Andreas bergegas. Dengan cepat membubarkan pesta tersebut. Hingga mau tak mau menimbulkan desas-desus yang langsung memenuhi udara. Berbisik-bisik. Mempertanyakan situasi kala itu. Tentunya dengan mengaitkan fakta bahwa sedari tadi pihak tuan rumah mencari keberadaan Vian. Sang tokoh utama acara malam itu yang sekarang tidak diketahui keberadaannya ada di mana.
Namun, Andreas tidak memiliki pilihan lagi. Antara nama baik dan keselamatan Vian, tentu saja ia akan memilih opsi yang kedua.
“Reas, bisa kau katakan padaku. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Di mana Vian? Dan mengapa pesta kau bubarkan?”
Bahkan untuk menjawab pertanyaan istrinya pun Andreas merasa dirinya tak berdaya. Hingga ia memberikan satu usapan penenang di tangan Vlora. Berkata.
“Nanti akan aku jelaskan di rumah, Vlo. Kuharap kau bisa menenangkan Oma terlebih dahulu. Percaya padaku. Aku tak memiliki pilihan lain saat ini.”
Dan Vlora tau dengan jelas bagaimana suaminya itu. Hingga lantas ia pun tidak mempertanyakan lagi keputusan Andreas. Alih-alih, langsung melakukan apa yang dikatakan olehnya tadi.
Tak hanya berkaitan dengan pada tamu undangan yang harus ia pulangkan secepat mungkin, Andreas pun berurusan dengan kepanikan Ningsih dan juga Ashmita. Kedua wanita yang paling dihormati Andreas itu, tentu saja bertanya-tanya. Mengapa Andreas sampai mengambil tindakan seperti itu? Membubarkan pesta di saat acara puncak belum diadakan? Dan pertanyaan besarnya adalah ... di mana Vian?
Pada akhirnya, ketika keadaan sudah seperti yang ia inginkan, Andreas meminta asisten pribadinya yang bernama Frans untuk menjaga keluarganya. Meminta pria itu untuk mengantar Vlora, Ashmita, dan Ningsih pulang. Sementara dirinya, jelas. Ada pihak kepolisian yang harus ia tangani.
Satu hal yang Andreas tekankan saat itu. Karena ia tidak ingin membuat Vian di dalam bahaya. Yaitu, penyelidikan tertutup.
*
Hari sudah berganti ketika pada akhirnya Andreas melajukan mobilnya. Menuju ke satu gedung apartemen yang tidak pernah ia datangi sebelumnya. Dan itu adalah tempat di mana Malven tinggal.
Setelah Andreas memarkirkan mobilnya di area parkir tamu, pria itu langsung berlari. Masuk dan menaiki satu lift. Segera menuju ke lantai di mana unit Malven berada. Dan ia tak bisa bersabar. Hingga menekan tombol bel berulang kali di pintu itu.
Pintu membuka. Menampilkan Malven dengan kemeja putihnya. Dan ketika pria itu akan menyapa –mungkin sekadar basa-basi menyambut kedatangan Andreas di tempatnya, Andreas justru langsung mendorong Malven. Demi bisa masuk ke dalam dan langsung mengedarkan pandangannya.
“Vian! Vian! Vian!”
Malven meremas daun pintu. Seraya memejamkan mata dan rahangnya tampak mengeras. Untuk kemudian, ia menarik napas dalam-dalam. Mengendalikan diri dan berhasil menutup kembali pintu unitnya tanpa menimbulkan satu suara pun.
Malven berbalik. “Vian aman. Dia sekarang ada di kamar. Kupikir karena terlalu lelah, jadi ia tidur.”
Tak lagi terus berteriak, Andreas justru menatap Malven dengan waspada.
“Kuharap kau tidak menyentuh adikku.”
Malven menatap pada Andreas. Tak langsung merespon perkataan itu. Walau pada akhirnya, ia tak mampu menahan dirinya sendiri.
“Sungguh?” tanya Malven dengan sedikti kerutan di dahinya. “Dalam situasi seperti ini kau justru memikirkan hal lain?”
Mengembuskan napas, Andreas menghadapi Malven. Membalas tatapan pria itu dengan tak kalah tajamnya. Seperti ingin menyiratkan peringatan yang tak main-main Andreas akan lakukan.
“Aku menghormatimu. Sebagai teman dan rekan bisnis, aku mengagumimu. Tapi, tidak lebih dari itu. Dan kuharap, kau pun tidak berharap lebih.”
Karena begitulah pria berbicara. Tidak ada basa-basi. Tidak ada pemikiran takut membuat tersinggung lawan bicara. Yang ada hanyalah sebuah kejelasan.
“Kau tak perlu berkilah di depanku,” sambung Andreas lagi. “Aku bisa merasakan bagaimana kau memiliki ketertarikan pada Vian. Tapi, hentikan. Kalian berdua berada di dunia yang berbeda.”
Dunia yang berbeda?
Kembali, Malven berusaha untuk menarik napas dalam-dalam. Namun, perkataan Andreas memicu sesuatu di dalam dirinya. Seperti tali tak kasat mata yang menarik sesuatu. Hal yang sebenarnya sudah lama dilupakan olehnya. Tunggu! Hal yang sebenarnya sudah lama ingin Malven lupakan.
“Kau adalah pria yang tidak tau asal-usulnya, Ven. Kau pekerja keras, untuk itu aku menghormati dan mengagumimu. Tapi, kumohon. Jangan dekati Vian. Kau tau dengan pasti bahwa kalian berdua berbeda.”
Kenyataan itu seperti menampar Malven. Tentu saja, tak akan ada kalangan konglomerat seperti Cakrawinata yang akan membiarkan putri kesayangan mereka menjalin hubungan dengan pria seperti dirinya. Seseorang yang hidup lantaran belas kasih orang lain. Dan itu adalah Herlambang Antaridja. Ayah Calvin yang berbaik hati ingin menyambut bayi seperti dirinya ketika ditemukan menangis di selokan yang berada di sekitaran rumah mereka.
Tanpa asal-usul. Tidak ketahui dengan pasti keluarganya. Hanya seorang diri di muka bumi. Untuk keluarga terpandang, tentu saja ia bukanlah nominasi yang cocok untuk dijadikan anggota keluarga yang baru.
Dan Malven menyadari itu. Namun, sayangnya ia masih tidak sadar diri. Entah mengapa, yang terjadi justru sebaliknya.
Layaknya srigala terbuang yang justru jatuh cinta pada domba. Layaknya vampir yang justru jatuh cinta pada manusia. Itu ... adalah layaknya dirinya. Yang entah mengapa, pada pandangan pertama ketika ia melihat Vian pada masa orientasi sekolah kala itu, langsung merasakan sesuatu yang berbeda.
Mungkin karena pembawaannya. Vian sama seperti putri-putri konglomerat lainnya. Yang terdidik, terpelajar, serta mempesona. Wanita itu sempurna. Tak hanya perilakunya yang terjaga dan kepintarannya di sekolah, namun juga lantaran manis senyumnya yang selalu merekah.
Vian berada di luar jangkauannya. Tangannya tak akan sanggup menggapai wanita itu. Bahkan bila ingin menambahkan efek dramatis, jangankan menggapai. Untuk melirik pun harusnya tidak ia lakukan. Keberuntungan dirinya yang mampu hidup dengan baik dengan menumpang di keluarga Antaridja, tidak lantas membuat dirinya bisa berada di posisi yang sama dengan Vian.
Malven mungkin beruntung karena telah diselamatkan dan mampu hidup dengan baik hingga saat ini. Namun, ia tau. Tuhan tidak akan mungkin memberikannya keberuntungan selanjutnya untuk bisa memiliki Vian.
Maka kenyataan itu berputar-putar di benak Malven. Seperti ingin menyadarkan pria itu. Bahwa dirinya harus cukup puas dengan dua ciuman yang ia dapatkan.
Jangan ....
Jangan berharap lebih.
Malven mengerjapkan matanya sekali. “Tentu saja,” katanya kemudian dengan datar. “Kau tak perlu khawatir, Reas. Aku tak pernah bermimpi untuk bisa memiliki Vian.”
Harusnya Andreas merasa senang karena mendengar pernyataan itu meluncur dari bibir Malven. Tapi, entah mengapa yang terjadi justru sebaliknya. Ada sesuatu yang terasa tidak nyaman mendadak Andreas rasakan. Seperti nalurinya sedang berusaha mengatakan sesuatu padanya. Memperingatinya? Atau ....
Andreas mengembuskan napas. Keluar dari topik yang sedikit tidak mengenakkan untuk mereka berdua, ia teringat pada tujuannya semula.
“Di mana Vian tidur?”
Malven melayangkan pandangannya. Menjawab dengan singkat. “Di kamarku.”
Sejurus kemudian, Malven mengajak Andreas untuk ke kamarnya. Dengan perlahan, ia membuat pintu. Membiarkan Andreas untuk langsung menangkap pemandangan di atas kasur yang ditutupi oleh seprai bewarna hitam itu. Di sana, di balik selimut yang bewarna senada, ada sesosok wanita cantik yang tampak tertidur. Seperti pulas, andaikan tidak ada sesegukan yang terdengar di sela-sela napasnya.
Tak menunggu lebih lama lagi, Andreas langsung bergegas. Duduk di tempat tidur dan mengusap kepala sang adik.
“Vian ....”
Sementara itu, Malven hanya bisa melihat pemandangan itu dari tempatnya berdiri. Dalam diam. Hanya menyaksikan. Untuk kemudian menyadari betapa Andreas menyayangi adiknya itu. Maka adalah hal yang sangat wajar bila pria itu memberikan peringatan pada dirinya. Logis saja, kakak mana yang ingin adiknya bersama dengan pria seperti dirinya? Karena bila berada di posisi yang sebaliknya, Malven yakin. Ia pun akan melakukan hal yang sama.
Andreas berusaha membangunkan Vian. Namun, dengan lembut pastinya. Tidak ingin membuat adiknya itu kaget.
“Aaargh ....”
Suara erangan itu terdengar dari bibir Vian. Diiringi oleh tangannya yang naik ke kepala, memegangnya dengan ekspresi tak nyaman.
Adalah rasa sakit yang langsung Vian rasakan kala itu. Kepalanya berdenyut-denyut. Terasa amat berat. Hingga butuh waktu beberapa lama untuk kemudian Vian bisa menguasai dirinya. Lantas berusaha membuka mata. Dan langsung mendapati ada Andreas di dekatnya.
Tak pelak lagi, Vian langsung bangkit. Menghambur dan memeluk Andreas dengan teramat kuat. Tak peduli bagaimana kepalanya yang sakit kala itu, ia menjerit histeris.
“Kak!!!”
Andreas terhenyak. Tertegun untuk sedetik, namun tentu saja ia bisa paham. Lebih dari mengerti betapa terguncangnya Vian kala itu. Maka Andreas pun tak mengatakan apa-apa. Selain membiarkan Vian menumpahkan tangisnya. Pun membiarkan Vian memeluk dirinya dengan teramat kuat. Itu ... lebih dari cukup untuk membuktikan ketakutan apa yang Vian rasakan.
Hingga pada akhirnya tangis itu mereda, Andreas mencoba untuk mengurai pelukan Vian. Membawa tangannya, mengusap air mata di pipi adiknya hanya untuk menyadari sesuatu. Betapa tangisan itu sudah membuat mata Vian benar-benar membengkak.
“A-a-aku melihatnya, Kak. Aku me-melihatnya dengan jelas. Dia membunuh Sonya di depan mataku, Kak.”
Bahkan Andreas yang melihat tubuh tanpa nyawa milik Sonya saja sudah merasakan kengerian yang tak terkira. Lantas, apa kabar dengan Vian? Putri kesayangan banyak orang, yang biasa dimanja, dan yang lemah lembut, justru harus melihat kekejian itu dengan matanya? Tentu saja, hal itu pasti sangat membuat Vian terguncang.
“Aku takut, Kak. So-So-Sonya kesakitan. Dia membunuh Sonya. Dia ....”
Lalu tangis itu semakin pecah. Bayangan penderitaan Sonya di akhir-akhir kehidupannya, kembali membayang di benak Vian. Memupuk ketakutan itu untuk semakin menjadi-jadi memerangkap dirinya.
Andreas berusaha menenangkan sang adik. “Tenang, Vian, tenang,” ujarnya. “Ada aku di sini. Kau akan aman. Aku akan melindungimu.”
Berurai air mata, Vian mengangguk. Sepenuhnya percaya dengan perkataan Andreas. Pria itu, tentu saja, akan melakukan apa pun untuk melindunginya. Sang adik tercinta.
Hingga kemudian, ketika Andreas pun cemas dengan status Vian saat ini sebagai satu-satunya saksi mata, menyadari sesuatu. Yaitu, keselamatan Vian akan terancam sebelum pelaku pembunuhan Sonya ditangkap. Maka tidak mengherankan sama sekali bila pada akhirnya Andreas bertanya.
“Siapa dia, Vian? Siapa yang membunuh Sonya?”
Karena pada saat itu, Vian lantas berusaha mengingat. Hanya untuk mendapati bagaimana ada sentakan yang terasa menghantam kepalanya. Seperti ada yang meremas otaknya di dalam sana. Menghadirkan rasa sakit yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Berat dan terasa amat menyiksa. Ia meringis. Meremas kepala dengan kedua tangannya. Memejamkan mata. Membayangkan kembali bagaimana peristiwa itu terjadi.
Hingga beberapa saat kemudian, Vian membuka matanya. Menampilan sorot kosong pada Andreas. Membuat pria itu menunggu dengan jantung yang berdegup kencang. Lalu, Vian hanya bisa melirih.
“A-a-ku ... tidak tau.”
*
bersambung ....
Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.