Ada banyak alasan mengapa berciuman dengan Malven adalah ide yang buruk. Namun, dari semuanya adalah kenyataan bahwa Vian akan menikah dengan sahabat dari pria itu. Bagaimana bisa mereka berciuman? Dan lagipula, apakah mereka lupa di mana mereka berada saat itu? Di pesta ulang tahun yang tentu saja akan ada banyak mata yang bisa melihat mereka.
Dan untuk itulah, sedikit otak Vian berusaha untuk mengingatkan si empunya. Bahwa ia seharusnya langsung menarik diri. Tepat ketika Malven menundukkan wajahnya, semestinya Vian segera mengambil tindakannya. Mengelak atau melakukan hal lainnya yang bisa mencegah sentuhan itu tercipta.
Namun, di sinilah Vian berada. Dengan kewarasan yang tidak mampu untuk dibanggakan. Karena alih-alih memperingatkan, yang terjadi justru sebaliknya. Ia justru seperti menonaktifkan diri. Seolah menyadari bahwa di saat itu, pikiran bukanlah hal yang perlu untuk dipertahankan.
Karena jangankan untuk beranjak dari sana, Vian justru melakukan hal yang sebaliknya. Tanpa sadar, memejamkan mata dan merasakan dengan jelas bagaimana cambang Malven menggesek halus kulitnya. Tepat ketika ia mengangkat wajah. Membuka bibir. Dan membiarkan lidah sang pria untuk menyusup masuk ke dalam mulutnya!
Hingga kemudian, satu remasan yang Vian terima di bokongnya, seperti memberikan sengatan yang menyentak kesadaran sang gadis. Membuat matanya seketika membuka nyalang. Hanya untuk mendapati bagaimana Malven yang memejam mata. Terkesan seperti pria itu yang amat menikmati ciuman yang ia labuhkan pada bibir Vian.
Vian sadar. Dengan langsung, tanpa aba-aba sama sekali mendorong d**a Malven. Mengabaikan kesan kuat dan bidang yang tersentuh oleh sensor sarafnya, gadis itu memutus ciuman di antara keduanya.
“K-k-kau ...,” lirih Vian terbata. “Berani-beraninya kau ....”
Namun, jelas berbeda dengan Vian, Malven justru bereaksi dengan begitu alaminya. Tampak kaget, seperti tidak terima dengan interupsi yang harus ia dapatkan.
“Kau juga menikmatinya, Vian. Untuk apa menghindar?”
Mata Vian membesar. Buru-buru mengambil langkah mundur untuk menciptakan jarak. Ia tidak tau, entah Malven yang harus ia takuti atau justru kemungkinan yang pria itu katakan yang ingin ia hindari.
Sial!
Vian menikmatinya?
Menarik napas dalam-dalam, Vian lantas menggigit bibir bawahnya. Tapi, sungguh! Mengapa saat itu ia justru teringat bagaimana rasa Malven yang tertinggal di sana.
“Kau tau?” tanya Vian kemudian dengan wajah memerah. “Aku akan menikah. Aku akan segera menikah dengan Calvin. Dan tak seharusnya kau menciumku!”
Ada seberkas kekagetan yang melintas di manik Malven. Jelas, pria itu terkejut dengan pemberitahuan yang Vian katakan padanya. Hal yang mau tak mau membuat gadis itu memejamkan matanya dengan dramatis. Tau dengan pasti bahwa tak seharusnya ia memberitakan soal perjodohannya dengan situasi yang seperti ini.
“Kau akan menikah dengan Calvin?”
Vian membuka mata. “Mengapa kau terkejut? Bukankah seharusnya kau sudah bisa meraba keadaan? Bahwa aku mencintai dia?”
Karena nyaris menjadi rahasia umum, semua orang rasa-rasanya tau betapa Vian mengagumi Calvin selama ini. Walau sepertinya, ada pengecualian di sini.
Malven menyeringai. Tampak menggeleng sekali. “Katakan itu dengan serius, Vian. Setidaknya dengan keadaan di mana bibirmu tidak membengkak lantaran baru selesai berciuman dengan pria lain.”
Sialan!
Namun, sepertinya Malven memiliki kecenderungan mampu membuat Vian tak mampu berkata-kata. Entah itu dengan perkataannya maupun dengan perbuatannya.
“Sudahlah!” tukas Vian seraya menghempaskan satu tangannya ke udara. “Jangan pernah menganggap bahwa kecelakaan kita dulu adalah hal yang istimewa. Tidak.” Vian menggeleng. “Itu hanya kecelakaan yang tak perlu kita ungkit lagi. Dan kumohon, enyah dari hidupku!”
“Yang pertama mungkin kecelakaan. Tapi, bagaimana dengan yang kedua?”
Lagi!
Vian hanya bisa diam seraya menggigit bibir bawahnya. Tentu saja, arogansi itu adalah sifat asli yang tak akan terpisahkan dari Malven. Bahkan kalau ingin semakin mempermalukan dirinya, Vian bisa merasakan ada sorot mengejek di tatapan Malven yang ia terima saat itu.
Merasa tak ada gunanya ia berlama-lama di sana, ditambah lagi dengan kenyataan Vian tidak ingin tertangkap basah oleh orang lain ketika berdua saja dengan Malven, ia pun memutuskan untuk beranjak. Memilih untuk tidak mengatakan apa-apa lagi. Bahkan ketika Malven berkata tepat ketika ia melintasi pria itu.
“Periksa wajahmu pulang nanti. Aku khawatir ada guratan luka yang mungkin saja tertinggal. Lain kali, aku akan memastikan untuk bercukur.”
Bahkan di dalam mimpi paling buruk sekalipun, Vian tidak pernah mengira bahwa dirinya akan dipermalukan di pesta ulang tahunnya sendiri. Ironis sekali.
Masuk kembali ke pesta, Vian merutuki Calvin yang belum juga mendatanginya. Membuat ia mengecek sejenak ponselnya. Hanya untuk mengetahui bahwa pesannya belum dibaca oleh pria itu.
Karena jelas. Bila tadi Calvin langsung mendatanginya, maka tidak akan ada insiden yang kedua bersama dengan Malven!
Dan sekarang, entah di mana Calvin berada!
Berniat untuk kembali menghubungi Calvin, Vian justru mendapati seorang wanita cantik yang berjalan menuju dirinya. Ingin menampik bahwa bukan ia yang dituju pun rasanya percuma. Karena ketika jarak mereka tinggal tak seberapa lagi, Vian jelas-jelas mendengar namanya disebut.
“Halo, Vian.”
Vian tersenyum. Berusaha untuk bersikap sopan walau pada saat itu bercakap-cakap dengan tamu undangan jelas bukan hal ia inginkan. Emosinya masih terganggu berkat Malven.
Hanya saja, demi menjunjung tinggi sopan santun dan keramahan tuan rumah, mau tak mau Vian menyambut uluran tangan itu. Pun menerima pelukan singkat dan ciuman di pipi kanan dan kirinya dengan kesan yang bersahabat itu.
“Halo, Sonya,” balas Vian. “Kuharap kau menikmati pestanya.”
Pelukan persahabatan itu terurai. Kembali menciptakan jarak yang mampu digunakan oleh Vian untuk sekilas mengamati penampilan wanita cantik itu.
Terkenal lantaran profesinya sebagai seorang model kenamaan, tentu saja Vian mengenal Sonya sejak lama. Walau tidak bisa dikatakan akrab, setidaknya mereka memiliki hubungan yang cukup erat. Setidaknya hubungan itu mampu menghadirkan Sonya di pesta ulang tahunnya. Mengingat, tentu saja tidak sembarang orang bisa diundang dalam pesta cucu sang konglomerat.
Sonya tersenyum ramah. “Tentu saja. Ini pesta yang meriah,” katanya kemudian. “Selamat ulang tahun.”
“Terima kasih.”
Dan kala itu, kehadiran Sonya mau tak mau membuat pikiran Vian yang tertuju pada Calvin, teralihkan. Alih-alih mencari keberadaan pria itu, tanpa sadar ia justru terlibat percakapan dengan sang model. Wanita cantik yang sempat pula dikabarkan menjalin hubungan dengan para pria kaya. Yang tentu saja, juga diundang di pesta itu.
“Aku menantikan acara penting dalam pesta ini. Kau tau?” Sonya tampak memutar gelasnya dengan irama yang teratur, hanya untuk memberikan riak lembut isi di dalamnya. “Semua orang bertanya-tanya tentang siapa pria yang beruntung yang bisa mendapatkan hatimu.”
Vian tersenyum samar. “Aku tidak tau kalau ada orang-orang yang kurang kerjaan hingga menantikan berita siapa jodohku.”
“Ehm ... kau cucu orang terpandang. Tentu saja semua hal yang berkaitan denganmu tidak pernah menjadi hal yang menjemukan. Karena ... jujur, aku juga menantikannya.”
Dahi Vian berkerut. Hanya karena ada satu pemikiran yang melintas di benaknya.
“Apa maksudmu?”
Walau pada akhirnya, tak ingin berspekulasi, Vian pun memutuskan untuk bertanya. Dan Sonya memamerkan senyumnya. Dengan pandangan yang tampak melayang ke seberang sana. Pada sepasang suami istri yang tampak berkumpul dengan kakak Vian.
“Apa kau tau bahwa dulu aku pernah hampir dijodohkan dengan Lucas?”
Turut melayangkan pandangannya ke seberang sana, Vian menemukan pria yang sekarang menjadi objek pembicaraan mereka. Seorang pria beristri yang sudah memiliki seorang putra, bernama Gavin.
Lucas merupakan sahabat dari kakaknya. Yang mana, sekretaris pria itu adalah kakak iparnya. Maka tidak mengherankan sama sekali bila dua pasang suami istri itu berkumpul dan seperti memiliki dunia mereka sendiri. Walau jelas, beberapa kali kesempatan, mereka tampak berbaur dengan para undangan lainnya.
Dan berbicara mengenai perjodohan, sepertinya Vian sempat mendengar bahwa memang dulu Sonya sempat dikenalkan pada Lucas. Walau tentu saja, usaha itu gagal lantaran sang pria yang memiliki tambatan hatinya sendiri. Seorang wanita yang bernama Velia.
“Aku tidak akan menyalahkan Lucas atau Velia sebenarnya.”
Suara Sonya menarik perhatian Vian kembali. Membuat ia sadar bahwa masih ada percakapan yang belum tuntas di antara mereka. Dan menebak, Vian tau pasti topik mereka saat itu adalah soal pria dan perasaan.
“Karena pada kenyataannya mereka memang saling mencintai. Dan ... karena itulah aku menjadi bertanya-tanya tentang satu hal yang kurang di pesta ini,” lanjut Sonya dengan sedikit menyipitkan matanya saat menatap pada Vian. “Apa ada kabar kejutan yang akan didapatkan para undangan malam ini? Karena setidaknya ... aku mendengar katanya kau akan dijodohkan.”
Vian memang tidak berharap bahwa berita mengenai perjodohannya akan tersimpan dengan rapat. Tapi, jelas bukan itu masalahnya. Hal yang mengkhawatirkan Vian mengenai berita yang bocor adalah seberapa banyak ornamen tambahan yang memeriahkan berita utamanya. Selalu, gosip pasti akan dipercantik oleh hal-hal dramatis lainnya. Bahkan tidak jarang bila berita utamanya justru menjadi hal yang dibelokkan. Itu ... manusiawi.
Jadi, di sinilah Vian berada. Berhadapan dengan Sonya. Berikut dengan rasa penasaran yang membuat ia bertanya.
“Apa yang kau ketahui?”
Acuh tak acuh, terkesan santai, Sonya tampak mengangkat pundaknya dengan enteng. “Calvin, Fatin, Axel, Malven, dan Yoga.”
Rasanya Vian ingin memberikan tepuk tangan untuk dirinya sendiri. Lihat? Gosip yang beredar nyaris melipatgandakan nama pria yang ditawarkan padanya. Dari tiga, sekarang justru menjadi lima? Hebat bukan?
Tapi, tunggu dulu.
Mengapa ada Malven di dalamnya?
Dan rasa penasaran Vian, terjawabkan karena di detik selanjutnya, Sonya tampak melirik Malven yang berbaur dengan undangan lain.
“Walau kupikir, sepertinya tentu Malven bukan yang menjadi bintang utamanya malam ini?”
Wajah bersahabat Vian seketika berganti ekspresi. Menampilkan raut antisipasti hingga tubuhnya terasa dingin.
“Kau melihatnya?”
Sonya tersenyum. “Kupikir sepasang kekasih memang normal memiliki waktu berdua. Itu manusiawi.”
Tak perlu dipungkiri lagi, Vian bisa menebak bahwa Sonya mengetahui hal memalukan apa yang terjadi di balkon antara ia dan Malven. Dan sekarang Vian memaksa otaknya untuk menemukan cara agar ia bisa meminta Sonya menutup mulutnya.
“Malven sepertinya memang pilihan yang tepat untukmu. Dibandingkan dengan yang lain? Astaga. Kuharap kau tidak serius dengan mendekati Fatin ataupun Yoga. Semua orang tau bahwa mereka adalah pria buaya.”
Vian menarik napas dalam-dalam. Berusaha menciptakan kesempatan yang tepat agar ia bisa bicara. Namun, takdir sepertinya sedang tidak berpihak padanya. Karena pada saat itu, Fatin datang menghampiri mereka.
“Aku mencarimu dari tadi, Vian,” kata Fatin. “Kalau aku tidak ingat ini pesta ulang tahunmu, aku pasti sudah menduga bahwa kau sudah pulang.”
Sonya tersenyum kecil. Sama seperti Vian, wanita itu pasti sudah bisa merasakan aroma rayuan yang menguar ke udara.
“Aku permisi kalau begitu,” kata Sonya kemudian. “Selamat bersenang-senang.”
Vian ingin menghentikan Sonya, tapi ia mendapati Fatin yang meraih tangannya. Tanpa peringatan, mengangkatnya. Demi melabuhkan satu kecupan ringan di punggung tangan Vian. Ia tersenyum.
“Apa kau bersedia menghabiskan beberapa menit waktumu bersamaku?”
Ah, tentu saja. Fatin sepertinya mulai memasang mode perayunya. Hal yang sayangnya tak mungkin ditolak oleh Vian.
Menghabiskan waktu beberapa menit bersama dengan Fatin, Vian lantas mendapati kedatangan Yoga yang membuat ia bertanya-tanya. Mengapa bisa sampai ada nama pria itu masuk di dalam gosip dirinya? Karena sungguh, ia dan Yoga nyaris tidak benar-benar saling mengenal.
“Aku terkesan dengan pestanya. Ini meriah sekali.”
Vian mengerutkan dahi. Melihat pada pria itu dan menyadari bahwa terlepas dari ketampanan wajahnya, ia nyaris tidak benar-benar mengenal Yoga.
Pria itu berperawakan tinggi dan terkesan kurus. Menampilkan kesan bersahabat dan penuh keriangan yang membuat Vian bertanya-tanya, mengapa ia jarang berhubungan dengan pria itu. Hingga kenyataan membuat ia ingat. Bahwa Yoga nyaris menghabiskan seumur hidupnya di luar negeri. Belajar dan baru kembali akhir-akhir ini. Dan pria itu, tipe orang yang tidak terlalu suka berkumpul di dunia mereka.
“Terima kasih. Dan aku juga terkesan karena kau bersedia untuk datang,” kata Vian kemudian. “Aku tau kalau berpesta bukanlah kesukaanmu.”
Yoga tersenyum lebar. “Sebenarnya ada alasan khusus mengapa aku sampai datang.”
Ah. Tentang gosip?
“Aku tidak tau apa-apa soal dirimu. Tapi, kupikir belakangan ini kudengar namaku disebut-sebut sebagai calonmu?”
Vian memejamkan matanya. “Ya Tuhan,” desisnya. “Aku minta maaf untuk gosip itu, Yoga. Karena jujur saja, aku pun baru mengetahuinya malam ini.”
Yoga tertawa. Tampak tidak merasa tersinggung sama sekali. Alih-alih, ia justru menampilkan ekspresi seperti terluka.
“Kupikir aku memiliki kesempatan. Tapi, ternyata tidak.”
Dan Vian merasa lega karenanya. “Terima kasih.”
“Tidak apa. Kupikir memang seperti itu dunia saat ini. Selalu ada berita yang dilebih-lebihkan,” lanjut Yoga seraya menarik napas sekilas. “Dan setidaknya, itu membuatku merasa lega.”
“Untuk?”
Menyunggingkan senyum manis di wajahnya, Yoga tampak mengedarkan pandangannya berkeliling. Yang mana, tanpa sadar hal itu diikuti oleh Vian. Mereka tampak melihat pada beberapa tamu undangan. Kebetulan ada Axel di seberang sana yang langsung mengangkat gelasnya. Pun seperti mengirimkan isyarat bahwa ia akan bergabung dalam waktu dekat. Walau sepertinya akan sedikit tertunda mengingat pria itu yang terlihat merogoh sakunya. Mengeluarkan ponsel dan menerima panggilan.
Hingga kemudian, Vian dan Yoga berpindah pada titik lainnya. Yaitu Malven yang tampak beranjak dari pesta. Dengan mata yang tampak seperti tengah melihat pada ponselnya, ia keluar melewati pintu. Dan ketika itulah, Yoga mengembuskan napasnya.
“Karena sepertinya gosip yang mengatakan bahwa kau akan menikahi Malven juga mungkin adalah berita yang keliru.”
Vian memang menyingkirkan ide untuk menikah dengan Malven. Walau jelas, ia tak mengerti dengan perkataan Yoga. Dari sekian banyak nama yang ada, mengapa Yoga hanya mengantisipasi Malven?
“Maksudmu?” tanya Vian tak mampu menahan rasa penasarannya. “Ada apa dengan Malven?”
Yoga tersentak. Seperti baru menyadari apa yang ia katakan. Hingga ia buru-buru menggeleng dan meminta maaf.
“Oh, maaf. Aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan Malven. Hanya saja ...” Mata Yoga tampak membesar. “Kupikir Calvin ingin menemuimu.”
Calvin tiba dan langsung mengambil tempat di sebelah Vian. Sang gadis yang langsung berpaling dan baru menyadari, bahwa sedari tadi adalah pria ini yang ingin ia temui. Dan Calvin pun langsung berkata.
“Maaf, aku baru membaca pesanmu. Apa yang ingin kau katakan?”
Mengetahui dengan pasti bahwa akan ada pembicaraan pribadi di sana, Yoga pun lantas dengan sopan menarik diri. Beranjak dari sana dan menghilang dari pandangan mata Vian.
Vian menarik napas dalam-dalam. “Aku mencarimu, Calvin. Kau ke mana saja?”
Tak langsung menjawab, Calvin memilih untuk memulas senyum yang menyejukkan terlebih dahulu di wajahnya. Layaknya ia yang tau bahwa Vian sedang merasa tak nyaman karena menunggu dirinya dari tadi.
“Ada beberapa hal yang kulakukan tadi. Bertemu dengan undangan lainnya dan pembicaraan kaum adam menjadi hal yang tak mampu dielak.”
Tentu saja. Itu pasti mengenai pekerjaan. Vian tau itu dengan pasti.
Tak ingin berlarut-larut dalam emosi yang menyalahkan Calvin atas kejadian yang menimpa dirinya di balkon bersama dengan Malven tadi, Vian mencoba untuk santai kembali. Balas tersenyum dan membiarkan dirinya dibawa berkeliling oleh pria itu.
“Tadi sepertinya aku melihat kau bersama dengan Malven.”
Dari sekian banyak topik yang bisa menjadi pembukaan pembicaraan mereka, Vian tidak mengira bahwa nama Malven akan turut andil di dalamnya. Namun, walau bagaimanapun juga, Vian mencoba untuk tetap tenang. Di dalam hati ia berdoa, semoga Tuhan sedikit berbaik hati. Untuk tidak membiarkan Calvin melihat hal yang ternyata sempat dilihat oleh Sonya.
“Oh, tidak ada yang penting,” kata Vian berusaha santai. “Tidak sengaja bertemu dan kami berbincang sebentar.”
Calvin mengangguk. Hanya untuk kemudian membawa matanya untuk lebih fokus menatap pada Vian. Demi menuntaskan rasa penasarannya akan sesuatu.
“Apa?” tanya Vian. Merasa sedikit tak nyaman ketika mendapati bagaimana Calvin menatap pada bibirnya dengan lekat. “Apa yang kau lihat?”
Calvin mengerjapkan matanya. Langsung merasa salah tingkah dan langsung meminta maaf.
“Bukan bermaksud tidak sopan. Tapi, sepertinya lipstikmu sedikit berantakan.”
Mata Vian seketika memejam mendengar hal itu. Dan ketika ia merasakan ada usapan di bawah bibirnya, ia seketika menarik diri.
“Maaf.”
Vian buru-buru menggeleng. “Aku yang seharusnya minta maaf. Ehm ... sepertinya aku harus ke belakang sebentar.”
Tak menunggu persetujuan Calvin, nyatanya Vian langsung beranjak dari sana. Seraya merutuk di dalam hati, dengan jelas tau penyebab lipstiknya yang berantakan. Karena demi Tuhan! Vian rasa-rasanya ingin mencincang Malven yang kala itu tampak berbincang dengan Andreas.
Berniat untuk langsung keluar dari pestanya, menuju ke toilet, Vian justru mendapati kehadiran Axel. Yang tentu saja tak mampu untuk ia tolak. Memaksa dirinya untuk menghentikan langkah kakinya sejenak. Demi berbasa-basi.
Di luar dugaan, percakapan dengan Axel nyaris menyita sebanyak tiga puluh menit waktu Vian. Hingga pada akhirnya, kesempatan itu datang, dan Vian langsung terburu-buru keluar dari pesta.
Membiarkan kemeriahan pesta tertinggal di belakangnya, Vian menyusuri lorong hotel. Menuju ke toilet yang memiliki desain dua arah. Demi memudahkan para pengunjung yang ingin ke sana. Dan kala itu, Vian melihat bagaimana ada satu papan peringatan yang mengadang jalannya. Memberikan pemberitahuan bahwa toilet sedang dalam perbaikan.
Tidak ragu untuk meneruskan langkah kakinya, Vian meyakinkan diri bahwa ia hanya ingin merapikan dandanannya saja. Itu tidak akan jadi masalah yang berarti.
Namun, ketika Vian berbelok, akan masuk ke dalam toilet, seketika saja gadis itu membeku. Lantaran satu pemandangan ganjil yang memantul ke dalam retina matanya.
Di sana, di dalam sana, tampak seorang wanita yang membelalakkan matanya. Kesan syok dan ketakutan terpancar di bola matanya yang bening. Ekspresi kesakitan itu menyiratkan dorongan untuk menjerit. Meneriakkan rasa sakit. Tapi, terhalang oleh satu tangan yang membekap mulutnya.
Hingga di detik selanjutnya, tangan itu semakin kuat membekap. Semakin memupus harapan sang wanita yang merintih kesakitan. Mengerang dengan penuh rasa takut. Seiring dengan semakin dalamnya pisau yang menghunjam ke perutnya.
Karena kemudian, lantai yang ditutupi oleh keramik mahal itu, ternoda. Oleh tetesan-tetesan kental bewarna merah.
Darah.
*
bersambung ....
Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.