JADWAL PUBLISH BULAN AGUSTUS:
1. POSITIF! setiap hari.
2. SEXY SCANDAL setiap hari Jum'at dan Sabtu.
3. Daddysitter? setiap hari kerja (alias Sabtu-Minggu libur, di w*****d).
4. Ehm ... Mamma Mia setiap hari kerja (setelah Daddysitter tamat).
Semua cerita aku tayang pkl. 12.00 WIB. Kalau ceritanya ga muncul di jam segitu, coba cek story aku di i********: atau sss, bisa aja aku telat atau justru ga update.
********************************
Itu Sonya. Wanita yang beberapa saat yang lalu masih berbincang-bincang dengannya. Masih memamerkan senyuman yang indah nan menawan di wajahnya. Yang turut memberikan pelukan hangat serta ucapan selamat yang bersahabat. Dan sekarang ....
Mata bening itu membelalak besar, membiaskan sorot sakit yang teramat sangat. Dahinya berkerut, dalam desakan berusaha menahan semua perih yang seakan mencabik-cabik. Lalu ....
Pisau bergerak. Dalam gerakan berputar. Seperti ingin meluluhlantakkan semua organ di dalam sana. Kemudian menusuk kembali. Semakin dalam. Hingga tubuh ramping itu terlonjak. Berusaha untuk melepaskan diri. Namun, dinding dengan amat dingin menolak keinginannya.
Samar, suara erangan Sonya terdengar. Tapi, tangan besar dan kuat itu dengan sigap membekap mulut sang wanita dengan lebih kuat lagi. Tak memberikan celah sedikit pun bagi Sonya untuk bisa meminta pertolongan. Selain mencoba mengiba melalui sorot matanya yang kian lama tampak makin tak berdaya.
Dua pasang mata beradu. Di satu pihak, memohon belas kasih. Di lain pihak, justru sebaliknya. Dengan teramat bengis, layaknya itu adalah hal yang memang pantas untuk Sonya dapatkan, ia tak hanya sekadar berusaha untuk mengakhiri nyawa wanita itu. Lebih lagi, ia seperti ingin menyiksa Sonya di detik-detik terakhir kehidupannya.
Tangan besar berjam tangan itu menarik keluar pisau dari perut Sonya. Hanya untuk menghunjam lagi. Lebih dalam lagi. Dan lebih menyakitkan lagi. Hingga kemudian, tak ada lagi mata yang membelalak ngeri. Yang ada hanyalah ... sorot kosong.
Tanpa nyawa.
*
Sonya ....
Ya Tuhan.
Sonya ....
Vian menutup mulut dengan satu tangannya dan meremas cluth di tangan lainnya. Dorongan rasa syok yang ia rasakan tatkala melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana di beberapa menit kemudian, pisau itu keluar dari tubuh Sonya. Dengan bersimbah darah. Dengan beberapa serat yang janggal di mata Vian. Beberapa serpihan organ dalam yang ikut serta bersama dengan benda tajam itu.
Lalu ketika tangan besar itu melepaskan bekapannya pada mulut Sonya, maka sontak saja tubuh tanpa nyawa itu tak memiliki penahannya lagi. Hingga kemudian, tubuh itu jatuh. Lunglai. Ikut dengan pasrah pada gaya tarik bumi. Untuk kemudian mendarat di atas lantai. Di atas genangan darahnya sendiri.
Tak akan pernah ada ketakutan yang bisa mengalahkan kengerian yang Vian saksikan saat itu. Tatkala ia melihat dengan jelas bagaimana wanita yang baru saja berbincang-bincang dengannya beberapa waktu yang lalu, meregang nyawa tepat di hadapannya. Dengan pisau yang mengobrak-abrik isi perutnya. Hingga ketika tubuh itu merosot tanpa daya, terjatuh dengan pasrah, tergeletak, Vian mendapati sepasang mata yang bening itu tak menyiratkan kehidupan lagi. Terarah pada dirinya dengan sorot beku.
Dingin, mungkin adalah rasa yang menyelingkupi tubuh Vian saat ini. Tubuhnya bagai mati rasa. Bahkan Vian nyaris tak mampu bernapas lagi. Kakinya terasa lemah. Gemetar. Terutama karena di detik selanjutnya, samar Vian melihat bagaimana pria itu tampak bergerak.
Rasa takut, dingin, dan tak tau harus melakukan apa, Vian merasakan kengerian itu semakin memerangkap dirinya. Hingga kemudian, ketika pada akhirnya sedikit udara mampu masuk ke paru-parunya, Vian seolah tersadar. Dengan situasi yang berbahaya kala itu.
Berusaha untuk kuat, Vian mencoba menggerakkan kedua kakinya. Terasa amat kaku. Namun, Vian berusaha. Terus berusaha. Secepat mungkin agar ia bisa pergi dari tempat itu.
Menyeret langkahnya, Vian berpegang pada dinding. Merasakan bagaimana di dadanya, degup jantung terdengar dengar amat berpacu. Bergemuruh dengan riuh. Dengan jenis debar yang amat menakutkan bagi gadis itu.
Susah. Teramat susah. Vian bahkan tidak tau apa yang ia saksikan adalah kenyataan atau halusinasinya saja. Bagaimana bisa? Di satu ruangan, semua orang tertawa-tawa. Sementara di tempat yang tak terpisah jauh, justru ada orang yang ia kenal meregang nyawa!
Dan untuk itu semua, dari sekian banyak orang yang ada di sana, mengapa harus dirinya yang menyaksikan kekejian itu?
Ya Tuhan ....
Vian menggigit bibir bawahnya. Berusaha untuk tetap berpegang pada dinding ketika ia merasa kedua kakinya makin goyah.
Tidak, Vian.
Kau harus pergi!
Dan rasa ngeri itu makin membesar. Memenuhi benak Vian. Hingga ia tak mampu menahan air matanya untuk tidak menetes. Tepat ketika ia merasa bahwa ia sudah tak lagi berdaya. Kakinya lemas. Tak mampu untuk digerakkan lagi. Pun diikuti oleh tangannya yang tak lagi berdaya untuk berpegang pada dinding.
Vian pasrah. Sekarang benar-benar tak mampu untuk melangkah lagi. Lebih dari itu, ia bahkan tak bisa untuk tetap berdiri. Namun, ketika ia akan terjatuh, sepasang tangan mendadak menahan tubuhnya.
Napas Vian terasa berhenti. Bayangan buruk seketika memenuhi benaknya. Mungkinkah ....
“Vian. Kau kenapa?”
Mata Vian mengerjap. Dengan jelas mengenal suara berat itu. Hingga ia pun mengangkat wajahnya yang basah. Meringis. Lalu isakannya pecah.
“Malven ....”
Pria itu yang memang adalah Malven, membeku. Bingung dan tak mengerti mendapati Vian yang mendadak saja menangis. Dan itu tentu bukan jenis tangisan kecil. Itu adalah isakan.
“Vian. Ada a---”
Malven tak bisa menyelesaikan perkataannya. Karena Vian mendadak saja menghambur padanya. Memeluk tubuhnya dengan kuat. Menenggelamkan wajahnya yang basah di dadanya yang bidang.
“Tolong aku, Ven. Tolong aku. Kumohon tolong aku.”
Di antara isakannya yang terus tumpah, Vian berusaha untuk bicara. Lebih dari itu, ia pun semakin mengeratkan pelukannya. Seolah dirinya yang takut ditinggal Malven seorang diri di sana.
Kedua tangan Malven naik. Memegang Vian. “Vian, apa yang terjadi?”
Namun, rasa ngeri itu membuat Vian bahkan tak mampu untuk mengatakan apa-apa. Ia menggeleng. Terus terisak.
“Kumohon,” pinta Vian mengiba. “Bawa aku pergi dari sini. Kumohon, Ven. Aku mohon.”
Malven tau, pasti ada sesuatu yang terjadi pada Vian. Tapi, apa? Ia tak mungkin bisa begitu saja membawa Vian pergi dari sana. Pertama, karena semua orang tau betapa seorang –mantan- playboy seperti Andreas akan selalu amat protektif terhadap saudara perempuannya. Malven yakin, pria itu akan murka bila mendapati dirinya membawa sang adik tanpa izin sama sekali.
Dan kedua, karena semua orang tau bahwa Malven tak seharusnya berdekatan dengan Vian. Ah, bukan tak seharusnya. Melainkan tak selayaknya.
Namun, semua pertimbangan itu jelas buyar ketika di detik selanjutnya, Vian mengangkat wajahnya. Hanya untuk menunjukkan pada Malven betapa ia sangat mengharapkan pertolongannya. Karena tentu, sorot ketakutan di mata bening sang gadis terlihat dengan amat jelas.
Tunggu.
Ketakutan?
*
Malven mengambil risiko. Ia tau, hanya ketika dunia kiamat saja Vian akan menunjukkan sisi terlemahnya pada dirinya. Itu ... jelas mustahil. Dan sekarang mendapati Vian yang bahkan tidak bisa berjalan lagi, Malven pun tau. Pasti bukanlah hal biasa yang telah terjadi pada Vian.
Maka Malven mengeratkan tangannya pada tangan dan pinggang Vian. Berusaha untuk tidak menarik rasa penasaran beberapa orang petugas hotel yang melihat aneh pada keduanya. Dengan melampirkan jas yang ia kenakan sepanjang pesta ulang tahun sang gadis, Malven berusaha untuk sedikit menghalangi pandangan orang-orang terhadap Vian. Walau jelas, Malven tak berharap banyak.
Berjalan menuju ke parkiran mobil, Malven mendapati bagaimana tubuh Vian makin lama makin terasa lemas. Sebentar lagi Malven yakin, ia bukannya membantu Vian berjalan. Alih-alih menyeret gadis itu.
Napas Vian terengah-engah. Tubuhnya masih bergetar parah. Dan ia berusaha untuk tetap berdiri, berpegang pada Malven. Namun, tiap detik yang berlalu membuat ia makin tak berdaya. Dan di detik yang tepat, Malven lagi-lagi mengambil risiko.
Dengan teramat gesit, terkesan sigap, kedua tangan Malven bergerak cepat. Menjatuhkan tubuh Vian ke dalam gendongannya. Tanpa ada penolakan sama sekali. Karena jelas, Vian justru mengalungkan tangannya di seputaran leher Malven. Pasrah saja ketika selanjutnya pria itu membawa ia menuju ke mobilnya. Dan lantas mendudukkannya di kursi penumpang.
Malven menyusul Vian dengan cepat. Duduk di balik kemudi, ia membantu Vian untuk memasang sabuk pengaman. Dan ketika itu Malven bisa melihat bagaimana Vian yang kala itu gemetaran, tampak amat sangat gamang dengan keadaan. Tatapan matanya kacau, air mata masih meleleh di kedua pipinya, dan bahkan lipstik yang memulas bibirnya, seperti kekurangan daya upaya untuk menyembunyikan pucat di sana. Hingga Malven berpikir untuk menanyakan lagi mengenai apa yang teradi pada gadis itu, Vian justru meraih tangan Malven. Menggenggamnya dengan erat.
“Pergi dari sini, Ven. Aku harus pergi dari sini secepatnya. Bawa aku pergi.”
Ini benar-benar membingungkan untuk Malven. Tapi, lagi-lagi. Ketakutan itu adalah hal yang pasti. Hingga tak butuh waktu lama, Malven pun kembali mengambil risikonya. Menyalakan mesin mobil dan lalu melajukannya. Membawa Vian pergi meninggalkan pesta ulang tahunnya sendiri.
Sepanjang perjalanan, Malven tidak yakin harus membawa Vian ke mana. Jujur saja ia tak pernah menduga akan ada masa di mata ia dan Vian berada di dalam mobil yang sama. Dengan keadaan yang membingungkannya. Namun, untuk kesekian kalinya Malven tak melihat bahwa ada pilihan lain untuk dirinya. Kecuali, kembali mengambil risiko.
Malven membawa Vian menuju ke apartemennya. Satu hunian bergaya modern yang menjulang tinggi. Dan tak perlu bertanya bagi dirinya untuk kemudian menggendong Vian kembali.
Sebenarnya apa yang terjadi padanya?
Bahkan untuk berjalan pun ia sudah tak bisa lagi?
Karena Vian memang amat ketakutan. Ia bahkan benar-benar mengalungkan tangannya di leher Malven dengan amat erat dan kuat. Hingga pada akhirnya, ketika mereka berdua tiba di unit pria itu, Vian memejamkan matanya. Mengembuskan napas panjang. Sedikit, ia merasa lega.
Malven mendudukkan Vian di sofa. Tak mengatakan apa-apa, ia bergegas ke belakang. Demi mengambilkan segelas air putih yang sejuk untuk sang gadis. Dan ketika gelas itu berpindah tangan pada Vian, ia menegak isinya dengan amat rakus. Seperti dirinya yang melupakan segala pelajaran etika yang ia terima dari kecil dulu. Rakus, ia pun menandaskan minumnya hanya dalam hitungan detik yang amat singkat.
Menaruh gelas kosong itu di atas meja, Vian yang masih gamang dan gemetaran nyaris menjatuhkan benda itu. Beruntung Malven yang sedari tadi tidak melepaskan matanya dari Vian, sigap menyelamatkannya. Menaruhnya dengan aman.
Beberapa detik, tak ada yang bersuara di antara mereka. Di sisi Malven, jelas ia menunggu opsi teraman. Yaitu, menunggu. Karena menurut logikanya ... Vian akan menceritakan apa yang terjadi.
Hingga kemudian, setelah sabar untuk waktu yang tak Malven hitung, ia mendapati bagaimana Vian yang justru memejamkan matanya. Hanya untuk meringis di detik selanjutnya.
Vian berusaha menyingkirkan bayangan itu dari benaknya. Tapi, ekspresi kesakitan, kucuran darah yang menetes, dan bunyi ambruk ketika wanita cantik itu melepaskan nyawanya, terpampang dengan amat jelas di ingatannya. Membuat ia tak berdaya.
Vian takut. Dan ia tak mungkin menahan itu seorang diri. Tidak akan mampu. Karena pada akhirnya, di saat ia membuka mata, ia langsung menumpahkan semua rasa takut itu dalam bentuk tangisan.
“Malven, aku ... melihatnya. Aku melihatnya.”
Malven tidak mengerti. Benaknya dipenuhi oleh praduga yang bisa menjadi penyebab seorang gadis menangis tersedu sedan sampai kehilangan tenaganya. Tapi ....
“Aku melihat ia membunuh Sonya. Malven, aku takut.”
Butuh waktu beberapa detik untuk Malven bisa mencerna perkataan Vian. Layaknya Vian yang mengatakan sesuatu dengan bahasa yang berbeda dengannya.
“Dia ... membunuh Sonya. Ya Tuhan. Sonya ....”
Malven meraih tubuh Vian. “A-a-apa kau bilang?”
Dan ketika Malven mencoba untuk meyakinkan apa yang telah Vian katakan padanya, mendadak saja terdengar satu dering dari clutch Vian.
Ada yang menghubungi gadis itu.
*
bersambung ....
Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.