10. Keputusan

1962 Words
“Aku yakin aku melihat sesuatu. Di-di-dia mengenakan jam tangan. Di tangan kanannya.” “Bagaimana dengan wajahnya?” Untuk ke sekian kalinya, ketika pertanyaan itu ditujukan pada dirinya, Vian tak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Pun untuk Andreas atau pun untuk tim penyidik. Ingatannya seperti menghilang. Tatkala ia mencoba mengingat, maka hanya ada wajah kesakitan Sonya, tangan yang menghunjam dengan menggunakan sebilah pisau, dan darah yang berceceran. Selain itu ... gelap. Dan ketika Vian mencoba memaksa, ingin mendobrak bayangan hitam itu di benaknya, rasa sakit seketika datang. Menghentak otaknya. Hingga ia meringis. Kesakitan. “Syok. Vian jelas syok. Dan itu hal yang wajar. Ketika kita mengalami kejadian yang terlalu menyedihkan atau bahkan menakutkan, diri kita secara alamiah akan membangun banteng untuk melindungi diri kita sendiri. Termasuk dengan apa yang Vian alami. Itu pembunuhan yang keji. Sangat masuk akal bila alam bawah sadarnya membangun banteng tersebut.” Adalah kepala detektif kepolisian yang bernama Lutfi mengatakan itu kepada Andreas. Sang kakak yang memastikan bahwa Vian akan berada di jarak terdekat olehnya. Dan demi memastikan bahwa fakta Vian ternyata adalah satu-satunya saksi mata, tetap menjadi informasi tertutup. “Satu-satunya hal yang Vian ingat adalah jam tangan yang dikenakan di tangan kanannya. Ini akan jadi penyelidikan yang berat. Namun, setidaknya kami tidak benar-benar memulai dari nol.” Andreas tidak tenang. “Aku ingin Vian aman. Pastikan sebelum pembunuh itu tertangkap, semua informasi apa pun yang berkaitan dengan Vian, tidak bocor.” “Tentu saja,” angguk Lutfi. “Sebagai satu-satunya saksi mata yang kami miliki, Vian akan mendapatkan perlindungan 24 jam. Keselamatannya adalah prioritas.” Ada banyak pertimbangan bagi Andreas mengapa mengusahakan segala daya upayanya agar kasus pembunuhan Sonya menjadi kasus yang tertutup. Walau jelas, itu bukan hal yang mudah. Sonya adalah model ternama. Ketiadaannya pasti akan menimbulkan spekulasi di sana-sini. Namun, Andreas tidak ingin mengambil risiko. Nyawa Vian akan menjadi taruhannya. Sedikit saja informasi itu bocor ke permukaan, bukan hal yang mustahil bila selanjutnya adalah Vian yang menjadi incaran sang pembunuh. Demi menutup informasi yang Vian ketahui untuk selama-lamanya. Dan menyaksikan Vian harus berakhir dengan nasib yang sama mengenaskannya dengan Sonya, adalah hal yang paling tidak ingin Andreas dapatkan. Selain itu, Andreas tidak akan abai bagaimana dirinya yang baru saja berusaha untuk kembali menegakkan perusahaan yang sekarang ia naungi. Bukan rahasia umum lagi kalau belakangan ini perusahaan keluarganya sedang dalam gelombang yang tidak mengenakkan. Lantaran tragedi rumah tangga hingga tindakan kriminal yang hampir menimpa istrinya. Bisa dikatakan, keluarga Cakrawinata berada dalam posisi yang tidak bagus. Dan sekarang, ketika Andreas pelan-pelan ingin menstabilkan kembali keadaan itu, justru muncul kejadian yang lebih besar lagi? Pembunuhan Sonya di pesta ulang tahun Vian? Sungguh! Andreas berani bertaruh. Kejadian itu pasti akan mencoreng nama Cakrawinata. Ia tidak akan heran bila itu akan berimbas pada perusahaannya. Karena itulah, Andreas sebisa mungkin akan berusaha menutup fakta tersebut. Dan sepertinya, itu pun menjadi pilihan pihak kepolisian. “Walau jelas, membungkam awak media mungkin sepertinya akan sulit dilakukan. Demi keselamatan saksi mata dan kepentingan penyelidikan, kasus ini memang lebih baik menjadi kasus tertutup. Tapi, kita tidak tau ke depannya akan menjadi seperti apa.” Andreas hanya berharap bahwa untuk beberapa saat orang-orang abai pada Sonya. Toh wanita itu hidup seorang diri. Seharusnya keadaan ini akan sedikit menguntungkan. “Apa pun yang akan pihak kepolisian lakukan, saya hanya berharap agar kalian benar-benar melindungi Vian. Seperti yang anda katakan tadi.” Lutfi mengangguk. Pria paruh baya yang rambutnya sudah ditumbuhi beberapa helai uban itu meyakinkan Andreas untuk tidak perlu khawatir. Karena jelas, ketika sepasang adik dan kakak itu meninggalkan ruang penyidik, Lutfi mengangkat teleponnya. Untuk menghubungi seseorang di seberang sana. “Ada anakmu yang bebas tugas saat ini?” tanya Lutfi tanpa basa-basi. Untuk kemudian ia menghela napas sekilas, sebelum lanjut bicara tanpa menunggu pertanyaannya mendapatkan jawaban. “Aku butuh seseorang yang handal untuk penjagaan. Dan itu keahlian anak-anakmu. Berikan aku satu.” “Kasus?” Sebagai respon, Lutfi hanya mendapatkan satu kata. Yang mana itu sudah cukup mampu untuk ia kemudian menatap kembali beberapa lembar foto olah TKP (tempat kejadian perkara) yang berada di dalam satu map, di atas mejanya. “Pembunuhan,” jawab Lutfi. “Dan melibatkan saksi mata yang amat berharga.” Hening sejenak, namun selanjutnya terdengar jawaban. “Aku kirimkan segera.” Lantas, sambungan selesai. Menaruh kembali telepon itu di tempatnya semula, Lutfi lantas melihat satu persatu foto di dalam map tersebut. Mengamati dengan teliti. Dimulai dari posisi Sonya yang duduk tanpa nyawa di kloset. Dengan gaunnya yang robek di bagian perut dan ususnya yang sedikit menampakkan wujud. Hingga kemudian, Lutfi beralih pada foto lainnya. Yaitu tas tangan Sonya yang berada di pangkuannya. Lalu foto detail untuk tiap benda yang berada di dalamnya. Ada lipstik, bedak, ponsel, kunci mobil, dan ... satu benda yang membuat Lutfi mengerutkan dahi. Yaitu test pack. Dan satu petunjuk lainnya, yaitu bungkus kemasan test pack yang tim penyidik temukan di tempat sampah yang berada di toilet tersebut. Setidaknya memberikan satu garis samar, bahwa Sonya membuka alat uji kehamilan itu di sana. Lutfi mengusap dagunya. Wanita cantik, model ternama, dan satu test pack? Seharusnya ini akan menjadi kasus yang mudah. Lutfi bisa saja memerintahkan orang untuk langsung mencari beberapa orang pria yang memiliki hubungan asmara dengan Sonya. Itu bukan hal yang sulit. Namun, semua berbeda ketika satu fakta itu diketahui Lutfi. Yaitu, Sonya tidak dalam keadaan hamil. Lantas, apa Sonya dibunuh karena tidak hamil? Tidak bisa mengandung? Ungkapan kekecewaan seorang pria lantaran sudah teramat ingin memiliki anak? * Andreas harus menenangkan Vian selagi keluarganya justru mendesak dalam ketidaktahuan mereka. Dan itu bukan hal yang mudah. Bahkan bisa dikatakan menjadi hal yang teramat susah untuk dilakukan. Andreas memutar otak. Berusaha untuk meredakan keadaan di rumah. Menyelamatkan Vian dari kemarahan nenek dan juga ibunya yang tak mengerti posisi sulit apa yang sedang dialami oleh adiknya itu. Dan tentu saja, Andreas tidak berpikir untuk memberitahukan kejadian yang sebenarnya oleh para wanita di rumahnya. Sungguh! Menambah tiga orang wanita panik lainnya, tidak menjadi pilihan yang disukai oleh Andreas. Dan sekarang, Andreas hanya berharap agar keluarganya pelan-pelan bisa melupakan kekacauan yang terjadi malam itu. Ketika Vian menghilang dari pesta ulang tahunnya sendiri. Hingga membatalkan rencana keluarga mereka untuk mengumumkan perjodohan yang melibatkan Vian dan Calvin. Namun, ketika doa itu Andreas panjatkan di dalam hatinya, ia justru mendapati bahwa Tuhan menuliskan takdir yang berbeda. Hingga ia hanya bisa terperanjat tatkala mendapati Ningsih mendatangi kediamannya pagi itu. Tergopoh-gopoh, nyaris membuat kewalahan asisten pribadinya yang berusaha untuk tetap menjaga keselamatannya. Dengan satu koran yang teracung di tangannya, Ningsih bertanya dengan murka pada Andreas. “Jadi ini alasan mengapa Vian menghilang malam itu? Dan ini pula alasan mengapa kau melindungi adikmu itu, Reas?” Andreas tidak tau apa maksud Ningsih. Belakangan ini bahkan Andreas tidak atau apa-apa, selain Vian, penyelidikan kepolisian, dan keamanan untuk adiknya itu. Hingga ia hanya bisa balik bertanya. “Apa maksud Oma?” Wajah Ningsih tampak memerah. Lalu menghenyakkan koran di d**a Andreas seraya menggeram. “Lihat apa yang adikmu perbuat, Reas!” Tak mengatakan apa-apa lagi, Andreas mengambil alih koran itu. Untuk kemudian, ia membaca artikel itu. Dengan judul yang besar, berada di halaman depan. Sangat menarik. Terutama dengan fakta satu foto di sana. Menampilkan seorang wanita berbalutkan satu jas, tampak pasrah membiarkan dirinya dibawa gendongan seseorang. Pun masuk ke dalam mobilnya. Sial! Dan kalaupun gambar itu belum cukup mampu untuk membuat keringat dingin muncul di dahi Andreas, maka tentu saja judulnya yang berhasil. Bukan dengan Calvin, Fatin, ataupun Axel, Vian Sang Putri Konglomerat Justru Tertangkap Basah Sedang Bersama dengan Pria Ini. Andreas meneguk ludah. Tau dengan pasti bahwa adalah hal yang ajaib melihat Ningsih masih bisa berdiri tegak dengan sumber kemarahan yang amat mengguncang itu. Ironis. “Oma menemukan koran murahan itu dijual di lampu merah, Reas. Bagaimana bisa?! Bagaimana bisa Vian melakukan hal memalukan seperti ini?!” Andreas menghampiri Ningsih. “Oma, ini tidak seperti yang diberitakan. Aku berani bersumpah. Vian tidak melakukan apa pun yang bisa mencoreng nama keluarga kita. Dia dan Malven ....” Namun, sial. Andreas tidak bisa meneruskan perkataannya. Hal yang tentu saja membuat Ningsih mendengkus penuh emosi. “Kau masih ingin membela Vian? Bukan seperti itu kau dididik, Reas. Bukan berarti kau harus selalu melindungi adikmu! Dia sudah besar. Sudah dewasa. Seharusnya ia bisa memikirkan semuanya sebelum ia melakukannya.” “Oma, dengarkan aku dulu.” Namun, Ningsih sepertinya sudah berada di batas ambang kesabarannya. Lantaran rasa malu yang teramat mendidihkan otak di dalam kepalanya. Tak habis pikir mengapa cucu kesayangannya, yang dijaga seperti putri raja, tidak boleh sembarangan bergaul tanpa batas, justru melakukan hal yang mencoreng seperti itu tepat di malam pesta ulang tahunnya. Dan lebih parahnya lagi. Hal itu pun dilakukan sehingga membatalkan pengumuman perjodohannya. Ningsih menepis tangan Andreas. Berpaling pada asisten pribadinya. “Suruh Vian turun sekarang juga!” Wanita itu mengangguk. Dan melakukan apa yang diperintahkan Ningsih walau Andreas berusaha untuk menghalanginya. Beranjak dari sana. Hingga kemudian, tentu saja kehebohan itu tak mampu diredam lagi. Pada akhirnya, di ruang kerja Andreas, semua berkumpul. Tak hanya Vian, Andreas, dan Ningsih. Melainkan juga Ashmita dan Vlora turut serta. Ningsih menampilkan ekspresi kerasnya. Wajah cantiknya yang mulai jatuh lantaran usia, tampak memerah. Menuding Vian dengan koran di tangannya. “Kau baca ini, Vian! Mengapa kau bisa melakukan hal seperti ini? Kau bukan dididik untuk menjadi wanita seperti ini! Kau wanita terpelajar, dari kalangan terpandang. Tidak seharusnya kau membiarkan dirimu jadi konsumsi publik dalam bentuk gosip skandal murahan seperti ini!” Karena tentu saja. Bagi keluarga seperti Cakrawinata, semua harus tanpa cela. Mereka harus menjaga citra mereka. Dan sayangnya, gosip pagi itu menyebabkan hal yang sebaliknya. Vian meremas kedua tangannya. Matanya tampak berlinang. Dengan bibir bergetar, ia berusaha berkata. “O-O-Oma ..., itu tidak seperti yang terlihat. A-a-aku dan Malven tidak melakukan apa pun.” Ningsih meringis. “Tidak melakukan apa pun? Kau bilang tidak melakukan apa pun?” “Oma ....” Ashmita, yang duduk di sebelah Ningsih, berusaha untuk menenangkan mertuanya itu. Dalam hati berharap agar kemarahannya kala itu tidak berimbas pada kesehatannya. Dan Ningsih memejamkan matanya. Berusaha untuk menarik napas dalam-dalam. Mencoba untuk sedikit menekan gejolak kemarahan yang terasa ingin membuncah di dalam dirinya. Rasanya ... sungguh amat menyiksa untuk wanita yang sudah berusia senja sepertinya. Hingga kemudian, pada akhirnya rasa marah itu perlahan terkikis. Namun, kali ini tergantikan oleh rasa sedih. Hingga semua yang berada di sana, bisa dengan jelas menangkap nada kecewa Ningsih dalam suaranya. “Bagaimana bisa, Vian? Ya Tuhan. Mengapa kau melakukan hal seperti itu?” Vian tak mengatakan apa-apa. Hanya bisa membiarkan satu tetes air matanya jatuh. Meluncur di pipinya yang mulus. “Dengan keadaan seperti ini, kau pasti tidak akan bisa menikah dengan Calvin.” “Ma-ma-maksud Oma?” Dan bukan hanya Vian yang menegang kala itu. Di lain pihak, Andreas pun merasakan kengerian pelan-pelan merayapi tubuhnya. Sekuat tenaga, ia berusaha untuk menyingkirkan kemungkinan itu. Namun, semua buyar lantaran perkataan Ningsih. “Tentu saja kau tau apa maksud Oma, Vian. Jelas kau harus menikah dengan pria yang bersamamu di foto memalukan itu.” Vian merasakan napasnya sesak seketika. Nyaris membuat ia menjadi susah bicara. “O-O-Oma .... Aku tidak mungkin menikah dengan dia. Aku tidak mungkin menikah dengan ...,” lirihnya gagap. “... Aditya Malven Dhanurendra.” * bersambung .... Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas,  karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD