Andreas mondar-mandir. Berusaha untuk menemukan Vian, sang tokoh utama dalam pesta ulang tahun tersebut. Namun, ia tak menemukan adiknya itu di mana pun. Bertanya pada beberapa orang pun tak membuahkan hasil. Rata-rata mereka memberikan jawaban yang nyaris serupa.
“Tadi kami sempat berbincang sejenak. Lalu, ia pergi.”
Sungguh tidak membantu Andreas.
Bingung, setidaknya Andreas bisa sedikit bernapas lantaran ada Vlora yang berusaha menenangkan Ningsih. Walau ia yakin, tak akan bisa istrinya itu menyabarkan Ningsih dalam waktu yang lama. Terutama kalau itu menyangkut dengan pengumuman penting yang akan keluarga Cakrawinata sebarkan. Mengenai perjodohan sang cucu. Perjodohan Vian.
Tak bisa hanya menunggu Vian datang sendiri sementara waktunya sudah makin mendesak, Andreas pun berkeliling. Mencoba menemukan adiknya. Namun, ia justru bertemu dengan Calvin. Andreas bertanya.
“Kau melihat Vian? Aku tak menemukannya.”
Calvin mengerutkan dahi, terlihat sama bingungnya. “Kupikir Vian bersamamu,” jawabnya bingung. “Terakhir kami sempat berbincang sekitar sejam yang lalu. Kemudian ... ia permisi ke toilet. Dan setelah itu, aku tak bertemu dengannya lagi.”
Sial!
Sekarang, alih-alih mendoakan agar Ningsih tetap tenang, Andreas justru berharap agar ia bisa menenangkan dirinya sendiri terlebih dahulu.
Andreas menghirup napas dalam-dalam, mengusap ujung dagunya sementara satu tangannya yang lain berkacak di pinggang. Tampak mulai gusar dengan keadaan kala itu. Dengan satu pemikiran di benaknya.
Bisakah Vian tidak membuat masalah di pestanya sendiri?
Oh, Tuhan.
Yang benar saja, Vian.
Kembali beralih pada Calvin, pada akhirnya Andreas pikir tak ada gunanya ia menutupi keadaan kala itu. Toh, Calvin bisa dikatakan sebagai tokoh utama pula dalam acara malam itu.
“Aku sudah menyuruh orang untuk mencari Vian ke mana pun, tapi tak ada yang menemukannya. Bahkan ke toilet pun sudah diperiksa. Tapi, tak ada.”
Calvin mengerutkan dahi. “Ehm ... aneh.”
Tampak diam untuk beberapa detik yang singkat, Calvin pun tau bahwa ia harus membantu pria itu. Lagipula, Andreas adalah calon iparnya dan Vian adalah calon istrinya. Oh, sungguh. Ada perjodohan mereka yang harus diumumkan di hadapan semua tamu undangan.
“Aku akan mencoba mencari ke toilet lagi. Mungkin dia masih berada di sana.”
Merasa tidak terlalu yakin, tapi nyatanya Andreas tidak menolak bantuan itu. Dengan wajah muram, ia mengangguk. Berharap semoga saja kali ini hasilnya bisa berbeda.
“Terima kasih. Kuharap kau menemukan Vian.”
Tak membuang waktu lebih lama lagi, Calvin pun beranjak dari ballroom itu. Keluar, menuju ke toilet. Berpapasan dengan beberapa orang, ia tampak sedikit bingung ketika berada di depan toilet wanita. Namun, beruntung. Tak lama kemudian, ia mendapati ada seorang undangan pesta tampak akan masuk ke sana. Dengan penuh sopan santun, Calvin pun meminta bantuan.
“Kumohon. Aku tak mungkin masuk ke dalam.”
Tentu saja, permintaan itu tidak ditolak. Namun, ketika wanita yang tampaknya berada di awal usia tiga puluh itu menyerukan nama Vian di dalam toilet, tak ada sahutan yang ia dapatkan.
“Memang ada satu bilik toilet yang tertutup. Tapi, kurasa itu bukan Vian. Karena ia bahkan tidak menyahut panggilanku.”
“Oh,” lirih Calvin mengangguk. “Baiklah kalau begitu. Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Meninggalkan tempat itu, Calvin langsung mencari Andreas. Hanya untuk menambah rasa kecewa pria itu.
Sungguh Vian?
Kau kabur dari perjodohan yang kau inginkan ini?
Sekarang, Andreas sepertinya menyadari sesuatu. Bukan hanya Ningsih yang bisa meledak saat itu karena ulah Vian. Alih-alih juga dengan dirinya.
Menyingkir dari keramaian, Andreas kemudian mengeluarkan ponselnya. Menekan nomor Vian. Dan ketika panggilan itu tersambung, Andreas berdoa di dalam hati. Setidaknya semoga Vian mau mengangkat teleponnya. Karena sungguh. Saat ini di benak Andreas hanya ada satu pertanyaan.
Mengapa?
Hingga kemudian, ketika panggilan itu pada akhirnya diangkat, Andreas sudah bersiap akan memberondong adik satu-satunya itu dengan berbagai pertanyaan yang sudah memenuhi kepalanya. Namun, semua buyar. Lantaran telinganya menangkap seruan yang diikuti oleh isakan di seberang sana. Hal yang membuat rasa dingin perlahan menyelimuti dirinya. Tak bisa dicegah, rasa khawatir itu seketika datang. Membuat jantung Andreas berdegup dengan kesan ketakutan.
“Vian .... Apa yang terjadi?”
*
Tubuh Vian menegang. Tatkala dering itu terdengar dari dalam clutch, ia merasa jantungnya yang semula mulai damai, mendadak berdebar-debar kembali. Dengan kesan ketakutan yang membuat ia menatap ketakutan pada benda itu.
Malven melihat pada clutch Vian. Tau dengan pasti bahwa ada seseorang yang menghubungi gadis itu. Mungkin lantaran dirinya yang tak lagi berada di pesta ulang tahunnya sendiri.
“Kau ingin aku melihatnya?”
Menatap Malven, Vian nyaris tak bisa memberikan anggukan yang nyata. Seperti tenaga yang ia miliki sudah terkuras habis saat itu. Bertahan dari rasa ngeri yang ia yakin, tak akan bisa ia singkirkan seumur hidupnya.
Tak menunggu lebih lama lagi, Malven pun langsung meraih clutch Vian. Menarik risletingnya dan mengeluarkan ponsel dari dalam sana. Lantas menunjukkan pada Vian, siapa peneleponnya kala itu.
Vian langsung menyambar ponselnya. Menerima panggilan itu dan langsung berseru dengan histeris.
“Kak!”
Di saat itu, Vian yang ketakutan sungguh tidak mampu menahan tangisnya. Terutama karena ia menyadari bahwa saat itu ada Andreas yang menghubunginya. Isakannya pecah. Hingga tak mengherankan sama sekali bila sang kakak bertanya dengan nada khawatir.
“Vian .... Apa yang terjadi? Ya Tuhan. Kau menangis? Kau ada di mana sekarang? Katakan padaku. Aku akan segera ke sana.”
Namun, Vian saat itu masih dalam keadaan kacau. Alih-alih menjawab pertanyaan Andreas, ia justru meracau. Mengatakan hal yang lainnya.
“Aku melihatnya, Kak. Dia ... dia membunuh Sonya. Pisau itu .... Darahnya menggenangi lantai. Aku ... melihatnya, Kak. Tapi .... Tapi, aku tidak bisa menolongnya. Aku ... aku takut, Kak.”
“Vian, apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak mengerti.”
Dan lagi-lagi, Vian tidak menjawab pertanyaan itu. Melainkan terus meracau.
“Sonya melihatku, Kak. Dia melihatku. Aku tau ia berusaha meminta pertolonganku. Ta-tapi, aku takut, Kak.”
Vian meneguk ludahnya yang terasa menggumpal. Dengan air mata yang terus meleleh, semua yang ia lihat seperti membayang kembali di hadapannya. Persis seperti ia yang baru saja menyaksikannya.
“Di toilet. Dia ... membunuh Sonya. Di toilet.”
Menuntaskan racauannya, Vian tak lagi mampu menahan rasa takut dan sedih itu. Hingga pada akhirnya, ia kembali menangis histeris. Terisak-isak. Menimbulkan kepanikan yang tak terkira lagi bagi Andreas.
Dan melihat itu, Malven mengambil risiko untuk yang kesekian kalinya. Karena ia bisa menebak. Bahwa dengan kata-kata yang Vian ucapkan, alih-alih membuat Andreas merasa tenang. Yang terjadi pasti sebaliknya. Pria itu akan semakin khawatir dengan keadaan Vian.
Maka Malven pun mengambil alih ponsel itu dari tangan Vian. Tanpa ada penolakan sedikit pun darinya. Lantaran setelah tangannya kosong, Vian justru menutup wajahnya yang basah. Seperti ia yang tak ingin melihat kenyataan lagi.
Beranjak sedikit dari sana, Malven langsung bersuara.
“Reas ....”
Hening sejenak, untuk kemudian Malven menangkap syok di suara Andreas ketika menanyakan namanya.
“Malven? Apa itu kau yang sedang bersama dengan Vian?”
Mengembuskan napas panjang, Malven pun menjawab. “Ya, ini aku. Dan kuharap, kau jangan berpikir buruk sebelum aku menceritakan semuanya.”
“Apa itu?”
Walau sebenarnya Malven meragukan apa yang dikatakan oleh Vian, namun ia tidak bisa berbuat banyak saat itu. Selain menceritakan semua yang ia ketahui dari Vian. Mengenai dirinya yang tanpa sengaja melihat seseorang menusuk Sonya di toilet. Hingga model cantik itu tewas di tempat.
Dan untuk itu semua, respon Andreas yang Malven terima sangat alamiah. Yaitu, ketidakpercayaan.
“Aku pun tidak tau. Hanya saja, ketika aku menemukannya, Vian terlihat sangat syok. Dan sekarang,” lanjut Malven seraya melirik pada Vian yang masih menangis. “Ia benar-benar tampak ketakutan.”
“Dia bersamamu? Di rumahmu? Atau di mana? Ya Tuhan. Jangan sentuh adikku! Aku memperingatimu, Ven!”
Rahang Malven mengeras. Sejenak, tampak wajahnya memerah. Hingga butuh beberapa detik lamanya untuk ia menenangkan dirinya.
“Vian aman di sini. Dan aku tidak akan menyentuhnya,” jawab Malven kemudian. “Ia di unitku.”
“Aku akan menjemputnya sekarang juga.”
Tentu saja.
Sang putri harus diselamatkan dari perompak kejam seperti aku.
Mata Malven mengerjap sekali. “Kupikir yang harus kau khawatirkan sekarang adalah kebenaran perkataan Vian,” katanya mengingatkan. “Karena kalau yang Vian katakan bukan halusinasi ...” Malven mengembuskan napas. “... maka kau berada dalam masalah, Reas.”
*
Mendengar apa yang dikatakan oleh Malven, menyadarkan Andreas dari kekalutan pikirannya akan keselamatan adiknya. Sesuatu yang amat penting. Namun, juga meragukan.
Sonya dibunuh?
Seseorang menusuk Sonya di toilet?
Tu-tunggu.
Lebih tepatnya, di pesta ulang tahun Vian?
Dan setelah panggilan itu berakhir, Andreas hanya bisa berdoa. Semoga apa yang dikatakan oleh Malven adalah satu kekeliruan. Semoga Vian hanya berhalusinasi.
Namun, ketika satu bilik di toilet wanita itu dibuka, maka semua pengharapan Andreas sirna. Karena di atas kloset itu, tampak tubuh tanpa nyawa Sonya duduk. Dengan perut yang membuka. Beserta isinya yang seperti memberontak ingin menunjukkan wujudnya.
Pada akhirnya, pesta ulang tahun yang semula meriah, buyar. Tergantikan oleh satu tragedi berdarah yang menuntut Andreas untuk mengambil tindakan dengan cepat. Memerintahkan penyelidikan tertutup. Karena kali ini, menyingkirkan masalah pribadi, Andreas harus mengakui kebenaran dari perkataan Malven.
Dirinya berada dalam masalah.
Tidak, bukan dirinya yang berada dalam masalah
Tapi, Vian.
Vian berada dalam masalah besar!
*
bersambung ....
Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.