya. Tersadar ketika Ashmita menyentuh sedikit tangannya dan memanggil pelan namanya. Membuat ia melepaskan Malven dari tatapannya. Lantas beralih pada sang ibu.
Pesta dimulai. Dari kata sambutan penuh sayang dari Ashmita dan diikuti oleh serangkaian acara lainnya yang tidak benar-benar menarik perhatian Vian. Bahkan sekalipun itu ketika lagu ucapan selamat ulang tahun dinyanyikan beramai-ramai.
“Kau memikirkanku.”
Tanpa ada angin, tanpa ada hujan, Vian merasa tubuhnya gemetar langsung. Tatkala ia yang baru saja akan menikmati sesapannya pada segelas minuman, mendengar suara berat itu di telinganya. Terkesan berbisik. Tapi, demi Tuhan! Tak pernah ada bisikan yang terdengar sedalam itu. Tak pernah ada hingga Malven melakukannya.
Vian sontak membalikkan tubuh. Mendapati Malven yang tampak santai meraih satu gelas minuman dan menikmatinya dalam tegukan yang tak seberapa. Dengan mata yang tak tertuju pada Vian, tapi entah mengapa sang gadis justru merasa bagai sebaliknya. Layaknya ia yang merasakan jantungnya terhunjam oleh sorot tajam tak kasat mata.
“A-apa kau bilang?”
Nah, kali ini barulah Vian menyadari dari kebenaran itu. Ketika pertanyaannya yang terdengar gagap berhasil menarik perhatian Malven. Membuat sang pria membawa tatapannya untuk menahan tatapan Vian. Dan Vian tercekat. Oleh sensasi yang terasa dingin di seluruh tubuhnya.
Mengerjapkan matanya sekali, itu terbukti tidak mengurangi tajamnya sorot yang Malven layangkan pada Vian. Bahkan lebih dari itu, justru membuat Vian tanpa sadar mempertahankan tatapannya pada sang jejaka. Untuk beberapa detik yang berjalan dengan teramat lamban terasa.
Nyaris setinggi seratus sembilan puluh sentimeter, Malven memiliki tubuh yang besar layaknya tubuh seorang petarung. Tampak besar dan juga penuh aura dominansi. Terutama dengan kehadiran cambang yang tak pernah alpa menghiasi sepanjang garis rahangnya. Malven jelas adalah jelmaan pria yang tak ingin wanita temui ketika tersesat seorang diri di gang sempit dan gelap. Menakutkan. Begitulah ia di mata Vian.
Sekarang, setidaknya Vian bisa bernapas sedikit lega mengingat bahwa saat itu ia berada di pesta ulang tahunnya. Alih-alih gang sempit dan gelap.
“Aku mengatakan bahwa kau memikirkanku.”
Layaknya pertanyaan Vian adalah hal yang memang membutuhkan jawaban, Malven pun mengulang perkataannya. Hanya untuk mendapati bahwa Vian meneguk ludah karenanya. Dan gadis itu menarik napas dalam-dalam. Merasa tidak ada gunanya ia meladeni pembicaraan dengan Malven.
Namun, mata Malven bukan hanya tajam. Melainkan terlalu cepat tanggap pada semua yang terjadi di sekitarnya. Bahkan ketika itu menyangkut dengan niatan Vian untuk beranjak dari sana.
“Apa kau masih memikirkan soal ciuman pertamamu?”
Karena untuk setiap wanita, ciuman pertama selalu menjadi harta yang paling berharga. Tidak peduli siapa pun dia. Termasuk di dalamnya adalah Vian. Sang gadis manja yang selalu bermimpi tentang pangeran tampan berkuda putih.
Vian mendengkus. Berusaha untuk tidak terintimidasi ketika ia mengangkat tinggi-tinggi dagunya. Memasang tameng dan membalas perkataan Malven dengan ketenangan yang tidak bisa diandalkan.
“Jangan katakan bahwa kau masih memikirkan soal itu, Malven. Karena kalau iya, kau mengecewakanku.”
Dahi Malven berkerut. Nyaris mempertemukan kedua alis matanya yang berambut tebal dan hitam. Sungguh merupakan naungan yang sangat padu untuk sepasang mata elang itu.
“Kau mengingat soal kecelakaan itu seperti pria yang tak pernah berciuman saja.”
Malven mungkin akan mengatakan sesuatu. Kata-kata yang dibutuhkan oleh seorang pria untuk mempertahankan harga dirinya bila itu menyangkut soal hal yang intim. Karena jelas, tak seharusnya pria dipandang dengan predikat yang melankolis. Namun, Vian sudah benar-benar beranjak. Meninggalkan dirinya dan langsung berbaur dengan para undangan lainnya.
Nyatanya, melarikan diri dari Malven bukan hal yang benar-benar mendamaikan perasaan Vian. Bagaimanapun juga, ia tak menampik bahwa pembicaraan singkat yang terjadi antara mereka tadi membuat ingatan yang Vian coba kubur, terbuka kembali. Peristiwa yang dianggap Vian sebagai kecelakaan. Walau ia tak pasti, dengan predikat apa Malven menyimpan peristiwa itu.
Kecelakaan pula? Sama seperti dirinya?
Atau justru ... kenangan?
Berlama-lama larut dalam pesta, Vian menyadari bahwa kehidupan glamor seperti itu terkadang memberikan rasa bosan padanya. Kemewahan dan senyum palsu, terkadang adalah ornamen yang tak bisa dipisahkan darinya. Dan itu menghadirkan lelah untuk sang cucu konglomerat.
Vian tau. Hidup dalam posisi dirinya membuat ia bisa mendapatkan semua kenikmatan dunia. Orang-orang tunduk dan menghormatinya. Tapi, ia tau. Dari semua itu, hanya segelintir yang benar-benar tulus padanya. Kebanyakan justru sebaliknya. Hanya mencari muka demi mempertahankan hubungan baik yang berguna untuk kejayaan masing-masing.
Terlahir dari keluarga terpandang, Vian bahkan tau bahwa kehidupan yang ia miliki tidak benar-benar menjadi miliknya. Ada banyak tangan yang turut campur. Begitupun dengan banyak pendapat yang turut menjadi pemeriah. Dan di antara, tentu saja mengenai pendamping hidup.
Vian menyukai Calvin. Siapa pun tau itu. Bahkan karena itulah mengapa Ningsih mengatur takdirnya agar mampu berjodoh dengan pria itu. Tapi, mungkin kalau Vian bisa memilih. Ia ingin bersama dengan Calvin layaknya pasangan lainnya. Tanpa ada perjodohan ataupun segala macam. Walau tetap saja, pemikiran itu kemudian melintas di benaknya.
Memangnya siapa yang peduli dengan jalannya?
Bukankah yang terpenting aku akan menikah dengan Calvin?
Hanya saja masalahnya, Vian adalah sang gadis yang tumbuh akrab bersama dengan dongeng putri dan pangerannya. Karena lantas, ia pun bertanya-tanya.
Seperti apa perasaan Calvin padanya?
Apa benar-benar ada cinta di sana?
Atau hanya ada kepentingan belaka?
Sekarang Vian menyadari bahwa masalah pendamping hidup dan perjodohan, tidak pernah menjadi hal yang enteng. Karena sekali lagi. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia memang ingin hidup bersama dengan pria yang ia cintai. Namun, di atas segalanya, tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang wanita dibandingkan hidup bersama dengan pria yang mencintainya.
Lantas ... apakah pernikahannya dengan Calvin akan menjadi pernikahan yang saling mencintai?
Memikirkan hal tersebut, Vian merasa perlu mengetahui perasaan Calvin padanya. Persetan dengan etika dan tata krama yang masih memandang sebelah mata terhadap keberanian wanita ketika bertanya soal perasaan. Vian butuh kejelasan. Karena kalau perasaan itu hanya akan menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan, maka Vian akan berbesar hati.
Vian mengirimkan pesan pada Calvin. Mengajak pria itu untuk bertemu dan berbicara sejenak. Berdua saja. Tanpa ada orang ketiga yang ikut terlibat di antara keduanya. Di satu balkon yang membuka. Dengan ditemani oleh langit malam dan juga dingin angin yang berembus.
Melayangkan pandangannya ke seberang sana, retina mata Vian dipenuhi oleh pemandangan bintang yang bertaburan. Tampak cantik dan damai sekali. Nyaris berhasil membuat Vian lupa sedang berada di mana dirinya saat itu.
Lalu derap langkah itu terdengar. Halus dan samar. Pertanda bahwa ada seseorang yang menghampirinya.
Dan Vian tertegun. Merasakan bagaimana jantungnya yang sedari tadi berdetak dalam degupan yang normal, mendadak langsung terpacu. Seperti dirinya yang tengah berada di lintasan lari. Menggebu.
Hingga angin kembali bertiup. Membawa aroma maskulin yang langsung menyapa indra penciuman Vian. Menghadirkan ketegangan yang membuat ia langsung berbalik. Hanya untuk membolakan mata dengan ekspresi syok. Tak percaya ketika mendapati bukannya Calvin yang mendatanginya. Alih-alih justru Malven.
“Kau lagi ....”
Vian tak mengerti mengapa Malven mendatanginya. Hanya saja yang pasti, ia tidak ingin Calvin melihat dirinya berdua saja dengan pria itu. Sekalipun mereka berdua adalah sahabat.
“Tunggu.”
Vian beranjak. Langsung memutuskan untuk melangkah demi meninggalkan tempat itu. Ketika ia mendapati bagaimana sikunya dicekal tanpa cela oleh Malven. Membuat langkah kakinya terhenti seketika. Dan ketika ia akan melayangkan keberatannya akan sentuhan tanpa izin itu, Vian justru mendapati Malven yang bertanya padanya.
“Seperti itukah selama ini kau mengingat peristiwa itu? Kecelakaan?”
Bola mata Vian berputar dengan gerakan malas. Sekali. Hingga ia membuang napas dengan ekspresi kesal.
“Itu terjadi di saat kita masih remaja,” kata Vian pada akhirnya. “Aku bahkan tidak sadar saat itu bahwa kau menciumku. Lantas harus dengan kata apa aku mengingatnya? Selain kecelakaan?”
Karena Vian ingat benar bagaimana hari itu terjadi. Di kala ia yang mendatangi kelas Calvin demi bertemu dengan sang pria idaman, justru menemukan Malven di sana. Tiduran di kursi dan pandangan Vian terhalang. Mendorong Vian untuk sedikit mengerjainya. Hingga semuanya terjadi dengan begitu cepat dan Vian mendapati bagaimana wajah mereka berada dalam jarak yang tak seberapa. Kaget mengetahui bahwa pria itu bukanlah Calvin, tidak sekaget rasa panik Vian saat menyadari Malven yang bergerak spontan tanpa sengaja mencium bibirnya.
Itu jelas bukan kenangan ciuman pertama yang ingin Vian miliki. Namun, semua telah terjadi. Menghadirkan rasa kesal yang terpupuk hingga gadis itu selalu memiliki emosi negatif saat berdekatan dengan Malven. Maka tidak menjadi hal yang aneh bila pada akhirnya Vian selalu berusaha menjaga jarak dari pria itu.
“Kecelakaan? Ehm ... bagaimana kalau sebaliknya?”
Suara Malven berhasil menarik Vian keluar dari kenangan masa lalu. Sial! Tapi, bagaimana bisa Vian melupakan hal itu?
“Apa maksudmu?”
Tak langsung menjawab pertanyaan itu, Malven justru melayangkan tatapan tajamnya pada Vian. Menjeda waktu untuk beberapa saat. Demi menghadirkan ketegangan yang membuat sang gadis meneguk ludah dalam penantian harap-harap cemas. Hingga kemudian, Vian merasakannya. Tangan Malven di sikunya bergerak. Membawa dirinya dalam tarikan yang tak mampu ia elak. Hanya untuk mendaratkan kedua tangannya di atas d**a Malven yang keras. Bidang. Terasa begitu kuat.
Lantas, tanpa peringatan, wajah Malven menunduk. Mendaratkan satu sentuhan di bibir Vian.
*
bersambung ....
Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.